
Zion masih berpikir tentang siapa yang ada disebelah argus. 'dia tidak kelihatan mengancam, sebenarnya apa yang dia lakukan? Beberapa hari ini anak itu sering berkeliling tidak jelas! Apakah ada yang dia cari.. hmm mencurigakan sekali, aku harus lebih memperhatikannya! Oh iya.. Hanya satu tempat yang belum aku kunjungi, mereka pasti ada disana.'
(zaku) 'cih, sialan saga, dia langsung memotongku saat bicara. Haah dia memang jarang bicara! Tapi sekali bicara.. Omongannya suka benar. Menyebalkan, dia lebih kurang mirip seperti jura. Apa karena mereka sama-sama ras naga! Ah sudahlah, sebaiknya lupakan masalah ini.. aku harus segera kembali kezona mana. Diantara semuanya, cuma aku sendiri yang masih belum latihan. Waktu yang kaisar katakan sudah semakin dekat, aku harus segera memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin.'
Zaku kembali kezona mana, dan bersemedi disana. Karena dizona mana lebih aman tanpa gangguan dari siapapun, sedangkan tama, sudah tiba dipulau yang disebutkan. Ia masih dalam wujud manusianya, ia melihat sekeliling pulau, hanya keheningan yang ada disana. 'persis seperti yang dia katakan, aku bahkan tidak merasakan adanya kehadiran dari kehidupan mahluk lain disini.' tama langsung bertransformasi kewujud rubahnya namun ia hanya membuat tubuhnya seukuran gajah.
"hahahahaha.. Akhirnya kau datang menerima panggilanku bocah!' terdengar suara tertawa bergema dipulau itu, bahkan suara tertawanya saja bisa menggetarkan seluruh daratan yang dipijakki oleh tama. 'sialan apa-apaan ini, suaranya saja bisa membuat pijakanku tidak stabil. Siapa sebenarnya yang akan kutemui?' tama mulai berjalan diudara, ia berjalan pelan semakin tinggi, untuk memperhatikan kondisi pulau tersebut. "cepat tunjukan dirimu, sialan."
"cih, mulutmu kasar sekali bocah, apa begitu caramu berbicara kepada yang lebih tua."
"tua kepalamu, wajahmu saja tidak kelihatan, bagaimana bisa aku percaya dengan kata-katamu." namun dalam hatinya. 'aku yakin, jika dia tau berapa usiaku, dia pasti akan terkejut mendengarnya.'
"tidak semudah itu kau melihat wujudku bocah, aku tidak akan menunjukkannya dengan mudah kepadamu. Sebelum melihatku, kau harus melewati beberapa ujian dariku."
"cih, jangan bercanda sialan. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu! Cepat tunjukkan siapa dirimu, dan katakan apa maumu? Jika tidak, aku akan kembali."
"hahaha kau tidak akan bisa pergi kemanapun, kau harus mematuhi peraturan yang sudah ditetepkan untukmu."
"omong kosong apa yang kau bicarakan, jangan mengada-ngada. Tidak ada yang bisa melarangku, haah.. ternyata aku hanya buang-buang waktu datang kemari." tamapun pergi mengabaikan apa yang dikatakan suara tersebut, namun saat dia akan beranjak pergi meninggalkan pulau itu..! tiba-tiba saja dia sudah berada ditempat yang gelap, dan tak berpenghujung. "sialan apalagi ini.."
"seperti yang sudah kubilang, kau tidak akan bisa pergi kemanapun, jika tidak menyelesaikan ujian yang telah aku berikan untukmu!"
"cih, jangan main-main sialan." tama melihat kesekeliling. 'siapa sebenarnya bedebah yang tidak jelas wujudnya? kemanapun aku pergi.. Yang kutemukan hanyalah kegelapan. Apa-apaan tempat ini..! Tidak mungkin aku tidak bisa melewati tempat ini sama sekali, aku akan mencoba berteleportasi....' tak lama setelah ia mencobanya. 'Heh, kenapa aku masih disini? Apa-apaan tempat ini.. Bahkan, hanya untuk bertemu dengannya saja sampai harus melewati tes seperti ini..!' tama benar-benar tidak bisa berpindah kemanapun, meskipun beteleportasi ketempat yang ia inginkan.
(gira) "darimana saja kau jura! Apa misimu sudah selesai?" tanya gira kepada jura, yang baru saja muncul dan melihat ketiganya sedang menunggu jawaban.
(jura) "aku baru saja selesai dari misiku, apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa wajah kalian, kelihatan menyebalkan!"
(gira) "heeh.. bukannya wajar kami seperti ini, melihat bagaimana k.."
(jura) "dimana zaku? Bukannya dia bersama kalian! Kenapa sekarang dia tidak ada disini..!!" jura memotong pembicaraan gira, dan melirik kekiri dan kekanan seolah mencari sesuatu.
__ADS_1
(saga) "entahlah, dia pergi begitu saja.. tanpa mengatakan apapun!"
(jura) "heh.. Tumben sekali, biasanya.. Jika dia bersikap seperti ini, pasti dia sedang kesal."
(roya) "heh.. Wajar saja dia terlihat kesal, karena dia habis melakukan kesalahan."
(jura) "ha.. Apa maksudmu?"
(roya) "entahlah, kau tanyakan saja.. Pada anak itu!"
(zion) "cih, jadi disini kalian berkumpul! Pantas saja aku cari kemanapun tidak ada."
(gira) "ada apa kau mencari kami? Tumben sekali..!"
(zion) "oh ada yang inginku tanyakan kepada kalian para kakek!"
(jura) "katakan ada apa?"
(roya) "tidak, ada apa dengannya!"
(zion) "ya.. Aku kurang suka dengan anak itu..! Jika kalian menanyakan jawabannya, aku juga tidak tau. Tapi entah kenapa! Aku tidak suka saja melihatnya adadisini, untuk itu.. Aku mencari kakek sekalian. Untuk mengingatkan, berhati-hatilah jika kalian bertemu dengannya! Karena aku merasa dia sedang menyelidiki sesuatu, namun aku tidak tau pasti itu apa!"
(saga) "ya.. Kau tenang saja, kami akan berhati-hati dengan keberadaan kami."
(jura) 'hmm.. Sepertinya anak ini juga merasakan sesuatu yang mencurigakan, pada bocah elf itu! Aku tau dia sedang mencari keberadaan kami, jadi aku harus mengingatkan yang lainnya agar tidak keluar dulu, untuk sementara.' jurapun memperingatkan saudaranya. "teman-teman, aku sarankan untuk sekarang, kita jangan keluar dulu. Apalagi mulai saat ini.. kita harus menjaga dewi ekstra ketat, karena kita tidak tau kapan musuh mulai menyerang, hanya untuk berjaga-jaga saja, kita harus tetap berada disisi dewi. Begitupun denganmu zion! Bukankah kau sudah mendengarnya dari zaku, akan tugasmu!"
(zion) "ya, aku sudah mendengarnya dari kakek, lagian.. Akhir-akhir ini pemandangan dimansion juga menjadi tidak indah lagi, sejak kehadiran bocah elf itu! Jadi kakek tenang saja, aku akan tetap disini menjaga dewi."
(jura) "hem. Itu lebih baik." jura merenung sejenak. 'untuk Sekarang, aku bisa mencegah mereka agar tidak keluar, tapi.. Hanya tama, dan zaku, yang tidak ada disini. Semoga saja kedua anak itu, cepat menyelesaikan urusan mereka.'
Roya menatap jura sedikit mencurigakan, untuk melepaskan rasa penasarannya, yang sejak tadi mengganjal, iapun bertanya kepada jura.
__ADS_1
(roya) "lantas, misi apa yang kau lakukan! sampai tidak memberitaukan kepada kami?"
(jura) "aku tidak bisa mengatakannya kepada kalian, karena ini adalah titah dari kaisar sendiri." ucap jura tegas, membuat yang lainnya bungkam.
(roya) 'hmm.. Jika itu titah dari kaisar, pasti itu sangat rahasia. Apalagi jura sudah lebih dulu berevolusi dari kami semua, jadi pasti tugas yang lebih berat dibebankan kepadanya. Ya.. Jika itu memang titah dari kaisar.. Tidak ada yang bisa kukatakan lagi.' setelah mendengar jawaban yang dia inginkan, iapun merasa lega. "omong-omong dimana tama? mengapa aku tidak melihatnya!" ujarnya berpura-pura tidak tau.
(saga) "entahlah, dia bilang ada yang ingin dia pastikan!"
(roya) "begitu ya..! Apakah itu hal penting?"
(gira) "kita akan tau nanti, saat ia kembali."
...----------------...
Dikota baru, rafael sedang duduk diatas singgasana miliknya, ia tampak begitu bosan. Para bangsawan yang menghadiri aula tersebut, terlihat gugup dan tidak bergeming sama sekali. Mereka takut untuk bersuara.. Sebelum rafael mengeluarkan suaranya terlebih dulu. Semuanya saling melirik, namun tidak ada satupun yang berani berbicara, semuanya tiba-tiba melemparkan pandangan mereka kepada lukas, Lukas yang mengetahui maksud dari tatapan tajam para bangsawan, malah berpura-pura tidak melihat tatapan mereka.
'enak saja, mereka yang lebih tua saja.. tidak berani berbicara lebih dulu! Apa lagi aku, melihat bagaimana sifat kaisar yang sekarang! dia sangat berbeda dengan mantan raja. Jika sembarangan berbicara kepadanya, perkataan yang bersifat menyinggungnya, aku yakin.. Kami bisa tinggal nama saja. Aku juga sering mendengar, desas-desus tentang dirinya. Ada saatnya dia bersikap tenang, tapi selebihnya ia lebih terkenal dengan pembunuh berdarah dingin, Ya.. berbeda tipis dengan sang duke diwilayah utara.'
"ini sangat membosankan, jika tidak ada yang ingin kalian katakan, aku akan kembali untuk istirahat." mendengar pernyataan dari rafael, salah satu dari bangsawan tersebut, akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. Duke rovel maju kehadapan rafael, dan menunduk hormat kepada pemimpin baru itu. Namun, rafael keburu sudah hilang dari singgahsananya.
"kita terlambat, beliau sudah pergi lebih dulu. Apakah memang begitu sifat baginda kaisar!" ujar marquees dozer kepada yang lainnya.
"Aku tidak heran, mungkin karena sifat beliau yang masih muda, Jadi beliau mudah merasa bosan, jika terlalu lama berada disuatu tempat." ujar baron aisher bijak.
"tumben sekali anda terlihat banyak diam, tuan lukas. Bukankah terhadap mantan pemimpin terdahulu, anda sangat santai untuk mengajukan pendapat." ujar duke rovel menyindir, dan sedikit tidak senang, Karena dia merasa diabaikan oleh lukas. 'meskipun dia seorang penyihir, tapi derajatnya juah lebih rendah dariku. Berani-beraninya dia mengabaikanku!'
"bukankah memang sudah sepantasnya, tuan lukas tidak berbicara lebih dulu, menurut peraturan yang telah dibuat oleh para bangsawan, sudah tepat jika seorang duke membuka pembicaraan lebih dulu, setelah baginda kaisar." ujar baron aisher menengahi, Duke rovel tampak tidak senang dengan jawaban baron aisher, Yang tampak lebih memihak lukas.
'sialan, kenapa dia jadi memihak anak itu! Bukankah dia hanya penyihir yang berasal dari rakyat biasa, bahkan didalam darahnya, tidak ada campuran darah bangsawan, sedikitpun.' duke rovel kelihatan kesal, sementara yang lainnya, hanya diam menikmati tontonan tanpa memihak keduanya.
'bicara saja apa yang kalian suka, aku tidak peduli. Enak saja mereka ingin menmanfaatkanku agar menjadi tameng buat mereka! Sementara mereka saja yang ngakunya bangsawan, tidak berkutik sama sekali saat berhadapan dengan kaisar, nyawaku ini terlalu berharga, jika dikorbankan untuk mereka, Sungguh tidak layak.' lukas tidak peduli, dan ia juga tidak menganggap duke rovel ada. "terserah bagaimana anda beropini tentang saya, saya tidak peduli. Hmm karena baginda kaisar sudah pergi meninggalkan tempat ini, kalau begitu.. sayapun akan undur diri dulu." lukas dan kedua temannya yang lain, ikut menunduk hormat, kepada sang duke. Lalu disusul oleh baron aisher, yang juga menunduk hormat dan pergi menyusul lukas dkk.
__ADS_1
'cih, bocah-bocah sialan, sejak kapan lukas jadi seberani itu?' duke rovel menatap punggung lukas dengan penuh kebencian, dan dari sini.. Mulailah terjadi perpecahan antara para kaum bangsawan. Sebagian ada yang memihak kubu lukas, dan sebagian lagi ada yang berpihak pada kubu duke rovel.