AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KEHADIRAN DEWI YENA


__ADS_3

"Kakek.. Jika boleh tahu, sekarang kita berdua ada di mana?" tanya Ravella yang sangat takjub dengan pemandangan tempat tersebut.


Garda tersenyum sambil menggendong Ravella, ia sangat suka menggendong Ravella. Baginya, Sang Putri sudah seperti Putrinya sendiri. makanya setiap kali melihat sosok Ravella.. Ia akan langsung meraih tubuh kecilnya, dan menggendongnya tanpa mengatakan apapun seolah ia sudah terbiasa dengan hal tersebut.


"Kita sekarang ada di Taman Langit, yaitu Kota RUGA. ini adalah kota kedua yang berada di Alam Langit setelah Ibu Kota Pusat."


"Wow.. Jadi Kakek tinggal Di Alam Langit!! Itu sungguh menakjubkan sekali, Pantas saja Kakek tidak pernah menyebutkan darimana asal Kakek, pada Kakek lainnya.


Jadi itu karena ini.. Aku tidak heran, jika Kakek kelihatan tidak bisa di percaya dan mencurigakan!! Itu semua di sebabkan, Kakek menyimpan banyak Rahasia yang tidak boleh Kakek ceritakan."


"Hem.. Apakah aku terlihat seperti itu bagimu, Nak?" gumam Garda tersenyum.


"Heum.." Ravella mengangguk. "Lantas, kenapa Kakek mau membawaku ketempat ini? Bukankah tempat ini sangat Rahasia untuk diberitahukan kepadaku..!!" ujar Ravella jujur.


"Memang benar, tapi Itu pengecualian bagimu, Nak Dewi." ujar Garda tersenyum simpul.


Garda berjalan menyusuri jalan putih, yang sesekali tampak tumpukan awan di sekitar Taman tersebut.


Taman Langit Sangat Luas, dimana tumpukan bangunan megah, bernuansa Putih dan tinggi. namun tidak semua bangunan terdapat warna Putih.


Ada juga bangunan yang bewarna-warni dan di penuhi dengan banyak tanaman hijau dan bunga-bunga langka, yang tidak ada di bumi.


Sambil berjalan, dalam pikiran Ravella.. ia sangat penasaran. kenapa hanya dia yang jadi pengecualian! 'kenapa Kakek Garda, harus merahasiakannya pada Kakek Yang lain..?' Karena tidak ingin merasa pusing memikirkan masalah tersebut, Ia pun langsung berujar melontarkan kebingungannnya tersebut.


"Kenapa???"


"Itu Karena aku menginginkannya." ujar Garda beralasan, dengan begitu Ravella tidak akan penasaran lagi dan bertanya untuk menyelidikinya.


Namun, yang terjadi malah sebaliknya.. Putri kecil itu tidak menyerah begitu saja. Ia pun mencoba memberi pertanyaan lain, yang membuat Garda kelabakan.


"Kakek, Lantas siapa orang yang telah memerintahkanmu untuk merahasiakan tempat ini!? dan, apa statusmu sebenarnya???" tanya Ravella dengan polosnya.


"Gulp,," Garda terkejut dengan pertanyaan Frontal dari Ravella.


Pupil mata Garda sedikit membesar, ketika mendengarkan pertanyaan yang tidak terduga dari Dewi kecilnya itu.


Dan pertanyaan tersebut, adalah yang paling ingin di hindarinya..


***


Sementara itu, ditempat lain di Pusat Ibu Kota, Di dalam Istana.. Dewa Zando yang tengah duduk di atas singgasana miliknya, sambil menunggu kedatangan Tamu yang tidak di undang.


Ia menyeringai dalam diam.. Ia bisa mendengarkan semua percakapan Garda, dan Permaisuri kecilnya itu. Dari Singgasana miliknya.

__ADS_1


Dan tak lama.. Tamu yang membuat Damu tidak nyaman pun muncul, ia baru saja tiba di depan Aula Istana Dewa Zando.


Dan beberapa saat kemudian.. Terdengar suara teriakan lantang dari penjaga pintu Gerbang Istana.


"Yang Mulia Dewi Yena, datang menghadap."


Damu yang mengikuti dari belakang Rombongan Dewi Yena.. Terus mengamati Dewi yang paling di bencinya itu!


'Apa yang dia lakukan di sini..? Apa ia masih belum menyerah juga, dengan keinginannya terhadap Paduka?'


"Hormat kepada Kakak Zando..." gumamnya sambil tersenyum, melirik Dewa Zando.


'Cih, lihatlah.. Betapa kurang ajarnya dia, pada Paduka! Ia bahkan hanya menyapa beliau seperti ia sudah akrab saja dengan Paduka. Dasar Dewi tidak sopan dan sok akrab.' gumam Damu dalam hati.


Sementara itu.. Dewa Zando duduk dengan melipat kedua kakinya, sambil berpangku tangan. Ia memperhatikan tingkah Dewi Yena, yang membuatnya muak dengan tingkah kurang ajar Dewi tersebut.


Namun, ia mengabaikannya.. Karena ia tidak menganggap Dewi Yena sebagai seorang wanita, terkecuali seperti anak-anak yang menginginkan kasih sayangnya.


"Apa yang membuatmu datang tanpa memberitahuku terlebih dahulu?" ujar Sang Dewa datar.


"Hem.. Hem.. Kakak, Kenapa kau masih saja bersikap dingin padaku?" Ujarnya tersenyum manja.


"Katakan saja apa maumu? Karena aku tidak punya banyak waktu. Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan.. Aku akan pergi." ujar Dewa Zando datar.


"Kakak.. Tunggu dulu! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu." ujar Dewi tersebut beralasan untuk menghetikan kepergian Dewa Zando.


Dewa Zando pun, membalikkan badannya dengan malas, karena ia sudah tahu apa yang ada dalam pikiran Dewi Yena. Dan Dewa langsung berujar..


"Cepat Katakan." Gumamnya dingin.


Dewi Yena tersenyum malu-malu.. Ia melangkah pelan menaiki tangga demi tangga, dan mendekati Dewa yang mempunyai sosok paling sempurna itu. Seperti biasa, dia mencoba merangkul lengan Dewa Zando, Dan ingin bersandar di lengannya.


Dewi Yena, yang hanya setinggi paras bahu Dewa Zando.. Seketika ia ingin menyandarkan kepalanya di bahu Sang Paduka.. Dewa yang merasakan tidak nyaman, dengan sikapnya tersebut.


Langsung menarik lengannya dengan kasar, dan membuat Dewi Yena merasa kesal dan hampir terjatuh atas perlakuan Sang Dewa.


Damu yang menjadi saksi bisu di antara keduanya, sedang menahan tawanya dalam diam. Namun di dalam hati, sebenarnya ia sangat senang menyaksikan pemandangan yang memalukan itu.


Ia sangat puas melihat reaksi Dewi Yena, yang tampak sangat kesal dan malu.


"Cepat langsung saja keintinya." ujar Dewa berjalan beberapa langkah dan membelakangi Dewi Yena.


Dewi Yena merasa kesal, karena diperlakukan tidak ramah dan telah di tolak oleh Sang Dewa secara terang-terangan. Tapi Dewi Yena yang keras kepala, masih juga belum menyerah. dan dengan santainya ia berpura-pura tenang, seolah Tidak terjadi apapun.

__ADS_1


"Kakak.. Apa kau tidak merasa kesepian? Setelah di tinggal pergi oleh Kakak Dewi ratusan ribu tahun lamanya. Dan apa kau tidak ingin mencari pengganti Kakak Dewi??" ujarnya merayu Sang Dewa. "Apalagi posisi Kakak Dewi, sudah terlalu lama kosong. Kau harus segera mencari pengganti Kakak." ujarnya, membahas masalah tersebut.


Dewa yang menanggapi dingin.. Hanya berseringai ketus, dan membelakangi Dewi Yena, tanpa menoleh sedikitpun padanya.


"Heeh.. Sampai kapanpun, tidak akan ada yang bisa mengantikan posisi Permaisuriku di hatiku. Jadi, lupakan mimpimu itu, Yena. Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, sebaiknya kau kembali saja.


Aku sangat sibuk, selamat tinggal. Damu, ayo kita pergi." ujar Dewa memberi perintah pada Damu. Damu yang sangat senang mengangguk setuju, dan langsung berlari kecil mengikuti Sang Paduka.


"Baik Paduka." gumamnya sambil melihat sekilas kearah Dewi Yena, dengan tatapan jijik.


Dewi Yena yang telah di usir secara halus.. Melihat punggung Dewa Zando yang semakin menjauh meninggalkan dirinya di dalam Istana seorang diri. Ia sedang menahan kekesalan, dan menggigit bibirnya lalu bergumam dalam hati.


'Aku tidak akan menyerah Kakak, kau harus menjadi milikku. Jika aku tidak bisa memilikimu.. Maka, yang lainpun tidak ada yang boleh memilikimu selain aku.' Gumamnya penuh dendam.


Dewa Zando yang mendengar semua Pikiran busuk Dewi Yena, menyeringai seolah ia sedang menertawakan kebodohan sang Dewi.


...----------------...


Sementara itu di dalam Kastil, Duke dan Zion, yang masih merasa gelisah atas kehilangan Putri Kecil mereka.. Terus mengerahkan seisi Istana, hanya untuk mencari keberadaan Putrinya tersebut.


Duke yang biasanya bersikap tenang, kini di buat panik. Bahkan Emilio tidak berani mendekatinya kecuali Zion.


'Aku belum pernah sekalipun melihat Yang Mulia Duke, bersikap seperti ini sebelumnya..! Sudah di pastikan, betapa beliau sangat mencintai Yang Mulia Kecil.


Setiap kali ada yang mendekati Kantor ruangan kerjanya.. Ia akan mengusirnya dengan kasar, atau melemparkan barang apapun di sekitarnya.


Dan Yang Mulia juga selalu berteriak dengan Marah, dan mengatakan jangan pernah kembali sebelum menemukan keberadaan Yang Mulia Kecil.


Sebenarnya.. Kemana perginya Yang Mulia Kecil.. Hingga membuat Beliau sangat khawatir dan emosional!!' gumam Emilio dalam hati.


'Bahkan tidak hanya Yang Mulia saja yang bersikap seperti itu! Begitupun dengan Yang Mulia Zion, Spirit Yang Mulia sendiri bersikap protektif, dan terus menggeram seperti ingin membaham siapapun, jika ada yang berani mencoba mendekati Pintu Kantor Yang Mulia.


Seolah perasaan mereka sudah terbagi menjadi satu.. Dan seperti Yang Mulia Duke. Spirit Yang Mulia, bertingkah sama. Ia juga tampak sangat khawatir dengan hilangnya Yang Mulia Kecil.


Apa yang sudah terjadi pada keduanya..? Mereka juga tampak sangat kesal. Tapi di saat seperti ini.. Di mana ketujuh Pemuda tampan, yang selama ini selalu Mengikuti kemanapun Putri pergi.


Mereka juga menghilang begitu saja seolah di telan bumi, seiring menghilangnya Putri..!!?' pikir Emilio.


'Aku harus segera menemukan Yang Mulia Kecil, apalagi Beliau hilang di negara Elf. Akan sangat berbahaya, jika ia sampai di temukan dengan orang-orang yang berniat jahat padanya.


Emilio, dan para pelayan Kastil, di buat sangat panik. Seisi Kastil pada sibuk mengerahkan seluruh kemampuan mereka.


Dan menghubungi seluruh Koneksi Guild yang mereka punya, di seluruh Kerajaan MAGANIKA. Hanya untuk menemukan keberadaan Yang Mulia Kecil mereka.

__ADS_1


__ADS_2