
"Tidak, tapi entah kenapa saat berada di dekat Anda, saya merasa sangat takut."
"Apa kau tahu kesalahanmu!!" Tanya Dewa Zando, pada sosok cahaya tersebut.
"Maaf! Sa-saya tidak tahu De-Dewa." jawabnya polos.
"Haah.. Dengarkan perkataanku bayi kecil, belum saatnya bagimu untuk keluar. Meskipun kau merasa ingin melindunginya dan menunjukkan intensitas keberadaanmu."
"A-apa maksud Dewa!"
"Apa kau tidak ingat kesalahanmu tadi siang?"
Cahaya sekecil mutiara itu, merenungkan kembali kejadian tadi siang. Yang menghebohkan seisi Mansion.
"Oh, I-itu.. sa-saya melakukannya secara tidak disengaja Dewa! Ka-karena saya merasakan kesedihan darinya! Maka itu saya jadi marah, dan tanpa sadar saya telah menyatu dengan anak ini."
"Apa kau sadar karena kau telah memaksakan diri untuk keluar.. Kau hampir saja mengundang bahaya besar untuknya."
"Sa-saya be-benar-benar minta maaf Dewa, saya sungguh tidak tahu! saya benar-benar tidak sengaja melakukannya." ujarnya dengan nada penuh penyesalan.
"Haah.. Aku juga tidak menyalahkanmu, hanya saja ini peringatan dariku. kali ini aku akan memaafkanmu, tapi ingatlah satu hal, belum waktunya bagimu untuk keluar. Untuk itu.. Demi keamanan Permaisuriku, aku akan membuatmu tertidur panjang layaknya bayi dalam kandungan ibunya." Ujar Dewa Zando.
"Baik Dewa.. demi kebaikan Dewi, Saya akan menerima hukuman dengan senang hati." ujarnya pasrah.
Lalu..Dewa Zando mengambil cahaya tersebut dengan tangannya.. kini cahaya sekecil mutiara berada di telapak tangan Dewa Zando. Dewa Zando menggenggam tangannya untuk memadamkan cahaya terangnya yang bersinar, Setelah genggaman tangannya terbuka kembali..
Dan Dalam sekejap butiran cahaya tersebut yang tadi bersinar terang, kini langsung meredup. sinarnya yang bercahaya kini menjadi suram. Kesadarannya pun menghilang, kini ia hanya menjadi butiran yang tampak tidak berharga.
"Aku akan membangunkanmu di hari ulang tahun Permaisuriku yang ketujuh belas tahun, Disaat itu seiring waktu berjalan, kau juga telah tumbuh bersamanya. Karena kau adalah bagian dari Permaisuriku, Untuk sekarang tidurlah."
Dewa Zando memegang Cahaya yang sudah redup itu di kedua jarinya.. Lalu ia menjatuhkannya di kening Permaisuri kecilnya yang sedang tertidur. Bulatan sekecil mutiara itu lansung jatuh menimpa kening Ravella..dan tenggelam bagai di dalam air, bulatan kecil itu langsung menghilang menyatu dalam kening Ravella.
"Sudah saatnya kau kembali Permaisuriku.." ujarnya melihat kearah Gadis kecil yang sedang terbaring. "haah.. Kenapa waktu terasa begitu singkat saat bersamamu." keluh Sang Dewa.
Dalam sekejap tempat itu kembali seperti semula, kamar Sang Dewa yang megah telah berganti menjadi ruang redup. Suasana di kamar Lannox Tampak sunyi-senyap.. Dewa Zando mengecup kening Ravella, lalu ia berujar.
"Hem..hem.. Sampai bertemu lagi Permaisuriku." senyum simpul terukir di wajah tampannya.. Tak lama iapun berlalu pergi di telan kedua gerbang cahaya tersebut.
Setelah kepergian Dewa Zando, seisi mansion kembali tersadar. Para pelayan yang tertidur di dapur, terkejut saat mereka bangun mereka masih berada di dapur. Sedangkan hari sudah sangat larut, Para pelayan segera kembali kekamar masing-masing untuk melanjutkan tidur mereka.
Begitupun Zion, dan Lannox yang baru saja bangun. Keduanya mengulat meregangkan badan.. Seolah tenaga mereka telah terkura habis.
"Rasanya aku seperti baru saja tertidur?" Ujar Lannox sambil berdiri melihat keluar jendela.
"Bukan seperti lagi.. Tapi memang kita tertidur bodoh." sambung Zion, Yang baru keluar dari bayangan.
"Akhirnya kau mau keluar juga Pak Tua! Setelah pergi begitu saja." ujar Duke, pada Zion.
"Cih, tentu saja.. Karena aku sudah puas tidur, makanya aku kaluar." ujarnya santai tanpa beban.
"Yah sudah kalau begitu.. Aku sudah janji dengan Putriku, setelah selesai akan kembali kekamar. Wuusssh" dalam sekejep Lannox menghilang, meninggalkan Zion.
Sedangkan di tempat lain.. Di kamar Argus, ia juga ikut tertidur pulas. Saat bangun rasa ngantuk masih melekat dan tidak mau pergi.
__ADS_1
'Ng? Bagaimana bisa aku tertidur sangat nyenyak sekali, rasanya mataku juga masih terasa berat. Sudah pukul berapa sekarang? Jika melihat langit, rasanya ini sudah jam dua pagi. Apa yang sedang terjadi?? Haah.. Biarlah, sebaiknya aku lanjut tidur lagi. Keanehan ini akan aku pikirkan besok saja.'
Argus kembali keranjang miliknya.. Ia langsung menjatuhkan diri, dan melanjutkan tidur.
***
Di kekaisaran, Baginda Kaisar baru saja kembali kekamar.. Tampak Sang Permaisuri sedang merajut dalam cahaya yang redup. Saat Baginda Kaisar masuk, ia terkejut melihat istri tercintanya masih terjaga.
"Kau belum tidur istriku!!" ujar Kaisar, lalu memegang kedua bahu permaisuri.
"Belum, Saya menunggu anda Baginda!" ujarnya tersenyum hangat, sambil memegang kedua tangan kaisar yang ada di bahunya.
"Haah.. Tidak baik merajut di tempat yang kurang terang. Kau ini, sellalu saja menungguku. Jika aku tidak kembali sampai pagi, apa kau juga akan menungguku? Hem.."
"Haah.. Tidak perlu jawaban kau juga sudah tahu jawabannya suamiku."
"Dasar Istriku, memang sangat keras kepala sekali..!" ujarnya mengecup rambut permaisuri.
"Hem.. Hem.. Apa pekerjaanmu sudah selesai Baginda?" ujar permaisuri yang langsung bangun dari duduknya, dan menggandeng tangan Kaisar.. Membawanya ketempat tidur.
Sesampainya di ranjang, Kaisar bersandar pada bantal, lalu menarik permaisuri dalam pelukannya.
"Ya, berkat bantuan Lagrin, akhirnya pekerjaanku selesai."
"Baginda.."
"Ya.. Istriku!"
"Eum.. Sepertinya istriku menyukainya!"
"Ya, bagaimana denganmu?"
"Aku juga sangat menyukai anak itu, dan aku berencana ingin menjadikannya sebagai menantuku."
"Kalau begitu saya sangat setuju, Putra kita pasti sangat senang mendengarnya." ujar Permaisuri tampak bahagia.
"Heum.. Tapi tidak semudah itu."
"Apa maksud Baginda?"
"Apa kau tidak perhatikan wajah anak itu tampak sangat kesal, saat melihat Pangeran membawa Putrinya untuk bermain." ujar Sang Kaisar sambil memperhatikan istrinya.
Mendengar itu Sang Permaisuri pun berpikir, dan mengingat kembali momen Tea Time, di sore hari.
"Kau Benar Suamiku, sepertinya dia memang tidak suka melihat keakraban Putra kita dengan Putrinya. Kalau begitu, sebaiknya kita harus mencari cara untuk membuatnya terikat dengan kita. Dengan begitu, kita bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk menjodohkan Putri dengan Pangeran."
"Di situlah permasalahannya.. Aku juga sedang mencari cara untuk menundukkan Bocah sombong itu. Tapi, dia sangat pintar dan licik. setiap kali aku memerintahkan sesuatu.. Dia akan berpikir dulu, dan selalu meminta imbalan atas jasanya.
Dan jika aku menolak permintaannya, ia pun secara terang-terangan membalasnya. Aku tidak bisa membantahnya, karena berkat bocah itu! Negara ini jadi di segani. Hanya saja dia tidak pernah ingin, ikut campur tangan dalam urusan politik, kecuali..
Dia hanya mau terlibat dalam urusan Perang, mengusir para Monster, dan terlibat dalam misi berbahaya lainnya. Itu yang membuat aku sulit untuk mengancam anak itu!"
"Hem.. Susah juga kalau begitu, dia tidak punya kelemahan selain Putri... Tunggu dulu Baginda, kita juga tidak boleh menyerah begitu saja bukan?"
__ADS_1
"Apa maksudmu istriku?"
"Hem.. Kelemahan Anak itu adalah Putrinya! Jadi Sayang, kau bisa memanfaatkan Putrinya sebagai ancaman, Seperti yang Anda lakukan saat membawanya kepertemuan Tea Time."
"Kau benar Istriku!" ujar Kaisar ambigu. 'Kedengarannya memang mudah, tapi kenyataannya tidak seperti itu! Entah kenapa aku merasa anak itu sedang bermain-main denganku!! Seolah ia tidak takut dengan ancamanku sidikitpun! Apalagi ia adalah pemegang kendali militer terbesar di negara ini.
Bahkan jika ia mau, bisa saja ia memberontak dan menggulingkan kekaisaran. Hem.. Bagaimana caranya menundukkan anak itu? Aku harus mencari cara untuk membuatnya patuh..!!"
Kaisar merenung.. Dalam diam. Sementara Permaisuri sudah lebih dulu tertidur dalam pelukan Kaisar. melihat wajah istrinya.. ia kembali tersenyum, rasanya seolah semua masalah langsung menghilang saat ia memandang wajah istrinya itu.
'Melihatnya tertidur seperti ini, aku juga jadi mengantuk. Sebaiknya aku pikirkan masalah itu nanti.'
***
Keesokan harinya.. Suasana hari ini yang sangat cerah dan nyaman. Duke yang biasanya selalu sibuk, kini tampak santai dan tidak melakukan apapun. Setelah sarapan Pagi.. Ia mengajak Putrinya jalan-jalan ketempat yang belum pernah Ravella datangi.
Yaitu tempat favorit mereka berdua.. Tempat itu di buat Duke, khusus untuk Mendiang Istrinya Arabella. Dimana terdapat pohon-pohon yang menyala baik siang maupun malam hari, pohon-pohon tersebut di pesan khusus dari dunia Elf, Dan pohon itu hanya ada di Dukedom.
Duke bersama Putrinya menunggang Zion, Zion berubah kedalam bentuk Singa, yang tinggi aslinya sama besar dengan Gajah. Namun hanya jika berada di Mansion, ia akan mengecilkan ukuran tubuhnya hanya sebesar Kuda.
"Ayah.. Kita mahu kemana??"
"Hem.. Kau akan tahu nanti. Zion.." panggilnya.
"Heh.. Apa kalian sudah siap?" ujarnya menyeringai.
"Tentu saja.. Putriku, pegangan yang erat. karena kau akan terkejut saat melihat kecepatan Pak Tua ini, yang lebih laju daripada seekor Kuda." Ujar Duke, mengingatkan Putrinya.
tiba-tiba muncul sebuah kalung emas di leher Zion, tampak kedua rantai pegangan dikedua tangan Duke.
Ravella tampak terkejut melihat kalung Emas di leher Zion. Ia pun lalu memegang bulu putih Zion.
"Ayo kita pergi Zion."
"Wusshh.. Wushhh.." Angin mulai berputar kencang di sekitar telapak kaki Zion. Dalam sekejap, Zion langsung melompat Laju membuat Ravella berteriak girang."
"Wow ini keren.. Yeeeaay...!!!" pekiknya.
Bukannya merasa takut ia malah kegirangan, membuat Zion semakin bersemangat. Duke yang melihat reaksi putrinya, bergumam dalam hati.
'Tidak salah lagi, Putriku mewarisi sifatku, lihatlah reaksinya..! Ia sangat mirip saat pertama kali aku menunggangi Zion heh.. Kau lihat Zion, Putriku benar-benar hebat bukan?' ujarnya bangga.
'Cih, Tentu saja! Karena dia juga Putriku.'
'Haah.. Sialan, sejak kapan Putriku jadi Putrimu?'
'Maaf sebelumnya.. Kalau harus jujur, mungkin kata-kataku kali ini terdengar agak kurang ajar, Tapi itulah Kenyataannya. Aku telah menganggapnya Putriku, jauh sebelum kau mengakuinya sebagai Putrimu. Yaitu saat kau membuangnya sejak ia lahir.'
Mendengar perkataan Zion, Lannox langsung terdiam membeku. Ia tidak berbicara lagi dengan Zion, Zion tidak bermaksud menyakitinya.. Tapi ia hanya mengutarakan apa yang selama ini dia simpan Di kedalaman hatinya.
Zionpun tidak ingin mengganggu Masternya, perkataannya tampak telah membuka kembali luka lama yang ingin ia lupakan. Dan akhirnya.. mereka pun tiba ditempat tujuan.
"Apa kita sudah sampai kek?" tanya Ravella, memecah keheningan di antara keduanya.
__ADS_1