AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
APA DIA TIDAK GANAS?


__ADS_3

"Paman, aku sudah lama tidak menjenguk Dewi.. Izinkan aku bertemu dengannya!! Aku janji tidak akan macam-macam dan hanya akan diam saja."


Mendengar permintaannya.. Yang tampak tulus, Zion tidak sampai hati untuk menolaknya.


"kemarilah.. Pegang tangangku yang erat, karena jika kau melepaskannya.. Kau akan tersesat ditempat tergelap."


Mendengar perintah Zion, Gapi yang tampak muram kini, menjadi ceria karena senang. Ia bangun berlari pelan, meraih lengan Zion.


"Baik, aku akan memegangmu dengan erat Paman."


Zion tersenyum, mendengar Gapi dengan percaya diri mengatakannya. Setelah itu.. keduanya meninggalkan ruangan tersebut, dan muncul di kamar Lannox. Saat melihat Zion, muncul dengan membawa Gapi.. tampak raut tidak senang singgah di wajah tampannya. Mata semerah batu ruby, menatap tajam.. Pada tubuh kecil yang sedang bersembunyi dibalik lengan Zion, yang besar.


'kenapa kau membawa bocah itu kemari, Zion?' Tanya Lannox, kesal.


'Biarkan saja, lagian dia adalah kesayangan Dewi.. Jadi jangan mengganggunya.. Jika kau berani menyentuhnya! saat Putrimu bangun.. Aku akan melaporkan semua kejahatanmu. Biar Putrimu tahu, bagaimana ayahnya memperlakukan peliharaan kesayangannya.


Lannox menyeringai mendengar ancaman Zion, yang membuatnya semakin tertantang ingin melakukannya.


'Hehe.. Apa kau sedang mengancamku, Pak Tua? Jangan menantangku Zion! Ancamanmu hanya akan membuatku semakin ingin menghabisinya. Hehe.!' Sudut bibir Lannox terangkat sebelah, Lannox menatap tajam pada Gapi, yang tampak sedang ketakutan.


Zion mengunci pikirannya.. 'Cih sialan, Sibocah gila ini.. benar-benar tidak bisa di ancam sama sekali. Semakin aku menekannya, semakin kuat rasa ingin membunuhnya terhadap bayi kecil ini. Apa yang harus kulakukan??' Zion berpikir keras, lantas terbesit ide di kepalanya, dan ia kembali bergumam.


'Heh.. Apa kau tidak takut, Putrimu kabur lagi dari mansion?' Zion, menyipitkan kedua matanya, untuk melihat reaksi Masternya itu! 'apa yang akan kau lakukan nak?' pikirnya.


Mendengar ucapan Zion, Lannox kembali mengingat momen terakhir.. Saat putrinya kabur. Dan itu menyiksanya..


'Cih, Dasar Pak Tua licik.. Kau mengancamku, menggunakan cara seperti ini..!!'


'hihi.. Yah! Wajar saja.. Untuk menghadapi bocah gila sepertimu. Trik seperti ini sangat manjur bukan..!' Ujarnya.


Lannox sangat kesal, tapi membayangkan jika Putrinya kabur lagi dari rumah.. Meninggalkannya tanpa kabar, Ia tidak sanggup. Dan, tidak ingin masalah itu, terulang untuk kedua kalinya..!


'he.. he..' Zion menyeringai, melihat keraguan singgah diwajah Masternya. Hingga akhirnya, Lannox menyerah tanpa perlawanan.


Namun, Ia masih kesal, karena Spiritnya sendiri berani mengancamnya. Ia melihat kearah Gapi, yang tidak berani menatap wajahnya sedikit pun. 'Bocah kurang ajar itu.. Setelah mengambil hati Putriku, Bahkan sekarang.. kau berhasil membuat Spirit milikku, berpihak padamu. Hmm.. haruskah aku mengirimnya kembali..!!' pikirnya menimbang.


Mulutnya gatal ingin berbicara, akhirnya ia berbicara memberi peringatan yang membuat semua Spirit menoleh Kearah mereka.


"Baiklah, kali ini akan aku lepaskan. Tapi, selama ada aku disini.. Jangan Coba-Coba kau mendekati Putriku. Jika kau berani mendekatinya sejengkal saja. Aku tidak akan segan, memberimu hukuman yang lebih mengerikan."


Mendengar ucapan Lannox, yang mengancam. Seisi Ruangan menjadi melirik kearahnya, mencari siapa sosok yang telah di ancam tersebut. Para Spirit, dan Rabarus, yang mendengarnya.. Langsung menoleh kearah Zion, dan Lannox.


Yang Tampak saling berseteru.. Meributkan sesuatu. Lalu.. Tampak Bayi Naga Merah, sedang meringkuk ketakutan.. Dibalik kedua lengan besar Zion. Saat Rabarus melihat bayi naga tersebut.. Matanya jadi berbinar cerah karena merasa sangat lucu.


"Astaga.. Bayi naga siapa ini..?" Ujarnya dengan semangat.


Rabarus, bangkit berdiri.. Di saksikan para Spirit lain, dan Lannox. Rabarus langsung.. Berjalan menghampiri Gapi, dan mengangkat dengan kedua tangannya yang besar dan berotot. Gapi tampak bingung, melihat Pria Paruh baya, sedang memegang tubuhnya!!


"Halo bayi naga.. Kau imut sekali, maukah kau menjadi anakku. Karena Putraku sudah dewasa.. Jadi dia tidak mahu lagi di gendong olehku."


"Pruuuffftttt hahaha.. Sepertinya, kau mendapat saingan berat, kawan." timpal Zaku tertawa lepas.. diikuti oleh yang lainnya.


Tama melotot pada Zaku, si biang kerok kerusuhan. Zaku, berusaha menahan tawanya. 'Hei Singa sialan, bukan itu yang sedang aku khawatirkan sekarang..! Apa kau lupa? apa yang telah kita bicarakan di Zona Mana!!' Gumam Tama, berbicara melalui pikiran, dan di dengar oleh kelima Spirit lainnya.

__ADS_1


'Maaf.. Maaf.. Aku kelepasan.'


'Celaka.. Bagaimana ini, jika bocah itu keceplosan menyebut nama Dewi..! Tama melirik pada kelima temannya.. Jura yang melihat kegelisahan Tama, langsung mengerti, dengan cepat ia mengambil Gapi, dari tangan Rabarus.'


"Apa yang kau lakukan!!" Tanya Rabarus, merasa mainannya di ambil.


"Hmm.. Maaf, tapi dia muridku. Jadi kau tidak boleh mengganggunya. apa kau tidak lihat!! bocah ini sedang ketakutan." Ujar Jura beralasan.


Tama dan keampat Spirit lain, baru merasa lega. Setelah Gapi, berada dalam pelukan Jura. Namun, tidak dengan Rabarus.


"Cih, siapa namamu Nak?" Tanya Rabarus pada bayi merah kecil. Yang ada dalam pelukan Jura.


"Nama saya GAPI, Tuan."


"nama yang lucu.. siapa yang memberimu Nama itu??"


'akhirnya.. Dia memulainya.' pikir Tama.


Reaksi Para Spirit saat mendengar kalimat terakhir Rabarus, mulai khawatir. Dan melihat kearah bayi naga merah tersebut. Takut kalau bayi naga tersebut, terceplos.


"Tuanku, yang memberikannya.." Ujarnya polos.


"Benarkah, Siapa Tuanmu?" Tanya Rabarus lagi.


"Sudah cukup Pak Tua, untuk sekarang.. Aku harus membawanya." Ujar Gira segera menyela.


"Cih, kau pelit sekali.. Anak ini saja tidak keberatan dengan pertanyaanku!" Gumam Rabarus, sedikit Cemberut.


Tama, dan kawan-kawan merasa sangat lega setelah kepergian Jura.


'Hah.. Dia memang selalu bisa di andalkan.' Ujar Tama memuji Jura.


***


Di ibu kota Kekaisaran.. Seperti keinginan Sang Duke. Rumor telah menyebar, kesuluruh ibu kota Kekaisaran. Hingga kabar tersebut, sampai ketelinga Kaisar. Mendengar kabar miring tersebut, yang telah di laporkan oleh Lagrin, membuat Kaisar, menjadi geram dengan Duke."


"Kalau begitu.. Saya undur diri dulu Baginda."


Setelah kepargian Lagrin, Kaisar mulai merenung.


"Cih, si bocah angkuh itu..! Karena aku tidak kunjung menunjukkan diri.. Ia sampai melakukan trik kotor seperti ini.. hanya demi memancingku keluar. Heh.. Tidak semudah itu bocah nakal." ia berpikir mencerna kembali.. Apa yang terjadi.


'hmm.. Tapi ini aneh, sepertinya.. rumor tersebut , tidak hanya mengarah kepadaku saja!! Apa mungkin, ada pihak lain, yang ikut terlibat dalam masalah ini??'


***


Jura membawa Gapi, kezona mana, sesampainya disana.. Mereka duduk berdua.


"Dengar nak, sebelum Dewi bangun, kau tidak di izinkan menyebut nama Dewi."


"Kenapa begitu Paman..?"


"Kau tidak perlu tahu, Karena itu Rahasia. Dan aku juga ingin memperkenalkanmu, kepada dua anak manusia. Untuk sementara waktu, kau akan tinggal dengan mereka berdua."

__ADS_1


"Manusia..! memangnya mereka siapa paman??" Tanyanya Polos


"Hem.. Mereka anak angkat Dewi. Dan saat bertemu dengan mereka, bersikaplah layaknya hewan pada umumnya.. Dan selama kau tinggal dengan anak-anak itu! kau tidak di izinkan berbicara bahasa manusia. kecuali bahasa hewan, apa kau sudah mengerti nak..!"


"Heem.. aku mengerti Paman. Pasti Paman ingin merahasiakan, identitas Dewi bukan?" Ujarnya tersenyum.


"Hem.. Bocah pintar. Ayo kita ketempat mereka..!" Ujar Jura, sambil mengelus kepala Gapi.


"Oke..!"


"Bahasa apa itu?"


"Oh, aku pernah mendengarnya.. Ketika Dewi Berbicara dengan Kaisar."


"Ternyata kau masih mengingatnya!"


"tentu saja."


Setelah itu.. keduanya pun tiba di rumah kecil, tempat tinggal dua kakak beradik itu berada.


"Tok.. Tok.. Tok.." pintu pun terbuka.


Tampak Rog, dengan senyum Ramah, menyambut Jura dan Bayi Naga tersebut.


"Ah anda datang.. Paman!! Dimana yang lainnya?" Tanya Rog, yang tampak santai.


"mereka tidak dapat hadir sekarang, dimana adikmu?"


"karena kelelahan, saat berburu.. Jadi dia tidur duluan."


"Hmm.. Nak, ada yang ingin aku bicarakan."


"Apa itu Paman?"


"Untuk sementara waktu.. Aku akan. Menitipkan anak ini kepadamu. Jadi, tolong rawat dia dengan baik!" Ujar Zaku menunjuk Gapi.


Melihat bayi Naga Merah, yang sedang duduk melihat mereka berdua.. Rog, langsung bertanya.


"Apa dia tidak ganas?" tanya Rog Khawatir.


"Tidak, dia sangat jinak, Jika kau baik padanya.." Rog menatap Gapi. Tampak masih ada keraguan diwajahnya.. Melihat Reaksi itu, Gapi berinisiatif, mendekatkan diri kepada Rog. Ia menyenggol telapak tangan Rog, seolah ingin dibelai.. Melihat reaksi Naga kecil tersebut. Mata Rog berbinar cerah, Merasa Gapi sangat Lucu. Ia pun.. langsung mengelus kepala Gapi.


'Bagus, bocah pintar, tidak perlu aku ajarkan, kau sudah langsung tahu, harus melakukan apa!' gumam Jura, hanya tersenyum melihat Gapi. "Kalau begitu.. Aku pergi sekarang! Karena masih ada urusan lain, yang harus aku selesaikan.


"Baik Paman, aku akan mengantarmu..!" Ujar Rog menawarkan.


"Tidak perlu, hari sudah malam, Beristirahatlah."


Setelah itu.. Jura kembali kemansion. Dan beberapa jam lagi.. akan segera terjadi GERHANA. Para Spirit, menantikan dengan hati yang berdebar. Bahkan, Lannox, yang sejak tadi, tidak ingin beranjak sedikit pun dari Putrinya. Kini.. ia hanya duduk diam sambil menggenggam, tangan kecil Putri kesayangannya.


Begitu pun Zion, yang tampak khawatir, ia duduk di samping Ranjang Ravella.. Bersebrangan dengan Lannox.


"Hei anak-anak.. Aku perhatikan sedari tadi, kalian tampak begitu gelisah! Ada apa sebenarnya??" Tanya Rabarus memecah keheningan.

__ADS_1


__ADS_2