
Setelah kepergian Paus besar bersama teman-temannya, Belka tinggal sendiri, dan masih terjebak dengan pikirannya.. Ia terus mencari akal, untuk membuat Garda terbangun dari tidurnya.
Hingga ia sampai pada batas kesabarannya.. Dan beranjak pergi meninggalkan Garda yang masih fokus dengan semedinya.
Ia kembali ke Istana, dan melaporkan semua yang terjadi kepada Sang Raja.. "Jadi, karena itu kau kembali kemari..!" tanya Raja menatap Tajam pada Belka.
"B-benar Yang Mulia.. S-saya siap menerima hukuman apapun dari Yang Mulia Raja. asal, jangan suruh saya kembali untuk menggodanya, k-karena s-saya benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menggoda seorang Pria, Yang Mulia!" ujarnya langsung membungkuk takut.
Raja memperhatikan wajah lelah Belka yang tampak sedang ketakutan, namun tetap memberanikan diri mengutarakan penolakan. lalu Raja bergumam dalam hatinya.. 'Haah.. Wajar saja jika ia menolak untuk melakukannya lagi, jangankan dia, aku saja yang bergelar seorang Raja! Juga menyerah dengan misi ini.
Aku telah gagal melakukan yang seharusnya telah menjadi tugasku. Ini salahku, karena telah memilihnya yang tidak berpengalaman dalam hal ini.'
"Hmm..., Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Aku tidak akan menghukummu, kau bisa pergi sekarang." Ujarnya tampak malas, dan membuang wajahnya kearah lain.
Mendengar perintah dari Rajanya.. Ekpresi Belka yang tadinya sudah pasrah dan siap menerima hukuman, kini berubah menjadi secerah matahari. "Te-terima kasih atas kebaikan Yang Mulia yang tak terhingga." ujarnya kegirangan.. Lalu pamit untuk pergi.
Ia pun keluar dari Istana, dari kejauhan tampak wajah Raja sedang gundah sambil bertopang dagu pada salah satu tangannya. 'Hem.. Yang Mulia juga pasti sedang kebingungan saat ini..! Aku bersyukur Yang Mulia Raja, tidak menghukum ku.' gumamnya dalam hati, lalu pergi meninggalkan Istana tersebut dangan hati riang.
Akan tetapi.. jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih terkenang wajah Seorang Pria Berkulit Biru, yang telah merebut hatinya. Tampak Rona Merah di kedua pipinya mulai mekar, dan Belka hanya bisa tersipu mengingat sosok tersebut.
Belka menepuk kedua pipinya.. 'Haah.. Apa yang aku pikirkan? Mungkinkah aku sedang sakit!!' pikirnya sambil memegang kedua pipinya yang merah.
*****
Zion menatapnya tajam, dan Serigala tersebut hanya menunduk diam, menatap Pasrah pada daun-daun yang berguguran di atas tanah. Lalu bergumam pelan.."Heh.. A-aku benar-benar menyedihkan, b-bahkan pasukanku sendiri, meninggalkan aku! Hah... L-lakukan saja dengan cepat tanpa rasa sakit, aku sudah siap." Gumamnya pada Zion, tanpa melihat wajah Zion.
Dan apa yang terjadi selanjutnya.. Mebuat Serigala Hitam itu tidak percaya dengan penglihatannya.
Zion meniupkan hawa murni pada luka Serigala hitam tersebut, yang membuat Serigala Itu tidak percaya dengan apa yang di saksikannya saat ini!
"Ke-kenapa kau menolongku? Bukankah, kau datang untuk membalaskan demdammu padaku!!" tanyanya menatap aneh pada Zion.
Setelah mengobati Serigala itu.. Zion mundur selangkah dan menatap Serigala tersebut, dengan satu alis yang terangkat keatas.
"Hem.. Setiap mahluk berhak mendapat kesempatan, selama mereka berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Begitu pun dengan dirimu!
Aku selalu memberi kesempatan pada rakyatku." ujar Zion lalu berjalan beberapa langkah menjauh dari Serigala Hitam. Zion meniupkan sesuatu kearah lain, yang membuat Serigala itu terkejut untuk kesekian kalinya.
"A-Apa itu???" ucapnya spontan, karena takjub.
__ADS_1
Tampak sebuah… gerbang portal bewarna putih ke abu-abuan, kini sedang terbuka lebar setelah Zion meniupkan sesuatu. Sebuah dinding membelah udara muncul dihadapan keduanya.. Zion yang sedang memunggungi Sang Serigala Hitam!
Melirik sekilas ke arahnya.. Dengan tatapan yang penuh arti. Ikuti aku.." setelah ia mengucapkan kalimat tersebut, ia pun berjalan masuk kedalam Portal.
Serigala itupun bangkit dan mengikuti Zion dengan patuh... Dan saat ia masuk melewati portal tersebut, tampak seluruh Rakyat dari berbagai Ras, sedang mennunduk hormat menyambut kedatangan Zion.
"Selamat datang kembali wahai Yang Mulia Raja.." seru semuanya kompak.
Zion melihat Rakyatnya yang telah berjejer rapi di lapangan hijau.... Lalu Zion bergumam pada semuanya!
"Bagaimana kalian tahu kedatanganku..!" tanya Zion menguji.
Salah Satu dari mereka maju kedepan, dan mewakili semuanya untuk berbicara. "Kami melihat gerbang tiba-tiba terbuka, dan kami tahu jika itu adalah Yang Mulia, dan segera berkumpul di sini untuk memyambut kedatangan Yang Mulia." ujar Singa Muda tersebut.
"Hem.. Terimakasih telah menyambutku. Namun, Bisakah kalian tinggalkan aku, karena ada yang aku ingin berbicara pada tamuku!" ujar Zion melirik sekilas pada Serigala Yang ada di belakanganya.
"Baik Yang Mulia.. Kalau begitu kami pamit dulu." ujarnya patuh.
Setelah mendengar perintah dari Rajanya.. Mereka kembali membubarkan diri, Dan meninggalkan keduanya untuk berbicara secara empat mata.
"Apa kau sudah percaya sekarang??" Tanya Zion, sambil duduk di atas singgasanan milikya.
"Bagaimana kau bisa berada di alam Manusia..?" tanya Zion, heran!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di Zona Mana. Jura yang tengah duduk di jendela sambil menyilangkan kedua tangannya. Memandang keluar, tampak kelima Telur sedang tergantung di langit.
Sedangkan Gapi sedang tertidur nyenyak di atas kursi... Dari kejauhan, tampak Rabarus sedang memeriksa kondisi telur dengan teliti. Jura hanya memperhatikan dari jauh, apa yang sedang di lakukan Rubah Api tersebut.
Setelah selesai, ia kembali ke Markas. Tampak Naga hitam sedang memperhatikan sosoknya yang baru saja tiba.
"Ada apa? Kenapa kau kembali kemari, bukankah kau bersama Dewi?" tanya Rabarus langsung tiarap, bertopang dagu pada kedua tangannya.
Jura masih bungkam.. Rabaruspun tidak memaksanya dan hanya menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakan Jura nanti.
Dan beberapa menit kemudian, Jura mengeluarkan suaranya. "Aku tidak tega, saat melihat Masterku bersedih merindukan sosok Ibunya!"
Rabarus menoleh pada Jura yang sedang bersandar di bingkai jendela, dan menatap kelangit terang.
__ADS_1
"Eum.. Apa maksudmu?" Tanya Rabarus belum mengerti.
"Tadi, saat aku ingin menghampiri Masterku! Secara tidak sengaja, aku melihat kedua anak manusia itu sedang menangis pilu karena rindu.
Keduanya sama-sama merindukan sosok yang telah tiada! Dan aku mendengar pembicaraan keduanya.. Yang amat sangat merindukan Sosok wanita yang telah meninggalkan mereka.
Aku memang tidak mengerti akan hal itu! Tapi, perasaan Dewi tersampaikan padaku. Dan perasaan ini benar-benar menyesakkan dadaku.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu hingga kerinduan dan kesedihan beliau mereda. Karena itu aku membiarkan kedua anak manusia itu, menghabiskan waktu bersama menikmati kesedihan mereka. dan tiba di sini." ujarnya yang kembali terdiam.
Sesekali angin datang menerpa meniup rambutnya yang mulai panjang.. Rabarus tersenyum bijak, Ia pun mulai berbicara layaknya orang tua kepada anaknya.
"Hem.. Itu adalah hubungan yang sangat dalam, dan telah terjalin sangat kuat. Dan hanya waktu yang bisa menyembuhkan lukanya. Terkadang, kenangan itu datang kembali bagai angin, memberi kesejukan yang menimbulkan kerinduan.
Dan saat rindu itu datang berkunjung, tidak ada yang bisa menghindarinya..! Walau sekuat dan sehebat apapun orang tersebut menahannya. Mereka tidak akan mampu menolak kehadirannya!
Jadi, sangat wajar jika Dewi sampai bersedih dan menangis. tenggelam dalam perasaan tersebut. Itulah yang dinamakan KENANGAN! Jika kenangan itu sangat indah, ia akan membawa kerinduan bagai musim hujan.
Karena tidak bisa tertahan ingin segera bertemu, dan memeluk melepaskan kerinduan. Sedangkan jika kenangan yang didapatkan karena pengkhianatan..! Ia malah akan memberikan badai, yang membuatmu bergejolag ingin marah dan timbul rasa benci. Hingga bisa melahirkan dendam bagi sebagian orang.
Sedangkan kenangan yang dihasilkan karena kesalahan di masa lalu, Hingga melahirkan penyesalan teramat dalam. Itu lebih berbahaya dari keduanya.. Rasa menyesal itu bagai Racun, yang menggerogotimu dari dalam.
Setiap kali kau bertemu dengan orang yang pernah kau sakiti.. Kau akan merasa menyesal dan malu untuk berhadapan dengan mereka, dan juga marah pada diri sendiri yang pernah menyakitinya.
Meskipun kau berusaha memperbaiki semuanya.. Tapi semua itu tidak akan kembali dan tidak lagi sama seperti sebelumnya." ujarnya lalu terdiam sejenak. Ada raut kesedihan tergambar di permukaan wajahnya yang tampak lebih muda dari usianya. Beberapa detik kemudian, ia kembali berbicara. "Aku telah mengalami asam garam kehidupan! Kelak kau pun akan mengerti semua itu Nak.
Terkadang, perasaan sering bertindak egois seolah ia adalah Raja, hingga mengabaikan logika. Berpura-pura buta, dan tuli terhadap apa yang terjadi. Namun, jika kau bisa menguasai perasaanmu, dan menggunakan akalmu!
Kau bisa melihat kebenaran tanpa menghakimi. Dan itu semua terpulang pada individu masing-masing.. Karena di dalam kehidupan, banyak misteri yang tidak hanya bisa kau teliti menggunakan perasaan, dan akal.
Karena semua bisa terjadi di luar nalar tanpa bisa kau mengerti maknanya, hidup ini ada yang tersurat dan tersirat. Kita sebagai mahluk, hanya bisa menjalaninya dan berusaha mencari jawaban itu sendiri." ujarnya kembali memandang langit yang masih tampak terang.
Jura hanya terdiam sejak tadi, dan lima detik kemudian.. Ia kembali mengutarakan pikirannya.. "Cih, kau berbicara seperti seorang filsafat tua yang sudah jauh mengembara. Jangan-jangan tumpukan buku di ruangan perpustakaanmu itu, adalah hasil penelitianmu selama ini, tentang mencari makna kehidupan!!?" ujar Jura menyeringai.
"Hem.. Ya, itu sangatlah wajar. karena aku suka membaca dan meneliti segala sesuatu yang menurutku unik hihi..." ujarnya nyengir tanpa dosa.
"Cih! Kau jadi terlihat sangat mengerikan Pak Tua, seperti peneliti maniak yang mencari bahan untuk di uji." ujar Jura yang tiba-tiba merinding membayangkan Rabarus, terobsesi pada penelitian.
"Cih, dasar bocah semprul, aku berbicara panjang lebar dari tadi agar kau mengerti, dan kau malah menganggapku gila..!! Dasar, tidak sopan." gerutu Rabarus kesal.
__ADS_1
Jura hanya tersenyum selimpulmelihat reaksi kesal Rabarus, dan sengaja menyelipkan canda, agar tidak terlalu terbawa suasana.