
Tama dan Spirit lainnya.. Pergi meninggalkan Putri Ravella, dan Sang Ayah. Keduanya makan siang bersama. Sedangkan Gapi, yang berada dalam pelukan Tama, tampak gemetaran dan ketakutan. Melihat itu.. Tama menenangkannya, dan mengelus kepala Gapi, agar ia tidak takut.
"Apa yang kau takutkan nak?"
Gapi melihat pria tampan berambut oranye, sedikit bergelombang. Sedang menatapnya lembut.
"A..aku.. Aku takut dengan Ayah Dewi, dia menakutkan paman."
"Hmm.. Apa yang kau takutkan dari anak itu?" Tanya Tama, masih belum mengerti.
Tiba-tiba Jura.. Yang ada disamping Tama, berbicara menceritakan apa yang ditakuti Gapi.
"Tentu saja dia takut, anak itu pernah mengikatnya di pohon seharian. Kebetulan aku melihatnya.. Jika tidak, ia akan mati kelaparan dengan keadaan terikat." Ujarnya menjelaskan.
"Apa... Bocah itu menghukum anak ini sampai seperti itu!! Pantas saja anak ini sering ketakutan, setiap kali melihatnya. Lalu, apa Dewi sudah mengtahui hal ini..?" Tanya Tama memastikan.
Jura hanya menjawab dengan gelengan kepalanya, tiba-tiba Zaku berceletuk.
"Kalau Dewi tahu! Dia pasti akan bertengkar hebat dengan Ayahnya. Jika itu sampai terjadi, bocah itu pasti akan di melampiaskannya pada anak ini, karena telah di anggap mengadu."
"Benar, bocah itu tipe pendendam, dia akan membalas berkalipat dari apa yang dia terima." Ujar Saga, setuju.
"Sebaiknya anak ini harus selalu ada disisi Dewi, jika pun Dewi sedang tidak bisa bersamanya.. Maka salah-satu dari kitalah yang harus menemani anak ini." Ujar Gira, menyarankan.
"Kau benar! Saat dia tidak bersama Dewi, salah satu dari kita harus ada di sampingnya. Aku tahu dia bersikap protektif terhadap Dewi, Tapi ini sangat berlebihan." Sambung Roya lagi.
"kalian tenang saja.. Selama masih ada aku, tidak akan kubiarkan anak ini di aniaya oleh Masterku." Celetuk Zion.
"Hem.. Ya sebaiknya memang begitu." Ucap Tama.
"Kek, omong-omong siapa kedua bocah tadi?" Tanya Zion, kepada yang lainnya.
"Oh.. Kau masih belum mengetahuinya!" Tanya Tama, kepada Zion.
"........ " Zion menggelengkan kepalanya.
"Merekalah anak angkat Dewi."
"Apa....!! Bukankah mereka terlalu besar untuk menjadi anak Dewi?" keterkejutan Zion, tidak aneh lagi menurut Para Spirit.
Karena kedua anak-anak tersebut pun mempunyai ekspresi yang sama seperti Zion, keterkejutan juga terjadi saat keduanya pertama kali melihat sosok anak kecil, sebagai ibu mereka.
"Masa kau tidak mengetahuinya sama sekali.." Tanya sang Kakek.
"Bukannya tidak tahu, aku memang pernah mendengar! Jika Dewi, ingin mengadopsi anak-anak panti. Tapi aku tidak menyangka, jika anak-anak yang ingin Dewi adopsi adalah, mereka berdua!!" Ujar Zion Jujur.
Ketujuh Spirit, beserta Gapi, berhenti di dekat Gazebo yang ada di danau. Semuanya duduk disana melihat keindahan danau hijau tersebut, di tengah keheningan yang menghiasi mata.. Terbentang danau yang sangat luas, dan kedua gunung yang menjulang. cuaca yang agak dingin di musim gugur.. Tidak berpengaruh sedikit pun terhadap para Spirit, Kecuali Gapi.
Menyadari tubuh Gapi gemetaran kedinginan.. Tama membuat menghangatkan tubuh Gapi, dengan sihirnya.
"Apa kau masih kedinginan?"
"hehe.. Sudah tidak lagi, terima kasih Paman. Tapi, kenapa kalian tidak kedinginan sepertiku?" Tanya Gapi polos.
__ADS_1
"Tentu saja kami berbeda denganmu!!"
"Kenapa bisa begitu Paman?"
...****************...
Sementara Dean, dan Robi, saling bertatap muka, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.. Melihat eskpresi keterkejutan mereka berdua, Roland pun langsung bertanya.
"Apa kalian saling kenal?" tanyanya kepada kedua pria tersebut.
"Benar, dia adalah temanku." Jawab Dean.
"Ya aku mengenalnya!"
'Jawaban yang mereka keluarkan berbeda.' Pikir Roland menyelidik. "Baiklah, kalian bisa sambung lagi reuninya nanti, saat ini.. aku harus mengantarkan tamu kita untuk menemui kepala pelayan. Ayo anak-anak.. Mari kita pergi."
Melihat ajakan Roland, Dean mengangguk dan melihat kearah Rog, dan anak kecil yang ada disampingnya.
"Kau berhutang penjelasan kepadaku kawan, aku akan menantikannya." Ujarnya kepada Ron yang sudah beberapa langkah meninggalkannya, Dengan banyak pertanyaan.
Mendengar apa yang dibicarakan mantan Partnernya itu.. Rog tersenyum dan menghentikan langkahnya, tanpa menoleh lalu berseru.
"Begitupun aku, baiklah sampai nanti." Ujar Rog berlalu pergi.
Dean melihat punggung temannya, yang semakin lama semakin menjauh dari pandangan. Melihat itu, Robi pun menepuk pundak Dean, dan menanyakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Hei.. Apa tadi itu temanmu?"
Tepukan Robi, menyadarkan lamunannya. Dean, lalu menghelah nafas Panjang. Begitupun kesatria lain yang ikut penasaran, dengan yang baru mereka saksikan tadi.
"Hmm.. Hmm.. Sepertinya banyak yang kalian ingin bicarakan, Kalau begitu, kalian butuh waktu untuk berbicara empat mata!" Ujar Robi, yang diangguki Dean.
"Kau benar."
...***...
Di sisi lain, Rog yang juga sama terkejutnya sedang di landa ketakutan dengan keberadaan Dean.
"Kakak.. Dia siapa? Apa benar dia teman kakak?"
"Ya." Jawabnya singkat.
"Oh." melihat Kakaknya seakan malas membahas hal tersebut, Ron pun berhenti bertanya. Ia mengurung rasa penasarannya.. Dan hanya memperhatikan kesatria yang ada didepan mereka.
"Sir.. Maaf sebelumnya, bolehkah saya bertanya?"
"Tentu, apa itu?"
"Sebenarnya ini dimana? Dan siapa lady yang bersama Pria tampan yang menakutkan tadi..?"
Mendengar pertanyaan polos keluar dari mulut anak tersebut, Roland langsung tertawa.
"Hahahaha.. Kau benar nak, pria tadi memang menakutkan. Untuk itu kau harus berhati-hati jika bertemu dengannya. Dan sekarang kalian ada di Mansion." Ujarnya yang langsung berubah ke mode serius.
__ADS_1
"Memangnya kenapa Sir?"
"Beliau adalah seorang Duke, dan jika ada sesuatu yang menyinggung beliau, maka beliau tidak akan segan menghukummu. Apa lagi jika itu bersangkutan dengan Putrinya."
"Apa...!! Jadi beliau seorang Duke?" Ujarnya terkejut. 'Pantas saja dia terlihat marah.'
"Benar, apa kalian pernah mendengar singa kekaisaran?" Jawab Roland melihat keduanya.
"Ya.. Aku pernah mendengarnya, beliau terkenal sangat dingin dan kejam, namun juga sangat kuat."
"Yah, ternyata kau cukup mengenalnya."
Sementara Rog yang sejak tadi hanya diam, tidak terlalu fokus dengan pembicaraan keduanya. Ia larut dalam pikirannya sendiri.. Pertemuannya dengan Dean, membuat hatinya merasa gelisah, susana hatinya saat ini jadi tidak menentu, bayangan Dean terus mengganggu pikirannya.
Dan tanpa ia sadari, ketiganya pun telah sampai di depan pintu ruangan kerja Kepala pelayan Ranov.
"Nah anak-anak kita sudah sampai. Tok.. Tok.. Tok.."
Terdengar suara dari balik pintu.
"Masuk."
"Ceklik, Kepala pelayan, saya datang kesini membawa pesan dari Yang Mulia."
"Apa itu?" Tanya sang kepala pelayan, kepada Roland.
"Yang Mulia Memerintahkan anda, untuk memberi kedua anak-anak ini makanan, dan kamar yang layak, dan memenuhi segala kebutuhan mereka. Karena mulai hari ini, kedua anak-anak ini akan tinggal di sini."
Ranov, seketika terkejut mendengar apa yang Roland katakan, Berbagai pertanyaan muncul di benak kepalanya. Ia memperhatikan dengan teliti dari ujung kepala sampai ujung kaki.
'Hmm.. Melihat dari pakaian yang mereka kenakan. sepertinya mereka bukan berasal dari sini, mereka juga bukan bangsawan. Apa yang terjadi pada Yang Mulia? Bagimana bisa beliau melakukan sesuatu yang tidak pernah beliau lakukan!! Beliau sendiri tidak suka ada orang asing menempati wilayahnya, hmm.. aku akan mencari tahunya nanti.'
"Baiklah, anda bisa kembali sir Roland. Mulai dari sini, saya akan mengurus semuanya."
"baiklah, Kalau begitu saya pergi dulu."
Ketika Roland keluar meninggalkan kedua anak-anak itu, tanpa menunggu lama, Ranov pun langsung membawa kedua anak-anak tersebut menuju kamar.
"Silahkan, di sini adalah kamar anda berdua, jadi kalian bebas memilih kamar yang mana pun kalian suka. Sebaiknya anda berdua membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu.. Saya akan menjemput anda berdua untuk makan siang."
"Baiklah, terima kasih." Jawab Rog sopan.
Setelah kepergian kepala pelayan, keduanya pun masuk ke kamar masing-masing.
"Kakak, kamu pilih yang mana? Yang mana saja, kalau begitu kau masuklah dulu. Kakak akan memilih kamar yang satu lagi."
"Baik kak.. Aku masuk dulu."
Setelah itu, Rog pun masuk ke kamar barunya.
'Sangat mewah dan besar, aku tidak pernah berpikir akan tinggal di tempat seperti ini.. seharusnya kami tinggal berdua, di kamar seluas ini. Haah.. Tapi jika tinggal berdua, aku akan sulit berpikir jernih.
Bagaimana bisa Dean ada disini? dan mengenakan seragam kesatria! Apa Jangan-jangan dia sedang dalam misi..!! Aku harus hati-hati pada anak itu, siapa tahu dia sedang merencanakan sesuatu.
__ADS_1
Apa lagi.. aku telah kabur begitu saja dari markas tanpa mengatakan apapun, sudah pasti pak tua itu mengincarku. Aku harus berhati-hati dan mencari tahu, apa yang sedang di lakukan anak itu di sini.