AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
SURAT BALASAN


__ADS_3

"apa yang sedang kau lamunkan putraku..?"


"ah ibu, sejak kapan ibu ada disini?"


"sudah semenit yang lalu, ibu sudah memanggilmu berkali-kali, namun kau diam seribu bahasa. seperti sedang tidak berada di dunia ini..! apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan nak?"


"tidak ada yang perlu ibu khawatirkan, saya hanya merasa lelah saja, keindahan taman di istana ini membuat saya tenggelam dalam lamunan kosong hingga tidak menyadari kehadiran ibu disini."


ratu diam-diam menyaksikan tingkah putranya yang sudah mulai memasuki masa pubertas.


'hmm.. hmm.. putraku sudah besar rupanya.' "putraku, apa kau masih memikirkan putri ravella?"


'eh, bagaimana ibu bisa tahu?'


sang ratu melihat ekspresi putranya yang sedikit terkejut.


"tentu saja ibu tahu, aku juga pernah merasakan masa muda nak."


'apa ibu membaca pikiran ku!'


"ehem.. ehem.. baiklah ibu, saya masih ada hal lain yang harus dilakukan, saya undur diri dulu."


"jika kau menemukan jalan buntu dalam masalahmu, jangan sungkan-sungkan mencari ibu, ibu akan selalu ada untukmu."


"hmm.. terimakasih ibu." pangeranpun pergi sambil tersenyum, dalam perjalanan, ia kembali mengingat sang pujaan. 'sudah lama aku tidak melihatnya, kira-kira apa yang sedang dia lakukan sekarang..?"


"hmm, apa itu sayang?"


'gawat bagaimana ini, kalau sampai ayah tahu, aku harus mencari alasan yang masuk akal agar tidak membuatnya curiga.' ravella sedikit merasakan panik "oh ini surat dari kek roya, dan kek tama yah. mereka sudah lama tidak pulang.. jadi, sesekali mereka akan mengirimkan surat kepadaku untuk memberi kabar."


"memang kemana kedua spirit itu pergi? ayah juga sudah lama tidak melihat keberadaan mereka berdua?"


"mm, entahlah! katanya mereka ingin jalan-jalan mencari suasana baru, karena sedang merasa bosan, mungkin." lannox menyipitkan matanya dan menatap putrinya dengan sangat mencurigakan.


'astaga, apa jawabanku sudah meyakinkan! kakek, bantu aku jangan diam saja?' ravella melihat kearah zion, zion yang mengerti akan maksudnya langsung dengan sigap menanggapi.


"ehem.. ehem.. ya.. bocah, apa yang dikatakan putrimu itu benar adanya. aku juga ada disana saat mereka meminta izin pada putrimu."


lannox masih belum percaya dengan apa yang dikatakan zion, karena dia tahu betul watak putrinya ini nakal dan juga nekat.


"hmm, ya.. baiklah nak. untuk sekarang ayah tidak akan mempermasalahkannya, karena ada hal lain yang lebih penting untuk diketahui. dan kalian berdua! bisakah kalian jelaskan apa yang telah terjadi? dari saat kalian bertarung hingga kau sampai bisa berevolusi."


berapa menit kemudian.


(jura) "hmm ya.. seperti itulah yang terjadi nak."


"lalu kek garda! siapa mereka? aura mereka mirip sepertimu!"


"ah perkenalkan nak! mereka adalah saudara saya putri."


"hormat kami dewi" keenam pilar menunduk hormat dengan gaya sebelah tangan diletakkan didada mereka, ravella merasa canggung "saya garma saudara pertama, dan saya renma saudara kedua, saya doma saudara ketiga, saya ronba saudara keempat, dan saya golba saudara kelima, hee kalau saya yang keenam putri." ucap garda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu mereka melihat kearah jura.


"ke..kenapa kalian melihat kearahku!" jura mengalihkan wajahnya karena malu, yang lainnya tersenyum lucu melihatnya lalu garma menjelaskan dan membuat spirit yang mendengarnya ikut terkejut.


"dia adalah saudara kami yang ketujuh dan terakhir dewi."


(saga) "apa bagaimana bisa? dia menjadi saudara kalian, sementara dia adalah spirit milik dewi kami."


(gira) "ya.. kau jangan mengada-ngada garda?"


(jura) "kalau itu, jujur aku tidak ada tahu-menahu soal itu?"


(garda) "hee, sabar dulu teman-teman, aku akan menjelaskannya." garda lalu melihat kearah kakak-kakaknya, mereka mengangguk setuju, kemudian garda memejamkan matanya sebentar. 'wahai paduka.. paduka, apakah anda mendengarkannya?'


'ya.. ada apa garda?'


'paduka bagaimana ini, apa yang harus saya katakan?'


(gira) "kenapa tidak menjawab? malah diam." garma mengangkat tangannya.


(garma) "tenanglah dia sedang berkomunikasi." mereka terdiam lalu menunggunya hingga selesai.


'katakan saja seperlunya.'


'baik paduka.' komunikasi merekapun terputus. 'paduka selalu saja begitu? kenapa pelit sekali kalau bicara.' "huh, baiklah." garda melihat kearah mereka semua. "sedang menunggu ya..??? hehe"


(zaku) "sialan kau garda, tidak bisakah kau lebih serius?"


(garda) "ya.. ya.. aku akan serius sekarang ah bawel sekali kau, sebenarnya kami berenam adalah pilar perang yang berada di jalur terdepan, namun kekuatan kami tidak seimbang karena ketiadaan sang pilar ketujuh. dan kami, harus menunggu kelahirannya sekitar puluhan ribu tahun, atau bisa juga ratusan ribu tahun lagi. tapi tanpa kami sangka, kami mendapat titah dewa! akan kelahiran pilar ketujuh yang mendadak, dan orang itu adalah jura. awalnya kami juga sangat terkejut! saat sedang menunggu jura yang sedang berevolusi tiba-tiba! datang titah dewa yang mengatakan kelahiran pilar ketujuh telah tiba, dan kami disuruh berkumpul untuk menyambut kelahirannya, dan orang itu adalah jura."


(gira) "jika dia menjadi pilar ketujuh! lalu bagaimana dengan kontraknya sebagai spirit dewi?"


(garda) "tenang saja gira, dia akan selalu menjadi spirit milik dewi. bahkan tidak hanya kalian, kami juga akan selalu ada untuk membantu dewi karena itu juga tugas kami."


(garma) "benar seperti apa yang dikatakan garda dewi. namun, kami tidak bisa selalu ada disamping anda, akan tetapi.. kapanpun itu jika dewi membutuhkan, kami akan segera datang untuk membantu dewi."


"terimakasih kek atas tawarannya."


'aku masih belum mengerti maksud kek garda, tapi entah kenapa penjelasannya masih terlalu ambigu buatku!.'


(zion) "nak, sepertinya ada tamu yang sedang mencarimu?"


"apa, siapa?"


(zion) "sepertinya seorang pria paruh baya."


"ah, mungkinkah dia.." lannox teringat dengan arnold. 'tapi bukankah aku sudah menyuruhnya, untuk berlibur.' dia melihat kearah putrinya. "sayang.. sepertinya kau harus kembali sendiri, masih ada urusan lain, ayah tinggal dulu."

__ADS_1


"baik ayah." 'oke ini kesempatanku, mumpung ayah sedang pergi..


sekaranglah waktunya.' "para kakek sekalian.. sudah saatnya kita mulai pembahasan serius seperti yang aku janjikan."


suasana yang tadinya berisik, kini menjadi hening seketika.


(zion) "ya.. nak kami siap mendengarkan."


"dean apa kau sadar! sudah beberapa hari ini aku tidak melihat rog samasekali?"


"ya, mungkin saja dia sedang menenangkan diri, siapa yang tahukan!"


"tapi, ini sangat aneh dean? bukannya rog tidak pernah seperti ini sebelumnya?"


"apa maksudmu rey?"


"ya, kau lihat saja gerak-gerik teman kita satu itu, biasanya dia yang paling santai diantara kita, dan paling ceria. tapi.. entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa ada yang berubah dengan rog. dia jadi semakin dingin dan selalu ingin menyendiri tidak pernah mahu jika di ajak keluar alasannya selalu bermacam-macam."


dean yang selalu berpikir paling positif, kini mulai terpengaruh dengan apa yang dikatakan rey, karena apa yang dikatakan rey bukan berdasarkan perasaan belaka, tapi.. tidak hanya rey, dia juga merasakan perubahan temannya itu. hanya saja dia tidak pernah menggubris setiap perkataan rey, dia hanya menganggap mungkin itu rasa tidak suka rey kepada temannya rog.


"hmm, ya sudah! kita tunggu saja dalam seminggu, jika dia tidak juga kembali dan tak berkabar, baru kita mulai melakukan pergerakan."


"ya, aku setuju."


...****************...


"tap..tap..tap.. ceklik"


"halo yang mulia duke, maaf jika saya mengganggu waktu anda."


"hah.. Arnold, bukankah aku sudah katakan padamu, untuk mengambil libur panjang?"


"saya juga inginnya begitu yang mulia, namun selama persembunyian saya dalam waktu berapa minggu ini. saya jadi semakin bosan karena tidak terjadi apapun, dan juga tidak ada pergerakan apapun dari pihak musuh."


"begitukah, hmm..!" lannox jadi merasa aneh. 'ini terlalu tenang! memang aku belum dengar ada pergerakan apapun.'


"baiklah untuk sementara tinggalah disini dulu, melihat situasi sekarang terlalu memcurigakan untukmu berada diluar."


"baik, terimakasih yang mulia, tapi.. apa tidak ada yang bisa saya lakukan? saya hanya merasa bosan jika tidak melakukan apa-apa!" keluh Arnold pada lannox. "hmm untuk sekarang tidak ada, kau boleh pergi sekarang, ranov!"


"ceklik, ya yang mulia."


"tunjukkan count arnold jalan."


"baik, silahkan kesini mr. count!"


"ah, tunggu sebentar..! saya kelupaan, ini yang mulia saya membawa surat kabar hari ini.. saya harap anda tidak terkejut mendengarnya, saya undur diri dulu."


lannox melihat kearah meja tampak surat kabar yang masih baru, diapun meraihnya dan!


"apa.. ada wabah mematikan yang menyerang para penduduk kota vala, kenapa tidak ada yang memberitahukan informasi ini kepadaku. dante!"


"mengapa tidak ada yang memberitahukan informasi tentang wabah ini padaku, bukankah aku menyuruh kalian mengawasi pergerakan dikekaisaran?"


"ma..maaf yang mulia, i..itu.. anda sendiri yang memberi perintah. dalam waktu jangka sebulan ini, anda tidak ingin mendengar kabar apapun dari luar mantion. ja..jadi, kami tidak memberitahukannya kepada yang mulia."


"huh... katakan seberapa parah wabah yang menyerang warga dan sudah memakan berapa korban?" lannox mengernyitkan dahinya. 'ini salahku juga.'


"menurut kabar dari pihak istana, wabah ini terlihat biasa saja, namun dalam beberapa hari tubuh akan menjadi kurus kering, diare, serta muntah darah, tubuh menjadi lemas dan dada terasa sesak. dan juga, jumlah korban belum diketahui hingga kini..!"


"apa sudah ditemukan penawar dari wabah ini?"


"masih belum yang mulia! pihak istana masih belum menemukan solusinya, dan kasus ini menjadi perdebatan hangat diistana."


"baiklah tetap kau pantau pergerakan istana, jika sudah ada kabar beritahukan padaku."


"baik yang mulia, hamba pamit dulu bwussshh."


"ardan, yoan, bwussshh.. bwussshh.."


"ya yang mulia."


"bantu dante menyelidiki kasus ini."


"baik yang mulia. bwussshh.."


kedua kesatrian bayangan itupun menghilang dalam sekejap, keheningan bersemayam didalam ruangan kerja lannox.


"huh rasanya aku memang tidak bisa duduk tenang sekarang."


"dikekaisaran suasana muram dan gelisah tampak diraut wajah sang kaisar."


"lapor baginda, saya baru mendapat kabar dari pihak kuil."


sang kaisar yang tengah duduk diatas singgahsananya terlihat suram sambil menopang dagu disebelah tanganya.


"kabar apa sampai membuatmu tergesa-gesa seperti itu lagrin?" (note: lagrin adalah menteri penasihat kaisar.)


"baginda pihak kuil, mengatakan hanya air sucilah yang bisa menyembuhkan wabah."


"apa..! omong kosong macam apa itu? aku tahu kita telah bekerja sama dengan pihak kuil, tapi bukan berarti mereka bisa ikut campur seenaknya saja."


"tapi yang mulia.."


"aku tidak mahu mendengar apapun, baik itu dari pihak kuil suci, atau apapun itu. selama itu jawaban yang tidak realistis jangan dibicarakan disini."


"hah baiklah baginda."

__ADS_1


"setelah mendengar apa yang dilaporkan kek roya dan kek tama aku jadi mengerti situasinya." ravella membakar surat yang sudah dikemas dengan rapi dan.


"ini balasan dari dewi." surat itupun muncul dan jatuh tepat ditangan roya.


tama yang sedang duduk santai langsung tidak sabar mendengar balasan sang dewi. 'bacakan yang keras roya aku juga ingin mendengarnya.'


'baiklah. (untuk kakek roya, dan kek tama terimakasih atas kerja keras kalian. aku dan kakek yang lainnya juga telah merundingkan masalah ini. untuk surat adopsi.. lakukan saja kek! aku menyetujuinya, soal ayah biar aku pikirkan caranya nanti. untuk sekarang selamatkanlah dulu kedua orang yang kakek bicarakan dan bawalah kemari jika kakek sudah berjanji menjamin keselamatannya, maka itu juga telah menjadi tanggungjawabku. jika semuanya sudah selesai, segeralah kembali aku sangat merindukan kalian kek. ravella)'


(tama) "hmm.. baguslah karena dewi sudah menyetujui, kita bergerak sekarang..! akupun sudah tidak sabar ingin bertemu dengan dewi."


(roya) "ya kau benar, aku juga ingin segera menyelesaikan masalah ini. lama kelamaan aku jadi bosan. pantas saja yang lainnya, tidak mengeluh saat tidak diberikan misi, dan hanya aku sendiri yang bersemangat."


(tama) "heh, baru kau tahu rasa sekarang!"


(rog) "hei tunggu dulu, kalian mahu pergi kemana?" rog yaang tidak mengerti sama sekali hanya melihat dengan kebingungan


(tama) "kau ikut dengan kami, akan sangat berbahaya jika kau tinggal sendirian disini."


(rog) "oh baiklah."


merekapun bergegas, dalam perjalanan rog masih penasaran dan bertanya.


(rog) "hei tuan, aku sudah dua hari tidak memberi kabar pada temanku, mereka pasti khawatir! juga sudah curiga dan mengira aku kabur atau semacamnya. sementara kalau aku kembali kemarkas sudah pasti tidak aman untukku, aku pasti akan bertemu para pemburu. tapi jika aku tidak kembali..?"


(tama) "tenanglah.. mereka memang sudah menaruh curiga padamu, apalagi temanmu yang bernama rey! kalau sidean awalnya dia biasa saja, namun karena kecurigaan rey yang masuk akal dean jadi ikut terpengaruh dengannya."


(rog) 'apa.. bahkan dia tahu rey dan dean! siapa mereka sebenarnya...? seingatku! aku tidak pernah menceritakan tentang temanku kepada mereka.' rog merasa semakin aneh merasa kedua pria yang ada dihadapannya mengetahui secara detail tentang mereka. "darimana kalian tahu tentang temanku? bukankah aku tidak pernah menceritakannya."


(roya) "heh asal kau tahu bocah! informasi yang kami miliki itu jauh lebih cepat dan akurat daripada milik orsi yang kalian agungkan itu."


(rog) 'ya selama dalam seminggu ini, aku mengenal mereka, memeng benar informasi yang mereka dapat jauh lebih cepat dari pada orsi, semoga aku bertapak pada jalan yang tepat.' tidak hanya merasa aneh tapi juga sekaligus rog menaruh rasa kagum pada kedua orang yang ada dihadapannya itu. "lantas apa yang harus aku lakukan pada temanku?"


(tama) "santailah sedikit, kita akan mengurusnya nanti, untuk sekarang, kita akan mengurus surat adopsi untuk adikmu dulu."


(rog) "baiklah" tampak raut wajah yang beriak senang pada rog, ia menjadi tidak sabar untuk berkumpul bersama kembali dengan sang adik tercinta yang telah lama ia tinggalkan.


"tok..tok..tok.."


"siapa yang bertamu malam-malam begini..?"


"ceklik" tampak tiga pria dengan memakai jubah bertudung hitam didepan pintu. "maaf anda ada keperluan apa?" pria itu membuka tudungnya.


"ibu ini aku rog."


"astaga nak kaukah itu! rog apa yang kau lakukan malam-malam begini masuklah, siapa kedua orang yang bersamamu?"


"ah kenalkan bu.. mereka adalah tuanku mereka datang kesini ingin mengurus surat adopsi untuk adikku. maaf jika sudah mengganggu waktu istirahatmu bu..!"


"huh, tidak apa-apa sayang..! ibu hanya terkejut saja karena kedatangan kalian malam-malam begini biasanya orang-orang akan datang mengurus surat disiang hari."


pria berbadan tinggi mendekati mereka berdua yang sedang berbicara dan membuka tudung kepalanya, tampak pria berwajah buas namun dengan paras tampan.


"maaf mengganggu acara reuni kalian berdua, perkenalkan saya tama, seperti yang dikatakan putra anda. saya kemari ingin mengurus surat adopsi buat adik rog, dikarenakan kondisi kami yang tidak memungkinkan untuk berada lama disini.. jadi kami terpaksa memutuskan mendatangi anda dimalam hari. karena besok pagi kami sudah harus berangkat meninggalkan kota ini. bisakah kita mempercepat prosesnya."


"ah begitukah, baiklah tuan"


setelah selesai dan mengucap perpisahan terakhir, merekapun kembali kepenginapan bersama sang adik yang masih tertidur pulas dalam gendongan rog.


"terimakasih tuan! berkat kalian aku bisa berkumpul lagi dengan adikku."


"berterimakasihlah pada tuan kami."


"ya aku sudah tidak sabar ingin menemuinya, dan mengucapkan rasa terimakasihku kepadanya nanti."


sementara dimeja bundar besar, tampak para pilar dan spirit beast duduk berjejer mengelilingi meja bundar yang diketuai ravella.


(jura) "ternyata anak dua itu bisa berguna juga."


(zaku) "inilah yang dinamakan panen membawa hasil."


(gira) "heh apa kau tidak salah bicara tuh!"


(zaku) "cih terserah kau saja, mendefinisikannya seperti apa? aku tidak peduli."


tiba-tiba zion mendekati ravella, dan menempelkan kepalanya pada kening ravella.


'nak, aku akan pergi menemui ayahmu dulu, sepertinya dia sedang menemui jalan buntu.'


'baiklah kek, aku akan menyusulmu nanti.'


setelah itu zionpun menghilang dalam bayangan. jura yang memperhatikaan sejak tadi menjadi khawatir melihat ekspresi ravella.


"dewi sepertinya, sudah saatnya kami kembali. kami pamit dulu, jika dewi membutuhkan sesuatu panggil saja nama kami, kami akan langsung menemui dewi."


"terimakasih kakek garma, kapan-kapan bisakah aku mampir ketempatmu?"


"ya jika dewa mengizinkan tentu kami sangat senang dengan kehadiran anda dewi, baiklah kami pergi dulu dewi."


ravella menggangguk, dengan senyum ramah. dan merekapun menghilang sekarang hanya tinggal mereka berenam termasuk garda yang tetap tinggal.


"sayang ayahmu pasti menemukan sedikit masalah, tenanglah kita pasti akan membantunya, mencari jalan keluar."


"kek jura, bisakah kau menguping pembicaraan ayah? aku tahu ayah seperti apa, jika aku menanyakan ada masalah apa? dia pasti tidak akan mahu memberitahu."


"tenang saja dewi, biarkan aku yang melakukannya, kita tidak perlu repot-repot kesana. tik!" ucap garda menyeringai.


dalam sekajap tampak wajah zion yang sedang berbicara dengan lannox.

__ADS_1


"wow itu mengagumkan"


"tentu saja kita akan mendengar dan melihat langsung apa yang terjadi."


__ADS_2