
"Kalau begitu ayo kita kembali ke Kastil, setelah mendengar keseluruhan cerita kalian. Aku jadi penasaran dengan keadaan Master kalian.
Anak sekecil itu.. Sangat wajar jika ia merasa sangat ketakutan. Pasti ada sesuatu yang telah ia saksikan atau ia dengar secara langsung, saat bersama Pria bernama Garda itu." ujarnya yang di angguki oleh yang lain.
Namun dalam hati.. Ia sedang menyaring semua yang ia dengar dari Para Spirit, dan juga sedang mengamati kondisi Dewi kecil yang bernama Ravella.
'Heum.. Meskipun aku sudah tahu jika ia sebenarnya juga seorang utusan yang lebih senior dariku. tapi, entah apa yang telah terjadi pada keduanya..?
Sehingga membuat seorang anak kecil yang sangat cantik dan lucu itu.. Menjadi murung. Sampai tidak mau berbicara pada siapapun, bahkan termasuk dengan Ayahnya sendiri..! Ini sangat aneh!!?
Bisa saja Paduka telah menegurnya, karena telah berani membawa Permaisuri tanpa seizin Paduka, Apalagi Paduka, tampaknya sangat menyayangi dan begitu melindungi Nona kecil itu.
Dan juga.. Ada yang ingin aku sampaikan padanya. Dan lagi, aku juga belum mempunyai kesempatan berbicara dengan Jura secara empat mata, untuk menanyakan tentang siapa sebenarnya Nona kecil itu!
Yang selalu di sebut Permaisuri oleh Paduka, aku akan membahas masalah ini dengan Jura nanti, Karena masih banyak hal yang tidak aku ketahui tentangnya.
Dan lagi.. Ia sering di panggil Dewi, oleh bayi Naga tersebut. Begitupun dengan keenam anak-anak ini. Mereka juga tampaknya, seperti mempunyai sebuah ikatan yang sudah terjalin oleh takdir sejak lama.
sampai-sampai bocah Naga yang masih bayi tersebut, berani menentang kehadiranku saat melihatku mendekati ibu asuhnya itu.
Tapi, itulah kenapa membuat aku sangat tertarik padanya!! Ia memiliki sesuatu yang tidak bisa aku jabarkan untuk saat ini.
Untuk itu.. Aku akan mengamati pertumbuhannya. Pasti ada sebab lain, yang belum aku ketahui.' pikirnya menelaah.
***
Dan setelah ia sibuk berkutat pada masalah Ravella dan Gapi, akhirnya.. Mereka bertujuh pun kembali ke Kastil, tempat Ravella tertidur dengan kedua orang tua yang sangat menyayanginya.
Sekembalinya mereka ke Kastil, tampak Zion sudah terjaga. Dan ia sedang mengamati kedua anak manusia yang sedang tertidur sambil berbaring di atas tubuhnya yang besar, dan berbulu lembut dan panjang.
Singa putih itu.. Tersenyum saat mengamati keduanya. Ia tampak senang dengan pemandangan langka tersebut,
Apalagi Sang Master, semenjak ia debut di hari kedewasaan, ia tidak pernah lagi tidur di dekat Zion. Namun berbeda dengan saat ini..
Kehadiran Putri kesayangannya.. Telah banyak mengubah sikapnya selama ini. Ia yang dulunya sangat egois, kasar, dan sangat dingin. kini bersikap begitu lembut saat berada di dekat Putrinya.
Tak Lama Zion tersenyum lembut.. Mengingat hal tersebut. Sang Master yang telah ia anggap Putranya sendiri.. Kini telah banyak mengalami Perubahan besar.
Kehadiran Putrinya telah mengubah segalanya.. Dalam hati ia pun bergumam. 'Haah.. Kau telah tumbuh menjadi Pria Dewasa Nak! Aku merasa sangat bangga dan beruntung menjadi bagian dari kalian Berdua.' gumamnya tersenyum.
Tak lama.. ketujuh Raja Spirit pun muncul dan menyapa Zion yang masih belum menyadari kehadiran Ketujuh Raja Spirit tersebut.
"Apa yang kau senyumkan cucuku? kau tampak sangat bahagia sekali..!" gumam Zaku, menghampirinya.
Melihat kehadiran Ketujuh Spirit tersebut, senyumannya langsung menghilang dari permukaan Wajahnya..
"Aku hanya teringat masa lalu saja, omong-omong kapan kalian tiba di sini Kek? Sudah beberapa hari aku tidak melihat keberadaan kalian.
Dari mana saja kalian, sampai mengabaikan Master kalian sendiri. Spirit macam apa yang bertingkah semaunya seperti itu?
Bukankah kalian sudah berjanji padanya.. akan bersumpah setia melindunginya dengan nyawa kalian sendiri...!!" ujar Zion kesal.
__ADS_1
"Haah.. Ini memang salah kami Nak, mungkin ia pergi dari Kastil karena merasa di abaikan oleh kami semua. Tapi sejujurnya.. Kami tidak pernah ada maksud berbuat seperti itu! Ini semua murni, hanya sebuah kesalah pahaman belaka." ujar Zaku.
Lannox yang sudah bangun sejak kemunculan Spirit milik Putrinya, masih berpura-pura tidur dan mendengarkan semua percakapan mereka dalam diam.
Ia sendiri juga tampak sangat penasaran, kenapa Beberapa hari ini.. Para Spirit jarang muncul. Padahal Putrinya telah kembali..!
Untuk itu dia mencaritahu, dengan menguping pembicaraan Para Spirit dalam diam. Sedangkan Ravella.. Setelah ia lelah menangis,
Ia tertidur dengan sangat nyenyaknya.. Seolah tidak terjadi apapun.
"Apa maksud kalian?" tanya Zion penasaran.
...----------------...
"Hem.. Sangat di sayangkan sekali, setelah mendengar alasan kalian datang ketempat ini.. Aku jadi berubah pikiran."
Mendengar jawaban Damu, Pria itupun menyipitkan matanya saat menatap Damu, Ia sangat tidak suka dengan jawaban Damu yang seolah sedang menantang mereka.. Dan menolak untuk pergi.
"kalau begitu.. jangan salahkan aku, jika aku menghabisi kalian di tempat ini dalam sekejap."
Damu yang mendengar ocehan dari sang Pemimpin musuh, langsung balas berujar. Membuat musuh mulai terpancing dengan omongannya.
"Heeh, kalian pikir kami hanya Cumi panggang yang hanya diam saja ketika di serang!! Cih.. Kalian terlalu meremehkan kami." ujar Damu, berseringai licik.
Sang peminpin yang mendengarkan respon Damu, tampak agak kesal melihat perubahan sikap Damu.. Yang berubah drastis.
Ia yang tadinya masih bersikap sopan, kini malah bersikap menantang musuhnya dengan percaya dirinya. Ia juga terlihat tidak takut sama sekali dengan ancaman dan jumlah yang dimiliki oleh pasukan musuh.
'Cih, setelah tahu alasan mereka.. Mana sudi aku membiarkan hal tersebut terjadi. Meski nyawa kami taruhannya.. Jika itu demi melindungi Permaisuri Dewi, apapun akan aku lakukan, sebab inilah Paduka mengutus kami.' Pikirnya mulai bersemangat.
"Cih, terserah apa katamu! Kalau begitu tidak perlu basi-basi lagi, ayo kita mulai. SEMUANYA.. SERANGGG..!!!!!" Damu berteriak dengan lantangnya.. Perintah pun telah di berikan.
Perintah Damu langsung membakar semangat Seratus Prajurit yang ada di belakangnya, Perang pun di mulai. Tidak hanya Damu, Pasukan musuh yang tidak ingin kalah pun, langsung balas berteriak dengan semangatnya.
"SEMUANYA..... MAJU...!!!!!"
"YA........!!!!" sahut seribu Pasukan tersebut bersemangat.
***
Sementara itu di tempat lain, Garda yang mulai serius, tiba-tiba langsung di hentikan oleh Sosok besar Bayangan Hitam tersebut.
"Kenapa kau ingin tahu???" tanya Garda penasaran.
"Karena aku pernah melihat Tombak yang ada di tanganmu.. Karena itu, untuk memastikan apakah dugaanku ini benar, makanya aku menanyakan hal ini." ujarnya sambil melihat Tombak yang ada di tangan Garda.
Melihat pandangan matanya yang hanya terfokus pada Tombak tersebut, Garda mengangkat tangannya, dan melihat Tombak yang ada di tangannya itu dengan alis terangkat sebelah.
"Tombak ini adalah hadiah dari Paduka Dewa, untukku. sejujurnya.. aku pun tidak tahu siapa nama beliau yang sebenarnya.
Karena aku tidak punya hak untuk mencaritahu hal tersebut!! Akan tetapi.. Paduka sering di panggil dengan gelar beliau yaitu..!!"
__ADS_1
***
Di Mansion, Argus yang tengah di sibukan dengan berbagai kegiatan lapangan di luar kota, belum bisa kembali ke Mansion.
Dan yang menggantikannya mengurus dokumen di ruangan kerja Duke, adalah Ranov si kepala pelayan. Sedangkan Rog dan Ron..
Perubahan bentuk tubuh keduanya telah mengalami banyak perubahan, dan itu adalah hasil dari latihan giat mereka selama hampir sebulan ini.
Tubuh Ron pun sudah semakin bertumbuh tinggi, kini ia sudah setinggi bahu Kakaknya. Dan ia sangat senang dengan perubahan tingginya saat ini.
Ia terus berlatih dan menunjukkan perkembangannya.. Robi dan Dean yang selalu mengawasinya latihan, sangat bangga melihat perkembangannya.
"Kau sudah semakin tinggi saja Ron.. Dan pergerakanmu juga semakin gesit." ujar Dean sambil mengusap wajahnya dengan bajunya.
"Benar, tidak lama lagi kau sudah bisa berlatih di bawah pengawasan Komandan Roland langsung." sambung Robi, yang tengah duduk melepas lelah.
"Haha... Benarkah? Kalau begitu aku jadi tidak sabar menyusul kakak. Dan menunjukkan hasil latihanku kepada Yang Mulia Putri hihiii." ujarnya bersemangat.
"Cih, sepertinya kau sangat menyukai Yang Mulia Kecil..!" ujar Dean menyelidik.
Ron yang wajahnya memerah dan tampak malu-malu.. Mengusap kepalanya yang tidak gatal, dan bergumam.
"Hehe.. Apakah kelihatan seperti itu??"
"Hem.. Tentu saja. Siapapun yang melihatmu seperti ini, akan berpikir sama sepertiku. Tapi sebaiknya kau urungkan perasaanmu itu bocah." ujar Dean menasehati.
"Ke-kenapa?" ujarnya tampak tidak suka, dengan jawaban Dean.
"Karena level beliau terlalu tinggi untuk kau gapai, apalagi Pawang beliau terlalu banyak." ujar Dean sambil mengelap pedangnya.
"Apa yang di katakan Dean, itu benar Ron, bahkan.. tidak hanya Yang Mulia saja, Tapi, Kedua Spirit Yang Mulia yaitu! Yang Mulia Zion juga bersikap sangat Protektif jika itu menyangkut Yang Mulia Kecil.
Tidak hanya itu saja.. Kami bahkan melihat sendiri, jika Yang Mulia Argus juga terlihat sangat me.. Plaaak..., auuuhh sial itu sakit Dean."
"Hati-hati kalau bicara, apalagi di depan anak kecil. Jika sampai ada yang mendengar ucapanmu barusan, Kepalamu bisa melayang." ujar Dean mengingatkan temannya itu, sambil melihat kearea sekitar.
"Yah, aku minta maaf. Kalau begitu! Cukup sampai disini saja latihannya. Kita akan lanjut lagi besok, aku pergi dulu!" ujar Robi yang bangkit berdiri, dan meninggalkan Ron dan Dean.
Melihat temannya sudah menjauh, Dean yang sedang melipat kedua tangannya menepuk bahu Ron pelan, dan bergumam padanya.
"Puk..puk.. Kalau begitu aku juga akan pergi, karena masih ada pekerjaan lain yang sedang menunggu ku. Ingat pesanku tadi Ron, tugas kita hanyalah melindungi Tuan kita.
Sebagai seorang Prajurit, kita tidak boleh berharap lebih dari itu. Sampai jumpa besok."
Setelah memperingatkan Ron, Dean pun pergi meninggalkan Ron, yang tampak sedang menelaah perkataannya barusan. Namun, jauh di dalam hatinya..
Ia masih belum menyerah dengan keinginannya tersebut. Sambil melihat punggung Dean, yang telah menjauh.. Ron berujar dalam hatinya.
'Aku tahu apa yang di maksud Kak Dean, tapi.. Jika tidak mencobanya! Kita tidak akan tahu hasilnya. Meskipun apa yang dikatakan Kak Dean benar adanya.. Walau Beliau tidak menyukaiku sekalipun, aku tidak peduli.
Karena Aku akan mengerahkan seluruh hidupku hanya untuk melindunginya.. Akan aku tunjukkan, jika aku bisa berguna dan menjadi Kesatria terbaik untuknya.' hati Ron sudah dipenuhi dengan tekad yang sudah bulat.
__ADS_1