
Ravella tersenyum mendengar jawaban dari Jura, di dalam hati ia bergumam ngeri.. Saat teringat peristiwa tentang Pria malang, Yang berniat menyakiti Dewinya itu.
Di tempat lain.. Tampak telur raksasa sedang mengambang menunggu proses evolusi selesai. Rabarus masih berbaring dan tampak sedang tertidur.
Sedangkan Duke, masih terjaga menunggu Putri keasayangannya. Yang sejak tadi masih belum kembali. Duke, mengeluarkan jam dari saku jasnya.. Tampak waktu sudah memasuki pukul delapan belas.
Matanya yang tadi tenang kini tampak melebar, karena tidak terasa waktu yang sudah mereka habiskan hampir seharian. Ia lantas memasukkan kembali jam tersebut kedalam sakunya, dan memperhatikan area sekitar tempat ia duduk sekarang.
tampak pohon-pohon besar di sekitar bergoyang-goyang tertiup angin.. Sesekali ia memandangi telur raksasa yang tergantung di udara.
Ia terus memperhatikan suasana di sekelilingnya, sambil menunggu Putrinya dengan sabar.. Namun, waktu terus berlalu, beberapa jam telah terlewati. Dan sekarang sudah memasuki pukul dua puluh tiga malam.
Putrinya masih belum kembali menampakkan wujudnya.. Seketika Timbul kekhawatiran di hati kecilnya. Ia pun langsung bangkit berdiri. Dan, baru saat ia akan melangkah.. Tiba-tiba terdengar suara Rabarus menghentikan langkahnya.
"Tetaplah disini Nak.. Putrimu sebentar lagi akan kembali bersama Spiritnya. Jangan terlalu khawatir, karena anak itu di lindungi oleh Raja Spirit yang kekuatannya di atas lima Spirit lainnya."
"Cih, aku bosan hanya duduk berdiam diri tanpa melakukan apapun, Aku tidak seperti dirimu yang bisa santai, saat Putramu sendiri sedang bertaruh nyawa."
"Hei.. Tenanglah, Aku tampak tenang.. Itu karena aku yakin Putraku bisa melewatinya. Tapi, di satu sisi aku juga sama sepertimu. Hanya saja aku tidak menunjukkannya.
Kita harus bersikap tenang dalam situasi apapun, jangan mudah panik. Kau masih harus banyak berlatih lagi anak muda. Karena dari yang aku lihat, kau mudah gelisah dan emosi dalam situasi tertentu."
Ujar Rabarus, bangkit berdiri menghampiri Duke. Rabarus bersedekap tangan lalu ia memunggungi Duke.. Sambil melihat kearah lima telur raksasa yang ada di langit.
Sedangkan Duke agak tersentak mendengar nasehat dari Rabarus.. Yang mengungkap kelemahannya secara terang-terangan.
'Cih, kenapa melihatnya seperti ini aku jadi merasa sangat akrab. Apa karena sifatnya yang terkadang mirip dengan Pak Tua Zion! Yang suka bertindak sok Tua, layaknya orang Tua kepada anaknya.
Meskipun aku agak risih dengan gayanya yang sok akrab padaku, saat ini. akan tetapi.. apa yang di katakannya adalah kebenaran! Lebih baik aku dengarkan saja dulu.. Jarang-jarangkan ada yang menegurku.
Dan mau memberitahuku tentang kekuranganku selain Zion.. Yah kalau itu Zion, mungkin saja aku akan mendengarkannya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.
Karena kami terlalu dekat sampai-sampai perkataannya aku anggap angin lalu, aku juga tidak bisa serius kalau di ajari Zion. Tapi, dengan Pak Tua satu ini.. Aku merasakan hal yang berbeda saat ia berbicara padaku!
Entahlah, mungkin saja itu karena ia lebih terlihat seperti Pak Tua bijaksana yang baru keluar dari pertapaannya. Setiap perkataannya mudah di resapi olehku.' pikirnya sambil menelaah, mengamati setiap perkataan dan gerak-gerik Rabarus.
__ADS_1
"Apalagi jika itu menyangkut Putrimu, ingat Nak! Jika kau masih seperti ini.. Kau akan mudah terprovokasi oleh musuhmu. Karena mereka tahu kelemahanmu, ada pada Putrimu."
"Hem, Bagaimana sambil menunggu Putrimu kembali, kita berlatih dulu untuk membuktikan rasa penasaranmu terhadap omonganku!" ujar Rabarus menyeringai, karena ia sudah tahu, apa yang terselip dalam pikiran Duke saat ini.
'Cih, sepertinya dia tahu aku masih ragu-ragu dengan perkataannya.. Tapi boleh juga saran Pak Tua ini. Dengan begini, lumayan menghilangkan rasa bosanku.
Selain itu, aku juga penasaran ingin melihat bagaimana kekuatannya yang sesungguhnya..! Karena waktu itu, aku tidak sempat melihatnya.
Di sebabkan kondisi kami yang tidak memungkinkan.. Tapi kali ini, aku bisa memastikan sendiri. Seberapa kuatnya Pak Tua ini? untuk layak menjadi lawanku. Melihat bagaimana dia sekarang.., setelah merasakan ada tekanan yang berbeda dari dirinya.'
"Heuh.., Ide yang bagus, kalau begitu mari kita mulai.'
...****************...
Di Mansion, suasana yang tadinya tampak tenang dan damai..! Namun, semua kedamaian tersebut harus berakhir dalam sekejap. Karena serangan tidak terduga dari musuh.
Mansion tiba-tiba di serang oleh musuh yang tidak di kenali, tapi karena area Mansion telah di lindungi Dengan Perisai kokoh yang telah di buat Rabarus..
Maka, untuk saat ini situasi masih bisa terkendali dengan aman. Zion yang bertugas menjaga keamanan Mansion, berdiri di garda paling depan memimpin ribuan para pasukan
"Heh.. Senior, apa kau tahu siapa yang dengan bodohnya berani menyerang kediaman Yang Mulia?" ujarnya berseringai.
"Dasar bodoh, jika aku tahu pun.. Aku tidak akan memberitahumu bocah." ujarnya sarkastis.
"Eheii.. Kau tidak boleh begitu Senior, jika ada hal yang menarik, kau juga harus berbagi denganku. Bukankah kita berdua sama-sama Spirit Yang Mulia!!
Jadi kita harus saling bertukar informasi, jika salah satu dari kita ada yang tahu." ujarnya sambil berdiri, melihat lemparan bola sihir terus menghantam dinding Perisai, yang telah di buat oleh Rabarus.
Zion tidak merespon ucapan Argus, ia tampak enggan meladeni juniornya itu! dan terlihat mengabaikannya. Namun, yang sebenarnya.. Ia tengah fokus mencari dalang yang ada di belakang para witch.
"Hah.. Jika hanya menunggu di sini saja, tidak akan seru! Lebih baik kita bagi tugas saja." ujar Argus pada Singa Putih tersebut.
"Hem.. Memangnya apa yang akan kau lakukan?" ucap Zion, dengan satu alis terangkat.
"Hehe.. Kau cukup lihat dan amati aku dari sini saja, Senior." ujarnya menyeringai, lalu menghilang.
__ADS_1
'Cih, memangnya apa yang sedang di rencanakan anak itu?' pikir Zion, sambil melihat Perisai yang terus berdentum kencang, karena serangan dari luar.
Roland yang sejak tadi hanya diam mengamati kedua Spirit tersebut, akhirnya membuka suaranya setelah Argus pergi. "Yang Mulia.. Apa sebaiknya kita serang saja langsung." ujarnya mengutarakan pikirannya yang sejak tadi ia tahan.
"Tidak, masih belum! Karena kita masih belum tahu kekuatan lawan seperti apa!! Untuk sekarang, kita amati saja dulu.. Kalian tetaplah bersiaga dengan kemungkinan yang akan terjadi nanti.
Jangan lengah, hanya karena mereka tidak bisa menghancurkan Perisai tersebut." ujarnya mengamati situasi. 'Hem.. Ini aneh!? kenapa mereka hanya menyerang bagian posisi depan Mansion?? Sementara di area lain tampak tenang saja.
Jika mereka benar-benar berniat menyerang.., harusnya mereka tidak hanya menyerang di satu sisi saja.. Setidaknya mereka mencari kelemahan dan mengincar area lain yang tidak ada Perisainya..!
Hem.. Meskipun tempat ini sudah di kelilingi dengan Perisai yang sangat kokoh. Jadi, biarpun mereka menyerang di area lain.. Itu akan percuma saja.
Yang ada mereka akan kelelahan dengan sendirinya..! Tapi.., kenapa situasinya terlalu tenang?' gumamnya dalam hati, ia mulai menyadari ada sesuatu yang aneh.
...****************...
Sementara itu di Zona Mana.. Ravella dan Jura yang baru saja kembali. Di buat terkejut dengan pemandangan yang di suguhkan oleh kedua Pria tersebut.
Keduanya tampak sedang adu tanding kekuatan, serangan demi serangan di lancarkan kearah Rabarus, namun, Lannox tidak bisa mengenainya sedikitpun.
Lannox kelihatan kesal, ia melancarkan lagi serangannya yang lebih kuat kearah Rabarus. Namun Rabarus hanya menanggapi dengan seringai di wajahnya.. Dan menepis serangannya begitu saja.
"Rasakan ini..." Lannox mengeluarkan pedang Aura miliknya. Dan tampak sebagian tubuhnya di selimuti dengan cahaya kilat putih dan Aura terang. Arus listrik bewarna putih yang bertegangan tinggi, keluar dari sebagian mata kirinya yang dicampuri dengan Cahaya kilat tersebut.
Tak hanya pedang Aura, Ia pun mengeluarkan pedang satu lagi dari tangannya. Pedang yang jarang ia gunakan, Tampak Pedang putih bercahaya muncul dalam sekejap, dan sudah berada dalam genggamannya.
Duke dengan lincahnya.. langsung melompat tinggi dan mengarahkan kedua mata pedang pada Rabarus. Dan tak lama setelah ia mengarahkan mata pedang tersebut.. Ledakan besarpun terjadi.
Jura dengan cepat membuat Perisai untuk melindungi tubuh mereka berdua dari dampak ledakan tersebut.
Jura yang mengamati keduanya.. mengenali Aliran kekuatan yang keluar dari tubuh Lannox. Ia bergumam dalam hati.
'Ini.. Bukankah ini adalah kekuatan dari bocah Singa miliknya!! Hem.. Jadi begitu rupanya!'
Ravella yang masih belum mengerti dengan situasi tersebut.. Bergumam pada Jura. "Kek.. Apa yang terjadi pada Ayah dan kakek Rabarus!? Apa Kakek tidak mau menghentikan mereka berdua?" ujar Ravella khawatir.
__ADS_1