
"Bagaimana, apa kau ingin menemuinya?" ujar Duke kepada Putrinya.
Ravella merenung seketika.. Ia duduk sambil bersedekap tangan, dengan bibir sedikit manyun. Ia tampak lucu dan menggemaskan. Duke, Zion.. Dan yang lainnya tersenyum melihat kelucuannya itu, saat sedang berpikir keras dengan pose orang dewasa.
Yang tampak tidak cocok dengannya.. Tak lama terdengar suara pecah memenuhi ruangan kerja Duke. Garda tertawa lepas tanpa beban.
"Apa yang sedang kau pikirkan Nak? Wajahmu tampak lucu sekali.. Jika melihatmu seperti itu!"
Argus, yang tidak mengenali siapa orang yang menertawakan Ravella, yang sepertinya tampak Akrab dengan Sang Putri. Melihat reaksi sok dekat Garda, yang lain tampak biasa saja. Karena mereka sudah mengenali siapa sosok Garda tersebut!! Kecuali Argus, Jangankan Garda.. Ia bahkan tidak kenal dengan ketiga Pria asing lainnya, yang juga tampak akrab dengan Garda dan Sang Putri.
'Siapa mereka sebenarnya?? Kenapa mereka tampak sangat dekat dengan Yang Mulia Putri..! Apakah mereka juga sama sepertiku! Jika benar begitu.. Aku harus mewaspadai keempat orang asing tersebut, agar tidak menghalangi jalanku.'
Ravella baru menyadari sosok Garda, karena suara tawanya yang sangat keras.
"Kakek.. Kapan Kakek kembali?" tanya Ravella senang.
Garda mendekati Ravella dan Duke, ia langsung mengangkat tubuh Ravella dan menggendongnya. Duke tidak memarahinya.. karena ia juga mengenal sosok Garda. Namun berbeda dengan Argus, yang terus mengawasi dalam diam.
Tampak ketidak sukaannya terhadap Garda, melihat sosok Pria lain akrab dengan Putri dambaannya itu, Yang tampak tidak kalah tampan jika dibandingkan dengan dirinya.. Membuat Argus tampak kesal, namun ia menahannya.
Garda hanya mengubah warna kulitnya.. agar tampak tidak mencolok. Ravella sangat senang dengan kehadiran Garda. Ia menyetujui saran Garda, lalu berujar Kepada Sang Ayah.
"Nak, jika kau bingung memikirkan jawabannya. Aku akan menemanimu..! Bagaimana Nak?" tanya Garda menawarkan diri.
"Baik aku setuju Kek! Tapi sebelum itu aku harus meminta izin dulu dengan pawangku hihiiiy." ujar Ravella menatap pada Sang Ayah.
"Hahahaha,.. Baiklah Nak." ia tertawa mendengar kalimat terakhir Ravella, yang berbisik pelan pada telinganya.
"Ayah.. tidak perlu risau, Biarkan Kakek Garda dan yang lainnya menemaniku." ujarnya tersenyum dalam gendongan Garda.
"Haah.. Baiklah jika itu yang kau inginkan Nak. Ah! Dan juga.. Jika bocah itu berniat macam-macam dengan Putriku, aku mengizinkan kalian untuk menghabisinya." ujarnya tampak kesal.
"Hahahaha.. Untuk itulah aku mengikutinya." Ucap Garda tartawa.
Setelah ia mengatakan itu, ketiga Spirit lain pun bangkit dari duduk mereka dan berdiri di samping Garda. Namun, Lannox masih belum tahu jika musuh yang paling ia benci, ada di dalam KEDIAMANNYA.
andai ia tahu jika sosok yang pernah menculik Putrinya itu, ada di Mansion. Peperangan besar pasti akan terjadi dan tidak terelakkan.
Akan tetapi beruntungnya Duke tidak mengikuti Putrinya.
__ADS_1
"Kalau begitu Ravel pergi dulu Ayah, Kakek Zion." setelah Ravella berpamitan, dengan Duke dan Zion. merekapun menghilang. Ia tidak berpamitan dengan Argus, karena masih merasa asing dengan sosoknya.
Sedangkan Zion yang malas melihat wajah Argus, pergi begitu saja tanpa pamit kepada Sang Master. Lannox tampak curiga dengan sikap Zion! Ia ingin bertanya, namun ia mengurungkan niatnya itu. Argus benar-benar tidak menyangka! jika Gadis kecil yang ia incar, ternyata banyak yang melindunginya.
'Aku sangat penasaran dengan identitas keempat orang itu!!' Argus lalu mendekati Sang Master, dan bertanya tentang keempat orang misterius yang membuatnya penasaran. "Yang Mulia.. Sebenarnya siapa sosok keempat orang yang bersama Putri??"
"Mereka Spirit Putriku." jawabnya singkat.
"Apa...!!! Putri Anda yang kelihatan sangat Rapuh itu, sudah bisa memanggil Spirit?? Bahkan sampai empat orang! Jika begitu Putri jauh lebih hebat dari anda Yang Mulia..!!" Agus terkejut mendengarnya, meski sulit mempercayainya.. Tapi melihat bagaimana Masternya itu, ia tidak merasa terkejut lagi.
"Hem.. Tapi yang menggendongnya, bukan Spirit Putriku." Jawab Duke, sambil menulis.
"Tapi Kelihatannya, ia tampak sangat akrab dengan Sosok Yang Mulia Kecil."
"Yah.. Aku juga heran. Tapi begitulah Putriku, banyak yang mencintainya selain aku. Jadi kau jangan macam-macam Argus." di kalimat terakhir yang ditekankan Duke, ia tampak serius dan memberi peringatan pada Argus dengan tatapan dinginnya.
Menyadari Amaran yang di berikan oleh Sang Master, Argus tersentak kaget. Untuk merubah suasana di ruangan itu.. Ia berpura-pura batuk, dan bertanya maksud tujuan dari kata yang di tujukan Duke padanya.
"Uhuk.. Uhuk.. A-apa maksud Yang Mulia..?" tanya Argus pura-pura tidak mengerti.
"Heh.. Apa kau pikir aku bodoh Argus! Zion tidak akan mungkin bersikap seperti itu, jika tidak ada sebabnya. Aku mengenalinya dengan sangat baik, jauh sebelum aku bertemu denganmu." ujar Duke menyeringai sinis.
'Tidak di jawab berarti aku mengiyakan, dan jika di jawab malah akan mengundang kemarahan Master!! Aku jadi bingung tidak tahu harus berbuat apa? belum saatnya.. aku mengungkapkan tentang perasaanku.
Meski aku sendiri masih belum yakin, apakah perasaan yang aku rasakan ini.. adalah Rasa Suka sesaat, Atau hanya sekedar obsesi semata!? Yah, kita lihat saja nanti.'
...****************...
Di ruang tamu.. Raffael yang merasakan kehadiran Ravella, tersenyum simpul. Jantungnya terus berpacu kencang, ia benar-benar tidak sabar ingin bertemu Ravella.
Di perjalanan saat melewati Lorong panjang yang mengarah kearah Ruang Tamu, kelima orang tersebut berunding sambil berjalan santai untuk mengulur waktu mengatur strategi. Garda sengaja muncul di Lorong, dan bukannya langsung muncul di tempat pertemuan.
"Nak.. Sebelum kita menemui temanmu itu, ada baiknya jika kau muncul dengan tidak terlalu mencolok." ujar Jura sambil melipat kedua tangannya.
"Apa maksud Kakek!!" Tanya Ravella tidak mengerti, yang juga mewakili pertanyaan yang lainnya.
"Hem.. Kami akan menemanimu, namun dengan menyembunyikan diri. Jadi kau akan terlihat seolah datang sendiri. Hem.." Jura melirik kearah Garda.
"Melihat kau menatapku seperti itu..! Aku jadi merasakan firasat buruk." ujar Garda berbicara pada Jura.
__ADS_1
"Hem.. Karena kau sudah menawarkan dirimu! Jadi kau harus melakukannya sampai selesai Pak Tua." ucap Jura menyeringai.
"Cih, baiklah, karena aku juga sudah terlanjur berjanji dengan Dewi."
Bagus, ayo kita mulai.
Jura, Saga, Gira. Langsung menghilang menyamarkan diri. Sedangkan Garda..!!
***
Sesampainya di depan pintu Ruang Tamu, Ravella di sambut kedua Kesatria, yang sedang berjaga di depan pintu.
"Yang Mulia Putri.." kedua kesatri menyapa Ravella, dan membukakan Kedua pintu besar itu.
Saat Ravella memasuki Ruangan, di ikuti satu Kesatria tangguh di belakangnya. tampak sosok seorang Pria remaja langsung berdiri, dan menyambut Ravella dengan senyuman hangat.
Ravella tampak sedikit Canggung, meski anak lelaki di depannya itu tampak sangat ramah dan manis, Tapi ia tidak Terbiasa dengan sikapnya itu.
'Haah.. Apa yang bocah ini inginkan?" pikir Ravella yang belum tahu, siapa sosok Pria yang ada di hadapannya itu!
"Saya Rael, senang bertemu dengan anda Lady." ujar Raffael sambil mencium punggung tangan Ravella.
"Begitupun Saya.. A?"
"Panggil saja saya Rael Lady." ujarnya agar lebih nyaman.
"Ah, baiklah Rael, kau juga bisa panggil aku dengan namaku, Maaf menunggu lama!"
"Hem.. Dengan senang hati, tidak apa-apa karena saya sudah terbiasa menunggu." ujarnya tersenyum tenang.
'Jleb.., sepertinya dia sedang menyindirku..!' pikir Ravella merasa bersalah.
Tak lama datang si pelayan, menuangkan Teh hangat untuk keduanya. Sedangkan Jura.. ia merasakan kehadiran sosok lain, yang sangat kuat dan menakutkan, berada di dalam ruangan tersebut.
Begitupun Saga dan Gira, sedangkan Garda hanya fokus mengawasi pembicaraan keduanya dalam diam. Garda sedang menyamar menjadi seorang Kesatria tampan. Gira dan Saga merasakan hal yang sama, hanya saja tidak setajam Jura.
Keduanya yang tampak penasaran dengan ekspresi Jura, langsung melontarkan pertanyaan yang tersirat dipikiran mereka.
'Ada Apa Jura.. Kenapa kau tampak pucat?' tanya Gira.
__ADS_1
'Benar kawan, setibanya kita disini.. Wajahmu langsung berubah, apa kau sedang tidak sehat?.' sambung Saga, Khawatir.