
Di Zona Mana, Rabarus yang sedang berjalan menyusuri Zona Mana di temani dengan Putra kesayangannya.. Kedua Rubah Api itu, berlari kencang saling beradu kecepatan di hamparan hijau yang terbentang luas.
SI Rubah Api Merah, tampak sangat bahagia.. Ia berlari menunjukkan kamahirannya di hadapan Sang Ayah, melihat reaksi putranya.. Sang Ayah, dengan tanduk Api Merahnya.. Rabarus lalu menyeringai. dengan kecepatan kilat ia sudah berada di samping Putranya..
"Khi.. Khi.. Khi.. Kau masih butuh ribuan tahun untuk melebihiku, Putraku!" ujar Rabarus bangga.
"Heh..jangan senang dulu Pak Tua! Lihat ini.. Wusshh.. Wusshh.. Wusshh.."
Tama menghilang dan muncul lagi dalam kecepatan jarak seratus meter, lalu menghilang dang muncul lagi di jarak lebih jauh lagi meninggalkan Sang Ayah.
"Hahaha.. putraku, kau boleh juga!" ujarnya bangga melihat perkembangan Putranya.
Ia yang tengah senang! tiba-tiba teringat akan perbincangannya, dengan Para Spirit. sewaktu berada di meja bundar.
(Flashback) "Omong-omong, aku selalu penasaran sejak pertama kali melihat kalian..! Aku selalu ingin menanyakan ini. namun, tidak pernah punya kesempatan untuk bertanya." ujar Rabarus menatap tajam pada yang lain.
"Jangan bertele-tele Pak Tua.. Langsung saja ke intinya!" ujar Roya tidak sabaran.
"Apa Kaisar Naga Emas, adalah Spirit dari Master kalian Juga??" tanya Rabarus penasaran.
Jura yang mendengar pernyataan dari Rubah Api suci tersebut, mengeluarkan keringat dingin, Dan bergumam dalam hati.
'Apa Paduka, belum memberi tahunya tentang masalah itu!? Yah sebaiknya, selama belum ada pemberitahuan dari beliau langsung, lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja.' pikirnya dalam hati.
Menjawab rasa penasaran Rabarus, Roya berceletuk lebih dulu, mewakili yang lainnya.
"Hei Pak Tua, ternyata kau belum tahu mengenai hal itu ya! Apa Baginda Kaisar, Belum memberitahumu sama sekali..? Emm, aneh rasanya! Padahal beliau sudah menyelamatkanmu, bahkan membangkitkanmu menjadi Spirit sempurna!!
Apa Jangan-jangan kau juga masih belum tahu nama beliau?" ujar Roya melipat satu tangannya, sambil memegang dagunya.
"Cih, jangan menyindirku, hanya karena kalian lebih dulu menjadi Spirit Baginda."
"Hem.. Kau terlalu sensitif Pak Tua! Aku tidak punya maksud sedikitpun untuk menyindirmu." ujar Roya jujur.
"Yah, Roya benar dalam hal ini. Bisa jadi, beliau masih belum mempercayaimu Pak Tua! Melihat bagaimana kau memaksa Kaisar untuk mengakuimu secara sepihak.
Meski sekarang kau memang sudah di akui secara Resmi, tapi, bukan berarti kau bisa di terima sepenuhnya. Mungkin saja kau sedang dalam masa percobaan!!" sambung Zaku frontal.
'Sial, aku salah menanyakan masalah ini pada mereka!' gumamnya dalam hati.
"Betul sekali, Asal tahu saja.. Kaisar itu, sosok yang susah di tebak! Baik itu tindakan, ataupun pikiran. Bahkan kau tidak akan pernah tahu, apa yang akan beliau pikirkan dalam diam." ujar Saga.
"Betul, meski Kaisar adalah bagian Spirit dari Master..! Tapi beliau selalu bertindak sesukanya sendiri, seolah perjanjian yang ia lakukan dengan Dewi, tidak ada apa-apanya.
Bahkan, Master sendiri tidak pernah tahu dan tidak bisa merasakan dimana keberadaannya.
Seperti Master, bebas merasakan keberadaan kami..! Begitupun dengan Kami sendiri." sambung Gira.
"Mereka benar! Meski beliau Spirit Master, tapi Master tidak bisa memanggilnya sesuka hati, seperti saat Beliau memanggil kami.
Justru, Beliau sendirilah yang menentukan kapan beliau ingin datang, Dan kapan beliau ingin pergi.
__ADS_1
Dan juga... Sepertinya Master mempunyai ikatan khusus yang hanya mereka berdua yang mengetahuinya." ujar Tama agak janggal.
"Hem.. apa maksudmu?" tanya Rabarus tertarik.
"Entahlah, di saat bersama Baginda Kaisar.. Master terlihat sangat senang dan akan tampak sedih saat beliau akan pergi."
Jura yang sejak tadi hanya mendengarkan dalam diam, bergumam dalam hati.
'Haah.. Tentu saja, karena beliau adalah Permaisuri kesayangannya Paduka.'
"Ya, Kaisar juga kelihatannya sangat menyayangi Master." ujar Roya.
'Hem.. Aku sih, tidak heran kalau soal itu! Bahkan Paduka sendiri memerintahkan ku, untuk melindungi beliau.' gumam Rabarus dalam hati.
(Masa kini.) 'Aku jadi ingin cepat-cepat bertemu, mengenalnya, dan berinteraksi secara langsung dengannya,
seperti apa? Sifat Permaisuri Paduka Dewa itu?? Karena selama ini..., aku hanya melihatnya di saat ia sedang dalam kondisi tertidur. Aku belum pernah melihatnya dalam kondisi sadar.
Tapi yang anehnya.. Bagaimana bisa Paduka menjadi Spirit Dewi kecil itu? Padahal status Beliau, adalah seorang Dewa.' Rabarus hanyut dalam pikirannya sendiri, sampai ia lupa jika sedang bersama Putranya.
Melihat Ayahnya yang sibuk sendiri dengan pikirannya.. Tama datang mendekat, dan memanggilnya.
"Tua.. Pak Tua.. Ayahanda!!!!" penggilnya lantang, hingga membangunkan Rabarus pada kenyataan.
"A-ada apa kau memanggilku??" tanya Rabarus sambil menggaruk kepalanya.
"Heeh.. Apa yang sedang Ayahanda pikirkan!! sampai tidak dengar aku memanggil beberapa kali."
"Cih, tampak sekali kau sering membohongi Ibunda, seperti yang sedang Ayahanda lakukan sekarang?" ujar Tama, dengan lirikan merendahkan.
"E-eh apa maksudmu bocah, jangan berpikir yang tidak-tidak tentangku. Asal kau tahu saja bocah, Begini-begini, aku sangat setia pada Ibumu."
"Haah.. Ya.. Ya.. Ya.. Terserah Ayah saja. Ayo, sudah saatnya Ayahanda menemui Master, secara Resmi." ujar Tama berjalan lebih dulu, dan mengabaikan Ayahnya yang tampak kesal.
" Dasar anak ini, dia pasti sedang memikirkan yang macam-macam tentangku!" ujar Rabarus sambil berlari kecil, mengejar Putranya yang sudah meninggalkannya lebih dulu.
...----------------...
"Tapi Mina.. Kau bilang dia bukan Putri biasa! Apa maksudnya, dengan bukan Putri biasa??" tanya Raja Faran Penasaran.
Ratu Helmina diam sejanak.. setelah beberapa saat, ia bergumam kembali.
"Anak yang di sukai oleh Argus, adalah anak dalam Ramalan." ujarnya singkat.
"Tunggu, jangan bilang maksudmu Dia Seorang Dewi, Pemimpin dari segala Dewi itu??" ujar Raja faran terkejut.
"Ya."
"Kalau begitu, bukankah sangat bagus! jika Putra kita menyukai seorang Dewi, Kita juga bisa memiliki menantu yang sangat ingin dimiliki banyak orang itu."
"Tidak, justru itu masalah buat Putra kita!" ujarnya dengan ekspresi serius.
__ADS_1
"Heuh! Apa maksudmu Mina?"
"Saat aku melihatnya.. Aku sudah tahu jika dia bukan di takdirkan untuk Putra kita. Aku juga sudah mencegahnya untuk berhenti berharap terlalu tinggi..! Akan tetapi, Dia mewarisi sifat keras kepala darimu Suamiku."
"Ehem.. A-aku tidak begitu." kilah Raja.
Ratu tersenyum melihat reaksi suaminya itu, lalu ia mengangkat kepalanya dari bahu Raja, Ratu menoleh kearah Raja, sambil berujar.
"Tapi itulah kenyataannya Faran.. Aku sebenarnya, sudah mencegah anak itu! dan tidak ingin melihat kesedihan tumbuh di wajahnya yang tenang.
Tapi, untuk menyadarkan seseorang yang sedang dibutakan oleh cinta.. sangatlah sulit! kecuali ia merasakannya sendiri,
bagaimana rasanya di tolak oleh orang yang paling kita cintai." ujar Ratu kembali berbaring di bahu Raja Faran.
Mendengar kenyataan yang sebenarnya.. Raja Faran menghela nafas, lalu kembali memegang tangan Ratu dengan lembut, sambil bergumam ia melihat keluar jendela kamar.
Tampak langit yang sangat cerah.. Banyaknya sayap putih, dari burung-burung merpati sedang berterbangan secara bergerombolan memenuhi langit.
"Tapi Mina.. Jika cinta seseorang yang tulus lahir dari hati, ia hanya akan memberi tanpa meminta balasan. meskipun ia sudah tahu, jika ia tidak akan pernah di cintai.
Namun.. jika cinta yang lahir karena ambisi.. Ia hanya akan menjadi sebuah obsesi dan rasa ingin memiliki karena ingin menguasai.
Dan itu akan semakin memperburuk dirinya.. Jika cintanya seperti itu, sangat pantas untuk di tolak.
Argus sudah dewasa, mari kita lihat. Di antara keduanya.. Cinta yang mana yang akan ia miliki? Jika cintanya tulus, biarkan saja mengalir sebagaimana semestinya. Namun, jika cintanya hanya karena ambisi..
Justru ia harus merasakan akibat dari perbuatannya sendiri. dan saat itu tiba, aku akan sangat puas menertawakannya. haha.." ujar Raja tartawa.
"Hem.. Justru aku tidak setuju dengan caramu sayang, dan aku sudah membuat keputusan dengan caraku sendiri." ujarnya tegas.
"Heh? Keputusan..!!" jawabnya bingung.
"Yah, aku sudah membuat sebuah kesepakatan bagus dengan Putra kita. Dengan begini, mau tidak mau, anak itu tidak akan bisa mengelak lagi."
Karena ini janji yang harus ia tepati padaku, jika ia berani mengingkarinya.. Aku akan memberikan hukuman padanya bukan sebagai seorang Ibu, tapi sebagai seorang Dewi hem..." ujar Ratu, tiba-tiba menyeringai.
Tiba-tiba terdengar suara menggelegar di langit istana..
"Geleduk.. Geleduk.. Geleduk.." suara guruh di langit.
Raja yang mendengar dan melihat seringai dari Istrinya itu.. tiba-tiba saja merasakan seluruh tubuhnya merinding.
'Jika seperti ini.. dia jadi kelihatan sangat mengerikan! Kalau sudah begini, aku tidak berani ikut campur lagi urusan antara Kedua Ibu dan Anak.
Aku hanya bisa berharap kau tidak mengingkari janjimu Argus! Melihat bagaimana seriusnya reaksi Ibumu saat ini.' gumamnya dalam hati. "Semoga saja anak itu segera sadar, dengan apa yang telah di lakukannya. he-he..!" ujar Raja tertawa dengan terpaksa.
***
Di Mansion, Argus yang tengah fokus dengan pekerjaannya.. Tiba-tiba saja bereaksi.
'Heh.. Kenapa aku tiba-tiba merasa ngeri..? Haah.. Aku merasakan Firasat yang tidak baik.' gumamnya dalam hati, sambil membuka kaca mata dan bersandar pada sandaran kursi kerjanya.
__ADS_1
Argus, mengurut pelan kedua kelopak mata dengan kedua jarinya. Karena matanya merasa lelah menghadap banyaknya dokumen seharian.