AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
APA KAU YANG MEMANGGILKU??


__ADS_3

Di Zona mana kelima Spirit, sedang duduk dimeja bundar, untuk mendengarkan penjelasan Tama. Tama memperhatikan semua temannya, dengan ekspresi serius mereka menatap Tama, menunggu jawaban darinya.


"Sebenarnya.. Sebelum aku pergi meninggalkan tempat ini, setiap aku melakukan semedi.. selalu saja digagalkan dengan Pak Tua sialan itu. Awalnya aku juga tidak tahu, jika dia ayahku! dia sering menyeru namaku disetiap semediku. Dan memaksaku, untuk datang menemuinya.


Karena merasa penasaran, aku pun pergi untuk memastikannya. singkat cerita, sesampainya disana.. bukannya langsung bertemu dengannya, aku malah dikasih tiga ujian yang cukup merepotkan. Hingga menyita waktuku, untuk segera kembali."


"Jadi maksudmu? Ayahmu sengaja memberikan ujian tersebut, untuk latihanmu!!" Tanya Roya.


"Heh.. Anggap saja begitu.. Setelah aku mengalahkan mereka bertiga, dengan waktu yang cukup lama. Akhirnya aku berhasil, dan menemui orang tersebut. sampai aku terkejut melihat orang yang hampir kulupakan dalam hidupku.. tiba-tiba saja muncul dihadapanku, dan mengajakku datang ketempatnya.


Dan ditempatnya.. Aku selalu saja mengeluh ingin pulang. Melihat aku yang selalu khawatir dan seperti dikejar waktu, Pak Tua itu penasaran dengan siapa aku khawatir. dan akhirnya dia menawarkan diri untuk ikut denganku."


"Cih, memangnya kau tidak bisa pulang sendiri.. seperti anak-anak saja." Sindir Zaku.


"Itulah masalahnya, jika segampang itu.. Aku juga sudah pasti bisa langsung pulang. Tapi masalahnya.. Hanya dia yang bisa membuka ruang Dimensi tersebut. bahkan, aku sendiri tidak bisa menghancurkan ruang dimensi itu.. Sudah banyak cara yang aku lakukan, tapi selalu berakhir dengan kegagalan."


"Hmm.. Pantas saja dia menyeringai, saat melihat kita membuat Perisai." Gumam Roya.


"Karena itu, hingga saat ini.. Aku masih belum mempercayainya sama sekali, karena itu aku tidak pernah memberitahu, siapa Master kita yang sebenarnya, meskipun dia sempat menanyakan masalah itu kepadaku. Makanya saat aku mendengarmu, hampir saja keceplosan menyebut nama Dewi..! Aku menjadi sangat khawatir. meskipun dia ayahku, tapi aku tidak tahu apa yang dia rencanakan.


Dan lagi, walaupun kita bertarung dengannya dengan kekuatan penuh.. Belum tentu kita bisa mengalahkannya. Yang ada, kita hanya akan membuang-buang tenaga dengan sia-sia. padahal Dewi saja masih belum bangun.


Dan apa yang akan terjadi..! saat kita sibuk bertarung melawannya, bisa jadi, musuh lain akan datang memanfaatkan kesempatan ini. Apa kalian mau kehilangan dewi? Dan apa kalian sudah yakin, bisa melawan Pak Tua itu..!"


Semuanya bungkam mendengar apa yang dikatakan Tama, karena itu memanglah kenyataan yang harus mereka terima.


"Kalian sendiri juga bisa merasakannya bukan? Levelnya berbeda jauh dengan kita. Karena itu, aku ingin memanfaatkan kesempatan ini." Ujar tama.


"Maksdumu.. Kau ingin menjadikan dia agar berada dipihak kita??" Tanya Zaku.


"Ya.. Jika dia benar-benar ayahku! Dia pasti akan berada dipihak kita. Dan aku akan memanfaatkan kesempatan ini, sebaik mungkin. Bukankah semakin banyak yang membantu, semakin baik!!" Ujar Tama melihat kearah temannya dengan seringai.


"Aku setuju, denganmu. Ada baiknya jika dia dipihak kita, karena kita juga tidak tahu kekuatan musuh seperti apa!! Mungkin, Jika itu monster atau penyihir. Kita masih bisa mengatasinya, meski tanpa bantuan Rubah Tua itu sekalipun. Tapi, jika lawannya adalah Dewa..!!! Lain lagi ceritanya.. Kita semua tidak akan sanggup melawannya. Dan keberadaan Rubah Tua, yang kebetulan, sangatlah berguna sebagai bantuan." Gumam Saga sambil memegang dagunya.


"Lalu untuk apa mereka menghancurkan perisainya..? Melihat bagaimana mudahnya, dia menghancurkan Perisai tersebut dalam sekejap. Berarti, Perisai yang kita bangun tidak ada apa-apanya dimata Pria itu. Bisa jadi, dia menertawakan apa yang kita lakukan. Karena kita dengan percaya dirinya, menganggap Perisai yang kita buat sangatlah Kokoh." Sambung Gira lagi.


"Cih, tidak perlu sampai menyebutkan kalimat terkhir seditail itu." Ujar Zaku menimpali.


"Diatas langit masih ada langit, Ingatlah itu. Hanya karena kita berada pada level Elit, dan memegang gelar Raja Spirit, bukan berarti tidak ada lawan yang lebih kuat bukan." Jawab Gira bijak.


Ketiga Spirit lain menggangguk setuju, sedangkan Zaku hanya mendengus kesal.


"Heh.. Ia.. Ia.. Aku mengerti, aku minta maaf karena terlalu terbawa Emosi. Lalu.. Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Gumam Zaku setelah mengakui kesalahannya.


*****


"Paduka, memangnya ini penawar apa? Hamba bahkan tidak ada sakit!!" Gumam Garda heran.


"Kau sudah terkena serbuk kebingungan." Gumam sang Dewa, Memunggungi Garda.


"Serbuk kebingungan.. Serbuk apa itu Paduka?" Tanya Garda penasaran.

__ADS_1


"Jika dibiarkan begitu saja.. Lama-kelamaan kau akan kehilangan pikiranmu. Kau akan sulit mencerna, setiap apa yang dikatakan lawan bicaramu. Dan lebih parahnya lagi.." Sang Dewa, memusingkan badannya.


"Gulp." Garda Menelan Ludahnya..


"Kau tidak akan bisa menerima panggilanku."


"Apa.. Kalau begitu, apa jangan-jangan saya tidak bisa menerima panggilan Paduka! karena masalah ini juga!!"


"Hem.. Menurutmu??" Tanya Sang Dewa menyeringai.


"Paduka.. I..ini masalah serius, j.. jadi tolong jangan bercanda, Paduka."


"Apa aku sekarang, kelihatan bercanda."


"tidak." Jawabnya, menggelengkan kepala.


Melihat kekhawatiran Garda, Dewa pun berujar, yang membuat raut wajahnya kembali ceria.


"kau tidak perlu khawatir, kau belum separah itu."


"Lalu..kenapa Paduka, tidak memanggil hamba, seperti yang biasa Paduka lakukan!!"


"karena aku sedang tidak ingin." Jawabnya Datar.


Melihat reaksi yang tidak diharapkan, Garda merasa sedikit kesal. Akan tetapi.. dia tidak berani mengutarakannya.


'Cih.. Lihatlah wajah tanpa ekspresi itu.. Kenapa beliau suka sekali mempermainkanku!!'


Dewa hanya tersenyum mendengarnya.


***


Rabarus mulai merapalkan mantranya, yang tidak dimengerti oleh Jura. Jura fokus mendengarkan dan memperhatikan apa yang diucapkan Rabarus, dan cara membuat Perisai.


..."(ZAHAKUS RAMARA ZAMIUSSA ARHK, WAHAI KAU PENJAGA YANG BERSEMAYAM DI TANAH INI.. AKU MEMANGGILMU, BANGUNLAH, TURUTI **PERINTAHKU**.)"...


Tak lama setelah Rabarus mengucapkan mantra tersebut, keluar cahaya yang menyilaukan dari tanah itu.


"apa itu..!" Gumam Jura takjub.


Muncul Sosok RUSA putih besar, tubuhnya dikelilingi dengan cahaya yang sama seperti tubuhnya. Kemudian, ia berjalan diudara dan mendekati kedua Pria tersebut. Rusa itu melihat kearah Rabarus dan jura, Lalu berbicara.. seolah menjawab pangilan Rabarus, dan Ia berseru.


"Apa kau yang memanggilku??"


"Benar itu aku.. aku ingin meminjam kekuatanmu, untuk melindungi tanah ini."


"Baiklah, akan kulakukan.. tapi sebelum itu, ada yang ingin kubicarakan pada anak dibelakangmu." Ujar Rusa Putih itu, kepada Rabarus. Rabarus diam sesaat, lalu menyuruh Jura untuk maju dengan anggukannya.


"Baiklah." Ujar Rabarus mengiyakan. Dan melihat kearah Jura.


Mengerti anggukan Rabarus, Jura mendekat pada Rusa tersebut.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Tanya Jura kepada Rusa itu!


Rusa itu menatap Jura, dan berbicara kepadanya. Sebelum itu.. Ia mengunci pikiran mereka berdua.. Agar tidak didengar oleh Rabarus.


"Aku ingin kau, menyampaikan pesanku kepada seseorang."


"Baiklah, Apa itu..! Dan siapa orangnya?"


Setelah ia mengatakan apa yang ia inginkan.. Jura kembali ketempat Rabarus berdiri. Rusa itu pun memusingkan badannya.. Dan melihat kedepan, lalu.. Rusa itu mengetukkan tangannya tiga kali.


Cahaya putih menyilaukan, membentuk sebuah dinding, dan mengelilingi lingkaran Segel bunga matahari tersebut. Semua orang yang menyaksikannya secara langsung, merasa takjub dengan hal tersebut.


"apa-apaan cahaya itu?" Ujar Robi.


"aku juga baru pertama kali melihat hal seperti ini, sungguh menakjubkan." Jawab Dean. Di angguki oleh Robi.


***


"Apa maksudmu?" Tanya Lannox tak mengerti.


"Hanya orang yang mempunyai Sihir level tidak normal, yang bisa membuat sihir ini."


"Tolong dijelaskan dengan bahasa manusia.. Agar mudah dimengerti." Ujar Lannox, masih tidak paham.


"Apa kau lihat, Segel itu berbentuk bunga matahari?"


"Ya tentu.."


"Itu adalah Segel Level tinggi, hanya orang yang mempunyai sihir tak terbatas yang bisa melakukannya."


"Jika begitu.. Tama juga bisa melakukannya!!"


"tidak, Kek Tama masih belum bisa." Ujar Zion yakin.


"bagaimana kau tahu?"


"Karena untuk membuat Segel seperti itu, dibutuhkan pemanggilan Roh Suci, atau Roh Agung. Contohnya Roh penjaga tanah ini."


Lannox memikirkan apa yang dikatakan Zion.


"Di wilayahku ada penjaganya.. Cih, jika benar seperti yang kau katakan.. Tidak mungkin aku tidak bisa melihatnya. Bisakah kau bicara yang masuk akal, wahai Pak Tua!! Yang kekurangan kerjaan."


"Bocah sialan, tadi kau memintaku menjelaskan. Sekarang kau balik mengataiku! Apa otakmu sudah bergeser haah. Percuma saja aku berbicara denganmu."


"Kalau begitu.. Jangan dilanjutkan lagi ceritamu, aku malas mendengarkan Omong kosongmu." Ujar Lannox, melanjutkan lagi pekerjaannya.


"Dasar bocah gila kerja. Apa kau pikir uang akan turun begitu saja.. Jika kau bekerja sekeras itu." Ujar Zion, lalu duduk dihadapan Lannox.


"Setidaknya, otakku masih waras, tidak sepertimu." Ejeknya


"Cih dasar bocah tengik, jadi kau mengataiku Gila!! Tapi yang aku katakan adalah kenyataan."

__ADS_1


"Aku tidak mengatakan apapun, kau sendiri yang menganggapnya seperti itu! Berpikirlah semahumu, Pak Tua. Jangan ganggu aku, tidak bisakah kau lihat.. Jika aku sedang sibuk sekarang."


"Bukan sedang sibuk, tapi sok sibuk." Ujar Zion Kesal. 'omong-omong kemana? Para Kakek Tua itu pergi..!!"


__ADS_2