
hi maaf baru update, mood saya benar-benar kurang baik akhir² ini, terimakasih telah membaca sampai saat ini, sehat selalu.
"hmm tenaglah kau tunggu disini, aku akan kebawah."
"hei.. jura tunggu, biarkan aku juga ikut menagkap mereka."
"'haah.. dasar bocah berisik." 'sebaiknya aku buat saja dia tertidur. tik'
jura menjentikkan jarinya, dan tak lama ocehan samar dan gerakan tubuhnya yang berontak menjadi lemah, dan tidak sadarkan diri.
"sialan kau ju... bug."
lannoxpun jatuh pingsan
"dengan begini, aku bisa melakukannya dengan aman tanpa gangguan dari anak ini, hmm."
jurapun turun melayang dengan wujud transparannya, ia masuk ketempat keduanya berada, kehadiran jura, tak bisa dirasakan oleh siapapun..
rey: 'aku ingin secepatnya agar misi ini segera selesai, tapi.. sipenyihir tua ini, sepertinya selalu saja menghalangi niatku, apa sebenarnya yang dia rencanakan?'
rey bangkit berdiri dari tempatnya.. dan beranjak ingin keluar. namun, saat dia akan beranjak keluar, tiba-tiba saja rey terjatuh pingsan dan sudah berada dalam kondisi terikat.
"hmm tinggal satu lagi."
dengan kondisi terikat dengan rantai yang membelenggu tubuhnya, jika ia memaksa untuk meronta, maka rantai itu akan menyedot energinya secara langsung, tapi.. jika ia hanya diam! rantai itu akan tetap stabil. jura terus berjalan dan, ia menyembunyikan kehadirannya. namun, si penyihir yang ia cari sudah tidak berada ditempat.
"hmm.. sepertinya dia menyadari, jika temannya sudah tertangkap. sebaiknya kulacak jejaknya, sebelum ia semakin menjauh."
jura diam berdiri dengan kedua tangan yang masih dilipat kebelakang, dan dia memejamkan matanya, seolah ia sedang melihat kearah wilayah di sekitar dengan penglihatan mata batinnya.
penyihir: apa ini, k..k..kenapa tubuhku tidak bisa bergerak.
sipenyihir tiba-tiba saja melihat sosok mata besar yang ada dihadapannya, dengan aura yang sangat suram dan gelap, ia sedang menatapnya dengan tajam.
"hihihiiy ketemu, disini kau rupanya. bwusssh..."
dalam sekejap pria berbaju hitam itu muncul disamping sipenyihir, dan menepuk bahunya. sipenyihir terbelalak kaget dengan sosok yang tiba-tiba sudah ada disampingnya.
penyihir: si...si..siapa kau..?
"hmm kau tidak perlu tau siapa aku."
dalam sekejap pria penyihir itu jatuh ketanah, jura melihat pria tersebut dengan senyum ibanya.
"mmm.. dia tipe yang sangat berhati-hati, sayang sekali.. padahal dia sangat berbakat."
tak lama jurapun menghilang bersama sang penyihir, dan sipenyihir sudah terbelenggu dengan rantai yang sama seperti rey, dan setelah beberapa menit kemudian di kamp.
"dimana ini...?"
lannox yang baru saja terbangun melihat kesekitar, sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.
"spirit sialan, sejak kapan kita berada dikamp? dimana kedua penyihir tersebut..!"
"mereka sudah berada di tempat yang aman."
terdengar suara dari arah samping, lannox menoleh kearah suara tersebut dan tampak sosok pria tampan mengenakan baju serba hitam, yang membuatnya tampak sangat misterius, jura sedang duduk sambil menyedu teh hangat miliknya, dan membaca buku yang ada dimeja lannox.
"sialan kau jura, bisa-bisanya kau membuatku tertidur."
__ADS_1
"bukankah itu bagus, kudengar kau sudah tidak tidur beberapa hari. jadi kau juga harus memulihkan keadanmu, tek."
jura meletakan gelasnya diatas meja, dan menutup buku yang sedang ia baca. lalu ia bangkit berdiri dan menghampiri lannox, yang tengah duduk tepi ranjangnya dan menyerahkan beberapa lembar dokumen ditangannya.
"ambil ini.."
lannox mengambilnya sambil menatap tajam kearah jura.
"apa ini..?"
"semua informasi penting yang kau cari, sudah aku catat disini."
lannox melihatnya dan mengecek secara detail, laporan yang ditulis oleh jura.
"jadi.. wabah yang telah terjadi selama ini adalah campur tangan para orsi..?
"tugasku sudah selesai, aku akan kembali.. sisanya kuserahkan padamu, buussssshhh."
jura berjalan lalu menghilang
"sialan dia pergi begitu saja tanpa menjawabku, spirit satu itu benar-benar misterius sekali! haaah.. setidaknya dia sudah cukup membantuku. sekarang saatnya menyerahkan laporan ini kepihak istana, dan lagi sudah waktunya untukku pulang, aku sudah tidak sabar ingin melihat putriku."
sementara diistana kaisar lukas, arlo, dan zora. benar-benar dibuat tidak bisa berkutik dengan keadaan yang baru mereka alami, tubuh mereka menjadi sangat kaku dibuat tak berdaya, hanya bisa mengumpat tanpa mengetahui siapa dalang disebalik situasi yang terjadi. sedangkan kaisar sendiri dan julius, telah pergi meninggalkan istana, tanpa sepengetahuan dari mereka bertiga, begitupun seisi istana.
"tap.. tap.. tap.." suara langkah kaki semakin mendekat, zora, arlo, dan lukas, hanya bisa berkeringat dingin mendengarkannya.
zora: lukas, arlo, apa kalian tidak bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat kita keluar dari situasi ini..?
arlo: bodoh, jika bisa aku sudah dari tadi melepaskan belenggu ini.
lukas: eeeggghh.. sial, siapa yang melakukan sihir seperti ini, tidak mungkin jika itu masterkan..!
"mulai hari ini.. kerajaan ini telah menjadi milikku sepenuhnya."
lukas, zora, dan arlo, terbelalak tidak percaya.
lukas: 'gulp t..t..tidak mungkin suara dan aura tekanan ini.., mungkinkah dia penyihir jenius, sang penyihir kaisar dari benua barat.' keringat jatuh dari pelipis lukas. zora dan arlo hanya bisa menggertakkan gigi sambil melirik satu sama lain.
arlo: 'k..k..kenapa.. mulutku seakan terkunci?'
zora: 'tekanan apa ini, aura yang tidak biasa mungkinkah dia ..?'
"jika kalian mnyetujuinya, aku akan melepaskan belenggu ditubuh kalian. tapi, jika ada yang tidak setuju dan berniat ingin memberontak, matilah jawabannya."
ketiganya tidak bisa berkata-kata, hanya bisa pasrah mendengarnya. tapi dilain sisi.. rafael adalah penyihir yang mereka kagumi. ketiganya tidak menyangka, jika sang penyihir sendiri yang turun tangan menangani perang. dan hanya dalam sekejap waktu, ia telah menguasai wilayah musuh, sebelum lawannya sempat melakukan penyerangan.
lukas: 'jadi.. strategi yang kami rencanakan selama ini.. telah gagal dan tidak berguna sama sekali.' lukas merenung sejenak memikirkan situasi yang sudah berbalik dikuasai pihak lawan.
'yah.. lebih baik seperti ini, karena tidak perlu ada korban yang berjatuhan, untuk sekarang aku pantau saja dulu.' lukas menarik nafas panjangnya lalu.. "baiklah aku menyetujuinya."
zora dan arlo saling melirik terkejut, tidak menyangka samasekali, jika temannya semudah itu tunduk dan menerimanya, serta patuh pada pihak lawan.
"hem.. bagaimana dengan kedua temanmu?"
ditempat argus, pria yang mengakui argus sebagai cucunya. membuat amarah argus semakin memuncak.
"hentikan omong kosongmu sialan."
unknown: dia benar-benar galak, mirip sepertimu isteriku.
__ADS_1
unknown: haha tentu saja, karena dia juga mewarisi darahku .
unknown: hahaha dan jangan lupakan kalau dia juga mewarisi darahku juga. ujar suami wanita itu.
"puuuuung..... bleduaaarrr". laser merah jingga menyerang keduanya, namun keduanya dengan cepat menghindar.
unknown: dia juga mirip sepertimu suamiku, bwusss. kau lengah nak.
wanita itu sudah berada didepan argus dan menyentuh dahinya dengan kedua jarinya, dan membuat argus terpental sangat jauh.
"bug.. bug.. gedebag bluuurrr." dara segar mengucur keluar hingga membuat jubah hijau lumutnya basah terkena darah.
'sial, siapa mereka sebenarnya.. padahal mereka belum serius, tapi sudah sekuat itu. aku tidak bisa menang melawan mereka, sebaiknya aku mundur dulu sekarang.'
unknown: "kau tidak bisa kabur dari sini nak.." kedua orang itu sudah berada dihadapan argus, dan menghalangnya untuk kabur.
"bagaimana kalian.. tau..!"
unknown: tenaglah nak, kami disini tidak untuk menyakitimu, tapi ingin bertemu dan melihat keadaanmu.
pria itu memegang bahu argus dan tak lama setelahnya, tubuh argus kembali pulih seperti semula.
"b..baga..mana mungkin, luka dalam tubuhku menghilang dengan cepat. siapa kalian sebenarnya?"
...****************...
di mantion gapi yang sedang tertidur pulas disamping ravella, tidak sadar dengan kehadiran para peri kecil didalam kamar.
loli: lihatlah siraja kecil kita, kelihatannya dia tidak bisa jauh lama-lama dari dewi.
serin; ya.. padahal sudah disediakan kamar khusus untuknya, tapi ia secara sembunyi-sembunyi malah datang kekamar dewi, dan tidur disampingnya.
gapi: "euh..." gapi meliuk-liuk tidur disamping ravella.
beni: dia terlihat lebih nyaman saat disamping dewi.
roxy: betapa lucunya.. lihatlah saat dia tertidur seperti ini, dia terlihat sangat bebas tanpa beban. tidak bisa kubayangkan bagaimana jika dia besar nanti..!
ramis: kau benar, ya semoga saja.. apa yang kita lakukan ini sudah benar.
doja: "kita sudah sampai, ayo masuk." tampak mulut gua gelap dan mencengkam, ban yang melihat susana itu seakan ragu untuk memasukinya. lalu untuk menepis keraguannya itu, ia mencoba memberanikan diri bertanya.
ban: doja, tempat apa ini..! kenapa kau membawaku kemari?
doja mengabaikan temannya, lalu masuk sendirian meninggalkan ban yang sedang dalam keraguan.
ban: tunggu.. doja tunggu aku. 'sialan, apa dia tidak ada takut-takutnya ditempat seperti ini.. aku tau aku juga seorang penyihir, tapi bukannya itu normal untuk selalu berwaspada.
ban sebenarnya seorang pria yang sangat penakut, ia masih percaya dengan hal mistis seperti roh hantu, atau sebagainya, namun dia menolak untuk mengakui kekurangannya itu.
doja terus berjalan melewati lorong demi lorong gua, setiap jalan yang ia lewati, obor akan secara Otomatis menyala menerangi jalanya. ban yang sudah berada dibelakang doja, melihat obor didinding gua menyala sendiri membuatnya semakin takut dan berpikir yang aneh-aneh.
ban: hei bisakah kau jalan pelan-pelan, tempat ini sangat menyeramkan.
doja tetap diam tidak menggubris perkataannya.
ban: 'sialan.. ada apa dengan anak ini?'
jangan lupa like, vote, n komen 🙂
__ADS_1