AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
BERKUMPUL DI LAPANGAN UTAMA


__ADS_3

Di Samudra Bermuda.. Seorang Pria tampan sedang bersemedi dengan fokus. Ia melepaskan segala hal sambil merapalkan doa-doa yang tidak bisa di dengarkan siapapun.


Sedangkan Belka, yang tidak tahu harus berbuat apa-apa? Hanya fokus memandangi wajah Pria yang ada di depannya itu, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


Ia bertopang dagu pada kedua tangannya.. Ekornya terus bermain-main, bergoyang kekiri dan kekanan, dan memikirkan cara untuk menggagalkan semedi Pria yang ada di hadapannya.


'Aku tidak pandai merayu, kenapa Yang Mulia malah mengirimku! Seharusnya ia memilih orang yang pintar, dan lebih cakap dalam hal ini.


Belka terus menatap lekat sosok Garda yang tampan, sambil mencari ide! Bagaimana caranya, menggagalkan semedi Pria yang ada di hadapannya tersebut.


Tiba-tiba muncul sepintas lalu, sebuah ide konyol singgah di benaknya. 'Heem.. Kenapa tidak terpikirkan oleh ku sejak tadi ya..! Lagian, mengganggu tidak hanya dengan cara merayu saja bukan? Masih banyak alternatif lain, yang bisa kugunakan.


Meskipun ini agak berlebihan sih! Tapi aku harus mencobanya dulu..., yah syukur-syukur berhasil. jika tidak, aku tinggal kembali dan menerima hukuman dengan besar hati.


Walaupun aku tidak tahu, hukuman yang seperti apa? Yang sedang menantiku! Kenapa sampai harus repot berpikir!! Dasar Belka.. Belka.. Kenapa kau begitu bodoh sih?' pikirnya kesal.


Dan sepuluh menit kemudian.. Belka berkata pada Garda! Sebelumnya, maafkan aku Tuan..! Ini aku lakukan bukan karena aku ingin, tapi murni karena perintah yang tidak bisa aku bantah.


Belka lalu menggelitik perut Garda, dengan bunga laut, yang agak lembut dan kenyal. Wanita duyung itu.. Terus memutar laju bunga tersebut!


Ia menaikkan sedikit baju Garda, dan mengarahkan bunga tersebut pada pinggangnya, ketiak, dan sesekali di dalam hidung. Agar Garda merasa geli dan ingin bersin. Dan, dua puluh menit kemudian...!


"Haah.. Ini tidak berhasil, bagaimana ini? Apa aku kembali saja dan menyerah dengan misi ini..! Oh Dewa, ini benar-benar konyol!!' keluhnya sambil mondar-mandir di tempat.


'Aku harus bagaimana sekarang...??' pikirnya, yang hanya menemukan jalan buntu.


Dan, saat ia tengah di sibukkan dengan pikirannya untuk menggagalkan semedi Garda, tiba-tiba muncul sesosok ikan Paus besar, tubuhnya sepuluh kali lipat lebih besar daripada tubuh Belka.


Ia melihat kegelisahan Wanita Duyung tersebut, dan datang menghampirinya.. Ia pun langsung menyapa Wanita itu, Menanyakan perihal kegalauan Belka.


"Hei Belka.. Apa yang sedang kau lakukan di tempat ini, sendirian pula??" tanyanya khawatir.


*****


Lannox yang sedang menggeledah seisi Mansion, tidak menemukan kejanggalan akan adanya penyusup, ataupun orang yang mencurigakan.


Ia mengerutkan keningnya sambil memegang dagu merenungkan kejadian yang membingungkan! Tanpa mereka tahu, jika sebenarnya.. penyusup yang berhasil masuk telah di temukan.


Zion, yang mempunyai penciuman tajam. Bahkan tidak berhasil melacak keberadaannya. Begitupun dengan Argus, bahkan darah setengah Dewanya pun, tak mampu menembus keberadaan penyusup.


Rabarus pun tiba di tempat tujuan, tampak lima orang berpakaian serba hitam sedang melakukan ritual terlarang. Rabarus menyamarkan kehadirannya, dan mencoba mencari tahu apa yang mereka inginkan.


Sampai bisa menyusup secara diam-diam dan tidak ada satupun, yang bisa merasakan keberadaan mereka.. Kecuali Rabarus, Rabarus menyatu dengan udara berjalan mendekat sesuka hati. Tanpa ada yang mengira, jika mereka sedang di awasi.


'Hem.. Lima Penyihir hitam tingkat menengah! Sebaiknya.. Aku beri mereka sedikit pelajaran hihi. Tiik' Rabarus memetikkan jarinya. Dan, dalam dalam beberapa detik, para penyihir di terpa angin kencang.


Padahal suhu udara tadinya biasa saja, tenang dan hening. Namun seketika.. Berubah jadi kencang dan ganas.


"Wuuusssshhhh!! Wuuuussshhhh!!!"


"Aaaaaahhhhkkkkk apa yang terjadi.. Ti-tiba-tiba anginnya...!" ujar salah satu penyihir terputus.


"Cepat lindungi diri kelian dengan sihir penghalang" ujar yang lainnya.


Kelimanya mendengar perintah dari ketua mereka dengan patuh.. Mereka menggunakan sihir penghalang angin. Dan, dalam sekejap tubuh mereka langsung terlindungi.


'Hehehe.. Menarik. Tiik!' Rabarus menjentikkan kembali jarinya.. Dan dalam sekejap angin kencang langsung tenang.


Para penyihir mulai menyadari ada yang aneh dengan kedatang angin yang tiba-tiba muncul dan berhenti lagi.


"Hei.. Aku rasa ritual ini sebaiknya kita tunda dulu!" ujar salah satu penyihir yang lainnya.

__ADS_1


"Aku setuju.. Ada yang tidak beres!"


"Apa mungkin, ada yang menyadari keberadaan kita?"


"Itu tidak mungkin, Tapi, bukankah kita telah menutupi dengan sihir penghalang! agar tidak ada yang bisa menyadari atau melihat keberadaan kita."


"Heem.. Aku rasa ada seseorang yang mempunyai sihir tingkat tinggi. Jika tidak, mana mungkin ada yang menyadari keberadaan kita."


"Lalu.. Bagaimana sekarang, ritual pemanggilan kita telah gagal."


"Ayo kita cari penyusup itu sekarang! Tidak ada waktu lagi.."


"Baik.." ujar keempatnya serentak.


Rabarus terus menyeringai melihat reaksi para penyihir, yang tampak kebingungan mencari keberadaannya. Para penyihir mencoba membuka tirai yang menghalangi pandangan mereka.


Namun, semua itu sia-sia. Mereka tetap tidak bisa melihat apapun. Kelimanya berdiri melingkar, menunggu celah untuk bertindak. Alhasil nihil, beberapa menit telah berlalu, tapi, tak jua ada tanda-tanda keberadaan musuh.


Hingga salah satu dari mereka mulai bosan dan bertanya pada yang lainnya. "Hei.. Apa benar ada penyusup? Sudah beberapa menit kita menunggu, tapi tidak ada hasil. apa Jangan-jangan kau telah salah menduganya?" jelasnya.


"Kau benar, kita jadi terlihat bodoh jika seperti ini." sambung yang lainnya.


Saat yang salah satu dari mereka berbicara, mengutarakan pendapat mereka! Namun, yang lainnya ada yang tidak sependapat dan menganggap salah satu teman mereka terlalu suka mengeluh, hingga terjadi percekcokan dalam tim.


Rabarus yang memperhatikan hal tersebut, tertawa dan mulai mengambil kesempatan. Dalam sekejap, salah satu teman mereka menghilang dengan tiba-tiba, yang lainnya terkejut. Dan berteriak memanggil temannya yang telah hilang.


Sementara Rabarus telah menciptakan ruang dimensi lain, yang tidak bisa di lihat oleh siapapun. Ia menarik salah satu teman mereka.. Penyihir itupun terkejut melihat sosok Rabarus, yang di matanya! Sosok Rabarus terlihat sangat menyeramkan.


"Si-siapa kau?".


"Kau tidak perlu tahu siapa aku! Justru sebaliknya, siapa kalian? Beraninya kalian memasuki area perlindunganku."


"Cih, bukan urusanmu." ujarnya. kemudian langsung menyerang Rabarus.


Menyadari itu, Rabarus menjentikkan lagi jarinya. "Baiklah, ternyata kau lebih suka bermain kasar hah! Kalau begitu aku pun tidak akan menahannya lagi hehe..." ujarnya berseringai.


Hanya dengan jentikkan jari Rabarus, penyihir yang tadi menyerang Rabarus, dengan cepat menyembunyikan dirinya. Namun, Rabarus yang sudah puas bermain-main, Langsung meledakkan penyihir tersebut, tubuhnya pun hancur lebur dalam waktu singkat.


'Aku akan mempercepatnya saja, aku juga sudah muak melihat penyihir busuk seperti kalian!' ujarnya langsung keluar dari ruang udara, dan muncul begitu saja di hadapan keempat musuhnya.


Keempat penyihir tadi tampak terkejut, tiba-tiba ada seseorang keluar entah darimana.


"Jadi, kau yang telah mengganggu Ritual kami?" tanya ketua penyihir ketus.


Rabarus tampak dingin, ia tidak merespon ucapan musuhnya. Hanya diam memperhatikan dengan satu alis yang terangkat


"Kau.. Beraninya kau mengabaikan aku! Jawab akuuu... Jika tidak, kau akan kami musnahkan." ujarnya mengancam.


Rabarus kelihatan jengah, ia mengalihkan pandangannya sekilas, seolah geli mendengar ancaman mereka.


"Jangan banyak bicara, ayo kita persingkat saja. Tik." ia menjentikkan jarinya lagi. Seketika, tangan dan kaki keempat penyihir terkekang dengan rantai emas.


"A-apa ini.. Kenapa tidak bisa di lepas? Kau.. sialan! Cepat lepaskan kami??" bentaknya, dengan tatapan nyalang.


"Cih, dalam mimpimu." celetuk Rabarus malas, lalu kembali menjentikkan jarinya dua kali. Muncullah gelembung yang membungkus tubuh keempat penyihir, dan bibir mereka di buat menghilang hingga mereka tidak bisa berbicara.


Dan Rabarus kembali merubah dirinya menjadi seekor Rubah Putih besar, seperti saat pertama kali ia muncul membuat kegemparan di Mansion. Dan langsung menghubungi ketiga orang penting yang ada di Mansion.


'Anak-anak.. Hentikan pencarian, karena sumber kekacauan sudah tertangkap. Berkumpulah di lapangan utama, Aku akan membawa mereka segera kehadapan kalian.' ujarnya lalu memutuskan koneksi.


'Su-suara ini..! Tunggu, selain Master dan Senior, hanya Rubah Putih itu! yang bisa melakukannya.' pikirnya sambil memegang dagunya, lalu memperhatikan Mansion dan bergumam pada yang lain.

__ADS_1


Argus menggunakan sihir pembesar suara, ia pun berbicara dengan santai memberi pengumuman, Pada pasukan yang ada di dalam perisai.


'Heh, dengan begini aku tidak perlu berteriak.' pikirnya. "Semuanya.. Hentikan pencarian, dan berkumpul di lapangan utama sekarang. Hem.. Jika kalian terlambat semenit saja, bersiaplah berlari keliling lapangan, sampai fajar menyingsing.


"Haaa..." terdengar suara riuh Para Prajurit yang tampak terkejut dengan ucapan Argus. Dan, semuanya bergegas berlari menuju lapangan utama.


"Hihihi... Mereka tampak lucu." ujar Argus saat melihat ratusan Prajurit berlari ketakutan, saat mendengar ucapannya.


Sedangkan di sisi lain.. Zion, yang mendengarkan suara Rabarus. Tampak terkejut. 'itu.. Bukankah suara Rubah Putih waktu itu? Cih, dia memang berbeda.' pikirnya. Lalu memerintahkan para pasukan.


"Semuanya.. Hentikan pencarian, dan segera kelapangan utama sekarang. Dalam waktu lima menit, semuanya sudah harus berkumpul di lapangan utama. Awas saja jika terlambat, bersiap-siaplah menerima hukuman dariku." ujarnya lalu menghilang.


Para Prajurit yang mendengarkan langsung berlari cepat menuju lapangan utama.. Sedangkan di dalam Mansion, Lannox yang baru saja mendengar intruksi Rabarus.. Dengan cepat memerintahkan seluruh pasukannya untuk keluar menuju lapangan utama.


"Semuanya berhenti, segera berkumpul kelapangan utama sekarang..!" tegasnya lantang.


"Siap Yang Mulia." semuanya dengan cepat berlari kelapangan.


***


Lima menit kemudian, Di lapangan, Argus, Zion, dan seluruh pasukan sudah berkumpul di lapangan. Dan tak lama, Duke pun muncul, semua mata yang melihat kehadirannya, menundukkan badan dengan hormat. Begitu pun dengan Argus, kecuali Zion.


"Hormat pada Yang Mulia." ujar semuanya serentak.


Lannox mengangguk, dan berdiri di depan kedua Spiritnya. Argus sangat tidak suka melihat sikap tidak sopan, yang di tunjukkan Zion. Namun, ia menahan mulutnya, karena ada Sang Master yang sangat ia hormati.


Tak lama.. Angin berhembus kencang di hadapan mereka. Dan muncul seekor Rubah putih besar, Tubuhnya tampak putih bercahaya namun tidak menyilaukan.


Bulu-bulu halus panjang dan lebat, menyelimuti tubuh besarnya. Kemunculannya membuat banyak mata terpukau pada keindahannya. Tanda di kening Rabarus, mengeluarkan cahaya emas. Tanda kepemilikan Kaisar Zando. namun, Rabarus belum menyadari tanda itu.


"Katakan, untuk apa kau mengumpulkan kami di sini?" Tanya Lannox, tanpa bertele-tele.


Rubah Putih Besar itu menjentikkan Jarinya, dan dalam sekejap muncul empat gelembung yang melayang di hadapannya.


"Mereka adalah pembuat onar yang kalian cari." semuanya melirik sosok yang ada dalam gelembung tersebut.


"Bukankah mereka penyihir hitam?" ucap Argus yang membuat para prajurit heboh.


"Heh.. Benar sekali. Aku menemukan mereka saat sedang melakukan ritual pemanggilan." jelasnya sambil melihat kearah Lannox sekilas, lalu kembali bergumam. "Tugasku sudah selesai Nak, kalau begitu aku akan kemb..."


"Tunggu... Aku ikut." belum sempat Rabarus menyelesaikan perkataannya, Lannox langsung menyela.


"Heh.. Baiklah ayo!" ujarnya menyeringai, sambil berjalan kearah Rabarus.


"Tunggu dulu bocah, kau mau kemana lagi? Baru saja kau sampai, dan sekarang sudah mau pergi lagi...!" ujar Zion, menahan Lannox.


"Aku akan kembali menjemput Putriku, karena aku sudah janji padanya. Ayo Pak Tua." jelasnya, lalu memberi aba-aba pada Rabarus, untuk segera berangkat.


Dan dalam sekejap, keduanyapun menghilang. Setelah kepergian keduanya, semuanya jadi hening. Argus hanya menghela nafas, Tiba-tiba terdengar suara Argus memecah keheningan.


"Lalu.. Apa yang akan kita lakukan pada mereka, senior?" ujarnya melihat kearah empat penyihir, yang sedang terbujur pingsan.


"Hem.. Sepertinya mereka penyihir tingkat menengah. Bawa mereka keruang tahanan khusus, dan segera lakukan introgasi. Lalu.. kita tinggal menunggu perintah dari Master. Aku akan menyusulmu, nanti." ujarnya lalu menghilang.


"Haah.. Merepotkan saja." ujarnya, sambil memperhatikan keempat penyihir. 'Hem..hem.. Ini lebih baik kebetulan aku juga sedang merasa bosan.' pikirnya.


Argus baru ingin membawa keempat penyihir, tapi geraknya terhenti saat menyadari para prajurit masih berkumpul menunggu perintah.


"Heum.. Apa yang kalian lakukan? Cepat bubar, kembali lakukan tugas kalian." perintahnya pada pasukan.


"Baik Yang Mulia." merekapun membubarkan diri, dan kembali menjalankan tugas seperti biasanya.

__ADS_1


Argus pun langsung menghilang dengan keempat penyihir tersebut, sedangkan Zion, pergi Ke Zona Mana menyusul Sang Master.


__ADS_2