
Setelah bersiap-siap Ravella pun berangkat dengan kedua anak Angkatnya.. Mereka berempat duduk berhadapan, namun Ravella hanya fokus pada Bukunya, sedangkan Roland hanya bersandar sambil memejamkan matanya.
Rog melihat keluar jendela, ia mengubah wujudnya menggunakan sihir atas bantuan Tama. Berbeda dengan Ron yang senyam-senyum sendiri menatap sosok cantik di depannya itu.. yang tengah fokus membaca.
'Aku tidak tahu bagaimana Rog bisa memanggil Kakek Tama, yah tapi ungtunglah, berkat itu, wajahnya jadi tidak mudah dikenali dengan pihak Orsi. Aku yakin, Orsi sekarang pasti sedang mencari keberadaan anak ini.
Beruntungnya Kakek Tama sudah mengubah wujud anak ini.. Jadi ia akan aman saat jalan-jalan keluar bersamaku.' pikirnya.
Saat ia sedang asyik bergumam dengan pikirannya sendiri.. Roland membukakan Pintu.
"Putri.. Kita sudah sampai."
"Baiklah." Ujarnya menutup buku yang ia baca.
Setelah Ron dan Rog turun, baru kemudian Ravella.. Saat Roland ingin menyambut tangan Sang Putri.. Ron bergerak cepat dan berlari mendahului posisi Roland. Tangan Ravella di sambut oleh tangan Ron.
Ron, yang berinisiatif menunjukkan palayanannya kepada Sang Putri, ia tampak bersemangat sekali. Melihat inisiatif Ron, Ravella membalas dengan senyuman, membuat wajah Ron memerah malu, namun sangat senang.
'Dag.. Dig.. Dug.. Apa yang terjadi pada jantungku..? Tapi, Wajah beliau sangat mempesona.' pikir Ron terpana.
sedangkan Sang Kakak yang melihat sikap adiknya itu.. Hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah adiknya. Yang tampak terlalu menonjol, menunjukkan ketertarikannya terhadap sosok Sang Putri. Tak lama terdengar suara Roland berbisik padanya.
"Adikmu sangat bersungguh-sungguh ya..! Kau harus menasehatinya agar ia tahu tempatnya." ujar Roland berseringai, namun.. ada tekanan dalam intonasi suaranya, Seolah sedang memberi peringatan untuk menjauhi tuan Putrinya.
"Eh hehe.. I-iya aku akan menegurnya nanti." balas Rog, sambil mengusap kepalanya. 'Sial, ini tidak baik.. Bahkan Komandan Tampak kesal dengan tingkah Ron yang berlebihan. Haah.. Aku harus menegurnya nanti.'
"Putri.. Kita mau pergi kemana sekarang?" tanya Roland.
Ravella melihat sekeliling, banyak pusat perbelanjaan berjejer rapi, lalu pilihannya jatuh ke tempat toko penjualan senjata, atau toko perlengkapan untuk kebutuhan para prajurit.
Mereka pun memasuki tempat itu.. Sesampainya disana. Mereka di sambut ramah dengan pemilik toko tersebut.
"Selamat datang.. Ada yang bisa kami bantu Nona..?" ujar pemilik toko tersebut, menyapa dengan ramah.
Ravella berhenti dan mengamati senjata yang ada di dalam toko tersebut.. Lalu ia melihat reaksi kedua anak-anaknya, yang tampak berbinar sambil tersenyum, Ravella berujar pada keduanya.
"Apa ada yang kalian sukai? Jika ada, kalian bebas memilih apapun yang kalian inginkan." ujarnya menawarkan.
Rog yang nampak tidak percaya dengan apa yang di katakan Ibu Angkatnya itu.. Memastikan kembali kalimatnya, ia takut jika ia salah dengar.
"Be-benarkah apa yang baru saja anda katakan Yang Mulia??"
"Apakah aku terlihat sedang bercanda sekarang?" ujar Ravella datar.
__ADS_1
"Euh, ti-tidak saya percaya Yang Mulia." ujar Rog bergegas, lalu mencari apa yang ia sukai, Begitupun dengan Ron.
Berbeda dengan keduanya.. Ravella melirik sekilas Pedang hitam, di gagangnya terdapat permata biru dikiri- kanan gagang tersebut, yang terbuat dari batu mana. Dan di sebelah pedang tersebut, terdapat busur hitam yang juga mempunyai batu mana di ujung dan pangkalnya
Ravella yang tertarik langsung menghampiri tempat pedang, dan busur tersebut terpajang. Melihat itu.. Pemilik toko datang menghampiri Ravella dan Roland.
"Mata anda sangat jeli sekali Nona.. Pedang ini adalah pedang legenda yang hanya ada tiga di dunia.. Ujarnya."
"Hmm.. Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan barusan?" tanya Ravella menguji.
"Ah.. Te-tentu saja Nona, Mana berani saya berbohong. Jika barang yang saya jual tidak terbukti keasliannya.. Kami akan mengembalikan uang anda." ujarnya Jujur.
Ravella mengambil pedang tersebut dengan tangan mungilnya, ia menggunakan mana angin, agar pedang tersebut menjadi ringan.
"Swuuuussss.." ia menarik pedang tersebut dari sarungnya.
Ravella mengeluarkan sedikit Aura pada pedang tersebut, pedang itu langsung menyala. Dan tentu saja hanya Ravella yang bisa melihatnya.
Ia memasukkan kembali pedang tersebut, lalu mengulurkan kepada pemilik Toko.
"Aku akan membelinya.. Dan beserta busur itu juga!" ujarnya menunjuk kearah Busur tersebut.
"B-baiklah Nona, tapi pedang dan busur ini sangat mahal. Apa anda yakin akan membelinya.." ujar pemilik toko meragukan Ravella, karena ia masih kecil.
"Ah, ma-maafkan atas perkataan saya yang kurang sopan Nona. ka-kalau begitu baiklah, sa-saya akan langsung membungkusnya sekarang."
'Haah.. Melelahkan, jika ia tidak meremehkanku seperti itu, aku tidak akan membuatnya malu. Hem.. Omong-omong apa anak-anak itu sudah mendapatkan apa yang mereka mau?' ujarnya sambil memperhatikan Ron dan Rog.
Setelah selesai berbelanja.. Keduanya keluar dari toko dan pergi ke toko lain. Mereka masuk ketoko Pakaian, Ravella membelikan pakaian untuk Rog dan Ron beserta Roland. Setelah selesai mereka pergi makan siang.
'Mereka berdua tampak senang, meski mereka tidak mengatakannya. Aku juga merasa puas bisa membelikan apa yang mereka butuhkan. Setelah ini kami akan pulang, matahari sudah tergelincir di arah jam Dua.
Waktu terus berjalan.. Tak terasa hari sudah mulai sore. Aku ingin membawa Gapi..! tapi kata Kek Jura, mendingan jangan di bawa.. Karena Ayah tidak suka saat melihat Gapi. Entah apa yang salah pada bayi Naga itu.
Ia yang tidak tahu apa-apa harus menanggung kebencian orang dewasa, Yang Dia sendiri tidak tahu apa salahnya. Tapi aku tidak peduli, aku akan tetap membawanya.' ujarnya sambil menyeruput teh hangat, yang di hidangkan di restoran tersebut.
Setelah selesai jalan-jalan berbelanja dan makan siang, mereka pun kembali menaiki kereta. Saat diperjalanan pulang, Ravella berbicara memecah kecanggungan di antara mereka.
"Apa kalian sudah mendapatkan apa yang kalian butuhkan?"
"Ia kami sudah memilihnya Yang Mulia Putri.. Terima kasih atas kebaikan yang anda berikan." ujar Rog tersenyum tulus.
"Hem.. Sudah kewajibanku sebagai wali kalian berdua. Oh iya.. Kebetulan aku juga mempunyai sesuatu untuk dibagikan pada kalian berdua." ujarnya melirik Roland, dan Roland mengambil bingkisan tersebut, lalu memberikannya pada Ravella.
__ADS_1
"Ini untuk kalian berdua.. Aku tidak tahu pasti apa yang kalian suka! Jadi aku hanya membeli apa yang menurutku bagus."
"Ti-tidak, malah ini sangat berlebihan untuk kami miliki Yang Mulia.. Bahkan barang ini, sangat mahal dan terlalu bagus.. Terima kasih banyak Yang Mulia.
Kami hanya bisa membalas dengan kesetian kami, Apapun itu katakan saja.. Meskipun saya harus membunuh, akan saya lakukan hanya untuk anda." ujar Rog tulus.
"Haah.. Itu sangat berlebihan Rog, kau tidak perlu mengotori tanganmu dengan darah. Karena aku tidak menginginkan hal itu..
Yang aku inginkan adalah kalian berdua hidup dengan baik dan bahagia.. Lalu, bisa menikmati hidup ini tanpa memikirkan apapun.
Dan agar kalian berdua tidak bosan, mulai besok kalian berdua akan mempunyai kegiatan rutin setiap hari. kalian berdua akan menjalani sesi latihan seperti Prajurit lain, Dan Sir Roland sendiri yang akan melatih kalian secara langsung.. Berlatihlah yang giat.
Dan, jika kalian menunjukkan hasil yang bagus kedepannya.. Bisa jadi kalian akan bergabung bersama pasukan inti.. Tapi sebelum itu! Kalian harus melewati beberapa tahap ujian yang lebih sulit.
Bagaimana cara kalian bertindak, cara kalian menyelesaikan misi, cara kalian saat menghadapi situasi genting, dan mengatur strategi untuk melawan musuh.
Semuanya harus dipikir secara matang, tidak boleh sembarangan mengambil keputusan, disaat menghadapi situasi sulit yang mengharuskan kalian mengambil tindakan cepat dalam membuat suatu keputusan.
Jika kalian salah langkah, kegagalan yang akan kalian raih. Namun.. jika kalian bertindak sesuai keadaan dan pintar mengatur strategi jitu! Hem.. Kalian akan mempunyai peran penting dalam pasukan, jadi berusahalah anak-anak"
"Baik Yang Mulia Putri, kami akan mengingatnya.. Kami berjanji akan memberikan yang terbaik untuk anda, agar anda tidak menyesal telah memungut kami."
"Lakukan dengan keinginan dan tekad dari hati kalian sendiri, bukan karena orang lain. Dengan begitu, kalian akan menikmati proses kerja keras kalian sendiri, tanpa rasa kecewa."
"Baik Putri.. Kami akan mengingatnya." ujar keduanya serentak.
Ravella menjelaskan dengan rinci.. Rog dan Ron terpana melihat sikap kepemimpinannya, di usia yang masih sangat kecil. Dan mereka mematuhi apa yang baru saja dikatakan Ravella, seperti seorang ibu yang sedang menasehati anak-anaknya.
'Aku tidak menyangka! Beliau yang masih kecil, yang seharusnya masih menikmati usia bermain, sudah bisa memikirkan semua itu seolah dia pernah mengalaminya secara langsung, Beliau benar-benar mengaggumkan.' gumam Rog dalam hati.
'Padahal usiaku tua beberapa tahun darinya.. Tapi, cara berpikir Putri, jauh lebih bijaksana dan dewasa, dibandingkan aku. Apa benar beliau masih sembilan tahun?
Melihat pola-pikir beliau yang tidak biasa, beliau seperti seorang komandan pasukan. Sepertinya aku semakin menyukai beliau...! Aku juga sangat senang, hari ini beliau meluangkan waktunya seharian, hanya untuk bersama kami.
Ah, tapi maaf saja.. Bagaimana pun, aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai orang tua angkat! Melainkan... Hem.. Hem..' gumamnya ambigu, ia lalu senyam-senyum sendiri.
Sementara Roland, tersenyum bangga melihat Yang Mulia kecilnya, is sudah memikirkan semuanya secara rinci, padahal ia tidak pernah memberitahu peraturan dalam pasukan Singa.
'Hem.. Hem.. Putri kami, Memang menakjubkan.' gumam Roland dalam hati.
'Aku serasa tidak percaya dengan apa yang kami alami hari ini.. Seumur-umur, baru kali ini ada bangsawan yang memperlakukan kami dengan baik dan lembut. Sepertinya apa yang dikatakan Para Paman-paman itu memang benar adanya!
Beliau orang yang sangat baik, dan tidak menggunakan statusnya untuk menindas orang kecil seperti kami. Aku akan bersumpah setia padanya.. Dan menyerahkan seluruh hidupku hanya untuk melindunginya.' pikir Rog Tersenyum lembut, lalu melihat keluar jendela dengan penuh tekad di dada.
__ADS_1