AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
LEBIH BAIK KALIAN MATI SAJA.


__ADS_3

"apa yang terjadi?" rey melihat dean yang sedang tergeletak dilantai tak sadarkan diri, ia meraih tubuh temannya itu, lalu ia membangunkannya.


"dean.. dean.." dean masih tak bergeming "dean.. dean.. bangunlah, ah sial..! apa apa yang terjadi sebenarnya?" rey berusaha mengingat kejadian sebelumnya namun, kepalanya masih terasa pusing.


"setahuku kemarin aku tidak mabuk! tapi kenapa kepalaku pusing sekali..?" rey bangun dari duduknya, dan memaksa mengingat kejadian kemarin, dan ingatan samar melintas dibenaknya "oh dewa, ti..tidak.. mungkin..!"


tak lama deanpun terbangun "sialan.. kenapa badanku rasanya sakit semua..?" dilihatnya sekeliling ruangan, tampak rey sedang terduduk diam dengan raut wajah yang begitu sedih.


"ada apa dengan anak itu..? aku tidak pernah melihatnya seperti itu!"


dean mencoba bangun dari duduknya, lalu ia mendekati rey. "hei ada apa?" rey menoleh pada temannya dan, sedikit merasa aneh! melihat dean yang biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa.


"apa kau tidak ingat! apa yang terjadi kemarin?"


'hah.. apa maksud anak ini! memangnya apa yang terjadi kemarin??' dean berusaha mengingat kejadian kemarin. dan tiba-tiba, ada kehangatan yang basah jatuh dari mata yang terkejut. "tidak mungkin! jangan bilang apa yang aku pikirkan ini benar-benar terjadi..?"


disudut kamar lantai tiga, ravella yang tengah duduk santai sambil melipat tangan dibibir jendela, ia melihat kelangit yang terbentang luas. rambut indah perak panjang itu, tertiup angin melambai indah diudara, sebagian ada yang menutupi wajah cantik nun imutnya. suasana disore hari itu benar-benar sangat tenang dan terasa nyaman. sehingga tanpa sadar, wajah kecil itu melamun jauh, dan rasa sesak kembali hinggap pada relung hatinya yang terdalam.



'awan yang melayang pelan..


membawa ketenangan dalam sudut hatiku.


pepohonan rindang kian menari-nari menikmati belaian angin.


kicauan burung saling beradu, melantunkan suara-suara indah.


deruan angin, bagai irama alam yang bersenandung lembut ditelingaku.


hingga tanpa sadar, kenyamanan ini membuat aku lupa sesaat pada kehidupan lamaku.


namun, ketenangan ini sungguh menggangguku, membuat dadaku merasakan sesak.'


hingga tak terasa sentuhan lembut nun basah dan hangat, jatuh tanpa meminta izin darinya.


'setelah menghilang sekian lama, dari kehidupan lamaku! namun secara tiba-tiba, aku dikejutkan pada dunia asing antah berantah, yang menjadi kehidupan baruku. dengan keluarga yang baru, lingkungan yang baru, suasana baru.


bagai nakhoda kapal yang terdampar dipulau nan indah tak berpenghuni,


sangat asing dan begitu sunyi. adakalanya rasa kesepian menghantuiku. namun, keindahan ini, membuat aku betah dan ingin tinggal selamanya disini. bersama keluarga baruku, dan menerima kenyataan jika aku takkan bisa kembali lagi pada masalalu.


apapun itu..! entah keluarga, kerabat, teman atau saudara, selamat tinggal semuanya.. semoga kalian cepat melupakan aku. karena aku telah mempunyai kehidupan baru disini, dan aku baik-baik saja.'


dan si gadis kecilpun tertidur menjemput mimpi. sementara itu, sesosok tampan sedang bersandar dimuka pintu, sambil bersedekap tangan, dengan uniform lengkapnya, khas seorang duke. ia melihat punggung kecil sedang tertidur lena dibibir jendela, ia lantas menghampirinya, melihat gadis kecilnya yang sejak tadi melamun hingga tertidur. dia tidak ingin mengganggu putrinya, karena sangat langka ia melihat pemandangan putrinya yang seperti ini, entah kenapa begitu rapuh.


lalu ia menggendongnya dengan pelan, agar sibuah hati tidak terbangun. setelah ia meletakkannya diranjang, iapun duduk disamping putrinya, sambil memperhatikan dan mengusap air mata yang sejak tadi, tidak berhenti mengalir.


'mimpi apa yang dialami putriku? sehingga ia terus menangis dalam tidurnya, aku tidak tega.' lalu ia membangunkannya sambil menepuk pipi mungil itu, dengan lembut. "sayang... sayang.. nak, bangunlah..! hari sudah senja, kau harus mandi." kelopak indah itu perlahan terbuka, tampak netra merah menyala sedang menatap hampa, karena baru tersadar. "ayah....!" kata pertama yang ia sebut saat melihat wajah rupawan sang ayah. sang ayah tersenyum dan mengecup kening putrinya. "hem ia sayang, bangunlah.. hari sudah mulai gelap. pelayan! sediakan air hangat untuk mandi putriku." terdengar suara sahutan dari luar.


"baik yang mulia, akan segera saya siapkan."


"nak pergilah mandi dulu..! setelah itu kita makan malam bersama, ayah akan menunggumu dibawah." setelah ia mengecup kening putrinya dan mengusap kepalanya, iapun pergi dan membersihkan diri, karena seharian melakukan kegiatan yang melelahkan membuatnya tidak bisa bertemu putrinya seharian, dan saat ia ingin menemuinya, dilihatnya sosok kecil yang sangat rapuh sedang menatap keluar jendela, iapun mengurungkan niatnya untuk menyapa. hanya berdiri dan terus memperhatikan sikecil dari ambang pintu. sorot mata yang terlihat sedih dan sayu, namun tidak bisa berbuat apa-apa. karena semuanya telah berlalu. yang ada dipikirannya sekarang, hanyalah menebus dosanya yang telah lalu, dengan membesarkan putrinya sebaik mungkin, dan melimpahkan seluruh kasih sayangnya sebanyak yang bisa ia lakukan, untuk putrinya. serta melindunginya dari para pria, yang berkumpul seperti laron, hanya untuk mengejar putrinya yang terlihat seperti cahaya. dan kelak! ia akan sangat kerepotan karena hal itu.


"kira-kira, apa serangga itu bisa melepaskan dirinya? heheh aku jadi penasaran!"


sementara dipohon besar dibelakang mantion, gapi sedang terkulai lemas tak berdaya. "mmmm hari sudah gelap, tapi kenapa tidak ada satupun yang lewat?"


"seruruk.. seruruk.." suara gerusuk datang dari semak-semak "euh a..apa.. itu orang! hei.. siapapun disana tolong aku...!" senyap tak ada balasan "jangan-jangan bukan orang..!" tak lama tampak dua cahaya kecil yang menyala dari kejauhan, semakin lama semakin membesar dan iapun mendekat. "heh bocah, kau.. sedang apa disini?" dilihatnya sosok kecil itu sedang terikat tak berdaya. tampak wajah riang sikecil, karena merasa bantuan telah tiba.

__ADS_1


"paman... kaukah itu.? to..tolong.. lepaskan aku!"


"heh... siapa yang berani mengikatmu katakan padaku?" jura melepaskan ikatan gapi sambil menunggu jawaban dari gapi. "a..ayah dewi yang melakukannya."


"hem.. bocah itu! kau pasti telah menyinggungnya, kalau tidak, mana mungkin dia melakukan ini padamu."


"a..aku.. juga tidak tahu, tiba-tiba dia menangkapku lalu mengikatku. aku tidak tahu apa salahku! tapi yang jelas.. pak tua itu sangat mengerikan."


"haha jangan diambil hati nak, mulai sekarang kau harus terbiasa dengan perlakuan bocah itu. dia hanya terlalu menyayangi putrinya saja, hingga tanpa sadar ia menjadi terlalu posesif pada putrinya sendiri."


"ya.. aku juga tidak menyalahkannya! mungkin nasibku saja yang memang sedang sial."


"ya sudah, jangan dipikirkan lagi.. ayo ikut aku!"


"ha.. memangnya kita mahu kemana paman?"


"untuk melatihmu mengamati sesuatu, dan apa yang kau perhatikan nanti, harus kau terapkan untuk dirimu kelak."


'kenapa setiap jumpa paman, yang dipikirkannya hanya latihan saja! apa dia tidak bosan?' "maksud paman?"


"heh kau akan tahu nanti."


...****************...


"ya kau tidak salah dean, apa yang kau pikirkan memang benar terjadi..! teman kita rog telah mati, saat akan melindungi kita dari serangan orang tak dikenal."


"ini tidak mungkin..!" dean terduduk lemas masih tak percaya teman baiknya telah pergi.


"lalu.. dimana jasadnya?"


"apa kau lupa dean! rog mati mengganaskan saat menerima serangan musuh untuk melindungi kita berdua."


"kalau begitu, siapa yang ingin membunuh kita! apakah dia juga mata-matanya orsi atau dari pihak musuh?"


"entahlah! yang pasti, musuh kita adalah orang hebat. mulai sekarang! kita harus berhati-hati..? dan melaporkan kejadian ini agar segera diselidiki."


"kau benar rog! sudah cukup aku kehilangan anggotaku, dan sekarang aku harus kehilangan sahabatku juga, kita harus membalasnya."


"ya, itu juga yang ingin aku lakukan. sekarang, sebaiknya kita segera pergi, tempat ini sudah tidak aman lagi untuk ditinggali."


"betul, ayo kita harus cepat bergerak."


merekapun bergegas meninggalkan markas, dan melaporkan semua kejadian yang mereka alami.


"hahaha... apa hanya segitu saja kemampuan kalian hah...! jika melepaskan diri dari lilitan akar saja tidak bisa! apa lagi melawanku.., cih jangan mimpi, dasar tidak berguna! kalian terlalu lemah untuk menjadi pelindung sang dewi. melindungi diri saja susah, lebih baik kalian mati saja. untuk apa kalian hidup! jika hanya merepotkan dan hanya menjadi beban bagi dewi, percuma saja."


garda memprovokasi ketiga spirit itu, saga, gira, dan zaku. merasa sangat kesal dan jengkel. dengan apa yang dikatakan garda. namun mereka tidak terpengaruh atau mengelak. mereka mencoba berpikir dengan kepala dingin, dan berpikir positif, mereka saling berkomunikasi bertiga, dan memblokir gangguan dari luar agar garda tidak bisa mendengar pembicaraan mereka bertiga. karena mereka tahu betul? garda bisa mencuri dengar komunikasi mereka, sejak kejadian dihutan.


(saga) "cih aku benci mengakuinya, tapi apa yang dikatakan garda memang benar! jika hanya seperti ini kemampuan yang kita miliki, sungguh tidak pantas menjadi pelindung dewi."


(gira) "ya.. kita hanya akan jadi beban buat dewi, kita terlalu lemah, melawan garda saja tidak bisa! apalagi dewa. kita berekspektasi terlalu tinggi."


(zaku) "ya.. walaupun kita tidak bisa melawan dewa, paling tidak kita bisa melawan musuh seperti garda. apalagi melihat senyum menjijikannya itu, heh membuat aku menjadi mual." tiba-tiba darah zaku menjadi mendidih. "cuih dasar brengsek, aaaaagggggrrrrrrr.... semuanya jangan menyerah, ayo kita singkirkan seringai jelek sibiru brengsek itu."


(saga) "heh kau selalu seperti biasanya zaku! semangat sekali."


(gira) "bukan zaku namanya jika tidak heboh. hahahaha, teman-teman! ayo kita lakukan."


(zaku,saga) "ya"

__ADS_1


'heh, ada apa dengan anak-anak itu? kenapa mereka telihat semangat sekali..!'


"ya, terserah kalian saja, mahu melakukan apa? yang jelas, berusahalah melepas lilitan akar-akar itu! jika kalian bisa melepaskannya, aku akan melatih kalian dengan serius. karena itu! sambil menunggu kalian selesai, aku akan tidur dulu sebentar, hahaha selamat berjuang."


ketiga spirit menjadi geram menyaksikan tingkah garda yang menjengkelkan, dan benar-benar menganggap remeh keberadaan mereka, hingga membuat darah naik kekepala. semangat para spiritpun semakin menjadi-jadi, sehingga keluar tekanan besar yang tidak wajar dari ketiga raja para monster spirit itu. tubuh mereka menjadi tenang, lalu dalam sekejap! lilitan itu terputus dan terlepas dari tubuh mereka.


zaku yang tidak sabaran langsung mengaum hebat siapapun yang terkena aumannya maka, gendang telinga mereka akan pecah. "aaagggrrrrrrrrr" hingga gira dan saga dengan cepat menutup pendengaran mereka. garda yang tersadar dengan sigap memblokir pendengarannya dalam sekejap ia berpindah pada tubuh zaku, zaku yang kesal langsung berubah kewujud manusianya dan membanting garda kebawah, kemudian kembali lagi kewujud singanya. gira yang melihat garda terjatuh dengan sigap menyambut dan menghempaskan dengan ekornya, namun garda yang melihat pukulan besar itu segera menghilang dan tiba-tiba datang dari arah atas dan memukul kepala gira, saga yang melihat celah lagsung berubah kewujud manusianya dan melemparkan bola mana dari arah belakang, garda tak sempat mengelak karena ia terlalu fokus mengincar gira. akhirnya pukulan itupun mengenai punggungnya, dan garda terjatuh dengan tiga hentakan hingga membuat lubang besar ditanah.


"bag.. bag.. bag.. heh dia berhasil menyentuhku, anak satu itu pintar mencari celah, kalau begitu! aku akan mengincarnya terlebih dahulu, hehe ini sangat menyenangkan."


girapun berubah wujud, melihat zaku dan saga lebih lincah dan ringan saat bertarung diapun tak ingin ketinggalan.


(zaku) 'kita salah taktik melawannya tidak perlu memakai wujud asli kita, cukup memakai wujud manusia ,maka kita bisa menyamai pergerakannya.'


(saga) "benar, memakai wujud ini, tubuh menjadi jauh lebih ringan, dan pergerakan menjadi lebih mudah.'


(gira) 'awas.. dia datang, saga hati-hati..! sepertinya setelah terkena pukulanmu tadi, dia malah tertarik mengincarmu.'


(saga) 'memang itu yang kutunggu'


garda yang sudah berada dihadapan saga tiba-tiba menghilang garda mengecoh saga, dan merubah arah serangannya, dan ia malah mengincar zaku. zaku yang sudah menyadarinya dengan cepat berbalik kebelakang dan menangkis pukulan garda, dan dengan cepat menyerang perut garda dengan hantaman lututnya.


gira yang tak ingin melewatkan kesempatan itu, dengan cepat menyambut dengan tendengan keras, garda yang tak sempat mengelak menjadi terlempar jauh karena tendangan gira, saga tetap tenang dan terus memperhatikan situasi.


(saga) 'sepertinya dia masih belum serius.'


benar saja dalam sekelip mata, garda membagi diri menjadi tiga orang.


(garda) "hahahaha, teman-teman! setelah melihat serangan kalian barusan? seperti janjiku. kali ini, bersiaplah. aku akan melatih kalian dengan serius. lawan aku dengan seluruh kekuatan yang kalian miliki, karena aku tidak akan segan lagi untuk menahan diri, jika kalian ragu, maka kalian akan celaka."


(gapi) "paman! kelihatannya paman biru itu sangat kuat sekali. apa paman yang lainnya bisa menang?"


(jura) "hmm aku tidak yakin, selama pertarunganku dengan garda, baru kali ini aku melihatnya sangat serius. ya.. semoga saja tidak terjadi apa-apa?"


(gapi) "apa paman tidak akan membantu?"


(jura) "tidak! apa kau sudah mendapatkan pelajaran dari pertarungan mereka?"


dimeja makan "ayah, jika ravel meminta sesuatu, apa ayah akan mengabulkannya?"


"selama itu masuk akal! dan ayah bisa melakukannya, maka akan ayah kabulkan. katakan saja apa itu?"


"tidak sekarang, tapi nanti jika sudah waktunya! aku akan mengatakannya pada ayah. tapi janji dulu, ayah akan mengabulkannya, dan tidak akan marah!"


'hem.. kenapa raut wajahnya tiba-tiba berubah! apa aku salah bicara?'


suasana menjadi hening seketika, lannox meletakan sendok dipiringnya, lalu mengambil serbet untuk mengelap bibirnya.


"sayang, sepertinya akhir-akhir ini ayah kurang memperhatikanmu, hingga kau merasa leluasa melakukan sesuatu secara diam-diam, tanpa sepengetahuan ayah. kelihatannya.. ayah terlalu memanjakanmu nak."


lannox memperhatikan putrinya


"glup, a..apa.. m..maksud ayah?"


"hem.. kau lebih paham apa maksud ayahmu ini nak, karena ayah sudah memperhatikan tingkahmu dalam beberapa minggu terakhir. disebabkan ayah tidak mempunyai waktu luang! makanya tidak sempat untuk menanyakannya kepadamu!"


ravella mulai merasa gelisah, bahasa tubuhnya memang tidak bisa menipu, lannox tersenyum simpul melihat perubahan sikap putrinya.


"ravel katakan dengan jujur, rahasia apa yang kau sembunyikan dari ayahmu ini sebenarnya?"

__ADS_1


__ADS_2