
"Paman Hobgoblin, aku bisa menemani Putramu untuk bermain, tapi aku tidak bisa berlama-lama ada disini.. Karena aku juga mempunyai keluarga yang juga sangat mengkhawatirkanku.
Jadi, sebelum itu.. Bisakah anda memberitahuku, posisi kita sekarang ada dimana? Karena melihat betapa tidak normalnya tempat ini sudah pasti ini bukanlah dunia manusia bukan, lalu dunia apa ini?"
"Hahahah.. Kau anak yang cerdas nak. Benar sekali, ini bukan dunia manusia. Itu juga yang menjadi pertanyaanku saat melihat keberadaan kalian di sini..!! Bagaimana bisa ada anak manusia berkeliaran bebas di dunia ini..? Beruntunglah kalian menemukanku lebih dulu, jika kalian sampai bertemu dengan yang lainnya, sudah pasti kalian akan di jadikan santapan mereka.
Selamat datang manusia, kalian sekarang berada di dunia Hobgoblin, Kami sering di panggil monster oleh para manusia. Tentu saja yang di sebut Monster bukan hanya ras kami, masih banyak monster lain dengan jenis yang berbeda, Dan kami salah satu di antaranya.
Tapi tenang saja, aku mengerti kekhawatiran kalian, aku berbeda dengan Hobgoblin lainnya, aku tidak memakan daging manusia. Dan aku juga tidak suka bermusuhan dengan manusia.. Untuk itu, jika kau bisa membuat Putraku bahagia, aku akan mengembalikan kalian kedunia manusia.
Bagaimana, apa kalian masih menolaknya?"
'Paman ini, hanya wujudnya saja yang seram, kenyataannya dia adalah sosok yang baik dan peduli dengan Putranya. Meskipun aku tidak tahu.. Darimana datangnya aura pembunuh yang sangat kental itu!
Apakah karena bawaannya yang menyeramkan, atau karena dia ras Hobgoblin? Entahlah, kita akan mengetahuinya nanti.. Tapi untuk sekarang aku akan menikmati momen tersebut selama ada disini. Jarang-jarangkan bisa melihat pemandangan yang menakjubkan seperti sekarang hihi..
Oh iya! Hampir saja aku lupa. Sebelum itu aku akan membuat surat terlebih dahulu, dan mengirimkannya kepada kakek Roya.'
Tiba-tiba muncul pena emas dengan bulu merak putih, dan kertas hitam yang bercahaya. Keduanya melayang di depan putri Ravella.. Hobgoblin yang melihatnya merasa takjub, begitupun para pengawal dan kedua dayang yang melihat hal tersebut dari bawah. Kecuali Roland, yang sudah tidak heran lagi dengan apa yang di tunjukkan Sang Putri.
Sedangkan Gapi menempel ke kepala Ravella, Ia melihat apa yang di tulis. Pena dengan tinta emas itu sambil bergerak-gerak sendiri menulis mengikuti pikiran Ravella.
Setelah selesai menulis surat tersebut, surat dan pena itu pun langsung menghilang, dan dalam sekejap muncul di tangan Roya.
'Hmm.. Untuk Ayah, aku tidak perlu mengirim surat, aku akan menghubunginya secara langsung. Jika aku tidak meminta izin, dia pasti akan menyegel mata ketigaku, Dan itu tidak boleh terjadi.'
Ravella mengeluarkan kalung permata darah dari kerah pakaiannya, yaitu kalung yang pernah di berikan ibunya untuk sang Ayah dan dirinya.. Ia memegang kalung tersebut dan mencium permatanya, tak lama keluar cahaya yang memantulkan wajah sang Ayah.
***
Di ruang kerja Duke, Duke yang sedang duduk disofa, tiba-tiba saja terkejut. karena Kalung di lehernya seolah menariknya, lalu.. Duke mengikuti gerakan kalung tersebut yang memancarkan cahaya terang dan mengeluarkan cahaya yang memantulkan wajah Putri kesayangannya.
"Ada apa dengan kalung ini, apa yang terjadi.. bukankah itu Putriku!!" Lannox melihat kalung tersebut bersinar terang dan muncul wajah Putrinya yang ceria sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
"Halo Ayah..., ini aku Putrimu. Ayah.. Sebelum itu Ravel ingin meminta izin pada Ayah, bolehkah..?''
''Kau dimana nak? kenapa tidak langsung menemui Ayah.'' Duke tampak mencurigai sesuatu.
Sadar akan kecurigaan sang Ayah kepadanya, Ravella pun segera mencari alasan yang masuk akal.
''Ngh, Sekarang Ravel ada di gazebo, jadi Ayah tidak perlu khawatir. yang jelas Ravel ingin meminta izin Untuk keluar bolehkan? Ayah sudah janji kepadaku akan mengizinkan Ravel, jika aku meminta izin lebih dulu!'' Ujarnya dengan wajah memelas.
'Hemm.. sepertinya dia sedang berbohong! dan memanfaatkan janjiku untuk melepaskannya. bocah nakal, kali ini rencana apalagi yang akan dia lakukan?' Duke mendengarkan sambil berpikir, ia melihat gelagat Putrinya yang tampak aneh. ''Apa kedua dayang dan pengawal ada bersamamu..?'' Ujarnya dengan mata menyipit.
''Ya, mereka di sini bersamaku.'' Ujarnya ceria.
''Baiklah, Ayah akan mengizinkanmu, pulanglah sebelum gelap.''
''Ngh? kalau itu Ravel tidak bisa janji Ayah.''
''Kenapa?''
''Aku sedang bersama temanku sekarang, jadi Ayah tidak perlu menungguku saat makan malam, aku pergi dulu dah.. Ayah!''
''Tunggu dulu, sejak kapan Putriku mempunyai teman? ini tampak mencurigakan, Zion.....!''
***
Di tempat lain, Roya yang sedang berbicara dengan keenam temannya.. Tiba-tiba saja mereka Di kejutkan dengan penampakan yang familiar. muncul kertas hitam dengan tulisan emas, di hadapan mereka.
''Ini.. bukankah ini pos sihir?'' Ungkap Tama, yang sudah akrab dengan pemandangan tersebut.
''Kau benar ini milik Dewi.'' Jawab Roya yang juga terkejut.
''Cepat baca, pasti ada pesan penting dari Dewi.'' Ujar Zaku tidak sabaran.
Roya mengangguk dan membacanya di dengar oleh kelima Spirit lainnya.
__ADS_1
"(*HALO KAKEK SEKALIAN..., INI AKU. MAAF YA.. TELAH MEMBUAT KALIAN SEMUA KHAWATIR, AKU SEKARANG ADA DI SUATU TEMPAT. DAN AKU TIDAK BOLEH MENYEBUTKANNYA, KARENA INI RAHASIA HIHI.. AKU AKAN MENJELASKAN KRONOLOGI KEJADIANNYA NANTI. JADI KAKEK TIDAK PERLU KHAWATIR YA, KARENA AKU AKAN SEGERA KEMBALI SETELAH MENYELESAIKAN SEDIKIT URUSAN. AKU TITIP AYAHKU KEK.. TOLONG RAWAT BELIAU DENGAN BAIK HEHE...
RAVELLA*.)"
''Anak itu haah..., Pasti ia curiga jika kita akan menyusulnya. Karena itu Dewi tidak memberitahukan dimana posisinya sekarang.'' Ujar Saga menghelah nafas.
Jura yang tampak sedang memikirkan sesuatu.. segera berujar kepada yang lainnya.
''Kawan-Kawan kalian kembali saja dulu, aku masih ada urusan lain yang harus di selesaikan.'' Ujar Jura, lalu pergi begitu saja.
''Memangnya kau mahu kemana?'' Tanya Gira, yang tampak curiga.
Jura menghentikan langkahnya, tanpa menoleh kebelakang.
''Maaf, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang.'' Setelah itu Jura langsung menghilang.
'Sepertinya ada yang aneh dengan anak itu?' Roya memperhatikan Jura di dalam diam, tanpa membuat yang lain curiga. ''Baiklah kalau begitu, aku juga harus pergi.'' Ujar Roya menatap pada yang lainnya, lalu menghilang.
"Kemana kedua bocah itu pergi? semuanya sibuk melakukan apa memangnya, sampai tergesa-gesa begitu." Celetuk Zaku.
"Puk..Puk.. Sudahlah, biarkan saja mereka. Ayo kita kembali ke mansion." Ujar Saga, sambil menepuk bahu Zaku.
***
Di perpustakaan Zion sedang membaca novel yang sempat terhenti karena mencari keberadaan sang Putri. saat ia sedang fokus-fokusnya membaca.. Terdengar teriakan keras memanggil namanya.
"Zionnnn.....!!!!!"
'Cih, tidak bisakah dia melihat aku tenang sebentar saja.' keluhnya dalam hati. "Katakan ada apa? Tidak perlu sampai berteriak, karena pendengaranku masih bagus." Ujarnya mengeluh.
"Zion, Putriku tidak ada di mansion." Ujar Duke panik.
"Kau terlalu khawatir bocah, bisa saja dia sedang bermain di taman belakang mansion." Ujar Zion berpikir positif.
__ADS_1
"Sial.... Aku serius Pak Tua!!! Anak itu menghubungiku melalui kalung yang diberikan istriku. Dan dia bilang akan telat pulang malam ini karena sedang bersama temannya."
"Bruuukk gedebak... Kapan terakhir dia menghubungimu??"