
Seminggu kemudian.. Raffael datang ke mansion, mendengar ada tamu datang berkunjung, salah satu kesatria penjaga datang melaporkan hal tersebut.
"Tok.. Tok.. Tok.."
"Masuk." ujar Argus yang tampak tengah sibuk.
"Yang Mulia Argus.. Di depan Mansion ada Tamu datang berkunjung, untuk menemui Yang Mulia Putri." ujar kesatria tersebut sopan.
Argus yang tampak sedang sibuk menulis, tiba-tiba saja berhenti. Ia mengenakan pakaian santai, Kemeja Putih polos.. Dengan perpaduan celana hitam.
Tidak hanya itu.. Ia juga mengenakan anting bulan sabit, Yang sama dengan warna matanya. Anting itu bukan anting biasa.. Karena anting itu adalah pemberian dari sang Kakek dan Neneknya.
Mendengar ada yang ingin mengunjungi Sang Putri.. Argus segera menanyakan hal tersebut pada kesatria di hadapannya itu.
"Siapa? Pria, atau Wanita?" ujarnya dengan tatapan tajam, namun dengan nada suara yang dingin.
Melihat tatapan tajam Argus.. Prajurit tersebut dengan gugup langsung menjawab. Membuat Argus tampak mengernyitkan alisnya..
"Se-seorang Pria remaja.. Bergelar Marquess Yang Mulia."
"Apakah dia Pria yang sama, dengan tamu yang berkunjung seminggu lalu..?"
"Benar Yang Mulia."
"Hem.. Kalau begitu suruh dia menunggu di ruang tamu."
"Baik Yang Mulia, kalau begitu, saya pamit undur diri dulu" prajurit itupun segera berlari meninggalkan ruangan kerja Duke.
'Aku penasaran, siapa bocah yang sering datang berkunjung itu? Cih, Apa dia tidak punya kerjaan lain, selain berkunjung!' keluhnya dalam hati.
Setelah setengah jam berlalu.. Argus pergi untuk menemui tamu tersebut. Ia mengenakan setelan Jas hitam yang sesuai dengan warna celananya.. Dengan Jubah seorang pangeran, menempel dibalik jas hitamnya itu.
'Hah.. Benar-benar melelahkan, semenjak aku diberi tugas oleh Master, bahkan Master sampai menyuruhku menggunakan pakaian Formal segala.
Sebenarnya.. Berapa lama Beliau liburnya..!! Sudah seminggu berlalu, tapi beliau belum juga kembali kemansion.
Berapa lama lagi aku harus bertahan dan menderita dengan banyaknya.. pekerjaan yang melelahkan dan membosankan ini? Cih, lupakan dulu soal itu. Hmm.. Mari kita lihat, siapa tamu yang kurang kerjaan itu.'
Saat Argus tiba di depan pintu, tampak kedua penjaga menyambut hormat dan membukakan kedua pintu untuknya. Saat ia melangkah masuk, Raffael tampak terkejut dan sedikit mengernyitkan alisnya.. Saat melihat sosok Argus.
Muncul sosok tampan, Pria berambut pirang panjang sedada.. Dengan belah samping, ia juga mengenakan Kedua anting yang menghiasi telingannya.
'Siapa dia..? Sepertinya dia bukan Duke, tapi dia mempunyai pesona yang berbeda dari manusia..!' gumamnya dalam hati.
Ia pun segera berdiri dan menyapanya dengan Sopan.
"Maaf jika saya telah mengganggu waktu anda tuan! jika boleh saya tahu.. Apa hubungan anda dengan Yang Mulia Putri!"
tidak hanya Raffael yang tampak menyelidik, begitupun Argus yang juga sedang memperhatikan secara ditail, sosok pemuda belia yang ada di hadapannya itu. Ia melihat dengan teliti, dari atas sampai bawah.
__ADS_1
'Jadi anak ini yang ingin bertemu dengan Tuan Putriku!' tak lama Arguspun bergumam, sambil tersenyum.
"Justru saya yang minta maaf karena telah membuat tamu menunggu lama, silahkan duduk." Argus mengabaikan pertanyaan Pria muda itu.
Setelah keduanya duduk.. Argus kembali berbicara.
"Karena Beliau sedang tidak ada di tempat, jadi saya di perintahkan untuk mewakili beliau mengurus Dukedom ini. Jadi saya akan langsung keintinya saja.. Yang Mulia Putri saat ini sedang tidak berada di tempat, Jadi sebaiknya anda silahkan kembali, tuan Marquess."
Raffael tampak tersentak, ia sungguh tidak suka dengan Pria yang ada di hadapannya itu.
'Dia sangat tidak sopan, sudah tidak menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya.' keluhnya dalam hati. "Tidak ada di tempat, apakah saya boleh tahu, kemana beliau pergi..?" tanyanya sopan.
"Ah, itu saya juga kurang tahu, karena saya juga tidak diberitahu kemana mereka berlibur."
Mendengar perkataan Argus, tampak kekecewaan di wajah Raffael.
'Meski tampak menyebalkan, tapi dia berkata jujur.' pikirnya menelaah sosok Argus. "Baiklah, saya akan kembali lagi nanti. Kalau begitu saya pamit dulu."
Raffael pun bangkit dari duduknya, setelah memberi hormat.. ia pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
'Aku berharap kau tidak akan datang lagi kemari.. Karena setelah aku tahu niatnya yang tersembunyi, Aku jadi tidak suka melihat anak itu..! Berani-beraninya ia menipu Putri, dengan menyamar sebagai bocah remaja.
Dan ia juga membawa Spirit hebat bersamanya.. Siapa dia sebenarnya?' gumamnya dalam hati. "Kau.. Keluarlah!" serunya, pada prajurit bayangan miliknya.
"Wuuusshh... Saya menghadap Yang Mulia Pangeran."
"Cari tahu latar belakang anak itu? Dan sebaiknya, kau berhati-hati saat menyelidikinya. karena Spirit yang bersama anak itu, sangat berbahaya. Usahakan agar kau tidak ketahuan!"
***
Setelah Raffael masuk kedalam kereta.. Kereta hitam keemasan itupun langsung berangkat untuk kembali. Di dalam perjalanan pulang, Raffael bergumam pada Razak.
'Razak..'
'Ya, Baginda.'
'Selidiki Pria tadi, dan laporkan padaku segera.'
'Baik Baginda..' ujar Razak, kemudian menghilang.
Setelah kepergian Razak, Raffael kembali kebentuk semula. Tampak Sang Kaisar sedang duduk sambil bersandar melipat kedua tangannya, dengan kedua kaki yang di silang.
Ia menatap kearah jendela kereta.. Tampak tatapan dingin tidak puas hati, sedang menatap keluar.
'Siapa Pria itu? Bagaimana bisa Duke bisa mempercayai urusan Dukedom begitu saja kepada Pria asing tersebut! Dia juga sangat sombong dan tidak mempunyai sopan santun.
Ia juga tidak memperkenalkan siapa dirinya.. Bahkan dia mengabaikan pertanyaanku! dia hanya menjawab pertanyaan yang tidak bersangkutan dengan dirinya.
Dan Aura Pria itu tampak sangat berbeda, auranya terlalu menonjol sehingga tidak terlihat seperti manusia..! Aku tidak suka Pria seperti itu berdekatan dengan Wanitaku.
__ADS_1
Apa mungkin dia juga sudah mengetahui tentang Ramalan Calon Ratuku? Siapa Pria mencurigakan itu sebenarnya..!? Jika apa yang aku pikirkan benar, aku harus segera menyingkirkannya. Tapi sebelum itu, aku harus mencari tahunya dulu, Apakah dia musuh atau bukan!' Gumamnya dalam hati.
***
Di tempat lain, Di Zona Mana.. Ketiga Spirit masih Fokus melakukan semedi.
ketiganya tampak tidak ada yang ingin menyerah kalah satupun, sedangkan Klon Garda, tetap setia menunggu di situ, menjaga ketiganya.
'Hem.. Sepertinya ketiga bocah itu masih tetap bertahan dengan semedinya. Kira-kira sampai kapan mereka akan bertahan?' pikir Garda dalam diam.
Garda sedang berkeliling Kastil, sambil mengawasi ketiga Spirit lainnya dari luar Zona Mana.
***
Sedangkan Jura, Gira, Dan Saga.. Mereka bertiga duduk bersama Ravella, di Puncak menara Kastil. Di area yang sangat luas, Ravella duduk menikmati pemandangan tersebut dari ketinggian menara.
Sesekali ia melihat kebawah Kastil.. Tampak para pelayan sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing. Ada yang merawat taman bunga, ada juga yang sedang membersihkan halaman Kastil.
Di tengah keseruan Ravella menikmati pemandangan tersebut, tak lama terdengar suara Jura begumam padanya..
"Nak Dewi.." panggil Jura membuyarkan lamunan Ravella.
"Ya Kek!" jawabnya dan mulai fokus menatap lawan bicaranya itu.
"Ada satu hal yang baru ku ingat.. Dan belum sempat aku ceritakan padamu, dikarenakan aku selalu tidak punya momen yang tepat untuk membicarakan masalah ini padamu!"
"Oh, ya.. Apa itu Kek??" Tanya Ravella penasaran.
Melihat keseriusan Jura.. Kedua temannya itu mulai tertarik, dan tampak ikut penasaran dengan apa yang akan dikatakan Jura. Sebelum Jura melanjutkan pembicaraannya.. Tiba-tiba Gira berceletuk pada Jura.
"Tumben sekali wajahmu tampak seserius itu! Memangnya hal penting apa Yang ingin kau katakan?" Ujarnya.
"Benar, sepertinya ada yang belum kau ceritakan pada kami..!" sambung Saga.
"Hem.. Apa kalian ingat saat aku bersama Ayah Tama, saat sedang mebuat Perisai perlindungan!!"
Saga dan Gira saling menoleh.. Lalu kembali bergumam.
"Ya.. Kami ingat." ujar Saga.
"Sebenarnya.. saat itu tuan Rabarus mengajarkanku membuat panggilan, dan bagaimana cara membuat perisai pelindung."
Ravella masih tampak bingung.. Lalu iapun menanyakan kebingungannya itu.
"Sebelumnya maaf karena menyela pembicaraanmu Kek, tapi.. Aku selalu ingin menanyakan masalah ini, namun selalu lupa."
"Katakan apa itu!" ujar Jura.
"Kalian selalu mengatakan Ayah Kek Tama.. Aku jadi penasaran, siapa Sebenarnya sosok Ayah dari Kakek Tama yang sering kalian bicarakan itu? Dan sejak kapan Ayah dari Kek Tama datang menemui Kek Tama!!
__ADS_1
Lalu.. apa yang ia lakukan di mansion??" ujar Ravella menanyakan beberapa pertanyaan bertubi-tubi.