
Jura dan Ravella mulai serius, menanggapi perkataan Sang Pertapa. Keduanya pun saling melirik... Lalu Ravella kembali berujar kepada Jura.
"Kek.." serunya Pada Jura yang menoleh kepadanya. "Jika apa yang dikatakan Sang Pertapa Tua itu benar! Beberapa perkataan yang ia sebutkan, sudah terjadi. dan aku pun telah menginjakkan kakiku ketanah ini, seperti yang ia bicarakan.
Dan selanjutnya.. dia mengatakan seminggu setelah aku tinggal di sini.. Bukankah itu adalah hari ini?" tanya Ravella menatap Jura, yang Juga mengiakan perkataannya.
Jura dengan Raut wajah yang tampak risau.. Pun berujar pada Sang Master kecilnya.
"Benar Nak, hari itu adalah hari ini. Aku tahu apa yang ada di dalam Benakmu Nak Dewi! Sebaiknya, kau urungkan niatmu itu. agar kau bisa terhindar dari bahaya, seperti yang Pertapa itu katakan."
Mendengar perkataan Jura.. Ravella tersenyum sambil berujar untuk menenangkan Spiritnya itu.
"Hem.. Ya, aku mengerti. Jangan khawatir, apa yang Kakek pikirkan tidak akan pernah terjadi." ujar Ravella tersenyum cerah padanya. "Haah.. Hari ini sangat Cerah sekali bukan!"
Jura menatap kelangit biru.. "Kau benar, hari ini sangat Cerah."
***
Di tempat lain.. Tampak Garda sedang berjalan-jalan santai sambil melipat kedua tanganya kebelakang.. Sesekali ia berhenti dan melihat kearah Luasnya Danau yang berada sedikit jauh dari Kastil.
Kedua Spirit datang menghampiri Garda.. Garda yang menyadari hal itu, segera membalikkan tubuhnya kearah Kedua sosok Pria tersebut.
"Hei.. Apa yang sedang kau lakukan Pak Tua?" tanya Gira, dari kejauhan.
"Aku hanya sedang berjalan-jalan menikmati pemandangan di tempat ini. Kalian sendiri mau kemana??" tanyanya dengan datar.
"Kami juga sedang berjalan-jalan.. Tapi yang sebenarnya, kami ingin bermain denganmu hihii." ujar Saga berseringai.
Garda tampak biasa, tidak bereaksi sedikitpun pasa perkataan Saga. lalu.. ia berujar kepada keduanya.
"Apa kalian anak kecil yang kekurangan permainan??" ujarnya tenang.
"Cih, jika bukan karena teman kami sedang sibuk, kami juga tidak ingin bermain denganmu dasar Pak Tua!" sahut Gira.
"Hem.. Tapi kalian tidak terlihat seperti itu di mataku!?" ucap Garda jujur.
"Apa maksudmu??" tanya Gira.
"Kalian berdua tampak seperti telah di usir.." Ujar Garda berseringai.
"Yah, hampir benar, tapi juga tidak." sambung Saga, sambil mengusap kepalanya.
Tampak ekspresi tidak tertarik Garda, seperti sedang malas meladeni keduanya. Lalu ia berjalan lagi mengabaikan kedua Pria tampan itu, yang sedang mengoceh.
__ADS_1
"Hei.. Ada apa dengannya..! Biasanya ia banyak bicara, tapi hari ini tumben ia terlihat murung seperti itu!?" ujar Saga.
"Kau benar, Pak Tua itu tampak aneh sekali! Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Sebaiknya ayo kita tanyakan saja langsung, daripada berasumsi yang bukan-bukan." ujar Gira, tampak penasaran dengan perubahan sikap Garda, yang tidak seperti biasanya.
"Aku setuju." angguk Saga, lalu keduanya berlari kecil mengejar Garda.
"Hei.. Tunggu Pak Tua!" teriak Saga.
Garda mengabaikan panggilan keduanya.. Dan terus melangkahkan kedua kakinya, sambil melihat kelangit luas.
"Hei, Pak Tua.. Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau bersikap dingin seperti ini?!" tanya Gira, yang sudah berada di sisi kirinya.
"Entahla, tiba-tiba saja aku merasakan firasat buruk."
"Firasat buruk..!!" ujar Saga, lalu melirik kearah Gira. "Apa maksudmu? Memangnya apa yang akan terjadi.. Bukankah kita berada di alam Elf sekarang, Jadi apa yang kau takutkan??" tanya Saga bingung.
Sambil berjalan, Garda bergumam pelan pada kedua Pria, yang ada di sisi kanan dan kirinya itu!
"Sebaiknya untuk berjaga-jaga kita harus mengawasi pergerakan Dewi dan Jura!" ujarnya lalu berhenti, dan melihat kearah Kedua Pria yang ada di hadapannya.
Saga dan Gira memasang ekspresi heran, dengan perkatan Garda barusan.
"Jelaskan dulu, kenapa kita harus mengawasi keduanya!!" desak Gira, yang merasa tidak senang dengan ucapan Garda, Yang juga di anggukki dengan Saga.
"Benar, jika kau tidak memberitahu kami alasanya.. Sebaiknya tarik kembali perkataanmu itu. Kau seakan-akan sedang mencurigai Dewi dan Jura saja." ujar Saga tampak agak tersinggung, dengan perkataan Garda.
Tak lama ketiganya berunding dan menyusun rencana mereka.
***
Di mansion.. Argus yang sedang duduk santai di sofa, sambil menyeruput teh hangat miliknya. Tiba-tiba saja ia menyeringai, dan berhenti minum. Argus lantas meletakkan kembali gelas tehnya.. di atas meja.
"Tek."
Argus lalu bangkit dari Sofa yang didudukinya.. Ia berjalan pelan menuju kemeja Kerja milik Duke. Lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.. Yang sempat tertunda karena kedatangan tamu tak diundang.
'Hem.. Hem.. Jadi dia mengirimkan Spiritnya, untuk memata-mataiku! Kalau begitu ada bagusnya juga.. Dengan begitu orangku akan dengan laluasa bergerak di samping bocah itu.'
Razak terus mengawasi Argus.. Bahkan saat ia makan, kerja, dan juga saat ia kembali kekamarnya. Pandangannya tidak lepas sedikitpun dari Argus! kecuali di saat Argus masuk kekamar mandi, Ia beru berhenti mengawasinya.
'Hem, tidak ada yang mencurgiakan dari bocah ini..!? Seharian ini, Ia juga hanya melakukan aktifitas biasa, layaknya seorang Duke. Apa Jangan-jangan..?' pikirnya sambil memegang dagunya.
Sedangkan di kamar mandi.. Argus yang sedang berendam di bathtub, hanya menyeringai menikmati hangatnya suhu air tersebut.
__ADS_1
'Sepertinya dia tidak mengikutiku saat sedang membersihkan diri.. Yah, selidiki saja sesukamu. Kita lihat saja.. Seberapa lama dia akan bertahan!'
Setelah selesai membersihkan dirinya.. Argus keluar dari kamar mandi, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Tampak Razak Sedang duduk di sofa panjang, dan memperhatikan gerak-gerik Argus secara diam-diam.
Argus yang bersikap santai dan tenang, dengan sengaja duduk di dekat tempat Razak sedang duduk. Melihat itu, Razak dengan cepat menghindarinya. Argus lalu mengambil buku yang ada di atas meja, dan membukanya seolah tidak terjadi apa-apa. Dia bersikap alami, layaknya orang yang sedang menikmati kesendiriannya!
'Haah.. Kenapa ini jadi semakin membosankan! Sepertinya dia tidak bersikap yang aneh-aneh. Yah, pokoknya aku tidak boleh lengah, dan menganggap remeh anak ini.' pikirnya menyugesti dirinya sendiri, agar tidak merasa jenuh dengan situasi tersebut.
***
Sementara di tempat lain.. Tidak hanya Argus, Raffael yang sedang duduk bersandar di dekat jendela atap rumah barunya itu! bergumam dalam hatinya.
'Sepertinya ada yang sedang mengawasiku! Mungkinkah dia suruhan Pria itu!? Kalau begitu.. biar aku beri sedikit pelajaran. Bagzul....!' serunya pada Spirit barunya itu.
'Haah.. Bukannya ini suara bocah sombong itu! Ada apa dia memanggilku? Cih, sebaiknya aku diamkan saja.' ujarnya melanjutkan kembali tidurnya.
Tiba-tiba terdengar lagi suara Raffael memanggil namanya, namun kali ini Raffael menekankan dengan sedikit ancaman.
'Bagzul.. Aku tahu kau mendengarku, jika kau tidak datang sekarang.. Aku akan mengirimmu, untuk dijadikan santapan Razak.' ujarnya tegas.
'Cih, mengganggu saja.. Baiklah-baiklah aku akan kesana sekarang.' dalam sekejap Bagzul muncul di hadapan Raffael, tanpa sopan-santun ia langsung duduk bersila, sambil bersedekap tangan didepan Kaisar Muda itu.
'Heeh, ada apa kau yang tidak pernah memanggilku, tiba-tiba saja baru menggilku sekarang! Memangnya kemana Spirit kesayanganmu itu hah?' ujarnya ketus, dan kasar.
Raffael agak kesal melihat perangai Spiritnya itu! Tampak kedua alisnya mengernyit, saat melihat sosok Bagzul yang tampak kurang ajar.
Namun.. karena dia sudah tahu sifat Bagzul, yang memang tidak suka di atur, Karena memang berasal dari dunia bawah, Jadi Raffael tidak terlalu ambil pusing.
Namun berbeda dengan sekarang, karena ia ingin memberi pelajaran pada seseorang yang sedang mengawasinya.
'Kenapa diam, jika kau tidak ingin mengatakan apapun! Sebaiknya aku pergi saja.' ujar Bagzul tegas.
'Hehe.. Ternyata aku bersikap terlalu lunak selama ini, ya! Sampai-sampai Spiritku sendiri, berani bersikap tidak tahu diri di hadapanku. Haruskah aku menyegelmu pada benda mati, lalu.. menenggelamkanmu kedasar Laut..!! Agar kau tidak bisa lagi.. menikmati kenyamanan dunia ini.' ujarnya dengan menyeringai, yang mengandung tekananan.
Bagzul yang suka bersikap kurang ajar, dengan enggan langsung merubah sikapnya.
'Haah.. Baiklah Masterku yang tercinta, katakan apa yang anda inginkan Master!?'
'Jangan berlebihan, kau jadi terlihat menjijikan. Hem.. Apa kau lihat seseorang yang sedang bersembunyi, yang jaraknya tidak jauh dari tempat kita duduk sekarang?'
Bagzul menjawab dengan cepat, tanpa melihat sosok tersebut.
'Ya, aku tahu dia sejak tadi disitu! Bukankah itu kesatria bayangan milikmu?' Ujarnya polos, karena masih belum tahu dengan situasi tersebut.
__ADS_1
'Heh.. Sayangnya bukan! Oleh sebab itu aku memanggilmu kemari. Untuk memberikan sedikit pelajaran, pada penyusup tersebut.'
'Oh, begitukah! Aku suka itu.. Lantas, kau ingin aku melakukan apa pada anak itu?' ujar Bagzul, yang dalam sekejap berubah kurang ajar lagi.