
'Dimana ini? Saat aku membuka mata, yang kulihat Langit tampak gelap malam ini sangat suram.. Sama seperti hatiku yang sedang dilanda kekalutan.'
Lannox berdiri di bibir tebing bukit, ia melihat kelangit malam, tatapan sayunya menjelajah kesetiap bintang-bintang tampak sesekali meteor jatuh, lalu menghilang lagi.
Tiba-tiba sosok cantik yang sangat ia rindukan datang mendekat memeluk dari belakang. Reflex lannox terkejut, namun ia tidak menolaknya.
'Ini.. aku sangat mengenal caranya memelukku, Arabel....!' Lannox membuka kedua tangan lembut yang sedang memeluknya hangat.
Ia dengan cepat berputar, untuk melihat wajah yang sangat ia rindukan. Saat mereka bertemu pandangan, air mata jatuh membasahi pipinya. Kerinduan yang selama ini ia tahan akhirnya tersalurkan dengan kehadirannya.. Tampak sosok cantik nun lembut. Sedang tersenyum padanya.
"Istriku Arabella..." Panggilnya lirih.
Melihat reaksi suaminya yang terlihat sedang rapuh, kedua tangan putihnya menyentuh wajah suami tercintanya.. Ia menghapus air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.
Lannox memejamkan matanya, lalu memegang kedua tangan Arabella, dan ia mencium kedua telapak tangang tersebut.
"Mengapa kau menangis Lan... Apa karena kau merindukanku, atau karena rasa bersalahmu di masa lalu..?" Tanya Arabella khawatir.
"Kedua-duanya Arabel.. karena kedua perasaan ini saling berdampingan satu sama lain, dan tinggal di relung hatiku yang terdalam.
Lannox memeluk istrinya dengan lembut, dan begitu erat, seolah tidak mahu melepaskannya.
"Istriku, kapan aku bisa bersamamu? Begitu banyak waktu yang telah kulewati.. tanpa dirimu di sisiku. Itu sangat hampa dan menyiksa."
Wajah lembut bak cahaya bulan itu, yang sejak tadi diam mendengarkan kembali berujar.
"Lan.. waktumu masih panjang, lupakan semua yang telah berlalu.. Jadikan itu sebagai pelajaran untuk menjadi lebih baik. Menangislah sebanyak yang kau inginkan, tapi jangan pernah menyalahkan dirimu. Dan.."
Kata-katanya tiba-tiba terhenti, mata indahnya menunduk sedih. Namun ia tersenyum kembali. "Lan.. Jika kau begitu merasa kesepian, aku mengizinkanmu untuk mencari gantiku."
Lannox mengernyit tidak senang mendengar perkataan Istrinya itu.. Ia menangkup wajah lembutnya dengan kedua telapak tangannya, dan melihat kemata indah Arabella.
"Istriku Arabella.. Aku telah berjanji dalam ikatan suci, dan telah bersumpah pada diriku sendiri. Sampai kapanpun, ruang hatiku hanya bisa terisi olehmu dan Putri kita. Tidak ada yang lain setelahnya, kau adalah yang pertama dan terakhir bagiku. Dan itu mutlak, tidak ada yang bisa menggantikan posisimu dihatiku.
Jadi, jangan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi.. Aku tidak suka mendengarnya. Aku bukan Pria yang seperti itu Arabella, dan.. Jangan pernah membahasnya lagi.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak sanggup melihatmu seperti ini Lan.. Meski kita telah berbeda dunia. Bukan berarti aku tidak ta..."
Belum selesai Arabella berbicara, Lannox langsung mencium dan mengunci bibir istri kesayangannya. Beberapa saat kemudian, ia menarik kembali bibirnya dan mengecup kening Arabella.
"Jangan pernah berpikir seperti itu Arabel.. Jangan pernah."
"Haah..." Arabella menghelah nafas, dan menarik tubuhnya dari pelukan Lannox, dan tersenyum sendu."
"Baiklah, aku tidak akan membahasnya lagi. Lan.." Arabella dengan raut wajah tersenyum memanggil suaminya.
Lannox kemudian mengecup kening Istrinya.. Dan memeluknya kembali, sosok yang selalu ia rindukan.
"Hem.." jawabnya sambil membelai rambut indah Istrinya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan Putri kita, karena keadaannya baik-baik saja sekarang."
Raut wajah tampannya beriak terkejut, karena penasaran.
"Bagaimana kau tahu?"
"Putri kita sedang berada di suatu tempat.. Di mana kau tidak akan bisa memasuki tempat itu. Tenanglah, dia berada ditempat yang aman, Putri kita mendapatkan teman baru yang sangat baik dan menyukainya."
Melihat wajah lannox tiba-tiba menenggang, Arabella tertawa.
"Hahahaha.. Hahaha.. Tenang dulu suamiku, Aku masih belum selesai bicara!"
Mendengar suara tawa lembut yang sejak lama ia rindukan, wajah yang tadi tampak emosi kini kembali tersenyum.
"Haah kau tampaknya senang sekali.. Arabel." ujarnya sambil membelai wajah Arabella.
"Dengar sayang, Putri kita kini telah menemukan teman baru di dunia yang berbeda."
"Tunggu dulu.. Dunia berbeda!! Apa dia lelaki, atau perempuan?? Karena aku tidak akan mengizinkannya jika itu lelaki." Ujarnya tegas.
"Hmm.. Entahlah. Aku tidak masalah mahu dia berteman dengan siapapun, selama itu membuatnya bahagia. Mmm.. Justru kau harus hati-hati dengan dengan hal lain."
__ADS_1
"Hal lain.. Apa itu?" Tanya lannox tampak khawatir.
...****************...
Di tempat lain dunia Hobgoblin, Ravella duduk di atas bahu Hobgoblin sedangkan Gapi terbang di samping Ravella. para pengawal dan juga kedua dayang sedang duduk di telapak tangan Hobgoblin hitam tersebut.
Ditengah keheningan panjang selama perjalanan, Ravella membuka suara mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Paman.. Apakah rumahmu masih jauh?" Tanya Ravella memecah keheningan, agar yang lain tidak tegang.
"Tidak, sudah dekat."
Di dunia yang ganjil, dan penuh misteri tersebut. Hobgoblin berjalan diatas lilitan pohon raksasa, akar rotan yang melilit hingga mencapai puncak pohon. Batang pohon menjulang tinggi, dan rotan hijau yang membentuk sebuah jalan yang bahkan lebih besar ukurannya daripada ukuran tubuh Hobgoblin.
"Di atas sana.. Adalah rumahku"
Dari kejauhan tampak rumah besar seperti bentuk jamur, sangat unik dan menarik. Para pengawal dan dayang Putri, merasa takjub dengan pemandangan tersebut. karena baru Pertama kali mereka pergi ketempat seperti itu.. Begitupun dengan Ravella dan Gapi, yang tidak kalah terpesonanya dengan keunikan tersebut.
'Wuah... Tempat ini sangat indah. Mmm.. Beruntung kami tersesat ke dunia lain hihi. Dan aku akan menceritakan masalah ini kepada yang lainnya, saat aku kembali nanti. Hem.. Tapi omong-omong ini sangat aneh!!
Apakah mungkin gerbang dimensi kedunia Monster, telah di buka oleh seseorang! memang sih, aku pernah menguncinya dulu.. Tapi itu hanya bertahan untuk sementara waktu. Apa mungkin waktunya sudah habis?! dan portal yang membawa kami kemari sebanarnya.. sengaja dibuka atau terbuka sendiri?? Aku akan mencari tahunya nanti.'
"Wow.. Ini sungguh perjalannan yang menyenangkan. Beruntung aku menjadi pengawal Putri. Jika tidak.. mungkin, aku tidak akan pernah bisa sampai ketempat seperti ini." Ujar Olav gembira.
"Kau benar, aku juga berpikir sama denganmu!" sahut Eric.
Ravella tertawa mendengarnya.
'Benar-benar menakjubkan.. Dan aku juga sependapat dengan kedua anak ini.' Pikir Robi setuju.
'Keajaiban apa ini.. Semenjak aku menjadi kesatria Yang Mulia Duke, berbagai hal aneh bisa aku lihat. Yah, ini sangat menyenangkan.. Aku sangat menikmatinya.' Dean tersenyum melihat pemandangan unik tersebut.
Sedangkan Roland justru berbeda pendapat dengan yang lainnya.. Ia tampak begitu khawatir. Yang ia tahu.. Selama perjalanannya dengan Duke, melawan para Monster. Ia tidak pernah percaya sedikitpun dengan perkataan mereka.
'Aku harus lebih hati-hati lagi.. Aku tidak pernah percaya dengan yang namanya Monster, dan yang jadi masalahnya adalah Yang Mulia kecil.'
__ADS_1
Roland melirik sekilas kearah Sang Putri yang sedang duduk di bahu kanan Hobgoblin, tampak wajah polos yang sedang terbuai akan pemandangan indah tersebut.
'Haah.. Bagaimana caranya aku mengajak beliau kembali? Melihat bagaimana mata polos itu seperti tidak ingin pulang!!'