
Setelah Rabarus beberapa hari pergi bersama Gapi, kini keduanya pun kembali ke Kastil dengan perasaan bingung. Karena sekembalinya mereka berdua ke Kastil.. Suasana di Kastil tampak sunyi senyap seperti tanpa kehidupan.
Biasanya mereka selalu melihat Ke tujuh Pria.. Dan seorang anak kecil berkeliaran di luaran Kastil. Sambil jalan-jalan mengelingi halaman, dan terkadang mereka berkumpul di puncak menara Kastil.
Namun kini tidak di temukan pemandangan tersebut, gapi sampai cemberut karena ia tidak menemukan sosok Dewi kesayangannya itu di manapun.
Berbeda dengan Rabarus, tidak seperti Gapi. Rabarus yang bisa merasakan kehadiran Para Spirit, tiba-tiba muncul kekhawatiran di permukaan wajahnya.. Ada perasaan aneh saat ia merasakan Aura yang terpancar dari keenam Spirit.
'Apa ini..? Aku melihat Aura ungu gelap menyebar dari arah Kastil sebelah timur, yaitu di kamar Utama yang berada di lantai lima.' ujarnya sambil memperhatikan Aura yang keluar di arah kamar Duke.
Di Sebelah sana, terdapat kamar utama.. yaitu kamar Duke, Tempat Ravella dan yang lainnya berada sekarang.
Rabarus agak terkejut melihat pemandangat tersebut, ia lalu melihat kearah Gapi. Dan berujar pada Bayi Naga yang tampak sedang kehilangan induknya itu.
"Hei Nak, untuk sekarang kau istirahatlah dulu. Aku akan pergi mencari yang lain." ujar Rabarus melihat sekilas kearah Gapi, Lalu pergi meninggalkan Gapi sendirian.
"Baik Kek!" Ujar Gapi mengangguk.
Gapi memanggil Rabarus dengan sebutan Kakek, dikarenakan Rabarus adalah Ayah dari Tama.. Jadi posisinya jauh lebih tua dari Tama yang ia panggil paman.
Setelah berbicara pada Gapi, Rabarus pun pergi. Ia menuju kearah Ravella dan para Spirit lain berada. Dalam hati ia sangat risau, karena perubahan Aura Para Spirit yang tidak seperti biasanya.
'Aura ungu gelap adalah pancaran sebuah kesedihan.. Apa yang terjadi pada Anak-anak itu!! Semoga saja ini cuma perasaanku saja.' ujarnya dalam hati.
Sementara itu.. Para Spirit yang merasakan kehadiran Rabarus semakin mendekat, dengan cepat mereka saling melirik satu sama lain.
Dan segera menghalangi pergerakan Rabarus agar tidak mengganggu kedua anak manusia dan satu Spirit muda yang sedang tertidur nyenyak itu.
'Ini Aura Ayahanda..!' ujar Tama, melirik pada yang lainnya.
'Ya, ini Aura Rubah Tua itu.' sambung Roya.
'Kalau begitu, ayo kita halangi Pak Tua itu! karena ia masih belum tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Disebabkan kita sedang menyembunyikan keberadaan kita dari anak-anak ini.
Dan juga, jangan sampai kehadirannya membangunkan Anak-anak yang sedang tertidur.' sambung Saga, yang di angguki oleh yang lainnya.
'Benar.. Lihatlah, betapa nyenyaknya mereka bertiga!' sambung Zaku.
__ADS_1
'Pemenadangan yang sangat indah bukan? jarang-jarang mereka seperti ini..! Maksudku kedua bocah itu.' ujar Gira menatap Lannox dan Zion.
'Benar, ini semua karena Master. Makanya sesuatu yang langka untuk dilihat, bisa kita saksikan hari ini. Betapa damainya hari ini..' ujar Jura sambil melihat keluar jendela. 'Kalau begitu Ayo kita Pergi.' ajaknya pada yang lainnya.
***
Setelah itu.. Mereka pun segera menghampiri dan menghalangi Rabarus yang sedang menuju kearah kamar Duke.
'Rabarus yang bisa merasakan pergerakan Para Spirit yang sedang menghadangnya.. Tanpa menunjukkan wujud mereka.. Segera bergumam dengan Keenam Spirit tersebut.'
'Cih,dasar anak-anak tidak sopan, beginikah cara kalian menyambut Pria Tua sepertiku, heeh..? cepat tunjukkkan wujud kalian anak-anak nakal, Jangan coba-coba mengujiku.' Ujar Rabarus menatap lurus kedepan, sambil berseringai.
Setelah mendengarkan perkataan Rabarus, Tama yang lebih dulu menunjukkan dirinya.. Segera menghampiri sang Ayahanda.
'Cih, dasar Pak Tua ini.. Siapa juga yang sedang mengujinya!' keluhnya.. Yang di tanggapi seringai tipis oleh teman-temannya.
"Hei.. Ayahanda, cepat sembunyikan keberadaanmu sekarang, sebelum yang lain melihat keberadaan kita. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, ayo kita ke Zona Mana terebih dulu." ujar Tama pada sang Ayah.. Yang tampak masih belum mengerti dengan situasi tersebut.
Setelah mendengar ucapan Tama, keduanyapun segera meninggalkan Kastil. Ketujuh Spirit tersebut pun pergi ke Zona Mana, dan menceritakan semua yang terjadi kepada Rabarus.
Setelah mendengar cerita dari keenam Spirit tersebut.. Tama berpikir sambil memegang dagunya, dan mondar-mandir di tempat.
"Haah.. Itulah masalahnya! Bahkan, sampai saat ini pun, kami masih belum menemukan keberadaannya sama sekali, setelah kembalinya Master ke Kastil. Ia menghilang begitu saja seolah di telan Bumi." ujar Zaku, pada Rabarus.
Rabarus yang sedang mondar-mandir di tempat, juga ikut di buat penasaran karenanya, setelah mendengarkan penjelasan Para Spirit Sang permaisuri.
...----------------...
Sementara itu, di Lautan Bermuda.. Garda yang tengah berhadapan dengan sosok hitam besar...
"Kenapa kau menghalangi jalanku??" ujar Garda, memandangi sosok yang menyerupai kabut hitam tersebut.
"Katakan, apa tujuanmu datang ketempat ini?" ujarnya pada sosok Pria Biru itu.
"Aku di utus oleh Paduka Dewa, untuk menjalani hukuman di dasar Lautan Samudra Bermuda ini." ujarnya jujur.
"Cih, aku tidak tahu Dewa mana yang kau maksudkan itu!! Aku juga tidak peduli. Akan tetapi, asal kau tahu saja.. Aku tidak akan mengizinkan siapapun menginjakkan kakinya kewilayahku.
__ADS_1
Jadi, sebaiknya.. kau pergi dari tempat ini, Jika tidak ingin celaka." ujar sosok tersebut mengancam Garda.
Garda yang melihat kesombongan dari sosok bayangan hitam tersebut, hanya diam menyeringai sambil bersedekap tangan, Menyaksikan keangkuhannya.
Sosok hitam dengan setengah tubuh, dan sebagian lagi hanya berupa asap hitam. Ia melihat kearah Garda, yang masih bisa bersikap tenang dan sangat santai.
Setelah ia menunjukkan kepemilikannya akan tempat tersebut kepada Garda, Ia pun terlihat sangat geram, karena Garda tidak merespon atau bergeming sedikitpun dengan ancamannya barusan.
"Cih, apanya yang lucu haah.. sampai kau berseringai seperti itu? Bukankah sudah kukatakan padamu, untuk segera menyingkir dari tempat ini..!!" ujarnya mulai kesal.
"Kenapa aku harus pergi? sedangkan tujuanku adalah tempat ini, apa hakmu mengusirku? Sebaiknya kau saja yang menyingkir dari tempat ini." ujarnya masih tenang.
"Apa katamu? Tentu saja aku punya hak akan tempat ini. Karena aku adalah penguasa dari wilyah ini, apa kau sudah tuli sampai tidak mendengar ucapanku tadi haah..!" ujarnya mulai berang.
"Siapa yang kau sebut penguasa.. Jangan mengaku-ngaku hanya karena tempat ini belum pernah di datangi siapapun." ujar Garda meremehkan Bayangan Hitam tersebut.
"Jangan sok tahu kau, aku lebih tahu daripada siapapun tengtang wilayah kekuasaanku ini. Jadi, sebelum kesabaranku habis, Sebaiknya cepat kau menyingkir dari tempat ini." ujarnya dengan intonasi tinggi.
Mendengar perkataan dari sosok yang mengusirnya tersebut.. Garda malah bersikap acuh tak acuh sambil mengorek telinganya dengan jari telunjuk, yang tidak gatal.
Ia bereaksi seolah ia tidak pernah mendengarkan ucapan Bayangan Hitam besar itu. Melihat sikap aneh Garda.. Sosok hitam dengan setengah tubuh seperti manusia, dan setengah lagi berupa asap hitam pekat yang seperti kakinya itu.
Menjadi kesal dan segera mengangkat kedua tanganya, menghadap kearah Garda, Garda yang masih santai terus memperhatikan pergerakannya yang tampak aneh! Baginya.
'Apa yang sedang ia lakukan?' pikirnya masih memantau.
***
Di tempat lain.. Damu beserta pasukannya, masih setia berjaga di kawasan Langit Kastil.
Semuanya masih bersiaga.. Tiba-tiba mereka di kejutkan dengan penampakan yang mengejutkan.
Melihat itu, Para Pasukan yang berjaga berujar pada sang ketua Damu.
"Ketua Damu, Bukankah mereka...?" ucapannya pun terhenti, saat mendengar Damu langsung menyelanya.
Belum selesai parajurit tersebut bicara, Damu pun menyela dan mulai memberi aba-aba pada Para Pasukannya, untuk bersiaga.
__ADS_1
"Semuanya..., bersiaplah dengan kemungkinan yang akan terjadi." teriaknya pada Para Prajurit tersebut.