
Di kota Valthoz, didalam perpustakaan. Tampak ketiga Pria.. Sedang duduk berhadapan di depan meja.
"sekarang kedua fraksi bangsawan, telah terpecah menjadi dua kubu, karena perbedaan antar pendapat. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Arlo kepada lukas.
Lukas masih diam sambil membaca buku di tangannya, ia juga masih belum tahu apa yang harus dia lakukan.
'aku tidak bisa sembarangan mengambil keputusan, Baginda kaisar yang sekarang, bukanlah orang yang bisa diremehkan, karena dibalik ketenangannya.. Terdapat hewan buas yang sedang lapar.' lukas tengah menimbang, lalu memberi jawaban.
"kita awasi saja dulu.. kalian tahu sendiri bukan, kita juga sedang dalam pengawasan Kaisar.. Sedikit saja kita salah melangkah, bisa-bisa kita akan jadi daging panggang. Jujur saja.. Aku tidak mahu mati seperti itu. Lebih baik menunjukan sikap yang baik, daripada harus Menjadi santapan binatang buas. Dan lagi.. kita juga sedang dalam masa percobaan! Jadi jaga sikap kalian. Ingatlah tempat ini dipenuhi banyak mata dan telinga." ujar lukas mengingatkan keduanya.
"ya, sejujurnya.. Kaisar yang sekarang terlalu mengerikan untuk di lawan. Kita bukan apa-apa dimatanya, baginya.. kita hanyalah kelinci yang bisa diterkam kapan saja. bukankah itu penyihir favoritmu." Tanya Zora, menyindir Arlo.
"cih, dulunya memang begitu, tapi, setelah melihatnya dan mengalaminya secara langsung.. Aku jadi berubah pikiran." jawab Arlo, membuang mukanya acuh.
"hahaha.. Jangan bilang kau menyesal, Karena telah mengaguminya. Kau telah menjadi korban rumor itu sendiri kawan." Ujar Zora, menertawakan Arlo.
"cih sialan, bisakah kau berhenti berbicara!!" Kesal Arlo lagi.
*****
Di kekaisaran seorang Pria muda, sedang berlatih pedang. Semakin hari ia semakin lincah, dan gesit. Ia terus menyerang tanpa henti, hingga membuat Sang Guru kualahan. Dan terpental karena serangannya.
"Yang Mulia Pangeran, semakin hari ilmu Pedang anda semakin bagus. Rasanya, saya akan segera pensiun, Anda benar-benar murid yang membanggakan."
"wuuusss.. wuuusss.. Tring.." ia memutar pedangnya, dan memasukkan kembali kedalam sarung pedang. "hmm.. Tapi aku masih belum puas, aku merasa masih terlalu lemah. Aku harus lebih banyak berlatih lagi.. Baiklah, cukup untuk hari ini." Setelah meninggalkan tempat latihan, Pangeran pun kembali kekamarnya.
Setelah ia selesai membersihkan diri, ia duduk disofa dan melihat laporan. Dan saat ia akan menyentuh lembaran kertas, muncul seorang kesatria bayangan miliknya.
"Yang Mulia pangeran, maaf mengganggu waktu anda!"
"katakan ada apa, sampai kau datang mengganggu malam-malam begini..?"
"saya telah menyelidiki keberadaan Robi. Akan tetapi.. Jejak terakhir yang kami temukan, hanya sampai di kota VALA. Setelah itu, tidak ada lagi di jumpai jejak keberadaannya."
"Kota VALA.. Bukankah itu tempat terjadinya WABAH? Dan Sang Dukelah yang telah di beri misi untuk menangani kasus WABAH tersebut."
"benar Yang Mulia.."
__ADS_1
Pangeran memegang dagunya sambil melipat tangan, ia berpikir dengan Fokus mencerna, apa yang dikatan kesatria bayangan miliknya.
'hmm.. jika jejak terakhir di temukan di kota tersebut! Itu berarti Robi, benar-benar menyalidiki Duke. Namun,' ia masih belum yakin, dengan apa yang ia pikirkan. "lalu.. Apakah kau menemukan mayatnya, atau bukti lain dari keberadaannya??" tanya Pangeran menyelidik.
"tidak Yang Mulia, tidak ada sisa jejak apa pun, atau lainnya." Jawabnya dengan jujur.
'hmm.. Ini baru spekulasiku saja, ada dua kemungkinan yang terjadi. Yang Pertama, Robi mengikutinya, lalu.. ketauan dan dikurung didalam penjara milik Duke. Dan yang kedua, dia berbalik arah kemudian berkhianat lalu memihak kepada Duke.' Pangeran tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Hm.. Tuk.. Tuk.. Tuk.. Bisa jadi jawabannya ada pada pilihan kedua."
suara hening didalam ruangan, menjadi pecah, dengan ketukan jari Pangeran di atas meja. Sedangkan kesatria bayangan yang sedang menunggu jawaban, berharap-harap cemas agar tidak dihukum. Dan tak lama.. Pangeran melempar pandangannya kearah Pria yang sedang berlutut dihadapannya.
"gulp.." Kesatria menelan Ludahnya, karena merasa tertekan dengan tatapan dari Pangeran.
"jika begitu.. hentikan pencariannya, kau boleh pergi sekarang." perintahnya.
"baik Yang Mulia Pangeran, kalau begitu saya mohon undur diri.. Wuuusshh." kesatria itu pun, dengan cepat menghilang.
'sebelum mengambil keputusan, aku akan memastikannya lebih dulu. Tapi karena terlalu sibuk dengan kegiatan yang tiada habisnya dari kaisar, Membuatku sulit untuk bergerak bebas.' ia mengerutkan keningnya, sambil mengusap rambut pirangnya yang masih basah.
"Haah.. Apa kabarmu Vella!! Aku sudah lama tidak melihat wajahnya, apa yang terjadi padaku? Perasaan apa ini.. Semakin hari aku merasa keinginan untuk memilikinya semakin kuat. Dan aku menjadi marah dan kesal, jika melihat tatapan kotor Pria lain, mengarah padanya. Dan aku membenci itu, tapi dia sangat sulit sekali didekati, dia selalu membuat batas saat aku mendekatinya." pangeran bersandar pada sofa biru tua, sambil bergumam dan menatap plafon kamarnya.
*****
'hmm.. Karena si bocah Lannox berhasil menyelesaikan misi yang telah aku berikan, haruskah aku memberinya hadiah?? Aku juga sangat ingin melihat Putrinya. Apalagi.. Sepertinya bocah itu, tidak hanya menyembunyikannya dari pergaulan sosial. Akan tetapi.. ia juga berusaha menjauhkan Putrinya dariku.
Yah.. Memang wajar saja, jika ia bertindak protektif pada Putri satu-satunya! aku pun pasti akan melakukan hal yang sama, jika menjadi Dia. melihat betapa luar biasa kecantikan yang ia miliki! Wajah semencolok itu yang ia pancarkan, Bisa mengundang banyak Kumbang untuk memilikinya. sampai-sampai Putraku saja, tidak bisa mengalihkan pandangan dari Dewi kecil itu. Aku harus segera bertemu dengan putrinya.. Karena banyak hal yang mengganjal di pikirinku, untuk ditanyakan.
Hmm.. Tuk.. Tuk.. Tuk.. Bagaimana caranya, agar aku bisa membuat anak itu datang kemari?!! dan lagi.. aku juga sudah berbaik hati mengabulkan keinginannya. Jadi ia tidak boleh menolak keinginanku bukan, Kalau begitu.. aku harus segera melakukan sesuatu!!'
"Ceklik, ngiik." pintu terbuka, tampak sosok wanita muncul mengenakan pakaian tidur, putih polos, berbalutkan syal hitam.
Melihat kehadirannya, Kaisar langsung bangkit dari duduknya.. Dan langsung menghampiri permaisuri.
"sayang, kau belum tidur?!!" sapanya, lalu ia meraih jemari permaisuri, dan membawanya duduk kesofa.
"saya menunggu anda baginda.. tapi sudah jam dua pagi, anda masih belum juga kembali. apa yang anda lakukan larut malam begini?!! Anda harus tidur yang cukup baginda, tidak baik bagi kesahatan anda, jika tidur terlalu malam."
Kaisar merasa tidak enak hati, karena telah membuat istri kesayangannya, menunggu sampai datang menjemputnya.
__ADS_1
"baiklah, maafkan aku telah membuatmu menunggu. Kalau begitu, ayo kita kembali kekamar." ia menggenggam tangan istrinya, lalu kedua pasangan paruh baya itu, keluar meninggalkan ruangan kerjanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di atap mansion, Rabarus melayang mendekati seseorang yang membuatnya tertarik. Ia membungkukkan badan, lalu memegang dagunya melihat kearah Jura.
"kau.. Bocah yang sangat menarik!" ujarnya sambil melihat fokus kearah Jura. 'Mmm.. Dia terlihat berbeda dari teman-temannya yang lain, bahkan jauh melebihi Putraku!! Bocah ini..'
"Maaf, apa yang anda lakukan?" ujar Jura menatap tajam.
Mendengar pertanyaan Jura, membuyarkan pikirannya. Ia pun dengan cepat
Menghindar.
"Ah, haha.. maafkan aku, karena membuatmu tidak nyaman. Omong-omong bukankah seharusnya kalian mengajak tamu masuk?" tanyanya spontan, sambil tersenyum ramah.
"Tama, kau sangat berbeda jauh dengan Ayahmu." ujar Roya.
"Cih, siapa juga yang bilang mirip, aku pun tidak sudi disamakan dengannya." jawab Tama ketus.
"Hei.. Hei.. Kau tidak boleh seperti itu..! Aku ini ayahmu." ujar Rabarus tersenyum lalu merangkul bahu Putranya.
"Diam, menjauh dariku..!" teriak Tama kesal. Karena merasa asing, setelah lama tidak bertemu.
"Ternyata kalian berdua sangat akrab ya.." Celetuk Zaku menyeringai.
"Berisik, bisakah kau diam. Dasar kucing manja." ejek Tama kesal.
"Cih, terserah aku dong, mulut-mulutku, apa urusannya denganmu." balas Zaku menyeringai.
Rabarus tersenyum ceria, melihat putranya banyak bicara, sedangkan keempat spirit lain, hanya menggeleng-gelengkan kepala, malas untuk medeni keduanya.
"bisakah kalian hentikan??? Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan seperti dulu!!" gumam Jura memperingatkan keduanya, tentang hukuman Kaisar.
'Hmm.. Bocah ini sangat berkarisma, dia mempunyai aura seorang pemimpin.'
"Cih." Zaku dan Tama langsung diam dan saling membuang muka.
__ADS_1
"sebaiknya mari kita masuk, tidak sopan membiarkan tamu menunggu terlalu lama." Imbuh Jura.
'kebetulan sekali, aku sangat penasaran dengan Wanita yang mampu membuat Putraku merasa khawatir karenanya!!'