
Di kerajaan Elf, Ratu bersandar di bingkai jendela kamarnya.. Rambut pirang ikal mayang setengah terikat, dan setengah lagi di biarkan tergerai. Dengan Tiara Ratu bertengger di atas kepalanya. Ditengah Tiara terdapat berlian seribu warna, yang hanya ada dua di dunia.. Dan salah satunya adalah milik Sang Ratu, sementara yang satunya, tidak ada yang tahu dimana.
Ia hanya mengenakan aksesoris satu set sederhana, sepasang anting berlian merah kecil dan halus, dengan ukiran berbentuk mawar merah, yang terselip di kedua telinganya. begitupun kalung, cincin, dan gelang yang ia kenakan, Namun, tidak terlalu mencolok jika dipandang, sangat pas dengan kulit putih miliknya.
Ia Mengenakan gaun satin putih polos sederhana, meskipun kelihatan sederhana, namun tampak berkelas saat ia kenakan.. Ia tampak begitu cantik dan anggun. Setelah puas menatap keluar.. Ratu kini berdiri tegak di dekat jendela dan tak lama ia pun langsung menghilang. Sementara Raja, telah pergi lebih dulu untuk menjalankan tugasnya sebagai Raja.
...---...
Argus, sedang berbaring di bawah Pohon Maple, hanya berbantalkan kedua lengannya.. yang diselip dibelakang kepala. daun-daun berguguran tertiup angin. Setelah puas memandang langit berawan, ia memejamkan kedua matanya. Saat ia ingin terlelap menjemput mimpi, terdengar suara lembut memanggil namanya.
"Argus... Putraku!!" mendengar suara yang sangat akrab di telinganya, kedua mata itu terbuka lebar dengan cepat. Dan ia langsung bergegas bangun melihat kesekitar, namun tidak di temukan siapapun disana.
"haah.. Mungkin cuma perasaanku saja..!!"
"tidak sayang.. Ini memang aku ibundamu, ibunda datang untuk menjemputmu Putraku." tersentak mendengar suara yang sangat ia kenal, dengan cepat Argus mencari arah suara tersebut.
melihat kepanikan putra kesayangannya.. Sang Ratu langsung menampakan diri. Muncul sosok cantik, berambut panjang, dengan aura yang sangat terang, namun tidak menyilaukan, keluar dari tubuhnya yang semampai. ia melangkah pelan mendekati Argus, sambil tersenyum lembut padanya.
"I..ibunda.. B.. Bagaimana bisa, ibunda ada disini??" tanya Argus gugup.
Ia memeluk putra kesayangannya untuk menenangkannya, yang tampak sangat gugup, dan panik seperti sedang melakukan kesalahan.
'kalau ibunda sampai datang menjemputku, itu berarti.. aku tidak bisa kabur kemana-mana lagi. Karena sejauh apa pun aku bersembunyi.. Ibunda akan selalu bisa menemukanku. Jika ayahanda, aku masih bisa mengelabuinya..! Tapi, berbeda dengan ibunda.. Beliau hanya tampak lemah lembut dari luarnya saja..!
Tapi, sebenarnya.. wanita yang kelihatan sangat rapuh ini, pernah beberapa kali mematahkan tulang rusukku, dan tanganku.. juga pernah di buat patah olehnya. Haah.. Untung saja ibunda mempunyai kekuatan suci yang bisa menyembuhkan penyakit apa pun. Jadi, tubuhku ini bisa kembali utuh.
Jika ibunda sampai turun tangan langsung untuk menjemputku, aku tidak bisa apa-apa dan melawan perintahnya. Beliau tidak hanya bisa bertarung, bahkan beliau juga bisa hal apa pun. Dan celakanya lagi.. Aku selalu kalah dan berakhir tragis, setiap kali aku mencoba bertarung untuk melawannya.' saat melihat ibunya, memori lama terukir kembali di dalam benaknya. Ia jadi bergidik ngeri, hanya dengan mengingat semua itu.
'tapi, meski begitu.. Ibu tidak pernah memarahiku, ataupun berkata kasar. kecuali saat aku yang memulai duluan. Itupun ia hanya marah dengan tindakan, tidak pernah sekalipun meninggikan suaranya padaku. Dan marah ibuku adalah disaat ia sedang diam. Dan ketika dia dalam mode diam.. Aku pasti akan celaka. Selebihnya.. beliau selalu memperlakukanku dan anak-anak lainnya, dengan penuh kasih sayang, dan tidak pernah membedakan anak kandung, dan anak tiri, semuanya diperlakukan sama.
Meskipun begitu, aku sangat menyayangi ibunda, melebihi apapun di dunia ini. Hem.. Kelak Aku harus mencari wanita yang mirip dengan ibuku. Tapi, dimana aku bisa menemukan wanita yang sama persis seperti ibunda!!'
Ratu Yang mendengar semuanya, hanya tersenyum lembut. Sambil memeluk putranya, begitupun Argus membalas pelukan tersebut. Setelah melepas rindu, kedua ibu dan anak itu.. pun berbicara empat mata, dan duduk di atas rumput hijau yang luas.
"Putraku, tahukah kau.. Betapa khawatirnya ayahmu, karena ulahmu?"
"tapi ibunda, saya masih belum ingin pulang, dan.."
"Argus, kakek dan nenekmu datang dari jauh, hanya untuk melihatmu! dan sekarang, kau pergi begitu saja.. Tanpa mengatakan apa pun. Jadilah anak yang baik dan bertanggung jawab dengan setiap perbuatanmu nak. jangan pernah lari.. setelah meninggalkan banyak masalah di pundak ayahmu. Bukankah ibu, tidak pernah mengajarkan itu padamu putraku!!"
"i..iya ibunda, saya mengaku salah, tapi, bisakah saya tinggal untuk sementara waktu disini?"
"tidak nak, waktu kebangkitanmu sudah semakin dekat! Jadi kau harus segera pulang."
"kebangkitanku! Apa maksud ibu??"
__ADS_1
"setelah kita pulang, ibu akan memberitahumu. Omong-omong Di mana temanmu Rudolf?"
"sepertinya dia sangat suka tinggal disini.. Jadi saya membebaskannya kemanapun."
"hem.. sudah cukup main-mainya putraku. Ibu akan membawa anak itu kembali sekarang!!"
Sang Ratu memutar telapak tangannya dengan lembut dan anggun, dalam sekejap, Rudolf sudah berada di dalam istana kerajaan Elf.
...---...
"hah.. Bukankah ini di istana? Bagaimana bisa aku sudah ada disini?!!" bukannya tadi aku sedang makan bersama para kesatria!!" iya tiba-tiba saja teringat akan misinya, yang telah diperintahkan oleh Raja.
Menyadari ia sudah ada di istana Raja, Rudolf dengan cepat langsung pergi menyelamatkan diri. 'untuk sementara waktu, aku akan bersembunyi dulu untuk mencari aman. Jika sampai baginda, tahu aku sudah kembali, aku akan benar celaka.
***
"Kenapa Dia tidak muncul, Apa benar ibu membawanya?"
"iya.. Dia sudah ibu kembalikan keistana lebih dulu."
"puuffttt hahaha... Dia pasti akan ketiban sial." Argus tertawa lepas, mendengar Rudolf sudah di antar pulang lebih dulu.
"Argus, jaga sikapmu nak."
"haha.. Iya maaf Ibunda, saya hanya tidak tahan membayangkan dia dihukum oleh ayahanda, karena gagal membawa saya kembali keistana." ia mengelap airmata yang jatuh, karena banyak tertawa.
"baik ibunda.. Saya salah."
"kalau begitu, kita juga harus kembali, ayo.."
"tunggu dulu ibunda, sebelum kita kembali, bisakah saya izin dulu.. untuk pamit dengan master saya."
"hmm.." mendengar permintaan putranya.. Ratu mengangguk mengerti.
Argus menghubungi Duke, melalui pikiran.
'Yang Mulia..'
'bukankah ini Argus! sangat jarang kau memanggilku seperti ini. Katakan ada apa?'
'Yang Mulia, misi telah selesai tanpa saya harus turun tangan.. Anak itu telah mendahului saya, untuk mengakhiri hidupnya. Dan.. Jika tidak ada lagi Yang Mulia butuhkan, saya ingin meminta izin, untuk kembali ketempat saya. Apakah anda mnegizinkannya Yang Mulia??'
'baiklah, untuk sekarang kau bebas melakukan apa pun yang kau mau.'
'terima kasih Yang Mulia, saya undur diri dulu.'
__ADS_1
'hem.' tak lama koneksi keduanya pun terputus.
"mari putraku!" Ratu mengulurkan tangannya.
Argus meraih tangan mungil Sang Ibunda, dan dalam sekejap keduanya pun sudah tiba di istana. Bahkan Raja sudah menunggu kepulangan istrinya, beserta Rudolf, yang sedang dalam kondisi terikat.
"kau sudah kembali istriku, dan berhasil membawa bocah nakal kita!!"
"ya sayang." Ratu hanya menjawab singkat, disambut senyumannya yang menawan.
Argus diam memperhatikan keduanya, melihat reaksi sang Ayah.. ia sedikit malas. Karena sifat keduanya yang sangat mirip. ayah dan anak ini sering bertrokan. Dan selalu saja baradu argumen jika bertemu, kecuali di saat keduanya berada di depan orang yang paling mereka cintai. Keduanya akan berpura akur, seolah tidak pernah terjadi apa-apa pada mereka.
Meski begitu.. keduanya saling menyayangi satu sama lain. Hanya saja, karena ego keduanya.. mereka jadi tidak bisa menunjukkannya. Melihat Putra kesayangannya telah kembali, Raja langsung memeluknya.
"dasar bocah nakal, kau masih saja bandel seperti dulu. Omong-omong nak, cepat kembalikan cincin istriku?!!" setelah memeluknya, Raja meminta kembali cincin yang pernah ia titipkan kepada Rudolf.
Argus melihat wajah ibunya yang tenang, dengan berat hati ia terpaksa mengembalikan cincin itu.
"tidak bisakah ayah memberikan cincin itu untukku! Kau sudah memiliki banyak ayahanda, Mengapa ayah serakah sekali?"
Raja mengambil cincin itu, dan memakaikan kembali di jari manis Sang Ratu.
"kau bisa meminta apa pun Putraku, tapi tidak dengan cincin ini..!!" gumam Raja Serius.
"Memangnya kenapa? Bukankah itu hanya cincin biasa!!"
"tidak nak, ini adalah cincin yang sangat berharga untuk aku, dan ibumu.. Karena ini adalah cincin pernikahan kami."
"mendengar keseriusan ayahnya.. Yang tidak seperti biasa, Argus pun hanya diam, dan tidak memaksa lagi." lalu ia memperhatikan Rudolf, yang masih terikat dan masih disumpal kain dimulutnya.
Argus menyeringai, lalu ia mendekat menghampiri Rudolf, untuk melepaskan ikatannya.
"jangan hukum dia ayah, saya yang salah." mendengar permintaan tulus Putranya, Raja hanya bisa mengangguk.
"baiklah"
"jika begitu saya akan kembali kekamar dulu.. Ayahanda, ibunda." setelah memberi hormat, dengan cepat ia beranjak pergi, di ikuti oleh Rudolf.
"kau tidak akan kabur lagikan.. Putraku!!" Raja menatap tajam putranya.
Mendengar pertanyaan dari Raja, Argus membalikkan badannya, dan melihat kedua orangtuanya.
"ya.. tenang saja, kali ini saya benar-benar akan tinggal, jika masih tidak percaya, Ayahanda bisa langsung periksa kamar saya. Kalau begitu saya pergi dulu" ia tersenyum, setelah itu.. ia pun berlalu pergi.
Melihat kekhawatiran Raja, Ratu meraih pergelangan tangan suaminya dengan lembut.
__ADS_1
"Sayang, tidak perlu khawatir, Kali ini Argus tidak akan Kabur." ucap Ratu sambil tersenyum.
"Haah.. Syukurlah." ujar Raja lega.