AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
PUTRI MENGHILANG


__ADS_3

Semua Spirit duduk mengelilingi meja bundar, semuanya sibuk menunggu apa yang akan disampaikan Sang Kaisar. Tama yang sebenarnya sangat penasaran dengan keadaan sang Ayah, kini setelah ia kembali dari dimensi lain, Rabarus tidak pernah kelihatan lagi batang hidungnya.


Dan itu membuatnya cemas, namun ia tidak akan membahasnya sekarang. Sementara Sang Kaisar, masih bungkam tidak mengatakan apapun. Melihat kecanggungan yang tiada hentinya.. Akhirnya Zaku memberanikan diri untuk berbicara.


'Jika aku tidak memulai, maka sampai kapanpun suasananya hanya akan menjadi semakin tegang seperti sekarang, Dan aku tidak suka suasana yang seperti ini. dan lagi, aku juga sangat penasaran tentang apa yang ingin beliau sampaikan.'


"Ehem.. Ehem.. Kaisar, maaf jika saya bersikap kurang sopan. Sebenarnya.. Apa yang ingin Kaisar sampaikan, sehingga mengumpulkan kami disini..?"


Kaisar melihat sekilas kearah Zaku, seperti tidak menganggapnya ada. Ia masih bungkam dan berbicara dengan Jura di dalam diam, tanpa sepengetahuan Spirit lainnya.


'Apa.. Kenapa beliau malah mengabaikanku, ah bikin malu saja.'


Melihat reaksi Zaku, Tama sedikit menyeringai menertawakan Zaku. begitupun dengan yang lainnya.. Membuat Zaku menatap garang kepada semuanya, Seolah memperingati mereka untuk berhenti tertawa. Karena ada Kaisar, Tama berusaha menahan Tawanya. Jika tidak, ia sudah tertawa lepas sekarang.


'Jura..'


'Ya Paduka..'


'Anak itu sudah melihat keberadaan permaisuriku, dan tidak lama lagi.. Ia akan semakin berambisi terhadapnya. Kekuatan anak itu juga sudah bangkit, jadi berhati-hatilah dan suruh yang lain untuk tetap waspada.'


'Apa lagi Anak Dua ini..!'


'Anak dua.. Siapa yang dimaksud oleh Paduka?' Jura menoleh kearah tatapan Mata Kaisar, yang melihat Zaku, dan Tama. 'Memangnya kenapa dengan mereka berdua Paduka?'


'Kedua bocah ini selalu bersikap terlalu frontal, mereka juga bodoh dalam menyembunyikan Emosi mereka, saat sedang marah. Apa lagi Zaku! Jadi, awasi kedua bocah ini baik-baik, jika keduanya bertindak diluar batas.. Aku mengizinkanmu untuk menghukum keduanya.' Jura menahan tawanya, mendengar apa yang dikatakan Sang Paduka, Karena kenyataannya memanglah benar.


'Baik Paduka, akan saya ingat.' Jawabnya menahan tawa.


Setelah beberapa menit dalam kondisi diam, akhirnya Kaisar mengeluarkan suara baritonnya.


"Keadaan Dewi sudah membaik, jadi dia ingin melihat kalian. Dan sebelum itu, ada yang ingin aku sampaikan tentang Ayahmu!"


Tama langsung deg-degan mendengarnya, ia tidak sabar ingin mendengar kabar dari Sang Ayah.


"Ba..bagaimana keadaan beliau?"


"Ayahmu sangat baik, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Dan sekarang dia sedang merenungi dirinya sendiri, jadi kau tidak perlu mengganggunya." Ujar Kaisar sambil menyeringai.


'Merenung.. Apa maksudnya merenung!! Cih, Pak tua itu mau merenungi apa memangnya? Pantas saja aku tidak ada melihat dia selama seminggu ini, Setidaknya aku merasa lega setelah mendengar kalau dia baik-baik saja.'


"O..omong-omong Kaisar.., apa anda menerima sumpah beliau?" Tanyanya sambil menggaruk pelipisnya.


"Hmm.. Tidak perlu melakukan sumpah pun dia memang sudah menjadi milikku. Kalian tidak perlu memikirkan masalah itu.. Dan lagi, selain masalah ayahmu. Aku juga ingin mengatakan yang lainnya!"


"Apa itu kaisar?" Tanya Zaku, semangat.

__ADS_1


"Selama kalian dimansion, sembunyikan Aura Raja kalian, Dan jangan bersikap terlalu mencolok."


"Apa maksud anda Kaisar??" Tanya Gira penasaran.


"Apa kalian tahu Spirit bocah Lannox, yang berasal dari kerajaan Elf!!"


"Ya, kami pernah mendengarnya, meskipun belum melihatnya secara langsung..!" Ujar Saga.


"Jangan remehkan kemampuan anak itu.., karena dia juga mempunyai darah setengah Dewa. Jadi tetaplah waspada jika bertemu dengannya. Sebab anak itu juga mempunyai kepekaan yang sangat sensitif, terhadap lawan nya."


"Setengah Dewa, wow.. Aku tidak menyangka jika bocah pemarah itu mempunyai Spirit yang Kuat melebihi cucumu Zaku." Ujar Roya kagum sambil melirik kearah Zaku.


"Heeh..., Terus aku harus menangis begitu..!" Celetuk Zaku, malas.


"Pokoknya Ingat pesanku, bersikaplah layaknya manusia biasa saat ada bocah itu. Dan, sembunyikan Aura Raja kalian darinya!! Dan satu lagi.. jangan pernah menceritakan apa yang telah terjadi, kepada Dewi." Ujar Sang Kaisar, mengingatkan.


"Baik Padukaaa." Ucap semuanya bersamaan.


"Apa ada pertanyaan lain?? jika tidak ada, Kalau begitu sudah saatnya kalian bertemu Dewi."


Tampak perubahan raut bahagia dari para Spirit, saat mendengar nama Ravella disebutkan, Dalam sekejap Ravella sudah berada di zona mana.


'Haah.. Bukannya ini Zona Mana..! Bagaimana bisa aku tiba-tiba sudah ada disini? Padahal aku tadi lagi membaca buku di perpustakaan. Mmm.. Ini pasti kerjaan Kakek Zando. Hihi Baguslah, kakek benar-benar menepati janjinya padaku.'


"Selamat datang Dewi.. Ujar Keenam Spirit serentak, Sementara Kaisar Zando, hanya tersenyum saat melihatnya.


"Kakek, Kalian ternyata benar-benar ada disini..!" Ujar Ravella dikelilingi Ketujuh Spirit miliknya.


"Tentu saja Nak, Kemana lagi kami akan pergi, jika bukan disini." Ujar Saga.


Ravella tersenyum dan langsung duduk didepan meja bundar, ia duduk berhadapan dengan para Spirit lainnya.


"Aku sangat merindukan kalian Kek, apa kalian tahu, sangat membosankan berada di mansion tanpa adanya kalian..!" Ujar Ravella bertopang dagu pada kedua tangannya.


"Haha.. Kami juga merindukanmu nak Dewi." Celetuk Zaku,yang di angguki kelima Spirit lainnya.


"Benar Nak, karena ada hal lain.. Jadi kami tidak bisa menemuimu secepat mungkin." Ujar Roya beralasan.


"Tidak masalah kek, yang penting aku bisa melihat kalian."


Ravella melihat sekeliling tempat itu.. Celingak-celinguk mencari sesuatu, namun ia tidak menemukan apa yang ia cari. Jura yang mengerti apa yang dicari Ravella, segera berbicara.


"Anda tidak perlu khawatir Dewi, anak itu sangat sehat."


"Haah.. Syukurlah, aku sangat khawatir jika Ayah memperlakukannya tidak baik, saat aku sedang tertidur panjang. Apa dia sudah tumbuh besar??"

__ADS_1


"Ya sedikit, selebihnya lebih besar kesamping..!" Ujar Jura, membuat yang lainnya tertawa.


"Benarkah.. Aku sudah tidak sabar ingin melihat anak itu?"


...----------------...


Sementara itu.. Di Mansion sedang gempar-gemparnya, kedua dayang berlari panik mencari keberadaan sang Putri. para pengawal juga dibikin kerepotan, dengan hilangnya Sang Putri secara tiba-tiba dari perpustakaan, Hingga kabar ini sampai ketelinga Duke, dan Zion.


"Tok.. Tok.. Tok.. Yang Mulia.. Yang Mulia.. Ini saya Reni dan Roland."


"Masuk.."


Tampak Roland dan Reni memasuki ruangan kerja Duke, dengan wajah pucat.


"Ceklik, Yang Mulia, Tu..Tuan Putri menghilang.." Ujar Reni pucat.


"Apa!!!! Bagaimana bisa?" Tanya Duke, tampak terkejut.


"I..itu kami juga tidak tahu Yang Mulia.. Sa..saat beliau sedang asik membaca buku tiba-tiba saja muncul Cahaya terang disekitar beliau, lalu beliau Raib begitu saja dari pandangan kami." Sambung Roland lagi.


"Cahaya...!" Duke melihat kearah Zion, yang tampak lega.


"Baiklah kalau begitu, kalian tidak perlu mencarinya. Anak itu pasti sedang bersama Spirit miliknya. Jadi kalian hentikan saja pencarian, tunggu saja di depan kamarnya dia pasti akan kembali.


"Benarkah, tidak apa-apa Yang Mulia!!"


"Apa aku terlihat sedang bercanda??" Tanya Duke, dengan wajah serius.


"Hehe ti..tidak Yang Mulia.. Baiklah kalau begitu, kami berdua mohon undur diri dulu."


Setelah keduanya pergi meninggalkan Ruangan Kerja Duke.. Lannox baru bisa bernafas lega.


"Haah.. Anak itu, setelah dia bangun dia malah membuat kehebohan lagi.. Duke, melihat kearah Zion, yang tampak menyeringai..!"


"Hihihi.. Putrimu pasti dibawa Kakek Kaisar KeZona Mana, karena beliau telah berjanji pada Putrimu, setelah seminggu ia akan membawa para Kakek menemui anakmu."


"Ya, apalagi dia sudah lama tidak bertemu dengan mereka.. Jadi ikatan antara Master, dan Spirit, saling terhubung kuat untuk segera bertemu."


"Kau benar nak, jadi biarkan saja dia bermain, Kau tidak perlu khawatir. jika ia belum kembali menjelang sore, aku sendiri yang akan menjemputnya." Ujar Zion, meyakinkan.


"Hem Baiklah, aku percayakan padamu Pak Tua, Sebelum hari gelap segera bawa anak itu pulang."


"Serahkan padaku." Ujarnya dengan seringai, lalu menghilang.


Lannox pun melanjutkan kembali pekerjaanya.. Sementara Zion, sudah pergi meninggalkan Duke sendirian, dengan kesibukannya.

__ADS_1


__ADS_2