AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KITA BERANGKAT SEKARANG


__ADS_3

'Oh, begitukah! Aku suka itu.. Lantas, kau ingin aku melakukan apa pada anak itu?' ujar Bagzul, yang dalam sekejap, bersikap jadi kurang ajar lagi.


'Aku hanya ingin kau memberinya sedikit pelajaran, agar penyusup itu kapok untuk datang kemari.' ujarnya pada Bagzul.


Merasakan tekanan energi yang sangat besar, seluruh tubuh kesatria bayangan itu gemetar karena merasa tekanan tersebut.


'Apa yang terjadi? tekanan energi yang sangat besar sekali.. Siapa yang melakukannya? Mungkinkah Pria itu!!' pikir kesatria bayangan, melihat kearah Raffael. 'Aku tidak boleh sampai ketahuan, sebaiknya untuk menghindari bahaya, aku kembali saja dulu keduniaku. Sebelum misi berhasil, pantang untuk kembali melapor.' pikirnya bertekat.


Saat ia ingin pergi melarikan diri.. Tiba-tiba saja muncul sosok bayangan hitam dengan mata merah mengerikan, mencegatnya. Ia menyeringai, dan mengeluarkan aura gelap yang sangat pekat.


"Hihihihi... Mau kemana kau bocak tengik! Beraninya kau menyusup ketempat ini.. Apa kau sudah bosan hidup ha..?" ujar Bagzul, menakuti Pria tersebut.


'Tidak mungkin, ba-bagaimana bisa dia tahu keberadaanku!!' pikirnya kaget dan merasa ngeri. 'Tapi melihat sosoknya yang penuh dengan kegelapan.. Sepertinya ia Spirit yang berasal dari dunia bawah.' gumam Pria tersebut dalam hati.


"Kenapa kau diam saja bocah.. Apa kau tidak punya mulut untuk bicara?"


"Bukan urusanmu.. wussshhh" kesatria bayangan melemparkan serbuk tidur kearah Bagzul, dan ternyata Bagzul bereaksi pada serbuk tersebut.


Dalam sekejap Bagzul tertidur pulas.


"Si-sial, serbuk i-ni..!!" dalam waktu singkat Bagzul melemah, dan tertidur.


Tubuhnya melayang di udara.. Dan kesatria bayangan milik Argus, segera berlari menyelamatkan diri. Ia langsung membuka tirai dimensi kedunianya.. Dan ia masuk lalu menghilang bersama tirai tersebut.


Raffael berjalan keudara, menghampiri sosok Bagzul yang sedang tertidur. Ia melihat dengan rasa kecewa.. Pada Spirit yang baru saja diberi misi pertama, yang sangat mudah menurutnya.


'Haah.. Bagaimana bisa, dia langsung tertidur tanpa beban, dan membiarkan penyusup itu kabur begitu saja..? Sepertinya.. Penyusup tersebut bukan kesatria bayangan biasa!


Kalau begitu, aku cuma bisa mengandalkan Razak sekarang, aku harap dia berhasil melakukannya. Aku tidak boleh meremehkan Pria itu! jika kesatrianya saja mampu membuat Spiritku, yang pemarah dan kurang ajar, sampai seperti ini..!!


Sudah di pastikan, jika dia mengetahui kelemahan Bagzul. Haah.. Aku harus cari tahu apa yang terjadi padanya.. (Bangunlah Bagzul, fuuuuh.)"


Tak lama setelah mengucapkan kalimat tersebut, Raffael membentangkan telapak tangannya.. Lalu meniupkan sesuatu di atas telapak tangannya mengarah kewajah Bagzul yang sedang tertidur.


Tak lama setelah ia melakukan itu.. Bagzul langsung terbangun dari tidurnya, dengan kepala yang masih terasa pening.


"Ah, Kepalaku sakit sekali.." ujarnya memegangi kepalanya.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau sampai jadi lemah seperti ini..! Bukannya misi ini terlalu mudah untukmu, Bagzul??" ujar Raffael meremehkannya.


"Cih.. Sial, bocah tadi menggunakan serbuk tidur, yang bisa melemahkan syaraf otak, Spirit sepertiku."


"Apa maksudmu?"


"Bocah tadi sepertinya tahu kelemahanku! Sepertinya.. dia bukan kesatria sembarangan." ujar Bagzul menjelaskan.


"Lantas, bagaimana bisa dia tahu kelemahanmu?? bisa kau jelaskan lebih rinci lagi..!" ujar Raffael penasaran.


......................


...****************...


......................

__ADS_1


Dan malam hari pun telah tiba.. Waktu sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga malam hari. Duke masih berada di ruang kerjanya.. Ia akan kembali ke kamar agak larut.


Jadi ia menyuruh Putrinya tidur lebih dulu.. Agar tidak menunggunya. Ravella sudah berbaring di ranjang.. Asisten Kepala Pelayan menarik selimut untuk Tuan Putri kecil.


"Selamat Malam Putri.. Semoga anda bermimpi indah. Saya pergi dulu."


"Hem, selamat malam Ross." ujar Ravella menatap punggungnya.


Ross pun berlalu pergi, dan hanya terdengar derap langkah kaki, yang bergema meninggalkan kamar, lalu terdengar suara pintu tertutup. "Ceklik."


'Haah.. Aku masih sangat asing dengan Pelayan yang ada di sini. Karena mereka berasal dari dunia Elf. Namun, meski begitu.. Mereka semua sangat baik, dan bekerja dengan rajin.


Saat makan malam, Ayah sudah bilang akan kembali kekamar agak larut, Karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sebenarnya.. aku sangat penasaran dengan Fenomena Bulan Biru yang dikatakan Kakek tadi siang.


Tapi aku harus menahan rasa penasaranku, Karena ini menyangkut keselamatanku juga. Haah.. Sebaiknya aku tidur sekarang, hari sudah semakin malam. Tidak baik untuk anak seusiaku, begadang sampai larut malam.'


Jura mengawasi dalam diam, Sang Master kecil kesayangannya itu.. Tanpa sepengetahuan dari Ravella.


Ravella pun memiringkan tubuhnya, lalu ia mulai memejamkan mata.. Saat ia sudah setengah tertidur.. Tiba-tiba terdengar suara aneh menyeru namanya.


"RAVELLA... RAVELLA... BANGUNLAH... AKU TELAH LAMA MENANTI KEHADIRANMU..." seru suara itu berbisik.. Yang hanya bisa di dengar oleh Ravella sendiri.


Ravella mengabaikan seruan yang ia dengar, sayup-sayup berbisik di telinganya. Karena matanya yang terlalu mengantuk, Ia enggan menanggapinya.


Tak lama.. Seruan suara itu terdengar lagi di telinganya. namun kini terdengar lebih jelas, Sehingga Ravella tak kuasa menolak seruannya itu.


"AKU TAHU KAU MENDENGARKU PUTRI, AKU TELAH MENANTIKAN PERTEMUAN KITA UNTUK WAKTU YANG SANGAT LAMA.. BAHKAN SEBELUM KAU LAHIR.


Ravella tidak tahan lagi dengan gangguan suara tersebut, Ravella membuka matanya, lalu ia bangun dari ranjangnya.. dan membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya itu.


Ravella segera turun dari ranjang yang agak tinggi, ia melompat dan melangkah perlahan kedekat jendela kaca yang sedang terkunci. Jendela itu tertutup oleh tirai putih, ia menyingkap tirai dengan kedua tangan kecilnya..


Tampak Cahaya Bulan Biru masuk tanpa izin, menembusi Ruangan Kamarnya. Sedangkan Jura yang sudah memperhatikan gelagat aneh Master kecilnya sejak tadi, bergumam dalam hati.


'Apa yang sedang ia lakukan?'


Ravella berusaha mendorong jendela kaca yang sebesar pintu kamarnya.. Melihat itu, Jura langsung memunculkan dirinya, dan menegur perbuatan Masternya Itu!


"Apa yang sedang kau lakukan Nak??" ujarnya kepada Putri kecil, yang tampak terkejut, saat mendengar suaranya yang ada di belakang Ravella.


"Astaga.. Kakek, Sejak kapan kau ada di situ? Kau mengejutkanku." ujar Ravella kaget, sambil mengusap dadanya.


"Aku selalu ada di sini.. Karena sudah menjadi tugasku untuk menjagamu Nak. Tapi.. Apa yang sedang kau lakukan dengan membuka jendela!"


"Se-sebenarnya.. Aku mendengar suara seseorang sedang memanggilku Kek! Awalnya aku mengabaikannya.. Karena kupikir, itu hanya ilusi. Tapi saat aku sudah setengah tertidur.. Suara itu malah semakin jelas terdengar di telingaku!


Bahkan ia menyuruhku datang untuk menemuinya.. Ia akan menuntun jalan untukku. Karena itu untuk memastikan apakah aku berhalusinasi.. Makanya aku mencari arah suara tersebut. Mungkin saja itu perbuatan orang iseng..!!" ujar Ravella menceritakan dengan jujur.


"Nak, sudah aku bilang kau harus berhati-hati, jangan sembarangan mempercayai apa yang kau dengar. Bisa ja..."


Belum Jura menyelesaikan Kalimatnya.. Tiba-tiba terdengar lagi suara tersebut memanggil nama Ravella. Ravella lalu kembali berjalan keluar jendela, Dan mengabaikan panggilan Jura.


"Nak Dewi... Apa kau mendengarku!! Nak Dewi..." panggilnya yang di abaikan oleh Ravella.

__ADS_1


"PUTRI RAVELLA... CEPATLAH , AKU AKAN MENUNJUKAN JALAN UNTUKMU. APA KAU TIDAK PENASARAN DAN INGIN MELIHAT KEINDAHAN HUTAN DIMALAM BULAN BIRU!" serunya dengan rayuan yang memikat.


Setelah Ravella sampai di balkon, ia memegang pagar balkon dan mencari arah dari suara tersebut.. Lalu ia berujar kepada Jura.


"Kakek.. Sepertinya aku harus pergi kesana.. Jika Tidak, suara ini akan terus menggangguku! Jika Kakek khawatir, ikutlah denganku. dengan begitu Kakek tetap bisa menjagaku." ujarnya dengan keputusan yang sudah bulat.


Melihat tatapan matanya yang tidak bisa di hentikan! Mau tidak mau Jura pun terpaksa mengalah, dan ikut, demi menjaga keselamatan Dewi kecilnya itu.


"Haah.. Meski aku bilang tidak pun, kau pasti akan tetap pergi bukan! Baiklah, kalau begitu aku akan menemanimu."


Ravella tersenyum, dan kembali bergumam kepada Jura.


"Terima kasih Kek! Kalau begitu aku siap-siap dulu." ujarnya langsung beranjak berbalik dari pagar balkon, menuju masuk kekamar dan berganti pakaian.


Jura menunggu di dekat balkon, sambil menunggu Masternya.. Ia melihat situasi di sekitar kastil. Dan memastikan jika tidak ada yang melihat mereka.


Setelah siap berganti pakaian, Ravella keluar dari kamar mandi, langsung berlari kearah Jura.


"Kakek.. Aku sudah siap, ayo kita berangkat." ujarnya bersemangat.


Melihat Masternya yang bersemangat, Jura tersenyum. Akan tetapi didalam hati, ia sangat khawatir dengan kenekatan Masternya itu.


Dalam waktu yang sekejap Jura terjun dari Pagar Balkon, dan bertransformasi kesosok Naga Hitam, dan mengibaskan sayapnya yang terbentang, sambil menunggu sosok kecil itu, melompat keatas punggungnya.


"Cepat Nak, sebelum ada yang menyadari kepergian kita." ujarnya pada sosok kecil, yang terpana melihat sosok naganya.


"Oke Kek." ujarnya.


Dan tubuhnya pun melayang tinggi, dan mendarat dengan sempurna di atas punggung Jura.


"Bwussshhh... Bwussshhh... Apa Kau sudah siap nak?" tanyanya untuk memastikan, jika Ravella sudah aman di atas punggungnya.


"Sudah Kek."


"Bagus, pegangan yang erat Nak. Kita berangkat sekarang." ujar Jura langsung melesat laju, dengan kecepatan penuh.


"Yuhuu....." teriak Ravella senang, dari ketinggian udara.


Keduanya pun terbang meninggalkan Kastil.. Namun tanpa mereka sadari, ada yang sedang mengikuti mereka.


***


Di ruangan lain.. Terdengar sayup-sayup suara teriakan. Membuat fokus Lannox teralihkan. dan berujar kepada Zion, yang selalu setia menemaninya.


"Apa kau mendengar suara barusan Zion?" tanyanya pada Zion, yang sedang berbaring di samping meja kerjanya.


Zion mengangkat kepalanya, dan mencoba mendengarkan apa yang Lannox ucapkan.


"Suara.. Aku bahkan tidak mendengarkan apapun. Cih, mungkin cuma perasaanmu saja!" ujarnya kembali berbaring.


"Benarkah.. Padahal aku mendengarnya dengan jelas, meski agak samar-samar karena terbawa angin. Yah, mungkin aku memang salah dengar." ujarnya percaya dengan perkataan Zion.


Lannox pun kembali melanjutkan pekerjanya..dan mengabaikan suara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2