
Dua jam sebelum Zion, bergabung dengan Ravella, dan para Spirit lain.
"Heeh..., Apa kau sudah berubah pikiran?? Bukannya kau sendiri tidak percaya tentang Ramalan??"
"Ya, aku memang tidak pernah percaya, akan tetapi.. Rasa penasaranku jauh lebih besar dari pada rasa tidak percayaku, Apa lagi ini menyangkut Putriku. Jadi, aku ingin kau memberitahuku tentang Ramalan tersebut Zion!!"
Zion yang awalnya enggan bercerita, akhirnya menyerah.
"Hah.. Baiklah. mungkin, hanya orang tertentu yang tahu.. Akan Ramalan ini."
Zion pun duduk seperti kucing, dan mulai menceritakan isi Ramalan tersebut.
"(Di katakan dalam sejarah kuno, seorang Dewi, penguasa dari segala Dewi, yang telah mengorbankan dirinya.. demi menyelamatkan kehidupan. akan terlahir kembali kedunia sebagai seorang manusia biasa, Dan.. Dimanapun ia terlahir, Sang Dewi akan membawa keberkahan dan keberuntungan pada orang di sekitarnya.
Kehadirannya tidak bisa di hindari.. Pesona akan paras cantiknya, bisa membuat siapapun tunduk padanya. Bahkan kecantikkannya tidak hanya mengundang manusia, tapi setiap mahluk di bumi akan selalu terpikat setiap kali melihatnya. Tidak hanya itu.. Para Dewa pun akan saling bertarung untuk memperebutkannya.
Kelahirannya akan mengubah dunia, namun.. jika ia terlahir dari keluarga yang kejam, Ia akan tumbuh membawa kehancuran bagi dunia. Tapi, jika ia terlahir dengan keluarga baik-baik dan dilimpahi dengan banyak perhatian dan kasih sayang.. Ia akan tumbuh menjadi seorang Dewi yang penuh dengan sifat welas asih, yang tidak dimiliki oleh siapapun.
Bahkan, kejahatan, keganasan, keliaran, kebuasan apapun itu.. Bisa ia jinakkan hanya dengan sentuhannya. Dan Putrimu adalah Dewi itu Nak.
Apapun yang sudah tersentuh olehnya, sanggup mengorbankan diri mereka hanya untuk melindunginya.
Tapi, yang jadi masalahnya..! kecantikkannya itu akan mengundang banyak rasa iri dan dengki. Kemanapun ia pergi, mereka yang membenci dengan kelebihannya itu.. akan berusaha menganiaya dan menyakitinya.
Apalagi sekarang, hampir semua kekuatan Putrimu telah lenyap, tidak tahu sejak kapan itu terjadi..! Tapi yang jelas, Ia harus memulainya dari awal lagi. Itulah isi Ramalan yang ingin kau dengar, percaya atau tidaknya itu semua terpulang padamu.
Dan cerita ini sudah sangat terkenal sejak lama di dunia Spirit, tidak hanya itu, Aku yakin Kaisar Penyihir dan si Ular Tua itu, juga sudah tahu akan Ramalan tersebut..! Apalagi setelah ia melihat kecantikkan Putrimu yang tiada duanya.)"
Lannox yang sejak tadi mendengarkan dengan serius, langsung terduduk menjatuhkan diri di kursi, karena kemustahilan yang ia anggap takhayul semata, telah banyak terbukti semenjak kekuatan Putrinya terbangun.
Mau tidak mau dia harus menerima kenyataan yang tak terelakkan itu, Lannox terdiam dalam lamunannya.. Melihat ekspresinya yang tampak terkejut Zion, tidak bisa berkata apa-apa.
'Dia pasti membutuhkan waktu untuk berpikir, sebaiknya aku biarkan saja dulu. Aku juga harus pergi menemui Kakek Jura, untuk membahas masalah lain.' setelah ia bergumam dalam hati, Zion berujar. "Nak, aku pergi dulu."
Melihat tidak adanya respon dari Lannox, Zionpun langsung menghilang. Tinggal Duke sendiri, terpaku dalam keheningan.
'Jika sudah begini, mustahil untuk tidak mempercayainya. Apa yang dikatakan Ramalan tersebut, beberapa sudah terbukti kebenarannya. Haah.. Aku harus melindungi Putriku, bagaimanapun caranya!! agar Putriku, bisa aman dari kejamnya dunia luar.'
__ADS_1
***
"Apa kau bisa.. Memegang tanggung jawab, dari sebuah kepercayaan yang telah di diamanahkan kepadamu??" tanya Kaisar menyeringai.
'Oh tidak.. Ini adalah pertanyaan menjebak!! Mungkinkah Paduka sedang mengujiku..? Jika salah bicara, bisa saja Beliau jadi berubah pikiran untuk memilihku. Aku harus berhati-hati dengan perkataan yang akan aku katakan..!' Rabarus tampak gelisah, ia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Hamba akan menanggungnya Paduka, sebagai ganti dari kerahasiaan tersebut.. Jika sampai hamba membocorkannya, hamba siap mempertaruhkan nyawa hamba."
Mendengar Rabarus mengatakannya dengan yakin, Sang Kaisar berseringai, sambil bertopang pipi, pada kepalan tangannya.
"Heh.. Tidak semudah itu Rabarus, bahkan nyawamu pun tidak akan membuat Amarahku reda."
Rabarus bergidik ngeri mendengarnya.. Keringat dari Api suci meleleh jatuh kelantai, tubuh Rabarus gemetar mendengar perkataan Sang Paduka.
"Gulp.. Ji-jika nyawa hamba tidak cukup.. Lantas, apa yang bisa hamba lakukan Untuk meredam kemurkaan Paduka??"
"Hem.. Hem.. Kau bahkan tidak akan bisa mati dengan mudah, aku akan terus menyiksamu sampai aku benar-benar bosan." Ujarnya menatap tajam kepada Rabarus.
'Mengapa Paduka berbicara seolah-olah akan menghukumku? Apakah aku telah melakukan kesalahan fatal..??'
'Hah.. Syukurlah.' Rabarus merasa lega. "Hamba akan mengingatnya, Paduka. Pa-Paduka.. Bolehkah hamba bertanya??" Ujar Rabarus gugup.
"Katakan."
"A-apakah anda sudah menerima hamba??"
Kaisar menatap Rabarus.. Sedangkan Rabarus tidak berani menatap matanya. Ia menunduk menunggu jawaban dari Kaisar, Setelah beberapa saat kemudian, Kaisar kembali mengeluarkan suara.
"Bukankah sudah kukatakan padamu, tanpa sumpah setiamu pun, kau memang sudah menjadi milikku. Jadi, jika kau ingin membuktikan dirimu padaku, maka tunjukkan kesungguhanmu."
"Te-terima kasih banyak Paduka, karena telah sudi menyelamatkan hamba dari kematian. Hamba berjanji.. akan berusaha lebih baik lagi agar Paduka mengakui hamba."
Setelah mendengar perkataan Rabarus, wajah Kaisar tampak datar tanpa ekspresi. Membuat Rabarus sulit menebak, apa yang Sang Dewa pikirkan.
"Rabarus.. Selain kau dan Jura, layaknya para Spirit lain yang tidak tahu siapa aku, dan wujud manusiaku. begitupun para penghuni langit, Mereka juga tidak tahu wujud mana beastku. Jadi, apa kau sudah paham maksudku??"
"Di mengerti Paduka.. Hamba akan menjaga rahasia ini sampai mati." Ujar Rabarus menunduk hormat.
__ADS_1
"Aku akan langsung keinti pembicaraan, Tiga minggu lagi.. Aku ingin kau kembali kemansion, untuk melatih keenam Spirit milik Permaisuriku."
"Baik Paduka, hamba akan... Egh, Per-mai-su-ri-ku...! Tu-tunggu dulu Paduka, apa maksud Paduka dengan Permaisuri..???"
Rabarus yang tadi bersikap santai, tiba-tiba langsung bingung dan terkejut bagai tersambar petir, untuk lebih meyakinkan dirinya. Ia mengulangi pertanyaannya, untuk mendapat jawaban Sang Kaisar.
"Tugasmu adalah menjalankan apa yang telah aku perintahkan, dan untuk saat ini, kau bebas tinggal di sini." Setelah ia berbicara.. Lalu Kaisarpun menghilang begitu saja, tanpa memberi jawaban. Meninggalkan Rabarus dalam kesendirian, dan terpaku pada kebingungan, yang dipenuhi banyak tanya di benaknya.
'Haah.. Terlalu banyak misteri yang tidak aku tahu. Dulu aku merasa, Jika aku bertapa dalam kurun waktu yang lama, artinya aku sudah bisa mengetahui apapun.
Tapi ternyata.. Aku masih belum ada apa-apanya dimata Paduka. Ketika bertemu Jura, aku akan mencari tahu masalah ini. Untuk memuaskan rasa Penasaran ku..! Hem.. di satu sisi, aku juga merasa sangat bahagia. Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan Putraku, aku akan memanfaatkan waktu yang diberikan Paduka, sebaik mungkin.'
Setelah lama berpikir.. Rabarus berjalan-jalan melihat istana Langit. Ia tampak begitu senang, selain di terima.. Ia juga di beri tugas langsung oleh Dewa. Ia juga tidak menyangka, akan menjadi seperti sekarang, dengan bentuk yang baru, bahkan jauh lebih sempurna dari sebelumnya.
'Apakah mungkin semua ini, memang telah di rencanakan Paduka.. sebelum aku lahir..!! Aku juga tidak pernah membayangkan akan menjejakkan kaki di istana Langit, bahkan sampai memiliki wujud yang sesempurna ini.
Hem.. Aku juga penasaran, bagaimana dengan sosok manusiaku..! Apakah masih sama seperti sebelumnya? Atau telah berubah seperti mana beastku yang sekarang!!'
Rabarus yang tengah berjalan-jalan langsung menghentikan langkahnya, ia melihat kedua tangan Rubahnya.. Yang dulu Api merah, kini telah berubah warna menjadi Api Putih.
Begitupun dengan Tanduknya.. Yang sejak awal hitam dan sekeras baja, kini telah berganti dengan bentuk Api yang bisa membakar apapun.
Ia lantas merubah dirinya kedalam wujud manusianya.. Dan segera berlari menghampiri kolam yang ada di halaman istana.
'Hah.. Syukurlah, ternyata hanya bentuk Mana Beastku saja yang berubah.' Rabarus merasa sangat lega.
Ia tersenyum.. Lalu melanjutkan kembali perjalanannya menjelajah seluruh istana.. Ia berjalan sambil bersenandung riang. Hingga terdengar suara yang misterius menyapanya.
Awalnya ia mengira itu hanya perasaannya saja.. Akan tetapi, suara itu semakin jelas dan terus berulang-ulang memanggilnya.
"Hei.. Kau, Pria asing.. Hei Pria asing, aku tahu kau mendengarku.. Hei Pria Asing.. Jangan berpura-pura BODOH, KEMARILAH."
Rabarus terus mencari suara tersebut, namun tidak ia temukan siapa pemilik dari Suara itu. Tak lama.. Terdengar lagi suaranya, sedang menertawakan Rabarus.
"Hahahaha.. Kau masih belum menemukan siapa aku, cih.. Berarti kau memang orang baru di sini..?" ujar suara misterius tersebut, yang membuat Rabarus geram, karena ia tak kunjung menunjukkan diri.
"Tunjukkan siapa dirimu? Jangan jadi pengecut yang hanya bisa bersembunyi." ujar Rabarus, mencari arah suara tersebut, sambil memperhatikan area sekitar istana.
__ADS_1