AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
RENCANA RAVELLA


__ADS_3

Namun di kejauhan.. Tanpa mereka sadari keberadaannya. Ada sosok kecil yang tengah mengintai, dari balik pohon. Melihat hal tersebut!


Ia tampak tidak senang, dan segera berlari menghampiri Tuan kesayangannya itu, sambil berteriak manja padanya.


"Dewi.....!!!" Gapi berlari kencang meneriaki Tuannya.


"Ah, itukan suara Gapi..!!" Mendengar teriakan peliharaan kesayangannya sedang berlari mengejar sosoknya, Ravella langsung berdiri mengabaikan Rabarus, dan melihat kearah Gapi.


Gapi langsung melompat tinggi kearah Ravella, tanpa mempedulikan keberadaan Para Raja Spirit, yang sedang memperhatikannya. Hanya demi menghalangi Ravella memeluk Rabarus kecil, Gapi berbuat nekat.


Ravella sangat menyayangi Gapi, ia langsung menangkapnya dan merangkul Gapi dalam pelukannya. Gapi yang tidak suka melihat Rabarus, langsung menunjukkan taring kecilnya sambil menggeram garang kearahnya.


"Gggrrrrrr.....!!!!! Ggggrrrrrr....!!!!!" geramnya pada sosok Rabarus kecil.


Menyadari kemarahan Gapi, Ravella segera menenangkannya. Agar tidak terlalu menghiraukan sosok Rabarus kecil, yang sekarang sedang dalam wujud Rubah Api Kecil.


"Gapi, tenanglah. Kau tidak boleh seperti itu! Aku tidak suka jika kau bertindak kasar pada Tamu." ujar Ravella menegurnya dengan lembut.


Mendengar teguran halus Tuannya.. Gapi menjadi murung, ia tidak ingin melihat Ravella marah. Suaranya yang tadi menggeram, kini berubah jadi penurut.


"Eeuuumm baik Dewi.. Maaafkan aku." ujarnya patuh.


Melihat ia yang sangat patuh, Ravella membelai kepala Gapi, lalu mencium wajahnya yang tampak lucu.


Namun tanpa sepengetahuan Ravella, Gapi menatap tajam secara diam-diam kearah Rabarus. Seolah ia sedang memberi peringatan agar menjauh dari Tuan kesayangannya itu.


Menyadari kemarahan Gapi.. Tama langsung berujar pada Sang Ayah. Yang sedang terdiam menatap fokus kearah Gapi. Ia tampak tidak terpengaruh sedikit pun dengan kemarahan Bayi Naga, Yang ada di dalam pelukan Ravella.


'Cih, akhirnya ada juga yang bisa mengalahkanmu Pak Tua.. Selucu apapun Sosokmu sekarang! Kau tidak akan bisa menyaingi anak itu. Karena Dewi sang...' belum selesai Tama bicara, tiba-tiba perkataannya di potong oleh Rabarus.


'Jadi, bocah itu adalah Bayi Naga yang di lindungi Jura waktu itu bukan?' ujarnya masih melihat kearah Gapi, dengan penuh arti. yang tampak sangat memusuhinya.


'Euh! ya, dia adalah anak yang waktu itu di selamatkan oleh Jura. Kenapa memangnya?' tanya Tama, Sambil memegang dagunya.


'Hem.. Khi.. Khi..!' tiba-tiba kedua sudut bibir Rabarus melengkung keatas, seolah sedang merencanakan sesuatu.


Melihat reaksi Rabarus, Tama merasa khawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh Ayahnya.. Yang terkadang suka bertindak diluar dugaan. Dan benar saja.. Apa yang di takutkan Tama pun akhirnya terjadi.


Rabarus berjalan pelan, mendekati sosok Ravella dan Gapi. ia yang masih bertubuh kecil.. Mengangkat kepalanya melihat keatas. Tampak sosok Ravella yang sedang berdiri, sambil menggendong tubuh Gapi.


Namun, tatapannya bukan di arahkan kepada Ravella, akan tetapi.. tatapannya hanya terfokus pada sosok Gapi, yang balas menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


Ravella memperhatikan sosok Rubah kecil yang ada di bawah kakinya, Ravella yang sangat lembut dan penyayang, mengira jika Rubah Api Putih itu.. Juga minta di gendong sama seperti Gapi.


Ravella lantas menjatuhkan kedua lututnya hingga menyentuh Rumput.. Ravella lalu membelai kepala Rabarus kecil, dengan penuh kehangatan. Rabarus tampak sangat senang dengan perlakuan Ravella kepadanya, ia bahkan tidak menolaknya.


Dewi kecil itu selalu bersikap lembut dan memperlakukannya dengan baik, Rabarus tersenyum pada Ravella, lalu.. Dalam seketika, wajahnya yang tadinya tampak lucu, kini mulai kembali kemode serius.


'Haah.. Ia memang sangat baik. Tapi aku tidak boleh terlena, bisa-bisa aku lupa dengan apa yang akan aku lakukan dengan Bayi Naga itu.' pikirnya sambil menghela nafas.


"Maaf Nak, bisakah aku meminjam Bayimu dulu??" ujar Rabarus kecil, sambil menyeringai.


"Hem.. Baiklah. Gapi, kau harus bersikap sopan ya.. Karena beliau adalah tamu Kakek Tama. Jadi, kau harus melayani Tamu beliau dengan baik." ujar Ravella tersenyum.


"Ba-baik Dewi, aku akan melakukannya." ujar Gapi patuh.


Rabarus melihat kearah Gapi, lalu ia pun bergumam padanya. Dan mengajak Gapi mengikutinya.


"Ayo Nak, ikut aku." ujar Rabarus.. Berjalan lebih dulu.


Gapi pun mengikuti dengan patuh, Rubah Kecil itu dari belakang. Ketujuh Pria lainnya yang memperhatikan keduanya, sejak tadi.. Tertawa bersama-sama.


"Aku tidak menyangka, Ayahmu, bisa juga bersikap manja seperti itu Tama. saat ia berada di depan Dewi, aku kira ia akan membuat wajah garang. Tapi ternyata hahaha..." tawa Zaku pecah, disusul dengan yang lainnya.


Ravella yang belum mengerti arah pembicaraan Para Spirit, langsung melempar pertanyaan pada mereka.


Apa sekarang Kakek sudah main Rahasia-Rahasiaan denganku?" ujar Ravella, sambil mengangkat tinggi, sebelah alisnya. Seolah ia sedang menantikan respon Tama.


'Haah.. Tatapan ini, aku sangat mengenalnya! Jika begitu, ia tampak sangat mirip dengan si bocah pendendam itu.' ujar Tama menyebut sifat Ravella mirip dengan Lannox.


"Haah.. Awalnya aku ingin memperkenalkannya padamu Nak! Tapi, tiba-tiba saja Ayah ku bertindak sendiri tanpa aba-aba dariku. Dia bahkan tidak menyebut namaku, saat berbicara padamu bukan!!" ucap Tama, yang juga mengeluh, dengan sikap ayahnya.


"Hem.. begitu rupanya. Tapi Kek, sejujurnya.. Aku merasakan sesuatu yang sangat akrab dengan Ayah Kakek."


"Hem.. Apa maksudmu Nak???" ujar Tama bingung.


Begitupun dengan reaksi Spirit lainnya.. Saat mereka mendengar ucapan Dewi kecil tersebut, Mereka semua langsung melirik kearah Ravella.


Jura yang merasakan keganjilan dari pertanyaan Ravella tersebut, dengan cepat langsung mengerti. Kemana arah pembicaraan Masternya itu!


'Gawat, sepertinya aku tahu apa yang akan Dewi bicarakan. Aku harus mencari alasan yang masuk akal! Agar Dewi tidak curiga. Tapi sebelum itu.. aku harus bicara pada yang lainnya lebih dulu.' Jura mulai bertelepati dengan yang lain. 'Kawan-Kawan.. Ingatlah, jangan sampai salah bicara. Bukankah Baginda Kaisar sudah berpesan.. agar penyelamatan Putri, di rahasiakan dari beliau.'


'Ah, ia benar. Hampir saja.. Jika kau tidak mengingatkannya, mungkin aku sudah berbicara jujur pada Dewi. Tapi, omong-omong kenapa Baginda Kaisar, harus merahasiakannya dari Dewi!!' ujar Tama, bertanya-tanya sendiri.

__ADS_1


'Entahlah! Tapi apapun itu.. Beliau pasti punya alasan sendiri, yang tidak boleh kita tahu baik buruknya.' ujar Jura bijak.


Ravella bersedekap tangan, dan menatap curiga Pada Keenam Spirit miliknya. Garda yang tidak ingin ikut campur urusan Para Spirit..


Lantas, mencoba membantu dengan mengalihkan perhatian Putri kecil tersebut, dari Para Spirit. Yang tampaknya sedang berkomunikasi sesama mereka.


'Ada yang tidak beres dengan Para Kakek!! Heem.. Apa mereka menyembunyikan sesuatu dariku?' pikir Ravella curiga.


Dan, tiba-tiba terdengar suara memanggil namanya.. Ia yang sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.. Langsung tersadar akan panggilan Jura. Yang telah membuat Ravella, kembali pada kenyataan.


"Wi... Nak Dewi... Apa yang sedang kau pikirkan Nak?" tanya Garda khawatir.


"Kek.. Ayo ikut aku!"


Garda bingung dengan ajakan Dewi kecilnya, tapi ia tetap mengikutinya dengan patuh, tanpa menanyakan alasannya.


Garda pun mengangguk setuju, dan langsung bangun mengikuti langkah Dewi kecil tersebut. Para Spirit yang tampak sedang sibuk berkunikasi sesama mereka!


Tidak sadar, jika Ravella dan Garda telah pergi meninggalkan sisi mereka. Dan Setelah keduanya telah menjauh dari Para Spirit!


Garda baru berujar, mengutarakan isi pikirannya yang sejak tadi sedang menahan rasa penasarannya.


"Ada Apa Nak! Sebenarnya.. kita akan pergi kemana??" ujar Garda yang langsung meraih tubuh kecil Ravella dalam gendongannya.


Garda tahu, jika Ravella tampak sedang kesal dengan reaksi Spirit miliknya itu. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


'Haah.. Sepertinya Nak Dewi sedang kesal, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan anak-anak itu. Mereka juga pasti mempunyai alasan sendiri, yang membuat mereka tidak bisa mengatakan apapun pada Master Mereka.'


Ravella tampak malas bicara dan merangkul leher Garda dengan manja, ia teihat sedang cemberut, karena merasa kecewa telah diabaikan Para Spiritnya.


Dan talam.. Muncul seringai di kedua bibirnya yang bewarna merah cerry alami.


"kakek.."


"Ya, Nak."


Ravella melepaskan rangkulannya.. Dan berbisik pada Garda. Yang membuat Garda tertawa lepas, seolah tak percaya dengan tingkah Putri kecil yang ada di dalam gendongannya itu.


"Apa kau serius Nak?"


"Ya, apa Kakek mau membantuku! Jika tidak mau.. Kakek bisa menolaknya. Dan aku akan melakukannya sendiri." ujar Ravella percaya diri.

__ADS_1


"Hahahah aku rasa, idemu cukup menarik Nak, mana mungkin aku bisa menolak hal sebagus ini. Aku juga tidak sabar melihat bagaimana reaksi mereka nanti hahaha..."


"Bagus, kalau begitu ayo kita mulai."


__ADS_2