AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
TURUNNYA TITAH DEWA KARMA


__ADS_3

"GELEDUK.. GELEDUK.. GELEDUK.. JEDUAARRRR."


Mendengar hal tersebut, Semua pasukan berhenti bertarung, dan melihat kearah langit yang sekarang sedang bergemuruh kencang. Bahkan Damu pun ikut melihat kearah langit tersebut..


dan tiba-tiba terdengar suara yang lantang dari langit, dimana hanya para pasukan musuh, yang bisa mendengar perintah tersebut.


'UNTUK SAAT INI, HENTIKAN PERTARUNGAN KALIAN YANG TIDAK BERGUNA.. KARENA KALIAN AKAN KALAH JIKA BERUSAHA MELAWAN, KALIAN BUKANLAH LAWAN MEREKA.'


'TAPI KENAPA MAHA DEWA..? BUKANKAH TUJUAN KITA SUDAH HAMPIR DEKAT UNTUK MEMILIKI MAHA DEWI...!'


Ujarnya sangat menyayangkan hal tersebut, karena mereka hampir mendapatkan apa yang telah Dewa mereka nantikan selama ini..


'AKU AKAN MENJELASKANNYA NANTI SETELAH KALIAN KEMBALI, SEKARANG CEPAT BAWA PASUKANMU. DAN JANGAN MEMBANTAH, JIKA KALIAN TIDAK INGIN MENDAPATKAN HUKUMAN DARIKU..!'


Mendengar perintah mutlak Sang Dewa KARMA.. Pria itu pun mematuhinya meski dengan berat hati. Karena mereka tahu,


Betapa beruntungnya, siapapun yang bisa menjadikan Dewi tersebut sebagai Permaisuri. bahkan tidak hanya para Dewa saja.. Para pasukan milik Dewa pun, sangat menantikan hal tersebut.


'BAIKLAH MAHA DEWA, KAMI AKAN KEMBALI SEKARANG.'


Ujarnya patuh.. Lalu ia melihat pasukannya yang sudah banyak mengalami luka parah, ia pun memberi perintah pada pasukannya untuk membawa yang terluka.


Damu yang tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.. Hanya mengamati dalam diam, dan memperhatikan reaksi dari musuhnya itu dengan heran.


Tidak hanya Damu, para pasukan yang sedang bertarung pun, langsung berhenti setelah mendengarkan perintah Dewa mereka.


Mereka menyarungkan kembali pedang mereka, dan mengikuti dengan patuh arahan dari Sang Pemimpin.


Para pasukan pun meraih teman mereka yang terluka parah, dan memapah para kawanan. sedangkan sang Pemimpin yang masih belum menerima kekalahan tersebut..


Bergumam pada Damu, yang saat ini hanya diam mengamati gerak-gerik musuhnya..


"Dengar, aku masih belum kalah. Kami akan membalas apa yang telah di alami pasukanku saat ini.." ujarnya menyimpan dendam.


"Baiklah, akan aku tunggu.. Sebaiknya kau benar-benar membawa pasukan terbaik, jangan mengecewakanku." ujar Damu sinis.


Ia sangat kesal mendengar perkataan Damu yang menyindir mereka, Pria itu benar-benar merasa sangat malu dan marah sekali, ia mengepal kedua tangannya.


gelar pasukan terbaik yang mereka dapatkan saat ini.. Menjadi sia-sia dan ternyata tidak ada apa-apanya di hadapan para musuh mereka.


Sambil melihat kearah pasukannya yang telah banyak mengalami luka parah.. Dan setelah mengatakan hal tersebut..


Mereka pun menghilang dalam sekejap, meninggalkan Damu dan para pasukannya dengan kebingungan.


Melihat hal tersebut, salah satu pasukan yang merasa penasaran.. Menghampiri Damu, dan mewakilkan rasa penasaran yang lainnya, untuk bertanya.


"Ketua Damu.. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Mengapa mereka tiba-tiba mundur begitu saja.. Apa kita telah menang sekarang??" ujarnya yang tampak kebingungan.


Damu yang juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi.. Hanya bisa menjawab sebisanya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu." ujarnya singkat, mendengar jawaban Sang Ketua.. Prajurit itu pun berhenti bertanya.


Setelah kepergian musuh dari langit Kastil.. Mereka pun kembali berjaga. namun.. beberapa saat kemudian, terdengar Perintah Dari Dewa Zando, yang memerintahkan mereka untuk segera kembali.

__ADS_1


"Kerja bagus, tugas kalian sudah selesai. Sekarang kembalilah."


Mendengar perintah tersebut, Damu dan para Pasukan kembali dengan patuh. Dan mereka sangat senang mendapatkan pujian Dari Sang Paduka.


Mereka kembali dengan membawa kemenangan yang tidak mereka duga, namun hal itu sudah di ketahui oleh Dewa Zando, tanpa mereka tahu.


...****************...


'Besok kita akan kembali kemansion, aku harap Putriku senang mendengar hal ini.. Dan mau berbicara lagi dan tidak murung.' pikirnya tampak cemas, dengan perubahan sikap putrinya yang selalu tampak murung dan sedih.


Tapi di satu sisi.. ia sangat senang, Karena Putrinya menjadi sangat manja padanya. Tak lama.. Terdengar ketukan dari luar pintu kamar, yang menyadarkan lamunan Duke.


"Tok.. Tok.. Tok.."


"Masuk."


Emilio membuka Pintu, dan memberi hormat pada Tuannya itu. "Apakah ada yang anda butuhkan, Yang Mulia!!" ujarnya menunggu perintah.


Duke menarik nafas pelan, dan memberitahukan tentang maksud keinginannya itu! Yang membuat Emilio terkejut.


"Hah.. Emilio,"


"Ya, Yang Mulia."


"Besok aku akan kembali dengan Putriku."


Emilio yang terkejut mendengarnya, langsung menanyakan perihal mendadak tersebut.


"Mengapa begitu cepat, Yang Mulia.. Bukankah anda masih punya waktu seminggu lagi untuk tinggal di sini." ujarnya kaget dengan kepulangan mendadak Sang Duke.


"Yah, awalnya aku akan pulang minggu depan, menggenapkan liburan menjadi sebulan pas. Namun, melihat keadaan Putriku yang tidak ada perubahan..!


Aku jadi khawatir, mungkin cara satu-satunya untuk menghiburnya.. Adalah membawanya kembali Kemansion."


Mendengar itu Emilio pun segera faham maksud Tuannya itu, ini semua dilakukan untuk Yang Mulia kecilnya. "Jika begitu.. Saya mengerti. Saya akan berkemas-kemas mempersiapkan semua keperluan anda dan Putri untuk kembali besok."


"Hem.. Baiklah, terima kasih Emilio.. Aku serahkan tugas disini kepadamu. jika ada yang kau butuhkan.. Hubungi saja aku.


Aku akan meninggalkan Batu Kristal, agar kita mudah berkomunikasi saat di perlukan."


"Di mengerti Yang Mulia, Kalau begitu saya pamit dulu."


"Hem.." Setelah beberapa menit kepergian Emilio, tak lama wakil Kepala Pelayan pun masuk membawa hidangan untuk Duke dan Putrinya.


"Ini Yang Mulia, apakah ada lagi yang anda inginkan yang lainnya." ujar Rose pada Duke.


"Tidak Rose, kau boleh kembali."


"Baik Yang Mulia.. Selamat menikmati hidangannya. Jika ada yang anda butuhkan, katakan saja."


"Hem.." ujar Duke, lalu ia pun membangunkan Putrinya untuk makan siang.


***

__ADS_1


Di waktu yang sama.. Di tempat lain di luar Kastil. Zion dan para Spirit beserta Gapi, duduk di bawah pohon rindang. sebuah taman luas yang berada agak jauh dari Kastil, Mereka duduk melingkar seolah sedang mendiskusikan sesuatu.


"Darimana saja Kalian berdua? setelah pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun." ujar Tama mulai mengintrogasi Sang Ayah.


Gapi yang berada di antara Para Spirit, hanya bisa menjawab polos. "Hehe.. Itu, Kakek Rabarus marah jika aku mengatakannya pada kalian." ujarnya sambil melirik Rabarus.


"Heh.. Begitu rupanya, Sekarang kau menyembunyikan sesuatu di belakang kami Pak Tua!!" gumam Zaku menyeringai.


"Eum.. Ini adalah rahasia antara aku dan bocah ini yang boleh tahu. Jadi kalian tidak perlu ikut campur." ujarnya tegas.


"Oh, bahkan kau juga merahasiakannya dariku!!" ujar Tama sinis.


"Hehe.. Ya begitulah. Tapi omong-omong apakah kau juga mendengarkan suara gemuruh di langit Nak?" tanya Rabarus kepada Gapi.


"Ya, aku mendengarnya.. Padahal langit tampak sangat cerah dan juga tidak ada mendung, tapi.. Kenapa bisa ada gemuruh keras di langit!!" ujar Gapi, mendeskripsikan hal tersebut.


"Heum.. Apa kalian tidak merasakan ada yang aneh dengan Bunyi tersebut??" tanya Roya.


"Aku hanya merasakan kengerian yang tidak bisa aku jabarkan pada kalian." gumam Jura, yang sedang duduk bersedekap tangan.


"Ya, aku memang tidak bisa merasakan seperti yang Kakek Jura rasakan.. Akan tetapi, aku berpikir.. pasti ada sesuatu yang telah terjadi tanpa kita sadari bukan?" ujar Zion mengutarakan pikirannya tersebut.


"Melihat bagaimana yang dirasakan Kek, Jura." Ujarnya.


Mendengar ucapan Zion, yang lain hanya diam merenung. Lalu Gira berujar, memecah keheningan di antara para Spirit.


"Untuk sekarang kita lupakan hal tersebut, fokus utama kita saat ini adalah bagaimana caranya menghibur Master.


Apalagi setelah melihat kondisinya, belum lagi.. Kita telah membuat kesalahan yang membuat beliau merajuk." ujarnya merisaukan, hal tersebut.


"Betul, aku sangat rindu dengan tawa dan sikapnya yang ceria. Namun, beberapa hari ini.. Keceriaan itu menghilang dari dirinya." sambung Saga, yang juga di angguki oleh Spirit lainnya.


Sedangkan Gapi, yang baru tahu akan hal tersebut. Langsung sedih dan menanyakan keadaan Tuan Kesayangannya itu.


"Apakah Dewi Sedang sakit..??" ujarnya khawatir. "Tolong katakan bagaimana keadaan Dewi padaku, Paman?? karena aku tidak bisa mendekati Dewi, jika ada Pak Tua yang menyeramkan itu." ujarnya menyebut Duke.


Mendengar kekhawatiran Gapi, Zion pun menenangkannya. "Heh.. Kau tenang saja Nak, Dewi baik-baik saja. Ia hanya sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun saat ini.


Jadi untuk sementara.. Sebaiknya, kau tinggal dulu bersama Para Kakek. Apalagi.. Saat ini aku juga tidak bisa membantumu menenangkan Bocah Tempramen itu.


Haah.. Bahkan aku saja sampai di usir olehnya! Dasar bocah tidak jelas. Meskipun aku telah lama menjadi Spiritnya...


Hingga saat ini, aku pun masih belum mengerti dengan emosinya yang mudah berubah-ubah seperti wanita itu!!" ujar Zion, membuat para Spirit menertawainya.


"Hahahaha.. Memang dasar kau saja yang bodoh Cucuku. Sebenarnya, anak itu sudah terbangun sejak kami datang menghampirimu.


Tapi kau tidak menyadarinya.. Apalagi setelah mendengar kau membelaku, dia jadi semakin bertambah kesal padamu, yang tidak memihaknya." celetuk Zaku, membuat Zion terkejut.


"Apa... Benarkah itu??"


"Ya, mungkin karena kau terlalu fokus berbicara dengan kami. Sampai kau tidak sadar." ujar Tama.


"Heh, pantas saja.. Dia tiba-tiba mengusirku. Mana aku tahu jika dia hanya berpura-pura tertidur." ujarnya mendengus kesal.

__ADS_1


Reaksi Zion, membuat yang lainnya tertawa.


__ADS_2