
"Dasar Kaisar sialan, beraninya dia mengancam. Haruskah kita ratakan istana Kekaisaran?? Aku menunggu perintahmu bocah, jika kau menginginkannya.. akan aku lakukan sekarang."
Lannox diam seketika, ia terlihat tenang tanpa EMOSI sama sekali di wajahnya.
'Tumben sekali anak ini tampak tenang, biasanya emosinya akan menjadi tidak terkendali jika menyangkut putrinya..! Apa yang sedang di rencanakan bocah ini?'
Lannox diam seketika, ia memunggungi Zion, dan melihat keluar jendela. Suasana hatinya benar-benar buruk saat ini namun, ia masih bisa bersikap tenang seolah tidak terjadi apapun. Berbeda dengan Zion, yang kelihatan lebih kesal darinya.
"Apa kau akan diam saja, di ancam seperti itu?? Bukankah ini sudah keterlaluan..!" Ujarnya melihat kearah Duke, yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Setelah bungkam beberapa menit.. Akhirnya Lannox mengeluarkan suaranya.
"Tenanglah, Kita ikuti saja permainan si Ular Tua itu. Aku ingin tahu, apa yang dia inginkan dari Putriku."
"Apa maksudmu bocah?" tanya Zion, tidak mengerti.
"Hem.. Hem.. Dia pasti ingin menggali sesuatu dari putriku!"
"Tunggu, apa jangan-jangan dia mengetahui tentang RAMALAN Putrimu!!"
"Entahlah, Kita akan segera tahu nanti." Ujar Lannox, menyeringai. "Ah! omong-omong sejak kapan kau mulai bisa bertransformasi kewujud manusia?"
"Haah.. Sebenarnya sudah sejak lama, sejak Kakek Kaisar membuka segelku, hanya saja, aku jarang menggunakan wujud ini." Ujar Zion, berubah kembali kewujud singanya.
"Kenapa? Bukankah kau selalu menginginkan wujud itu!!"
"Aku lebih nyaman, menggunakan wujudku yang sekarang."
"Baiklah, Omong-omong dimana Putriku? Biasanya dia akan datang di saat jam makan siang. Tapi, kenapa sekarang dia masih belum datang!!"
"Mmm.. Mungkin dia sedang jalan-jalan di sekitar mansion."
"Tidak mungkin, dia tidak pernah setelat ini..!" Mata Duke menyipit, ia tampak mencurigai sesuatu.
Tak lama Dukepun menghilang, ia pergi memeriksa kekamar Putrinya.
'Astaga, kalau tidak salah tadi aku dengar dari Kakek, katanya mereka ada hal penting yang harus di bicarakan di Zona Mana.. Aku yakin Putri juga pergi kesana. Hem.. Perasaanku tidak enak, sebaiknya lebih baik aku menemukan Putri lebih dulu, Sebelum keduluan bocah itu.'
Tak lama Zion menghilang, meninggalkan ruangan dalam keheningan. Sedangkan Lannox, sudah tiba di depan kamar Ravella Putrinya.
"Yang Mulia.." Hormat kedua belas orang tersebut, yang sedang berjaga di depan pintu sang Putri.
"Dimana Putriku?"
"Beliau ada didalam Yang Mulia." Jawab Reni.
"Hem.. Bukankah ini sudah waktunya makan siang! Apa Putriku sudah makan?"
"Belum Yang Mulia.. Beliau memerintahkan kami untuk menunggu diluar." Jawab Reni seadanya.
Mata Duke menyipit, ia mulai mencurigai sesuatu.
"Cepat buka Pintunya." Ujar Duke lantang, membuat prajurit terkejut.
__ADS_1
Ketika kedua pria pengawal membuka pintu kamar, tampak hanya ada kamar kosong, tanpa keberadaan sang Putri di dalamnya.
Melihat Ekspresi dingin wajah Duke, membuat kedua belas orang tersebut menjadi pucat.
"Ta..tadi, beliau benar-benar ada di dalam, Yang Mulia." Ujar Roland, dan Reni, bersamaan.
"Aku mengerti." ujarnya singkat. 'Haah.. Dia mulai lagi, dasar anak nakal.'
Duke duduk bersandar di Sofa.. Duke memperhatikan, kedua belas orang yang sedang ketakutan karena merasa telah lalai.
'Aku tidak menyalahkan mereka, karena aku tahu ini adalah kenakalan Putriku, yang suka pergi tanpa izin.' Duke diam seketika. "Kalian tetap berjaga diluar, aku akan menunggu Putriku disini. Siapkan saja makanan Favorit putriku."
Reni dan Marri terkejut melihat Duke tidak marah, malah ia menyuruh keduanya menyiapkan makanan kesukaan Putrinya.
"Baik Yang Mulia." Ujar keduanya patuh, dan pergi meninggalkan Duke, sendirian di kamar. Sedangkan kesepuluh pengawal, berjaga-jaga didepan pintu.
'Selama aku disini, ini sudah kedua kalinya Yang Mulia kecil, menghilang begitu saja. Ini benar-benar menarik, aku jadi ingin tahu lebih banyak tentang beliau.' Pikir Robi dalam diam.
Sedangkan Dean, berpikir lain. 'Aku sudah Curiga, ada yang tidak beres, Yang Mulia kecil tiba-tiba memerintahkan kami untuk keluar. Tapi Kelihatannya Yang Mulia Duke tidak marah sama sekali, malah menyuruh kedua dayang Putri, untuk menyiapkan makanan kesukaannya.. Yang Mulia benar-benar sangat menyayangi Putrinya.'
...****************...
Di tempat lain, di Zona Mana. Ravella dan keenam Spirit miliknya, telah tiba di depan rumah kedua anak adopsinya. Tubuh kecilnya berada dibelakang para Spirit, karena ia ingin memberi kejutan untuk ketiga anak-anaknya.
"Tok.. Tok.. Tok.." Roya memgetuk pintu.
Dan beberapa saat kemudian, muncul seorang pria muda yang tampak senang melihat kehadiran keenam pria tersebut, yang datang berkunjung ketempat mereka.
"Paman, Kalian semua disini..! Ayo silahkan masuk." Keenam pria itu pun masuk diikuti dengan Ravella, yang berada paling belakang.
"Kakak.. Siapa yang da..?" Ujar Ron, yang baru saja keluar dan.. Pipinya langsung memerah saat melihat kemunculan Putri kecil, yang sangat cantik. Ravella sedang tersenyum padanya, Ron menjadi gugup, jantungnya berdetak tidak karuan.
Sedangkan Gapi, yang sedang tertidur, tiba-tiba saja mencium aroma dari seseorang yang sangat akrab dan sangat ia rindukan.
"hemsss..hemsss..hemss..Bau ini.. Sepertinya ini bau keenam paman, dan mungkinkah!!" Gapi membuka matanya, dan segera keluar dari kamar. Saat Gapi keluar, dilihatnya keenam orang yang tidak asing sedang tersenyum padanya.
Namun, Gapi tidak begitu menanggapi keberadaan mereka. Matanya mencari sosok seseorang, dan tatapannya tertuju pada sosok Dewi kecil yang sangat ia rindukan.
Ravella sedang tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Dengan mata yang berbinar cerah, tanpa pikir panjang, Gapi langsung berlari kedalam pelukan Ravella.
"Dewiiiiii.........!!!!!!" teriak Gapi berlari.
Teriakan Kencang Gapi, membuyarkan fokus kedua anak manusia, yang sedang terpegun menatap kearah Ravella, keduanya kembali tersadar dan tercengang tak percaya. mendengar bayi naga merah yang selama ini tidak pernah berbicara, tiba-tiba berteriak lantang memanggil nama Dewi, dengan sangat lancarnya.
"Bayiku... Aku sudah kembali." Ujar Ravella merentangkan kedua tangannya, dan langsung memeluk Gapi dengan erat.
Gapi, langsung melompat kedalam pelukan Putri Ravella.
"Dewi... Hiks.. Hiks.. Hiks.. Aku merindukanmu, mengapa kau lama sekali datang menjemputku? Aku kira kau tidak akan pernah datang lagi, dan membuangku!!"
"Hihihihi.. Mana mungkin aku membuang bayi kecilku, jangan menangis lagi Gapi, aku sudah disini, Dan aku datang untuk membawamu kembali."
"Benarkah!! Dewi tidak berbohongkan..?"
__ADS_1
"Apa aku pernah berbohong padamu?"
"Tidak." Jawab Gapi yang berada didalam pelukan Ravella. Sambil menggelengkan kepalanya.
'Haha dia sangat menggemaskan.' Pikirnya sambil membelai kepala Gapi.
Ravella mengusap kepala bayi naga merah tersebut, yang diperhatikan oleh keenam Spirit yang tampak senang. Sedangkan Rog, dan Ron, masih terpegun tidak bergeming dari tempat mereka berdiri, dan bingung tidak tahu harus berkata apa!!
"Kau semakin berat saja Gapi, dan kau juga sudah bertumbuh sedikit lebih besar sekarang."
"Hihihi.. Tentu saja Dewi, aku harus cepat besar, agar bisa melindungimu Dewi."
"Jangan terlalu cepat besarnya, nanti aku tidak bisa menggendongmu lagi!"
"Mmmh.. Haha baiklah kalau begitu, aku akan mengurangi porsi makanku." Ujar Gapi, lalu tertawa ceria.
Gapi kembali menjadi anak-anak yang sesungguhnya, ia jadi bersikap manja saat berada di depan Ravella, dan ia sangat suka saat Ravella memeluk dan membelai kepalanya. Karena ia merasakan kehangatan seorang ibu, di dalam Diri Ravella.
'Hem.. Hem.. pelukan Dewi sangat hangat, seperti ibuku, Aku benar-benar sangat merindukannya.'
"Tidak perlu, kau bisa makan sebanyak yang kau mahu Gapi, dan jangan menahannya oke."
"Hem..hem.. Oke Dewi." jawabnya patuh.
Setelah melihat reuni keduanya, akhirnya Tama membuka suara. Dan mulai pembicaraan serius, sedangkan Rog, dan Ron, masih bingung dengan pemandangan di depan mereka.
'Dewi.., apa maksudnya!!' pikir Rog, tampak bingung.
"Kalian berdua.. Kami datang kemari ingin menepati, apa yang telah kami janjikan pada kalian." Ujar Tama, membuka pembicaraan.
Ron, dan Rog, yang masih linglung, saling melihat satu sama lain.
"Apa maksud Paman?" Tanya Rog.
"Bukankah kalian penasaran, dengan siapa orang tua angkat kalian!!" Sambung Roya.
"Ya benar, bagaimana keadaannya? Apa beliau sudah sembuh??" Tanya Rog, yang masih belum tahu.
Para Spirit tersenyum dan melihat kearah Ravella, yang di angguki Ravella. Lalu Ravella berjalan mendekati keduanya.
'Siapa lady itu? Kenapa bayi naga memanggilnya Dewi..! Dan bagaimana bisa dia bicara selancar itu? Dan lagi.. Selain cantik, dia juga sangat harum.. Siapa dia sebenarnya..? Kelihatannya dia seperti bangsawan elit!!' Pikir Ron, memperhatikan secara teliti, sosok yang ada di depannya, Yang tampak sangat anggun.
'Hmm.. Meski kami berbeda umur! Tapi bagiku, mereka berdua tetaplah masih anak-anak. Kenapa begitu.. Tentu saja karena usiaku sebenarnya jauh lebih tua dari kalian hehe.'
"Halo anak-anak.. Terima kasih karena telah mengkhawatirkan aku. Maaf, karena telah membuat kalian menunggu terlalu lama!"
Rog dan Ron, terkejut dan tercengang mendengar perkataan Ravella.
"Apaaa.......!!!!!!" Ujar keduanya serentak, kaget bersamaan.
Lalu Rog, melihat kearah Tama dan Roya.. Dan berseru.
"Hehe.. kalian be..bercandakan!!!" Ujarnya menatap Serius kepada Para Spirit.
__ADS_1
Keenam Spirit tampak serius, melihat ekspresi mereka.. Rog dan Ron, melihat kembali kearah Putri Ravella.
"Ap..apa an..anda benar orang tua angkat yang mengadopsi kami berdua??" Ujar Rog, tergagap karena masih terkejut dengan apa yang di lihatnya.