AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
BAGAIMANA, APA KAU SUDAH MENGINTROGASI PARA TAHANAN?


__ADS_3

Dean, dan robi, telah tiba ditempat pertambangan. keduanya menyamar menjadi pekerja tambang, Dan berbaur dengan para pekerja lainnya, penyamaran mereka berjalan dengan mulus, tanpa dicurigai siapapun. "hei kalian berdua, anak baru bukan! Cepat selesaikan pekerjaan kalian. Kalau tidak, kalian tidak akan mendapat jatah makanan, untuk hari ini." Keduanya saling menoleh, lalu bergerak melakukan pekerjaan mereka sambil menggali batu kristal tersebut. Setelah kepergian kedua penjaga, dean mendekat kepada robi sambil melirik kearah sekitar.


"hei.. Aku sudah mengecek, tempat dimana letaknya dokumen tersebut, dan kita akan bergerak nanti malam. Salah satu dari kita akan pergi mengambil dokumen rahasia, kira-kira.. Apa kau bisa mengatasi para penjaga!" ujar dean kepada robi, yang berpura-pura menggali sambil melihat kesekitar mereka, keseluruhan terbagi enam area. Masing-masing area mempunyai empat penjaga, dan setiap area terdapat lima pekerja. Sedangkan dua area lagi.. Karena kurangnya tenaga kerja, dua area menjadi tidak aktif.


"dean, apa kau tidak curiga!"


"soal apa?" tanya dean menanggapi.


"lihatlah para penjaga, ada yang aneh dengan mereka semua!"


"apa maksudmu?" tanya dean, penasaran.. dan ikut memperhatikan keadaan sekitar.


tama menyeringai menunjukkan taringnya, ia jadi semakin bersemangat dan langsung menyerang pria yang ada dihadapannya. 'ini sangat menyebalkan, karena aku tidak bisa melihat ekspresinya.. Kain itu benar-benar menghalangi.' tampak lingkaran api besar mengelilingi pria tersebut, pria itu bahkan tak bergeming dari tempatnya sama sekali. 'cih, aku benar-benar benci melihat ketenangannya itu.' tama meletakkan tangan kanannya, didepan dadanya. Tampak ia melipat ketiga jari, dan hanya kelihatan dua jarinya, ia seperti sedang mengontrol api tersebut daari jauh, dan merapal mantra. "menyusutlah, kekangan api, membelenggu jiwa." lingkaran api yang membesar kini meyusut semakin kecil, dan semakin mempersempit jarak. seolah ingin mengikat tubuh pria tersebut. sang pria tetap tenang, saat api itu ingin mengikat tubuhnya.. Namun tiba-tiba saja.. api itu langsung lenyap. "apa...!" tama tampak tidak percaya, dengan apa yang dilihatnya. 'tidak ada yang bisa menghindari kekanganku, Tapi kenapa? api itu justru akan menghilang saat mendekatinya!'


Pria itu hanya diam, dan dalam sekejap mata, ia sudah berada didepan tama, dan langsung menyerangnya. tama yang terkejut, tak sempat mengelak dari serangan pria tersebut, pria itupun mengulurkan tangan pucatnya, yang sejak tadi ia sembunyikan. Tampak tangan dengan kuku hitam panjang, yang menghiasi kelima jarinya. Ia menekan pelan dahi tama hanya dengan menggunakan jari telunjuknya, tama langsung terpental jauh. "bug.. bug.. bug.. Gedebag.. Sialan, terakhir kali aku seperti ini.. saat melawan jura. bahkan aku sendiri sudah tidak tau, sudah berapa lama aku ada disini? Perasaan baru beberapa jam, setelah aku tiba ditempat ini.' tama melihat sosok pria yang menyerangnya, bahkan ia tidak bergeming sama sekali dari tempat itu. setelah serangan tadi, pria itu kembali ketempat semula, ia memasukkan kembali tangannya didalam lengan bajunya. 'dasar brengsek, siapa pria itu sebenarnya? sudah dua kali aku menyerangnya, tapi seranganku selalu saja gagal dan lenyap begitu saja. mahluk apa dia..!' pria itu diam seperti tidak terjadi apa-apa.


"apa anda, sudah menyerah..?" ucapnya tenang.


"cih, mana mungkin aku menyerah begitu saja." ujar tama, tak ingin kalah. Pria itu kemudian hanya diam, tidak menjawab lagi. Dia hanya menunggu dengan tenang, serangan dari tama. tama berdiri, dan menatap dengan fokus, sambil berpikir cara untuk mengalahkan pria yang ada dihadapannya. 'sepertinya ini sedikit sulit ya..'


Ditempat para elf, maha ratu, dan baginda raja, telah berkumpul diruang keluarga. Kedua orang tua ratupun ada disana. "helmina putriku, dari mana saja kau! Apa kau tidak tau, kami sudah lama menunggumu. Hampir saja ibu menyusul kalian berdua, karena suamimu tidak kunjung muncul." ujar ibundanya kepada sang ratu.


"saya sedang semedi ibunda, untuk itu saya tidak memberi izin siapapun mengganggu semedi saya, termasuk suami saya sendiri."


"begitu rupanya, pantas saja dia tampak keberatan saat ibu menyuruhnya membawamu." ratu hanya tersenyum menanggapi perkataan ibundanya.


"lalu.. apa kau sudah menyelesaikan semedimu?"


"sudah ibunda, karena itu saya ada disini." ibunda ratu hanya mengangguk mengerti.


"putriku, omong-omong ayah ingin menanyakan sesuatu kepadamu?" ujar ayah sang ratu.


"apa itu ayahanda!"


"apa kau tidak menceritakan kepada putramu, tentang darah keturunannya, yang tidak biasa!"

__ADS_1


"hmm.. belum waktunya bagi argus untuk mengetahui yang sebenarnya..!"


"apa alasanmu! hingga kau masih menyimpannya?" sang ratu menatap wajah suaminya, dengan perasaan berat hati.


"suamiku, maafkan aku karena masih ada yang belum aku ceritakan kepadamu!"


"apa maksudmu istriku..!" ucap baginda raja penasaran, dengan reaksi sang istri kesayangannya.


Gapi, sudah sampai didepan mansion. Ia melihat keatas! 'hmm.. Sepertinya mereka ada dilantai tiga, pak.. Kepak.. Kepak.. haa.. itu mereka, mmm sebaiknya aku pastikan dulu.. semoga pak tua galak itu, tidak ada disini.' gapi mendarat kebalkon, ia berjalan pelan-pelan sambil melihat kedalam jendela.


"gedebug.. Auh, apa aku ketauan...!" pintu langsung terbuka, dan gapipun terjatuh


(zion) "apa yang sedang kau lakukan bocah?" tampak zion, dan yang lainnya, sedang memperhatikan gapi. gapi yang sedang terjatuh dengan malu-malu, ia melihat keatas. Tampak para spirit sedang memperhatikannya, dan tepat dihadapannya, ada zion dengan wajah buasnya sedang menatap gapi dengan penuh tanya.


"hehehe.. maaf, aku mencari paman dan mencium bau kalian, ada disini. Jadi aku kemari secara diam-diam, soalnya.. ayah dewikan tidak menyukaiku!" suaranya menjadi lebih rendah, gapi berbicara dengan wajah sendu sambil menunduk.


(jura) "haah.. tenanglah bocah, orang yang kau takuti sedang tidak ada disini." tampak keceriaan hinggap diwajahnya.


"benarkah..! heeh syukurlah, oh ia paman, kemarin aku kehutan terlarang. dan disana ada gua yang sangat besar sekali, terus aku melihat ada kilauan cahaya yang sangat terang didalamnya."


"belum, aku terlalu takut untuk masuk kedalam sana, paman."


(zion) "kenapa, apa yang kau takutkan!"


"tidak tau kenapa.. tapi firasatku melarangku untuk masuk kesana, untuk itu aku mencari paman. adakah dianatara kalian, mau menemaniku kesana lagi..! ya untuk memastikan sesuatu, jika paman tidak keberatan." para spirit saling menatap satu sama lain.


(zion) "hehe.. bilang saja kau takut!" zion sedikit mengejek gapi, namun bukannya malu atas ejekan zion, gapi dengan polosnya bicara jujur sambil tertawa lebar mengusap kepalanya.


"hihihi.. ya itu salah satu alasannya, tapi tidak hanya itu saja paman, ada sesuatu yang ganjil didalam sana. Jadi untuk memastikannya, aku ingin mengajak salah satu dari paman, untuk menemaniku." ujar gapi memelas dengan wajah imutnya, zion yang melihat wajah imut gapi. Hanya bisa menghelah nafas panjang, sambil melihat kearah jura.


(jura) 'hmm.. untuk saat ini, kami tidak mungkin untuk keluar dengan bebas, Karena tugas yang diberikan paduka, kami harus selalu berada disisi dewi, dan untuk sementara.. hingga waktu yang dikatakan kaisar! kami harus tetap ada disini.' jura melihat zion. "zion, sebaiknya kau saja yang menemaninya! Aku yakin, ada sesuatu yang menarik disana!" ujar jura sambil memegang dagunya.


(zion) "haah.. baiklah jika kakek sudah bilang begitu. Aku juga jadi penasaran, apa itu!" zion menatap gapi sambil menyeringai. "ayo bocah, tunjukkan padaku tempatnya.


"hmm.. baik paman." gapi, langsung melompat terbang keluar jendela. Sementara zion dalam sekejap sudah ada dihalaman mantion sambil menunggu gapi. "haah kapan paman turun, kenapa aku tidak melihatnya!"

__ADS_1


(zion) "kau saja yang masih lemah." gapi cemberut mendengarnya.


"cih, akukan masih kecil, jadi wajar saja.. jika aku tidak bisa menyadari dan merasakan kehadiran paman. Tapi nanti ketika aku dewasa, aku pasti akan menyaingi paman."


(zion) "ya.. ya.. serah kau saja." merekapun berjalan berdampingan, zion memperhatikan gapi yang terlihat makin gendut, dan sedikit bertumbuh. "hmm.. pantas saja terbangmu jadi melambat, ternyata kau semakin gemuk bocah.


"cih, perkataan paman, sama saja dengan paman tama."


(zion) "oya.. jadi kakek rubah, juga mengatakan hal yang sama sepertiku! mmm.. baguslah, berarti mataku ini tidak salah melihatnya."


"ya.. bicara saja sesukamu paman." ujar gapi malas, sambil berlari kecil meninggalkan zion.


...----------------...


"argus,"


"wush.. wush.. wush.. saya, yang mulia."


"bagaimana, apa kau sudah mengintrogasi para tahanan?"


"untuk sekarang masih belum yang mulia! tapi saya sudah menemui salah satu dari mereka, hanya saja.. dia masih enggan membuka mulut."


"hmm.. Kau harus cepat menggali informasi tersebut dari para tersangka, terutama yang ada sangkut pautnya dengan orsi. Karena aku sangat jengkel, pihak orsi banyak terlibat dalam kasus-kasus gelap. Akan tetapi, mereka selalu saja.. bisa lolos dari penyelidikan, bunglon memang pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya..! Jadi sangat sulit mencari tau keberadaan mereka." lannox diam merenung, arguspun tidak banyak berbicara seperti biasanya.


"baiklah jika begitu, saya akan mencari cara.. Agar para tahanan mau membuka mulut. Tapi, apa yang harus saya lakukan! Jika mereka masih tetap bungkam yang mulia...!"


"heheh.. kau tenang saja, karena aku sudah mempunyai plan B untuk membuat mereka membuka mulut."


"hmm.. kalau begitu, saya undur diri dulu yang mulia." argus sangat senang mendengarnya, dia selalu ingin tau apa yang akan dilakukan oleh tuannya.


"hmm.." setelah kepergian argus, lannoxpun kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu.. dikekaisaran, sang kaisar telah menerima laporan dari duke lannox. Ia sangat lega mendapat kabar, jika wabah tersebut sudah tidak ada lagi. 'hmm.. seperti biasa, anak itu memang selalu bisa diandalkan. Cih jika begini.. aku harus menepati janjiku kepadanya..! kalau begitu, aku akan mengirim surat untuknya. Tapi sebelum itu.. ada yang harus kulakukan lebih dulu.'


"hmm.. kenapa tiba-tiba saja.. firasatku jadi tidak enak begini!" ujar lannox sedikit khawatir, ia melihat kejendela.. tampak hari sudah mulai siang. 'sebaiknya aku melihat putriku.'

__ADS_1


__ADS_2