AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
WAKTUNYA HAMPIR TIBA...!!


__ADS_3

Argus berguling.. Kesakitan karena memori berputar dikepalanya.. Memori terus berputar mencari kepingan ingatan yang hilang. Bagai pecahan cermin yang berserakan, kepingan memori berterbangan mengganggu pikirannya.


Suara bising para gadis, terus memanggilnya.. Dan begitupun, suara lain yang ikut memanggil namanya, hingga membuat kepala Argus, Pusing seperti berkunang-kunang.. lalu ia pingsan.


Mata Argus, kembali terbuka.. Tampak netra biru kehijauan, melirik keseluruh tempat tersebut.


'Dimana ini..? Kenapa sangat gelap! Aku berusaha bangun pelan-pelan sambil memegang kepalaku, yang masih terasa pusing. Saat aku masih kebingungan dengan semua yang terjadi..! Tiba-tiba saja, seseorang yang mengenakan pakaian dan berwajah sama sepertiku, datang menghampiriku, dengan senyuman hangatnya. Melihatku yang masih terduduk bingung, Pria yang melipat kedua tangannya.. bertanya kepadaku.'


"Bagaimana keadaanmu..?"


'Tanya Pria, yang mirip denganku.' Argus melihat Pria yang ada dihadapannya.. Sambil memegang kepalanya yang sakit. "Siapa kau?"


"Aku adalah dirimu!!" Jawabnya singkat.


"Jangan main-main, cepat katakan siapa kau...? Beraninya kau menyerupai wajahku!"


"Aku juga tidak berbohong, aku adalah bagian dari dirimu. Jika kau bisa mengingat apa yang terjadi..!! Kau akan segera tahu siapa aku." Tak lama setelah ia berujar.. Iapun menghilang begitu saja, tanpa menjelaskan apapun dan hanya tinggal Argus, sendiri terjebak dalam kebingungan.


"Ugh, apa maksudnya..!" Ia mulai merenungkan apa yang terjadi. 'Aku benar-benar tidak ingat apapun.. Yang aku tahu, aku sudah berada di tempat seharusnya aku berada. Tapi, kenapa dia terus memaksaku, untuk mengingat semuanya..!!'


Argus, bangkit berdiri.. Lalu, Ia berjalan menyusuri ruang gelap yang tak berpenghujung.. Untuk mencari tahu, dimana dia berada!!


'Tempat apa ini sebenarnya?? Bukankah tadi aku sedang berada di alam bebas, dengan Para gadis cantik. Dan sekarang.. saat aku sadar, tiba-tiba saja aku sudah berada disini..!!'


Argus berputar melihat sekelilingnya.. Tapi yang ia lihat hanyalah kegelapan dan tidak ditemukan apapun. Argus mulai merasakan lelah.. Ia juga masih dilanda kebingungan, sampai ia terduduk merenungi apa yang terjadi kepada diri dan ingatannya..!


Dia tidak tahu harus berbuat apa? Hingga muncul suara seseorang sayup-sayup terdengar...!! Ia mencari suara tersebut.


...****************...


Tampak purnama yang sejak tadi bersinar terang.. kini hampir semerah darah. Sebentar lagi.. Ravella, akan segera sadar dari tidur panjangnya. Namun, suasana di mansion.. Masih terasa menegangkan. para prajurit masih berjuang, semampu yang mereka bisa. Semuanya.. terus menyerang tanpa henti. Sang Dewa memandang seluruh prajurit, yang berjejer mengerubunginya.


'Mereka bagai gerombolan para semut, yang tiada habisnya.'


Dewa itu menatap kelangit malam.. Tampak kedua Orbit, hampir menyatu. Tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi.. Dewa itupun membuat semua prajurit tertidur pulas. Alhasil.. Para pasukan tertidur masal. Setelah itu, sambil melihat kelantai empat, Dewa itu pun.. menghilang.


'Aku harus cepat.' Ujar Sang Dewa, sambil melihat kemansion. Tempat Putri Ravella, berada.


Di dalam.. Para spirit begitu khawatir mendengar ancaman Tama, Padahal mereka baru saja bertemu. Tapi tidak dengan Zaku, karena ia sudah dipenuhi dengan emosi. Dan di pikirannya.. hanya ingin membebaskan cucunya.. Dari penghalang tersebut.


Sementara itu.. Rabarus tersentak kaku, dengan ancaman Tama. Tidak ingin membuat Putranya membenci dirinya.. Rabarus akhirnya mengalah. Dan menatap sayu kearah Putranya.


'Jika aku bertindak lebih jauh lagi.. Aku akan kehilangan Putraku. Padahal aku baru saja bertemu dengannya. Meskipun niatku ingin membantu.. Tapi, karena kewaspadaan mereka terhadapku, jadi membuat mereka sulit mempercayaiku. Putraku, juga sangat keras kepala, melihatnya seperti ini.. Jadi mengingatkanku pada masalalu.' Lalu ia berujar.


"Haaah.. Baiklah, tapi, sebelum aku melepaskan penghalangnya..!! Ada yang harus aku beritahukan kepada kalian semua..!" Ujarnya serius.

__ADS_1


"Apa itu?" Tanya Lannox Tidak sabaran.


"Gadis kecil ini.. Harus segera dipindahkan ketempat yang jauh lebih aman. Selama dia masih mengeluarkan energi SUCI miliknya.. Ia akan terus menarik kekuatan Dewa lainnya. Melihat bagaimana Seorang Dewa, sampai turun tangan langsung, hanya untuk dirinya. Artinya.. Putrimu ini sangatlah istimewa." lalu.. Rabarus melihat kearah Tama. "Pantas saja.. Putraku yang sangat pemilih, mau menjadi Spirit miliknya."


Wajah Tama memerah, Malu. "Jangan sok tahu kau, Pak Tua."


"Tentu saja aku tahu, karena kau putraku."


"Cih." Tama membuang Muka kearah lain. Membuat Spirit lain, tersenyum lega.


Dan, Rabarus menjentikkan jarinya. "Tik." penghalangpun terbuka.


"Kalian berdua, sebaiknya bawa dia.. Dan jaga anak ini baik-baik. Karena jika ia terus berada disini.. anakmu akan terus menarik energi lain kesisinya. sepertinya.."


Belum selesai Rabarus berbicara.. Lannox langsung memotong ucapan Rabarus.


"Tidak perlu kau bilang pun, aku pasti akan melakukannya." Ujarnya.. angkuh.


Saat Lannox ingin mengambil Putrinya.. Sesuatu pun terjadi.


"Kita tidak punya banyak waktu lagi.. Jadi apa keputusan kalian anak-anak?" Ujar Rabarus, bertindak sebagai sosok yang paling tua dihadapan Para Spirit.


Namun, belum sempat Para Spirit memberi jawaban.. Muncul sosok yang paling ingin mereka hindari. Lannox dan Zion yang ada disitu.. Langsung terpelanting, menghantam tembok kamar.


"Buk.. Buk..."


Zaku yang melihat cucu kesayangannya di serang, dengan garang, dan tanpa pikir panjang, ia Langsung ingin menerkam kepala Dewa tersebut.


"gwaaarrrrrrrr........" Zaku melompat dan hampir menelan kepala Dewa.


Dewa yang terlihat santai tanpa menoleh sedikit pun, dengan tenang ia hanya mengibaskan kedua jarinya.. Zaku pun langsung terpelanting menembus dinding, hingga jatuh keluar mansion.


Zaku jatuh di atas tumpukan puing tembok kamar, ia berusaha bangun, dan mengibaskan bulunya.. Saat ia melihat kelain, tampak para prajurit sedang terkapar masal.


"Heeh.. Bahkan para pasukan sebanyak ini saja, dibuat tertidur olehnya." Zaku melihat keluar Perisai.. Tampak serangan telah berhenti. "Kelihatannya.. Mahluk bersayap, yang sejak tadi menyerang kini telah menghilang. Apa mungkin, karena kehadiran Dewa teresebut!!"


Zaku menoleh kelantai Empat, tampak dinding sudah hancur lebur. Dan, Zaku, di buat terkejut saat kelima temannya hilang begitu saja.. saat akan menyerang Sang Dewa. Begitupun Rabarus, yang juga Menghilang Di ikuti oleh Dewa. Tak lama.. di susul oleh Zion, dan si Master.


"Celaka.. Jika semuanya menghilang, kemana aku harus mencari mereka??" Ujarnya merenung. "Aku harus merasakan keberadaan mereka." Zion diam sejenak dan fokus.


Kamar Duke, yang tadinya utuh, kini menjadi bolong besar.. karena hantaman dari tubuh Zaku. Melihat teman mereka tercampak hingga keluar.. kelima Spirit menjadi berang. Dan mereka beramai-ramai.. Menyerang Dewa tersebut.


Tapi, saat mereka akan menyerang.. "TIK" Jentikkan jari Dewa membuat semuanya menghilang.. Dalam sekejap. Rabarus.. Yang melihat kehebatan Dewa, Langsung memanfaatkan kesempatan tersebut dalam Diam, ia telah memindahkan Sang Putri ketempat lain. tanpa disadari oleh Dewa, karena perhatian Dewa telah teralihkan, kepada lima Spirit lainnya.


Menyadari Putri kecil yang ada dihadapannya menghilang, ia segera menoleh kearah Rabarus. Rabarus yang merasakan bahaya mengancam dirinya.. dengan cepat menghilang. di susul oleh Dewa tersebut, yang tampak marah karena kelalaiannya sendiri, fokusnya jadi terganggu kerena gangguan kelima Spirit.

__ADS_1


"Beraninya kau!! ternyata aku sedikit lengah ya.. TIK.." dalam sekejap, Dewa pun menghilang mengejar Rabarus.


Setelah kepergian Dewa.. Tak lama, Zion dan Lannox pun menghilang. Rabarus telah memindahkan, keduanya.. ketempat Putrinya berada. Dan menjadikan dirinya sendiri, sebagai Umpan untuk mengalihkan perhatian Dewa.


***


Sementara itu, di tempat lain.. Para Spirit muncul di sebuah lapangan, yang jaraknya lima ratus meter dari mansion.


"Puuung.. Puuunnggg... Puuunnggg.. Bbbooooommmmm. "


Saat keempat Spirirt muncul, celakanya.. mereka saling berhadapan, dan saling menyerang, serangan mereka mengenai satu sama lain.. membuat semuanya terlempar jauh, dan terkena serangan masing-masing, dan ledakan besar pun terjadi.


"Gedebug.. Gedebug.. Gedebug.. Bug.."


"Agh.. Sial, aku terkena serangan Gira.. Ini menyakitkan." Ujar Tama, yang mengalami pendarahan.. Darah segar keluar dari mulutnya.


Begitupun Ketiga Spirit Lainnya.. Gira terkena serangan Tama, Saga menyerang Roya, begitupun sebaliknya.. Roya terkena serangan Saga. Dan Hanya Jura.. yang melenceng jauh, dari arah yang seharusnya..! Ia terpisah sendiri, dan terlempar jauh. Tiba-tiba.. Terdengar suara Saga memanggil.


'Kawan-Kawan.. Apa kalian baik-baik saja..?!!'


***


Di tempat lain, Garda yang penasaran dengan siapa Dewa tersebut.. Menunggu jawaban keluar dari mulut Sang Paduka. Akan tetapi.. raut wajah Garda tiba-tiba saja berubah kecewa. Karena Dewa, hanya menjawabnya dengan sedikit seringai.


Ucapannya yang menggantung.. Membuat Garda, dilanda rasa penasaran. ingin bertanya untuk yang kedua kalinya..! Akan tetapi, Ia mengurungkan niatnya itu. Setelah menyaksikan wajah sendu, dari Sang Paduka.


'Itu bukan jawaban yang kuinginkan, Kenapa beliau malah menyeringai..! Tapi, kenapa beliau tiba-tiba menjadi murung begitu..!!'


Dewa menggenggam kunci tersebut, sampai hancur menjadi debu. Dan, berterbangan bebas di udara, hingga jatuh kedalam mulut merapi. Sang Dewa, menatap kunci yang telah hancur menjadi serpihan debu di tangannya. Tampak wajah sempurnanya.. Berubah murung. Melihat itu.. Garda, tidak berani berbunyi sedikit pun!!


'Mengapa ekspresi beliau berubah menjadi murung!! Bahkan, Langit pun ikut bereaksi.. Karenanya.' Ujarnya melihat Kelangit.


Setelah beberapa menit kemudian..


'Hmm.. Waktunya hampir tiba..!!' Tak lama.. Dewa pun berujar. "Ayo kita kembali."


'Haah.. Apa begitu saja!' pikirnya, masih penasaran. "Baik Paduka."


Dalam sekelip mata.. Garda telah kembali keistana, tanpa ada Dewa disisinya.


'haah, kemana lagi beliau pergi..? Bukankah tadi, beliau sedang bersamaku?? Mengapa beliau pergi begitu saja? Wuah benar-benar.. beliau suka sekali menghilang tanpa jejak, dan tanpa pemberitahuan apapun. Aku kan, jadi bingung! haah, sekarang apa yang harus aku lakukan ya..? Hmm.. sebaiknya aku keluar saja.'


Melihat ketiadaan Sang Paduka, Garda menjadi bosan, Ia lalu pergi meninggalkan istana. Sementara Sang Paduka sendiri.. Sedang berada disuatu tempat, yang tidak terjangkau oleh siapapun.


Ia duduk diam diatas singgasana miliknya.. Sambil memperhatikan apa yang sedang terjadi, ia menyeringai sambil menopang rahang pipinya, diatas kepalan tangan kirinya. Sementara tangan yang lain, bertopang pada lengan kursi.

__ADS_1


"Tuk.. Tuk.. Tuk.." Suara ketukan dari jari telunjuknya.. Memecah keheningan.


Apa yang sedang Kaisar Zando, lakukan!! Dan, dimanakah Putri Ravella.. Zion, dan Lannox berada....??! Nantikan di Episode selanjutnya.


__ADS_2