
di luar mansion, Robi, dan Dean, pergi kedalam hutan, untuk latihan. dan setelah pertarungan panjang, yang berakhir dengan seri.
keduanyapun duduk untuk beristirahat, di bawah pohon besar, dan saling mengobrol, meluahkan perasaan bahagia mereka masing-masing.
(Dean) "aku benar-benar tidak menyangka! jika kita akhirnya bisa lolos dengan mudah."
(Robi) "hem.. kau benar, kau tau.. bahkan aku sempat berpikir untuk mengakhiri hidupku! jika sampai aku di buang oleh Yang Mulia."
(Dean) "haah.. apa kau sudah gila!! sampai berpikir dangkal seperti itu." pernyataan Robi, membuat Dean terkejut tak percaya.
(Robi) "ya, mau bagaimana lagi.. hidup ini tidak mudah kawan, dan terlalu banyak misteri yang tidak bisa kita pecahkan. apa yang akan terjadi hari ini.. besok.. dan seterusnya! semua masih misteri. yang aku tahu, ini adalah tempat terakhirku."
(Dean) "maksudmu?"
(Robi) "aku tidak punya tempat tujuan lain, untuk meneruskan hidup, selain disini."
(Dean) 'sepertinya.. dia sama sepertiku. tapi aku tidak sebodoh itu, sampai berpikir harus mengakhiri hidup.' gumamnya dalam hati. "aku tidak tahu apa yang telah kau lalui, sampai berpikir bodoh seperti itu! tapi, apapun itu.. jangan pernah menyerah, meskipun kematian sudah didepan matamu. tetaplah bertahan, hidup ini hanya sekali.. jadi nikmati waktu yang diberikan untukmu. dan jangan pernah sia-siakan hidupmu, lakukan apapun yang kau inginkan, asal tidak melanggar aturan, yang telah ditetapkan takdir."
(Robi) "yah.. kau tenang saja.. awalnya aku memang sempat berpikir konyol, tapi tidak untuk sekarang. mungkin karena Dewa telah memberi kesempatan kedua untukku, jadi aku harus memanfaatkannya dengan baik bukan."
(Dean) "baguslah jika kau berpikir begitu."
(Robi) "kau sendiri.. apa yang akan kau lakukan? jika sampai Yang Mulia menolakmu!"
Dean diam sejenak, memandang kelangit malam tak berbintang.
(Dean) "hem... mungkin, aku akan pergi sejauh mungkin, mencari tempat teraman di dunia ini. dimana hanya ada kedamaian, dan ketenangan, tanpa perlu berlari dan bersembunyi."
(Robi) 'sepertinya.. dia juga punya masalah yang cukup rumit yang tidak bisa dia ceritakan.' ujarnya memperhatikan. "oh, begitu."
...----------------...
setelah menyelesaikan pekerjaannya, Lannox kembali kekamar, membersihkan diri. selesai mandi, ia mengenakan pakaian tidurnya, dan melihat pemandangan yang tidak ia suka. karena kehadiran para spirit, di dalam kamar mengganggunya.
'hem.. lama-lama aku jadi terbiasa melihat pemandangan ini, tapi aku jadi merasa tidak punya privasi lagi sekarang. kamar ini sudah seperti kamar umum, yang bisa dimasuki siapa saja. kapan semua ini akan berakhir? jika bukan karena keadaan putriku, sudah lama aku usir mereka semua.'
Lannox duduk di dekat sofa, sambil meneguk teh hangat yang sudah disediakan untuknya. sadar akan tatapan tajamnya, Jura mulai membuka pembicaraan.
(Jura) "apa kau sejengkel itu, sampai pandanganmu seperti ingin menusuk kami?"
"ya.. sangat." jawabnya tegas, dan lugas.
(zaku) "apa yang kau kesalkan! ini semua demi putrimu, dan untuk putrimu."
"ya.. aku tahu! tapi, sampai kapan?"
(Saga) "sampai semua ini berakhir, dan Dewi bangun dari tidur panjangnya."
"cih, aku harap waktu itu cepat datang." ucapnya sinis.
(Gira) "yang terpenting sekarang, adalah putrimu.. jadi jangan pikirkan hal lain."
"karena itu, aku menahan diri."
(Roya) "heh.. pokonya sekarang, kau juga harus mengurangi jadwalmu yang sangat sibuk itu! karena waktunya semakin dekat. kita juga tidak pernah tau, musuh yang seperti apa? yang akan kita hadapi kelak."
Lannox hanya diam.. dan celingak-celinguk melihat sekeliling kamarnya, seolah sedang mencari sesuatu.
"omong-omong.. kenapa jumlah kalian jadi berkurang? dimana yang satu lagi??"
(Jura) "hah.. itulah yang tengah kami pikirkan! setelah dia pergi.. hingga sekarang, kami masih belum mendengar kabar apapun darinya."
Lannox memegang dagunya, sambil berpikir.
__ADS_1
"apa jangan-jangan dia diculik! hmm.. tapi itu tidak mungkin, dia tidak selemah itu, hingga mudah diculik."
(Zion) "apa.. sampai sekarang, kakek rubah masih belum kembali?" celetuk Zion yang baru saja muncul.
(Zaku) "darimana saja kau bocah?"
(Zion) "hehehe.. aku habis melihat keadaan Gapi."
(Jura) "apa dia baik-baik saja?" tanya Jura khawatir.
(Zion) "ya.. keadaannya sudah membaik, tinggal menunggu ia sadar."
(Jura) "hem.. baguslah, bagaimana perkembangan latihannya? kelihatanya.. kau Terlalu keras pada anak itu!"
(Zion) "bagaimana kakek bisa tahu?"
(Jura) "hmm.. haruskah, aku mengungkapkan semuanya disini?"
wajah Zion tiba-tiba memerah, karena malu.
(Zion) "ti..tidak perlu, hah.. dasar, padahal akukan cuma bertanya! kenapa kakek malah jadi sesensitif itu."
Zaku dan Lannox memperhatikan keduanya, dengan tatapan mencurigai!
"sebenarnya, apa yang kalian bicarakan?" ujarnya menyelidik.
(Zaku) "cih, apa kalian pikir diruangan ini cuma ada kalian berdua saja hah..! lalu kami, kalian anggap apa?? patung." tambah Zaku kesal.
(Saga) "hahahaha.. justru kalian berdualah yang aneh, kami saja tidak merasa terganggu. kalian saja, yang menganggapnya terlalu serius."
Lannox yang masib belum puas hati, masih mencoba menggali.
"Zion, melihat bagaimana sikapmu akhir-akhir ini.. pasti ada yang kau sembunyikan dariku bukan?"
mendengar ucapan Lannox, Zion menjadi salah tingkah.
(Zaku) "cucu sialan, sepertinya kau cari mati hah..."
melihat kakeknya mulai emosi, Zion dengan cepat langsung kabur. namun sebelum itu.. ia menyapa Lannox dulu.
(Zion) "hihihi..nak, sepertinya.. aku akan berjaga ditempat lain hari ini. jadi aku pergi dulu ya.. hahaha, dasar kekek tua pemarah." dari kejauhan, terdengar suara Zion, mengejek sang Kakek.
"hah.. mulai lagi." Pertengkaran sang Kakek dan Cucunya, membuat Lannox lupa dengan tujuannya untuk mengintrogasi Zion.
(Zaku) "cih, tunggu saja kau bocah, beraninya kau memanfaatkan keadaan ini. untuk kabur dariku dasar, cucu tidak berguna awas saja nanti."
(Roya) "hmm.. kalian kelihatan rukun sekali ya..!"
(Saga) "ya.. apalagi dia pasti akan jantungan, setelah tau apa yang terjadi..! nanti."
(Gira) "hahaha.. sebaiknya kau persiapkan hatimu, kawan."
(Jura) "hem..." Jura hanya menanggapi dengan senyum.
(Zaku) "sebenarnya dari tadi, apa yang kalian bicarakan! apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" tanyanya bingung.
(Jura) "kau akan segera tahu nanti."
(Zaku) "cih, ini sungguh tidak adil, sepertinya aku didiskriminasi disini."
(Roya) "buang pikiranmu itu jauh-jauh, kau saja yang terlalu sensitif."
setelah itu.. ruangan menjadi hening kembali.
__ADS_1
...****************...
'pintu gerbang terbuka dengan lebar, dan aku tanpa pikir panjang, langsung memasukinya. namun yang mengejutkan dari semua itu.. tempat ini hanyalah gurun pasir gersang, tandus dan juga gelap. haah.. aku kira akan ada tempat yang lebih menarik lagi, ternyata cuma gurun pasir biasa, mengecewakan.'
Tamapun, masuk menyusuri gurun, berjalan.. lebih jauh dan semakin jauh. setelah lama ia berjalan, namun, ia tidak menemukan apapun di gurun, kecuali badai pasir yang sesekali datang.
'sialan, apa-apaan ini? percuma saja aku di sini, jika tidak ada apapun yang menarik perhatianku.'
sepanjang perjalanan ia lalui.. hanya kesunyian yang mengiringi, suara deru angin di gurun pasir, terus berdesing bermain ditelinganya.
dan.. dari kejauhan di dalam kegelapan malam. muncul perwujudan bayang-bayang putih, melayang-layang membawa lentera ditangan mereka. semua bayangan itu berbaris panjang, seolah sedang mengantri menunggu giliran.
'hah.. mengapa ramai sekali di sana? apa yang sedang mereka lakukan?! ternyata ada penghuni di sini. rasa penasaran mengantarkanku pada keramaian. namun, setelah aku datangi keramaian tersebut, semua bayangan putih yang melayang tadi. menghilang bagai di telan bumi.. apakah aku sedang delusi sekarang??? ya.. mungkin ini hanya delusi.'
iapun Kembali meneruskan perjalanannya! terus melangkah maju tanpa henti. yang ada dipikirannya sekarang, hanyalah menyelesaikan ujian ini secepat mungkin, agar ia bisa kembali berkumpul dengan saudaranya yang lain.
tetapi.. sayangnya, semua itu hanya ada dalam angannya. ia benar-benar terjebak dalam ruang waktu, yang entah dimana! hanya kegelapan dan kesunyian saling berdampingan, seakan memaksanya untuk menyerah.
"sampai kapan ini akan berakhir.. dasar sialan!!! lebih baik kau hadapi saja aku, daripada menyiksaku seperti ini. cepat keluarlah dasar pengecut, dimana kau? jangan bersembunyi seperti pecundang."
"........"
Tama, mulai merasa jengkel, dan berteriak kesal, dalam keheningan malam. teriakannya sungguh sia-sia dan membuang energi, tak ada satupun yang mendengar dan merespon kekesalannya. hanya gema suaranya sendiri, yang terus berulang-ulang ditelinganya.
'heh.. ini benar-benar menyebalkan."
tak ingin menyerah.. Tamapun melanjutkan kembali langkah kakinya, memaksakan diri untuk berjalan, meski ia mulai merasa lelah dan bosan. namun, di pertengahan jalan penglihatannya Kembali teralihkan. di kejauhan.. mata memandang, tampak cahaya menyala terang, datang dari jendela rumah kecil.
'ada rumah.. mungkinkah. ada penghuninya? aku harus segera kesana, siapa tau aku bisa menemukan jawaban.'
iapun berlari mengejar cahaya tersebut.. tapi semakin jauh ia berlari.. semakin redup pula cahaya itu, dan makin lama menghilang di telan kegelapan malam.
'he..he..he... jangan bilang, ini juga delusi..!'
Tama hampir menyerah, rasa lelah dan putus asa, mulai merasuk merambat pikirannya. iapun terjatuh lunglai, berlutut di atas pasir. saat ia sudah lelah dan hampir menyerah dengan semua ini, tiba-tiba sekelebat wajah mungil Sang Putri, muncul bermain di dalam pikirannya.
'kakek.. kau dimana? kenapa aku tidak melihatmu! apa kakek tidak ingin melihatku lagi..! apakah kakek akan pergi meninggalkanku???'
Tama terbelalak kaget, seolah tak percaya, dengan apa di dengarnya. ia menggelengkan kepalanya.. dan berbicara sendiri.
"tidak nak, aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan pernah."
'kalau begitu.. cepatlah kembali, aku merindukanmu kek! kau harus kembali ya.'
"baik Nak Dewi, secepatnya Aku akan kembali kesisimu. tunggulah Aku Nak Dewi, setelah Aku menyelesaikan semua ini.. kita akan segera bertemu Nak."
'hem..hem.. aku akan menunggumu kek.' dalam pikirannya, tampak Ravella, sedang tersenyum manja kepadanya.
'benar.. Aku harus fokus, jangan-jangan apa yang Aku lihat dan Aku rasakan tadi adalah sihir ilusi.'
Tama, mulai merasa ada yang janggal. sejak tadi ia selalu merasakan delusi, dan kelelahan yang sangat, membuatnya ingin menyerah, dan putus asa.
akan tetapi, bayangan Putri Ravella yang tiba-tiba muncul di dalam pikirannya. seperti nyata.. dan seolah mengingatkannya untuk tidak menyerah, dan menyemangatinya.
'bagaimana bisa.. Dewi seperti sedang berbicara kepadaku! apakah tadi itu.. benar-benar Dewi? hmm.. apapun itu, aku berterima kasih padamu Nak. dengan ini.. aku sadar, kalau ternyata! aku sudah terjebak dalam sihir ilusi seseorang.'
Tama melirik kesekitar dan menarik nafas dalam, dan mulai fokus merapal mantra singkat.
"pembuka kekangan ilusi, Orrin"
dalam sekejap, padang pasir berubah menjadi hutan rimba, pohon besar berjejer tinggi. membuat hutan tersebut semakin ngeri dan suram, lalu dibalik pohon besar.. tampak sekelebat bayangan hitam besar muncul, dengan posisi melipat kedua tangan, memandang angkuh sambil menertawakan Tama.
"hahahaha.. hahahaha.. akhirnya kau menyadarinya juga, sayang sekali.. padahal sedikit lagi, aku hampir berhasil membuatmu gagal dalam ujian ini."
__ADS_1
"cih, dalam mimpimu! cepat katakan, siapa kau?"
sampai jumpa di episode selanjutnya.. dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian. dengan vote, like, n komen. makasih sudah mampir. ☺️