
Dikerajaan elf, seseorang wanita cantik, berambut pirang keemasan. Mempunyai Bolamata yang cerah bagai permata safir. Ia yang telah lama menanti sang pujaan hati, walaupun dia sudah mengetahui, jikalau cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Yang mulia putri.. yang mulia putri.. pa.. pangeran argus sudah kembali. Beliau sekarang sudah memasuki pintu gerbang istana."
"apa.. dia telah kembali, argus.. tak.. tak.. tak.." suara lirih dari sang putri, yang terkejut. Langsung berlari, tanpa bertanya.
"tuan putri, tunggu dulu.."
"plak"
"auh sakit erian."
"dasar kau ini, apa kau tidak bisa mengontrol mulutmu itu hahh?"
"maaf.. Aku kelepasan"
"bukankah kau tau sendiri.. Beliau itu tergila-gila dengan pangeran sejak kecil, apapun itu, asal mendengar nama pangeran saja.. dia pasti akan menjadi bersemangat. bahkan sangking bersemangatnya, dia jadi seperti kesetanan, Jika sudah mendengar nama pangeran."
"ya.. Karena itu juga, aku langsung memberi kabar tentang pangeran. Aku kasihan melihat putri yang setiap hari terus memikirkan pangeran. Sementara.. cinta beliau bertepuk sebelah tangan. Apalagi pangeran hanya menganggapnya, seperti adik sendiri. Bukankah itu sangat menyedihkan bukan!"
"ya.. Aku faham perasaanmu rumi, tapi apapun itu.. Putri harus segera sadar, dengan perasaan pangeran terhadap dirinya.. biar dia tidak mengejarnya lagi. Dan berharap lebih! pada sesuatu, yang jelas tidak ada untuknya, lebih baik beliau merasakan sakit sekarang, daripada nanti."
"ya.. Aku mengerti apa yang ingin kau sampaikan, akan tetapi.. aku hanya tidak tega saja, melihatnya seperti itu."
"justru kita harus tega, demi kebaikan putri sendiri. Jangan memberinya harapan palsu, yang sudah jelas memang tidak ada untuknya." rumi sedikit malas mendengar ocehan, dari temannya itu.
"ya.. baik.. baik, dasar cerewet."
Sementara itu.. Sang raja elf, telah menunggu didepan istana kerajaan miliknya. Awalnya dia sedikit senang mendengar kepulangan putranya, setelah sekian lama ia pergi.. Hanya untuk berpetualang. Namun, mata cerah yang berbinar karena bahagia itu. Kini Meredup, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
'astaga.. Itu! Mengapa mereka ada disini..?? Ini.. Benar-benar gawat. Hari-hariku yang tenang sepertinya, akan benar-benar menghilang.' tampak sang penasehat yang menyadari sesuatu, sedang memperhatikan sosok raja, yang terlihat sangat gelisah, dan tkdak tenang.
"ada apa baginda..? apa yang membuat baginda, terlihat gelisah."
"apa kau tidak lihat, sosok yang ada disamping putraku!! badar." badar yang sedang menyimak, kini mengalihkan pandangannya, kembali kearah sosok yang ada disisi argus. Lama ia memperhatikannya, lalu.. tak lama, iapun merasakan hal yang sama, seperti yang dirasakan baginda raja.
"astaga.. Bukankah mereka..!!"
"ya.. tidak salah lagi." ucap raja memotong pembicaraan.
"lalu.. Bagaimana bisa, pangeran bertemu dengan mereka baginda?"
"entahlah, yang jelas.. Putraku membawa mala petaka, setelah ia kembali."
"hehe.. Kalau begitu, saya izin pamit dulu, baginda. ada yang harus saya kerjakan..."
"Mau kemana kau..." baginda menarik kerah baju sang penasehat, yang kelihatannya.. Ingin kabur menyelamatkan diri. "kau juga harus berada disini bersamaku, badar."
"ta.. tapi.. baginda..."
__ADS_1
"tidak ada, tapi-tapi."
'haah.. Sepertinya Aku bakalan lembur.' keluhnya dalam hati.
Pagi telah berlalu, mentari telah kembali keperaduan, meninggalkan hari dengan kegelapan.
Dimantion, duke yang masih tertidur pulas. Disamping putrinya. membuat para pelayan merasa khawatir, Karena duke belum makan samasekali, setelah sampai kemantion. Ia langsung bergegas melihat putrinya!
"bagaimana ini.. Beliau masih tertidur didalam, dan belum mengisi perutnya dengan apapun." khawatir sang kepala pelayan kedua, setelah ranov. Ia terlihat sudah berumur, sekitar lima puluhan keatas. Tak lama zionpun datang melihat kerumunanan beberapa pelayan, yang sedang menunggu didepan pintu kamar sang duke.
"ada apa ini? Mengapa kalian berkumpul disini, beramai-ramai..?!"
"ah.. hormat kepada yang mulia zion, yang mulia duke! beliau masih belum keluar kamar, sejak beliau tiba pagi tadi. Dan beliau belum makan apapun yang mulia..!"
"hmm kalian tidak perlu khawatir soal anak itu, dia akan bangun sendirinya saat sudah waktunya tiba. Lagian.. dia pasti sangat kelelahan, setelah pulang menjalani misi. Kalian kembali saja nanti..! Saat ia memanggil. "
"Baik yang mulia.. Jika begitu, kami undur diri dulu."
"hmm." Setelah melihat kepergian para pelayan, Iapun langsung masuk kedalam. Dilihatnya sosok yang masih terlelap, sambil memeluk putrinya.
"heh.. Pantas saja, anak-anak pada khawatir. Sebaiknya biarkan saja dulu seperti ini, dia pasti sangat Merindukan putrinya, melihat bagaimana ia tidur. Lagian, dia akan bangun sendiri nanti, jika memang ia lapar."
"bwuuuzzz.. Dia pasti sangat kelelahan sekali bukan!?"
"kakek jura, sejak kapan kau ada disitu..?"
"hmm.. sejak kau masuk."
"aku suka ketenangan, tapi.. Melihat kau heboh sendiri, itu membuatku jadi merasa terganggu."
"heeh terganggu kepalamu, kau bahkan lebih mirip penyusup yang suka menguping, jika hanya diam seperti itu.. memperhatikan orang lain."
"hahaha.. Pantas saja dewi sangat menyukaimu. Kau termasuk spirit yang suka bicara, mirip dengan seseorang yang kita kenal hm..hm.."
"cih, jangan samakan aku dengannya! Sungguh tidak sudi, disamakan dengan kakek tua genit sepertinya."
"tapi nak, jika begitu.. Kau masih belum mengenal dekat, dengan kakekmu!!"
Zion sedikit merasa tertarik. "apa maksud kakek?!"
"hmm, dia memang terlihat sangat keras kepala, terkadang seperti bocah yang masih labil. Tapi sebenarnya..! Itu hanyalah caranya, untuk mengalihkan kesedihan, yang selalu ia sembunyikan agar tidak terlihat lemah dimata orang lain."
Zion mendengarkan dengan serius, sambil tengkurap. "hmm benarkah begitu!! tapi rasanya.. dia tidak terlihat semenyedihkan, seperti yang kakek katakan."
"hmm.. Apa kau tidak tau? Kakekmu itu sangat mencintai nenekmu. Ia sempat merasa depresi, saat nenekmu pergi meninggalkannya sendirian."
"memangnya, nenekku pergi kemana? Sampai membuatnya merasa depresi..!!" Jura melihat kearah zion, yang terlihat serius bertanya. "hmm.. ia telah kembali kealam nirwana."
"ya aku juga tau kalau soal itu..! Tapi yang jadi pertanyaanku, apa yang membuat beliau pergi..?"
__ADS_1
"jika soal itu.. Sebaiknya, kau tanyakan langsung pada kakekmu."
"bukankah sesekali, kalian juga harus meluangkan waktu bersama..!"
"heeh, akan kupikirkan nanti." jawab zion malas, ia merenung sejenak. 'aku tidak tau, jika kakek semenderita itu. Tapi, kakek juga tidak pernah bercerita banyak tentang nenek.'
Ditempat lain, tama yang sedang berada dizona mana. Datang untuk menjenguk, kedua anak yang telah ia tinggalkan disana. 'hmm. Sudah lama, aku tidak melihat kedua anak itu. bagaimana kabar mereka sekarang..!
Apakah mereka bisa menyesuaikan diri disini..?'
Tak lama setelah ia sampai ditempat keduanya, dilihatnya rog yang tengah membakar rusa panggang, hasil tangkapan mereka. 'hehe.. Kelihatannya aku tidak perlu, terlalu mengkhawatirkan kondisi mereka berdua. Yah.. Untuk saat ini, mereka harus bersabar menunggu, hingga dewi sadar. dan, meresmikan keberadaan mereka. Dengan begitu, anak-anak itu akan merasa nyaman tinggal dimantion. Tanpa perlu, merasa khawatir setiap harinya.'
"Srik.. Srik.. Srik.. Si.. Siapa itu?" rog mengambil belati yang ada dipinggangnya dengan cepat, dan berwaspada untuk menyerang.
"halo anak-anak, lama tidak bertemu. Kalian semakin gemuk saja ya!"
"a.. anda,"
"ya.. Ini aku, kau kelihatannya tidak senang, saat melihatku!" rog hanya diam, dan memasukan kembali pisau belati miliknya. sedangkan ron, baru saja sampai dari mengambil kayu bakar.
"paman... akhirnya anda datang menjenguk kami..??" ujar ron senang.
"ya.. Aku baru bisa datang sekarang, karena akhir-akhir ini aku sedikit sibuk."
"ya tidak apa-apa, lalu dimana paman satu lagi..! Kenapa hanya anda saja yang kelihatan?"
"entahlah, mungkin saja dia sedang sibuk. Hmm omong-omong, bagaimana keadaan kalian berdua? Apa kalian nyaman berada disini."
"ya.. Sangat nyaman." jawab ron singkat, sedangkan rog hanya diam dan, fokus memanggang daging rusanya.
"baguslah jika begitu, oya..! Untuk sekarang, kalian belum bisa menemui orang tua angkat kalian."
"heh.. Benarkah, kenapa? Apakah dia menyesal, telah mengadopsi kami..!?" jawab rog sedikit sarkasme. Tama melihat sikap rog, yang masih belum percaya penuh kepadanya.
"tidak seperti itu, banyak masalah yang telah terjadi akhir-akhir ini. Jadi pertemuan kalian, terpaksa ditunda untuk sementara."
"aku selalu penasaran, siapa sebenarnya orang yang kau agung-agungkan itu? Orang yang akan menjadi orang tua kami, tanpa kami tau siapa identitas sebenarnya dia..! Dan Kenapa kau tidak pernah menjelaskannya dengan rinci. Ciri-cirinya, keberadaannya, bahkan statusnya. Apakah dia bangsawan, saudagar kaya, atau rakyat jelata, atau mungkin orang penting!! Bahkan kami tidak tau semua itu. Mengapa sampai saat ini, kau masih membuat kami bertanya-tanya? Sesungguhnya aku masih ragu, apa benar dia mengadopsi kami untuk menjadi anak angkatnya, atau Jangan-jangan! malah akan menjual kami..?" keluhnya dengan nada yang agak tinggi.
"haah.. Aku tau kau meragukan perkataanku, dan tidak percaya samasekali kepadaku. tapi.. Aku yakin setelah kau melihatnya sendiri, Kau pasti akan berubah pikiran, dan akan malu dengan kata-katamu. Karena dugaanmu tentang tuanku selama ini, salah besar anak muda..! Aku tau, kau juga telah melewati hidup yang cukup sulit selama ini. Untuk itu aku memaklumi pikiran negatifmu itu. Aku akan memaafkanmu untuk kali ini, Tapi.. jika kau masih sayang akan lidahmu, sebaiknya kau jaga perkataanmu. Aku masih bersabar sampai saat ini, itu karena tuanku. Jadi berterima kasihlah kepadanya kelak, dan jangan pernah meragukan kebaikannya yang murni. Karena aku tidak akan segan, meghabisi siapapun yang berkhianat, atau menyakiti perasaan tuanku."
Ron sedikit takut mendengar keseriusan tama, yang saat ini terlihat begitu serius dan mengerikan. Sedangkan rog, merasa merinding dengan aura yang ia rasakan dari tama.
'kakak bodoh, apa yang telah kau lakukan? dengan memancingnya seperti itu. Aku belum pernah melihat wajah paman yang semenyeramkan itu, Saat berbicara kepada kakak. kelihatannya paman itu, marah sekali dengan kata-kata kakak yang barusan? Ya, walau sebenarnya.. aku juga tidak menyalahkan kakak sih. tentang pikiran yang ia utarakan, secara terang-terangnya begitu. Karena aku juga merasakan perasaan yang sama, seperti yang kakak rasakan. Aku juga sangat takut, jika kami hanya dimanfaatkan, kemudian dijual kembali menjadi budak.'
"sebaiknya, kau renungkan kembali kata-kataku ini bocah. Baiklah, sudah waktunya untukku pergi sekarang." setelah itu tamapun menghilang.
"kakak.. Apa kau tidak kenapa-napa? Kau kelihatan pucat sekali."
"ya.. tidak apa-apa, kau tenang saja. Sepertinya dagingnya sudah matang, mari kita makan."
__ADS_1
"mmm baik."
'apa karena dia masih anak-anak? Jadi dia tidak bisa merasakan, tekanan yang dikeluarkan orang itu?!'