AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
GRASIA


__ADS_3

Di waktu yang sama..., di dunia sudah beberapa hari telah berlalu. Namun waktu di Istana langit.. Baru saja tiga menit berjalan. Perbedaan waktu yang sangat jauh, di mana di Alam Para Dewa, waktu berjalan sangat lambat. Sedangkan waktu di dunia sangat cepat.


Di dalam Istana, Rabarus yang merasa terbebani.. Akhirnya mengutarakan apa yang ada di pikirannya, dengan begitu percaya dirinya. Namun, setelah berbicara ia malah menyesali ucapannya tersebut.


"Paduka.. Hamba sangat berterima kasih karena telah di beri kepercayaan menerima hadiah yang sangat istimewa ini. Akan tetapi.. apakah hamba layak menerimanya?! sedangkan apa yang hamba lakukan, tidak sebanding, dengan hadiah yang Paduka berikan ini!!" ucap Rabarus merasa malu, pada dirinya sendiri. Karena ia menganggap pertarungan dengan Dewa, beberapa tahun yang lalu.. Hanyalah sebuah keberuntungan belaka, baginya.


Sementara Sang Paduka yang masih duduk terdiam di atas singgasananya, hanya berseringai mendengar jawaban Rabarus, yang menurutnya sangat lugu dan polos. Melihat reaksi dari Sang Paduka, ketiganya merasa heran! namun, tidak ada satupun di antara mereka, yang berani berbicara lebih dulu. mereka tetap diam, menunggu hingga jawaban keluar dari mulut Sang Paduka.


Dewa Zando, yang memperhatikan ekspresi ketiga bawahannya itu! Tampak hanya menatap dengan ekspresi datar dan dingin. Senyap tak ada jawaban, suasana di dalam ruangan terasa mencekam seketika, karena ke bungkaman-nya. yang terdengar hanyalah ketukan jari dari lengan kursi emas, miliknya. Dan, beberapa saat kemudian... Suara Sang Paduka, kembali bergema di dalam ruangan. Namun, apa yang di katakan Paduka selanjutnya..! benar-benar membuat yang lainnya tercengang tak percaya. Hingga ekspresi mereka berubah drastis, setelah menyadari apa yang baru saja terlintas di pikiran mereka tadi.


"Tuk... Tuk... Tuk... hem.., apa kalian tahu..!! Jubah itu, tidak ada artinya bagiku. bahkan aku bisa membuat jumlahnya sebanyak yang aku inginkan, jika aku mau." ujarnya sembari bertopang, pada kepalan tangannya yang besar dan berurat.


Ia mengangkat salah satu alisnya, lalu menatap malas kearah Garda, Jura, Dan Rabarus. Ketiganya tampak sangat terkejut, setelah mendengar jawaban dari Dewa Zando. Terutama Garda! Ia tidak menyangka, jika sesuatu yang ia anggap sangat luar biasa, ternyata tidak ada artinya bagi Sang Dewa itu sendiri. Sedangkan Jura, ia tampak berkeringat dingin, dan tengah berkutat pada pikirannya sendiri.


'Apa...! jadi benda yang selama ini kami anggap sesuatu yang sangat langka, dan luar biasa! ternyata tidak ada apa-apanya bagi Paduka!!?


Haah.. Aku jadi malu sendiri, dengan apa yang baru saja aku pikirkan. bisa-bisanya aku sempat berpikiran sempit seperti seorang bocah. Yang percaya begitu saja, pada cerita takhayul Para sesepuh. Dan menganggap Jubah itu terlalu istimewa! Sampai menganggapnya setara dengan Dewa.


Padahal di hadapan Paduka sendiri, Jubah itu! ternyata tidak ada apa-apanya. lantas, dari mana Para leluhur dan sesepuh, bisa tahu, dan mendapatkan kabar tersebut? Sehingga mereka bisa mempercayai mitos gila itu, begitu saja. Mungkinkah.., jika apa yang aku pikirkan saat ini, benar! berarti.., jika Paduka mau, Paduka bahkan bisa membuat pasukan terkuat sebanyak yang Paduka inginkan. hanya dengan menggunakan Jubah itu saja, sebagai Zirah perang.' pikir Jura mencerna kembali apa yang baru saja ia dengar.


Sedangkan Disisi lain, Garda langsung tertunduk malu dan menyesal, sambil merutuki dirinya. karena ia pikir Jubah itu, sangat berharga, sehingga hati kecilnya menolak jika Jubah tersebut, sampai diberikan begitu saja pada tangan Rabarus.


'Cih, apa yang baru saja aku pikirkan..? Dasar Garda bodoh, kau benar-benar kekanankan sekali. aku dengan begitu yakin, dan percaya diri menolak kenyataan. yang ternyata, tidak ada apa-apanya di mata Paduka. haah.. Garda-Garda.. kau benar-benar idiot dan bikin malu saja.' Garda merutuki dirinya sendiri.


Tak hanya Garda, dan Jura. Begitupun Rabarus, yang hanya bisa menggaruk pipinya sambil menahan rasa malu yang amat sangat. karena ia sempat berpikir dan merasa bangga, sebab di istimewakan, setelah menerima hadiah tersebut. tapi ternyata, sesuatu yang ia anggap luar biasa, justru tidak ada artinya di mata Sang Dewa itu sendiri. Kebanggaannya, seketika hancur tak bersisa ditelan kesalahpahaman yang memalukan.


'Ah, sial. aku jadi malu sendiri dengan pikiran ku. bisa-bisanya aku berkata seolah-olah ini adalah momen terbaikku. haaah.. rasanya aku ingin membenamkan diriku ke dalam tanah sedalam-dalam mungkin, hingga tak ada satupun yang bisa melihat ku.


Aku benar-benar tidak punya muka lagi, untuk berhadapan dengan Paduka.' ujarnya lalu melihat ke arah Kedua Pria yang saat ini, juga sedang melihat ke arahnya. 'Sial, Mana sekarang mereka berdua juga melihat ke arah ku lagi.' ujarnya, segera memalingkan wajahnya karena malu. begitupun dengan keduanya yang segera membuang pandangan mereka dari Rabarus. 'Ah... Sial-sial, Rabarus...Rabarus... Kenapa kau sangat ceroboh sekali..! rasanya aku ingin kabur saja sekarang.' gumam Rabarus mengumpat dirinya sendiri, karena rasa malu yang teramat sangat.


Dan Tak lama.. suasana yang memalukan itu pun, dibuat pecah oleh tawa Dari Sang Paduka, yang tiba-tiba. Sehingga seisi ruangan hanya dipenuhi dengan tawa Dewa Zando.


"Hahahaha... hahahaha... Heeh.. kalian benar-benar telah menghiburku, bocah. aku tidak menyangka! kalian menganggap masalah ini terlalu serius. hahahaha.." ujarnya tertawa lepas, mendengarkan kebodohan dari ketiga bawahannya tersebut. yang kini hanya bisa tertunduk diam dan tak berdaya, ekspresi malu di wajah mereka semakin terlihat jelas. dengan berbagai reaksi dan pikirannya masing-masing. dan setelah beberapa saat kemudian.. Dewa Zando kembali ke mode serius.


"Aku tahu jika kalian menganggap benda ini sangat sakral, bahkan sampai rumornya pun telah beredar luas di kalangan Alam Spirit." ujarnya melihat sekilas, dengan tatapan meremehkan Jubah tersebut. Dewa Zando kini kembali menatap pada ke tiganya, yang hanya tertunduk kaku.


"Baiklah, lupakan masalah ini, karena kalian berdua juga sudah terlalu lama berada di sini. Kini sudah waktunya untuk kalian kembali kepada Permaisuriku. Keberadaan kalian saat ini, sangat di perlukan oleh anak itu, pergilah.' perintahnya Sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Sang Paduka, dalam waktu singkat, riak wajah dari keduanya yang awal mulanya tampak tidak bersemangat! langsung berubah menjadi cerah kembali. Keduanyapun mejawab dengan sangat cepat dan lugas. Jura, dan Garda, pun seketika membugkuk hormat, sambil bergumam dengan serentak.


''Kalau begitu, kami berdua izin pamit undur diri dulu, Paduka.'' ujar keduanya cepat.


''Hem.'' Jawab Dewa Zando singkat, tampak seringai tipis bertengger di permukaan wajahnya yang sangat Tampan tiada duanya. setelah melepas kepergian kedua Spirit tersebut! tatapan Dewa Zando, kembali jatuh pada Garda, yang kini sedang terdiam dan asik dengan pikirannya sendiri.


"Dan kau Garda...!" ujarnya membuat Garda terkejut, dan menjadi gugup seketika.


"Y-ya Paduka!" ujarnya salah tingkah. 'Oh, tidak! Apakah kali ini, Paduka akan memarahiku? Karena aku telah berpikir sempit!!' pikirnya di sela kegugupannya tersebut.


Garda, tidak berani mengakat wajahnya sedikitpun untuk menatap wajah Sang Paduka. Melihat reaksi Garda, Dewa Zando menarik nafasnya pelan. "Haah.. Dan kau Garda, setelah melihat kau merenungi kesalahanmu, aku telah mencabut masa hukumanmu. Pergilah temui Permaisuriku! Kau pasti sangat ingin bertemu dengannya, bukan? Selama ini.. ia juga sangat mengkhawatirkan keadaanmu, karena kau telah lama menghilang tanpa kabar."


Mendengar ucapan Dewa Zando barusan, Garda.., tampak tidak bisa menyembunyikan kesenangannya tersebut. Dan ia langsung menjawab dengan cepat, seperti kedua Spirit yang baru saja pergi.


"B-b-benarkah Paduka! Apa yang baru saja Paduka katakan ini?" ujarnya memastikan kembali, untuk meyakinkan dirinya, jika ia tidak salah dengar.


"Haruskah aku menarik kembali kata-kataku!" ujar Dewa Zando, dengan ekspresi datar.


'Dari ucapan Paduka, berarti beliau sedang tidak bercanda, sebelum beliau berubah pikiran! Aku harus cepat pergi dari sini.' pikirnya. "H-he.. T-tidak Paduka, k-kalau begitu.. Terima kasih karena telah mengizinkan hamba, menemui Beliau. hamba undur diri dulu." ujar Garda dengan cepat, dan langsung menghilang. Tanpa menunggu jawaban Dewa Zando. Melihat kelakuan Garda, Dewa Zando hanya tersenyum.


Setelah semuanya pergi, Dewa Zando kembali terdiam dalam keheningan. Hati kecilnya kembali bergumam. 'Kau harus kuat Permaisuriku! sudah waktunya bagimu menghadapi kenyataan, dan mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya..!!'


Saat ini, di tempat lain..., Lannox yang sedang berada di kamar tamu. Tengah berdiri di depan jendela kaca, sambil bersedekap tangan. ia melihat keluar jendela, tampak malam begitu gelap dan sangat hening sekali. Suara geseken dari dedahan pohon, dan bunga di halaman Istana, tampak berayun lembut karena tiupan semilir angin.


Sesekali angin bertiup masuk menerbangkan gorden putih polos yang menerpa wajahnya. Dalam keheningan, muncul kepulan asap putih di belakang Lannox. Sosok Panther Hitam, Icarus. menampakkan diri dengan posisi tengah duduk seperti kucing. ia melihat keluar jendela tempat Lannox, berdiri saat ini.


Malam tampak gelap dan tak berbintang, hanya terdengar sayup-sayup lolongan dari serigala liar, di kedalaman hutan. Sedangkan di dalam kamar tamu tempat Lannox, berada saat ini. Terasa sangat sunyi, sampai hembusan nafasnya pun terdengar oleh Icarus. "Haaah..." Terkadang sesekali suara nafasnya dihembuskan dengan kasar.


Seolah ada yang sedang mengganjal, di dalam hati dan pikirannya yang tidak saling sinkron saat ini. Icarus yang telah menjalin kontrak dengan pemiliknya tersebut! sangat paham dengan perasaan yang sedang bergejolak pada diri Masternya.


Ia yang awalnya sudah tidak sabar ingin segera kembali pada Putrinya, Dengan perasaan bahagia.. Tiba-tiba di pertengahan jalan pulang, ia mendapati surat yang mengejutkan dari Kaisar. Seolah sedang ditimpa batu besar, saat ia melihat isi surat tersebut. ia kini terjebak pada kondisi yang membuatnya menjadi dilema. Antara percaya dan tidak! saat tiba di Ke Kaisaran, dan melihat secara langsung Sosok yang mengaku sebagai Putrinya itu.


Suasana di dalam ruangan pun, serasa tak bersemangat karena keduanya hanya bungkam menikmati keheningan malam tanpa berbicara sepatah katapun. Di kaca jendela, tampak bayangan wajah Lannox, yang datar dan dingin, tanpa ekspresi sedikitpun. tatapannya kosong hanya terfokus keluar.


Icarus tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang dari kejauhan. Icarus menyipitkan kedua matanya, dan dalam waktu sekejap ia langsung menghilang, dan hanya menyisakan asap putih yang kini telah memudar bersama udara di ruangan itu. Tiba-tiba..., terdengar suara ketukan dari luar pintu. Suara lembut memanggilnya dengan sapaan akrab.


''Tok.. Tok.. Tok.. Ayah..., ini saya Grasia. bolehkah saya masuk sebentar!!'' Grasia menunggu beberapa saat sebelum mendapat jawaban, karena tak ada jawaban sama sekali. ia jadi ragu untuk masuk ke dalam, dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dan beberapa saat kemudian, terdengar suara Duke dari balik pintu, yang menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Mendengar itu, Grasia pun tersenyum. Lannox menjawab dan segera membalikkan tubuhnya, melihat kearah muka pintu yang masih tertutup rapat.


''Ya, masuklah.'' ujarnya lalu segera melangkahkan kaki pelan, menuju kearah Sofa beludru merah maroon. dengan bingkai emas, yang membuatnya tampak mewah. Lannox duduk sambil melipat kedua kakinya. ia sekarang sedang mengenakan kemeja putih tipis, dengan beberapa kancing yang sedikit terbuka di bagian atas, hingga tampak kedua belah otot dada yang sedikit mengintai keluar.


Di kedua pintu yang masih tertutup, kini salah satu pintu pun terbuka kecil. tampak sosok gadis berambut perak panjang sepunggung, seperti milik Lannox. Dengan netra mata bewarna merah, ia masuk perlahan dengan wajah tersenyum lembut. Grasia melangkah mendekat, dan berdiri di depan Sofa tempat Lannox duduk saat ini, dan tak lupa memberikan salam hormat sebelum ia memulai pembicaraan.


Lannox memperhatikan sosok gadis kecil yang sedikit lebih tinggi dari Ravella. sambil memegang kedua tangannya, Ia tampak lugu dan polos. Ia pun kembali berbicara pada gadis yang mengaku Putrinya itu.


''Kenapa kau hanya berdiri di sana, duduklah.'' perintahnya datar. mendengar perintah tersebut, Grasia pun segera duduk, di sofa yang ada di sebrang meja. ia dengan wajah polosnya, tampak tertunduk malu dan canggung saat berhadapan Dengan sosok Duke. Tak hanya Duke, dalam hati Grasia, ia juga sedang mengamati sosok Duke yang tampak dingin dan arogan.


'Saat aku masuk ke ruanngan ini, ia sedang duduk sambil melipat kedua kakinya. satu lengannya ada di lengan sofa, sedangkan satu tangannya lagi, ia tengah memegang gelas kristal yang berisi anggur hitam, dia menatapku hangat. paras tampan dan dingin itu, kini sedang menatap tajam ke arah ku. aku terdiam sejenak, dan tak lama ia pun mengeluarkan suaranya..'


''Ada apa kau menemui ku malam-malam begini? apa kau tidak bisa tidur??'' tanyanya melihat ke arah Grasia, yang awalnya tersenyum. kini ekspresinya langsung berubah sendu saat ditanya oleh Duke. gadis seusai Ravella, namun ia lebih tinggi sedikit di banding Ravella yang terlihat sedikit lebih kecil darinya.


Grasia yang saat ini tengah mengenakan dress tidur bewarna putih polos panjang, tengah gemetar sembari menggenggam kedua tangannya, dengan erat. ia tampak sangat berhati-hati saat akan berbicara. seolah takut kata-katanya akan membuat Duke marah. ''A-ayah..., a-apa A-ayah yakin, mengenai status ku!! Apa tidak sebaiknya Ayah memberi tahu Kakak terlebih dahulu, agar ia tidak kaget dan salah faham kepada ku..!! ujarnya terdengar ragu-ragu dan takut.


Mendengar jawaban Grasia tersebut.. Duke duduk terdiam merenung sejenak. 'ia menurunkan kakinya yang terlipat, dan meletakkan gelas kristal yang ada di tangannya ke atas meja. Setelah itu dia menatapku dingin, tiba-tiba bibir tipis kemerahannya, kini berseringai dan bergumam padaku.'


''Jika itu yang kau pikirkan, Kau tidak perlu khawatir, aku tidak memerlukan izin siapapun untuk membawa Putriku pulang kerumah, bukan.'' ujarnya terdengar sedikit arogan, seolah ia sedang menegaskan kedudukannya tersebut.


Mendengar ucapan Lannox, Grasia tampak lega, dan ia kembali berujar dengan senyuman polosnya. ''B-baiklah jika seperti itu, s-saya hanya ingin memastikan saja. Saya jadi tidak sabar ingin segera bertemu dengan Kakak!! Hmm.. Hmm.." ujarnya sambil tersenyum cerah tanpa dosa. ''Terima kasih Ayah, saya menjadi lega setelah mendengar ucapan Ayah. kalau begitu saya akan kembali ke kamar. selamat malam Ayah.'' ujarnya lalu bangkit berdiri, dan memberi hormat.. lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan.


''Hem..'' Jawab Lannox. singkat, sambil melihat punggung kecilnya yang kini telah menghilang di telan muka pintu.


Saat ia sedang duduk merenung di sofa, tiba-tiba sosok Icarus kembali muncul, dan kali ini dia duduk di sofa tempat Grasia duduki tadi. Icarus pun bergumam melalui pikiran, mengemukakan apa yang sedang ia pikirkan saat ini. untuk memastikan ke seriusan Masternya itu!


'Bocah, apa kau benar-benar sudah yakin, dengan keputusanmu?!!' ujarnya menatap tajam pada Sang Master. Tak ada jawaban, Lannox tampak tak bergeming sedikitpun, ia seolah sedang merenung tentang apa yang baru saja ia katakan pada Grasia. Setelah lama bungkam, kini ia kembali bersuara.


'Tentu saja aku serius, dengan perkataan ku.' ujarnya berseringai penuh misterius.


Melihat itu, salah satu alis Icarus terangkat naik keatas. 'Hem.. sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan, bocah? Meski begitu, perkataan anak itu ada benarnya. Sebaiknya kau beritahukan dulu pada Putrimu, sebelum kau membawa Putri lainnya, kembali kerumah. Karena ia pasti akan terkejut, dan mungkin saja bisa terguncang karena ulahmu itu. Bagaimana tidak, Ayah yang sudah lama tidak pulang tanpa memberi kabar, tiba-tiba saja, datang-datang langsung membawa seorang Putri asing pulang. Apa kau tidak memikirkan bagaimana Perasaan Putrimu saat itu, setelah melihatnya nanti!!' ujarnya memperingatkan Masternya, meski ia sendiri belum pernah melihat sosok Putri Masternya itu.


Akan tetapi.. Mengingat dan mendengar cerita Masternya di sepanjang Perjalanan, ia selalu saja bercerita mengenai putrinya. tentang betapa sayang dan bangganya ia memiliki seorang Putri cantik di sisinya. dari situ sudah terlihat jelas, kalau Masternya sangat menyayangi Putrinya.


Lannox yang mendengar ucapan Spiritnya.. hanya tersenyum mengacuhkan segala perkataannya. Dan bergumam yang membuat kening Icarus mengerut kesal, saat mendengar ucapan Masternya itu! 'Hmm.. Hmm.. Tumben sekali hari ini kau banyak bicara Icarus!! tidak seperti biasanya yang selalu pendiam.' sindirnya, sambil memperhatikan reaksi Icarus.


'Haaah.. Entahlah, terserah kau saja. Yang jelas aku sudah memperingatkanmu. tindakanmu yang seperti ini.. Sama saja seperti orang tua yang egois, tanpa memikirkan perasaan Putrinya, yang selama ini selalu berada di sisimu.' ujarnya kelihatan sebal, lalu menghilang begitu saja. Ia jadi malas meladeni sikap Masternya saat ini, yang kelihatan tidak peduli sama sekali, dengan permasalahan tersebut.

__ADS_1


Setelah kepergian Icarus, kini hanya tinggal Lannox sendirian. Kamar itu kembali sepi seperti tak bernyawa. Lannox duduk melemaskan seluruh tubuhnya. Dan kini ia mengubah posisi duduknya menjadi berbaring. Ia meletakkan lengannya di atas keningnya, sambil melihat ke langit-langit kamar.


"Haah...." helaan nafas. 'Arabella, apa yang harus aku lakukan?' pikirnya yang juga sedang kebingungan. Hanya saja ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya tersebut, di hadapan Icarus. meskipun Icarus sudah tahu. lalu pandangannya seketika menjadi gelap, dan ia pun tertidur nyenyak karena terlalu lelah berpikir.


__ADS_2