AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
APA YANG TERJADI KEK?


__ADS_3

Di Zona Mana.. Seiring pecahnya cangkang telur raksasa! suhu udara yang tadinya normal, kini berubah menjadi dingin, udara di penuhi dengan lebatnya salju tebal.


Rabarus menjulurkan kepalanya keluar jendela.. Tampak butiran salju berjatuhan di udara.. Melihat hal tersebut, Rabarus secepat kilat menghilang, dan muncul di depan telur-telur Raksasa tersebut.


Tampak dari kelima telur itu, salah satu telur sudah pecah dan kosong! 'Hem, aku tidak menyangka! Jika yang selesai duluan adalah Gira.' Rabarus memperhatikan dengan cermat telur Roya, yang sudah pecah. 'Padahal telur anak itu dulu, yang retak! Tapi justru yang menetas duluan adalah telur Gira..!! Sementara yang lainnya, masih belum ada reaksi apapun.' pikirnya mengamati, telur lain.


Sedangkan Gira, telah melesat hilang, ia terbang kelangit dengan bebas, lalu raib di antara pekatnya salju di waktu itu!


Pria berambut pendek sebahu, mengambang di tengah-tengah telur raksasa. Sambil melihat kelangit lepas, tampak matahari telah tertutup di telan udara dingin dan salju pekat.


Hingga suhu udara yang tadinya hangat, kini telah berubah membeku dan dingin. Rabarus menyeringai menyaksikan penampakan tersebut! Dan bergumam dalam pikirannya. 'Kekuatannya sangat besar sekali, hingga dampaknya bisa sampai seperti ini.. mempengaruhi cuaca di Zona Mana.


Jika di dunia manusia, ini pasti akan disebut Fenomena Alam. Hmmm... untuk memastikannya, Aku akan sedikit menguji anak itu! Hmm.. Hmm..' gumamnya menyeringai, lalu berubah kewujud Mana Beastnya.


'Ah, Namun sebelum itu! Aku akan membuat telur-telur ini tetap hangat, agar Suhu dingin di sini, tidak menghalangi berjalannya proses Evolusi telur-telur ini.'


Rabarus yang telah berubah kewujud Rubah Apinya.. Kini Rabarus mengeluarkan Api kecil dari tubuhnya yang menyala terang.. Api kecil itu memisahkan diri dari tubuhnya, dan Ia merubah bentuk Api kecil tersebut, menjadi empat bola cahaya bulat.


Lalu.. Keempat bola tersebut dilepaskan dan melayang meresap kedalam empat telur Raksasa. Dan, telur yang tadinya membeku karena suhu dingin! Kini berubah menjadi cahaya hangat dan sangat terang. Bahkan salju tersebut tidak berpengaruh sedikitpun terhadap telur-telur itu.


Setelah selesai melindungi keempat telur tersebut, Rabarus pun langsung menghilang. Gira yang tengah menikmati perubahan barunya, Menyadari ada kehadiran lain, sedang mendekat padanya.


Ular raksasa yang sebelumnya bewarna biru biasa tanpa cahaya, kini telah berubah menjadi biru silver. Sisiknya mengeluarkan kilauan terang. Di kepalanya terdapat dua tanduk bercabang.. Gira terbang dengan senang, menguasai Langit Zona Mana dengan begitu bebasnya.


Gira yang merasakan kehadiran Rabarus, hanya diam mengamati. Jarak Rabarus semakin dekat berada dalam jangkauannya! Gira menyeringai dan melihat kecepatan Rubah Raksasa sedang menghampirinya.


Dalam sekejap Gira langsung mengibaskan ekornya, dengan kibasan Ekor miliknya. menghasilkan angin setajam mata pedang, yang bisa membelah apapun di sekitarnya.


Menyadari ada serangan berbahaya, Rabarus menghindarinya lalu menghilang. Gira, menyipitkan matanya, karena ia bisa merasakan dengan jelas. Keberadaan Rabarus yang telah berada di belakangnya.


"Hihihi... Kau memang cepat Rubah Tua! tapi, apa hanya itu yang bisa kau lakukan?" ujarnya lalu menghilang dari pandangan Rabarus.


"Heheh.. Jangan senang dulu hanya karena kau sudah berevolusi bocah." Rabarus hanya diam, mengamati dengan cermat pergerakan Gira.


Dalam sekejap muncul badai salju, ingin melahap tubuh Rabarus. "Heheheh... Ini menarik!" ujar Rabarus mulai bersemangat.


Badai Salju pekat dan sangat kencang, terus mengejar Rabarus. Rubah Api Suci menghindarinya dengan malas. Ia menyeringai lalu.. Membuka mulutnya.


"HAAAUUUUPPPP!"


Rabarus Mulai menghirup badai salju.. Melihat hal tersebut, Gira terperangah tak percaya, melihat apa yang dilakukan Rabarus terhadap badai salju miliknya.


'Rubah gila! Aku tidak percaya ini..! tapi, apa yang dilakukannya benar-benar gila. Bahkan perubahan baruku tidak bisa menyentuhnya sedikitpun.


Heeh.. Pantas saja jika Baginda Kaisar, sampai memilihnya untuk menjadi guru. Dia yang sekarang benar-benar jauh berbeda, dengan saat pertama kali ia muncul.' gumamnya dalam hati, merasa takjub.


'Bahkan lambang kepemilikan dari Kaisar, bersinar semakin terang di keningnya dan menyatu dengan cahaya di tubuhnya. Haah.. Jika sudah seperti ini, aku harus mengaku kalah.' pikirnya, langsung mendekati Rabarus.


Ia kembali kewujud manusianya, Begitupun Rabarus yang telah berganti wujud.


"Cih! Dasar Rubah Tua Sombong, tidak bisakah kau mengalah sedikit padaku? Aku ini baru saja selesai berevolusi, dan tiba-tiba kau datang langsung menghancurkan kebanggaanku! Begitu saja.


Mood bertarungku jadi hilang, di karenakan dirimu. Cih, Dasar tidak peka..!" keluhnya merasa kesal. 'Sial, Padahal aku ingin memamerkannya pada Jura.


Tapi kalau sudah begini, jangankan memamerkan dihadapan anak itu! yang ada malah sebaliknya. Aku akan malu karena ditertawakan olehnya.

__ADS_1


Haaah..., tapi setidaknya aku masih beruntung, karena yang lain tidak melihatnya.' pikirnya merasa lega.


Rabarus yang bisa mendengar semua pikiran Gira, langsung tertawa dan menepuk pundaknya keras. "Puk.. Puk.. Puk.. Hahahaha.. Maaf bocah! Jika aku telah membuatmu berhenti bersemangat.


Aku hanya sedikit ingin menguji calon muridku! Tapi tenang saja.. Aku tidak akan menceritakan masalah ini pada yang lain. Hiihiiiiy!" jelasnya tertawa sambil nyengir, Setelah selesai bertarung.. keduanya pun kembali ke markas.


***


Sedangkan di tempat lain, di waktu yang berbeda... Zion dan Serigala Hitam, telah sampai di Lembah Serigala. Bersama Pemimpin Serigala bersamanya.. Tiba-tiba Kabut tebal menyelubungi keduanya!


Zion terlihat sangat tenang, keduanya tetap berjalan menembusi kabut


Dan dalam sekejap, tempat yang tadinya hanya Lembah Hutan Biasa.. kini telah berubah menjadi kawasan yang dipenuhi dengan banyak Ras Serigala. Tampak keduanya telah di kerubungi dangan banyaknya Pasukan Serigala.


Salah satu tetua Serigala, menghampiri Pemimpin Mereka, yang telah membawa Ras Asing lainnya. Namun, pasukan yang telah merasakan Auman Zion sebelumnya.


Merasa ketakutan, di tambah lagi dengan tekanan besar yang telah di keluarkan Zion saat ini. Mereka yang pernah berhadapan langsung dengan Zion, tidak ada satupun yang berani mendekatinya, ataupun menatapnya.


Mereka hanya tertunduk takut, dan tidak bergeming dari tempat mereka berdiri sekarang. Belum lagi melihat perubahan Pemimpin mereka, yang tadinya hanya sebagai musuh dan babak belur, karena berada di ujung maut, kini malah berbalik berpihak pada Singa besar tersebut.


"Salah Satu Serigala tua, memberanikan dirinya untuk maju kedepan, lalu menyapa keduanya dengan sopan. "Se-selamat datang Kembali pemimpin, dan, siapakah beliau jika saya boleh tahu?" tanyanya penasaran dengan sosok Zion.


"Beliau adalah seorang Raja Spirit yang telah melindungi Benua ini.." mendengar hal tersebut, Para Serigala Saling menoleh satu sama lain, karena terkejut.


"Beri hormat kepada Beliau!" perintah pemimpin Serigala itu, pada yang lainnya.


Mendengar perkataan sang Pemimpin mereka, seluruh Ras Serigala mengikuti dengan patuh. semuanya menunduk hormat pada Zion. Namun, diantara mereka.. Ada beberapa Serigala, yang tidak patuh terhadap perintah dari pemimpinnya itu.


Tampak dari kejauhan barisan paling belakang, sepuluh Serigala hanya melihat tanpa melakukan apa yang telah di perintahkan oleh pemimpin mereka.


Melihat arah pandangan Zion, Serigala Hitam itu bertanya padanya. "Apa yang anda Lihat Yang Mulia?" ujar Serigala Hitam itu.


Sambil melangkah pelan, Zion melihat kesekitar, Ia tampak seperti sedang mencari sesuatu. Dan Serigala Hitam terus mengikutinya. Menyadari hal itu, Zion berhenti dan melirik ke arah Serigala yang ada di belakangnya.


"Kau tidak perlu mengikutiku. pergilah, mereka pasti sangat menghkawatirkanmu. Aku akan berjalan-jalan melihat kesekitar." ujarnya, Sambil melihat sekilas kearah pasukan Serigala. Yang tampak sedang menantikan pemimpin mereka.


"Ah, satu lagi.. aku lupa menanyakan ini, siapa namamu?" tanya Zion, menghentikan langkahnya.


"Oh, Maaf karena saya lupa memperkenalkan diri, saya Albo Yang Mulia."


"Eum.. Baiklah Albo, kembalilah pada Mereka. Mulai dari sini aku akan berjalan sendiri."


"Ta-tapi Yang Mulia.." tatapnya khawatir, karena Zion masih belum mengenal kawasan tersebut.


"Hem.. Tidak perlu khawatir, setelah selesai melihat-lihat, aku akan kembali lagi kesini."


"Baiklah jika Yang Mulia, sudah bilang seperti itu." ujar Albo dengan berat hati, dan terpaksa mematuhi perintah tersebut. Ia menunduk sopan, Zion melihatnya sebentar, lalu berbalik arah menatap kearah sepuluh Serigala tadi, yang telah pergi meninggalkan para kawanan.


***


Sedangkan di Mansion, Ravella yang tengah duduk di gazebo, menikmati keindahan pemandangan gunung dan telaga hijau yang sangat jernih. Di temani Jura dan Gapi. Ketiganya tenggelam Menikmati pemandangan indah menyejukkan mata.


Di tengah suasana damai yang menyejukkan, tiba-tiba muncul sosok Gira. Menyapa Masternya dan saudaranya Jura.


"Halo Master, dan kawanku yang paling santai." ujarnya menghampiri ketiganya, lalu duduk di salah satu kursi yang berdekatan dengan Sang Master.

__ADS_1


"Kakek, kau sudah selesai? Apakah evolusinya berjalan dengan lancar!??" tanyanya bersemangat.


"Ternyata kau yang paling pertama selesai ya!" ujar Jura berseringai.


"Ya, seperti yang kalian lihat sendiri. Evolusinya sangat lancar, Nak Dewi. sangking lancarnya.. aku sampai bosan hanya tinggal berdua dengan Rubah Tua itu!" ujarnya menyilangkan kedua tangannya.


"Hahahaha.. Kakek pasti sering dimarahi dengan Kakek Rabarus!" tawa Ravella pecah.


"Kau benar Nak Dewi, aku benar-benar tidak cocok berada dekat dengannya. Semoga yang lain cepat selesai, karena aku tidak sabar mendengar ocehan mereka yang selalu bikin ramai.


Tidak seperti seseorang yang selalu terlihat serius, jika hanya dengannya, aku akan kesepian." jelas Gira membuat Jura, mendecih malas. Dan membuang pandangannya melihat kearah telaga.


Sedangkan Ravella hanya tersenyum, sambil bertopang dagu memperhatikan keduanya. Namun, ditengah kedamaian yang sangat tenang itu! Tiba-tiba muncul pusaran besar yang tidak jauh dari mereka.


Jura dan Gira yang merasakan adanya bahaya, saling melirik. Dan terdengar suara Jura berbicara melalui pikiran. 'Bawa Dewi, dan Gapi, ke Zona Mana sekarang! Setelah itu bawa Pak Tua Rabarus kemari. Aku akan berusaha mengulur waktu sebisaku.' ujarnya sambil memperhatikan pusaran yang muncul di tengah danau.


Gira mengangguk, dan dengan cepat menyambar Ravella dan Gapi.. Ravella yang terkejut dengan tindakan Gira, meluahkan pertanyaan padanya.


"Apa yang terjadi Kek?" tanyanya pada Gira, karena melihat kecemasan di wajah Gira.


"Akan aku jelaskan nanti, untuk sekarang kita harus cepat meninggalkan tempat ini." ujarnya tampak tegang, lalu menghilang dengan cepat ditelan Portal.


Sedangkan di area lain Mansion, Lannox yang sedang berlatih, juga merasakan hal yang sama. "Perasaan ini... Putriku Ravel!!" ia bergegas pergi, dan langsung bertelepati dengan Zion. Begitupun Argus yang tengah di sibukkan dengan tugas, diruang kerja Duke.


Ia merasakan bahaya datang, dan segera menghentikan kesibukannya. "Perasaan ini..? ada yang mengincar Dewi..! Aku harus cepat." ujarnya mengkhawatirkan Ravella. Dan, dalam sekejap, muncul pusaran angin kecil, membawanya pergi. Hingga dokumen di atas meja berterbangan, melayang terkena pusaran angin tersebut.


Zion yang sedang menelusuri Hutan, di kejutkan dengan teriakan Lannox yang terdengar sangat panik.


'Zion, dimana kau Pak Tua? Cepat kembali, ada musuh muncul di Mansion.'


'Apa...? Baiklah, aku akan segera kesa..!' belum sempat Zion menyelesaikan kalimatnya, koneksi langsung di putus oleh Lannox.


'Cih, Sial.. Kenapa musuh harus datang di saat seperti ini.' gumamnya kesal, dan bergegas kembali untuk memberitahukan Albo. Agar, Albo tidak kehilangan dan mencari-cari keberadaannya.


Dalam sekejap Zion muncul dihadapan Albo. "Wuuusshh, Albo.. Tampaknya aku tidak bisa berlama-lama ada di sini, Aku harus segera pergi sekarang." ujar Zion buru-buru.


"Haah.. Memangnya apa yang telah terjadi Yang Mulia? Anda tampak sedang terburu-buru sekali."


"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya, Aku pergi du..." perkataannya langsung di potong Albo.


"Kalau begitu, izinkan Saya ikut Yang Mulia. Siapa tahu saya bisa membantu." jelasnya menawarkan diri. Zion berpikir sejenak.


"Apa kau yakin? Aku takut kau akan menyesal setelah mengikutiku." tanya Zion memastikan keputusan Albo. Tampak binar tekad, terpancar dari kedua mata birunya.


"Ya, sekali saya berucap, saya tidak akan mencabutnya kembali." ujarnya dengan percaya diri.


Melihat tekad bulat Albo, Zion menyeringai dalam hati. 'Hem.. Sepertinya, Takdir akan segera mempertemukan keduanya.' pikirnya ambigu. "Baiklah, ayo kita berangkat." Zion langsung mengeluarkan kedua sayap putihnya, yang membuat Para Serigala terpesona akan keindahannya.


Dan dengan kecepatan penuh, Zion mengibaskan sepasang sayapnya terbang tinggi kelangit. ayunan dari kedua sayap Zion, Membuat angin berhembus di sekitar.


Begitupun dengan Albo, yang baru pertama kali melihatnya, merasa sangat takjub dan kagum. 'Beliau benar-benar luar biasa, tidak hanya seorang Raja, tapi beliau juga mempunyai sepasang sayap yang sangat indah.' pikirnya kagum. "Semuanya.. Kita juga tidak boleh kalah. Ayo pergi." perintahnya bersemangat.


"Ya..." jawab Para Serigala kompak.


Albo membawa setengah pasukannya, dan meninggalkan sebagian lagi untuk berjaga. dan dengan kecepatan diluar nalar, semuanya bergerak maju mengikuti Zion, menuju kearah Mansion.

__ADS_1


__ADS_2