
Tiga tahun pun berlalu.. setelah kejadian di hari itu! sebulan kemudian keempat Spirit selesai berevolusi, Rabarus pun tidak menunda lagi waktunya. Ia langsung mengajak keenam Spirit Ravella, untuk fokus berlatih bersamanya.
Rabarus menerapkan kedisiplinan dan aturan yang sangat ketat dalam latihan. mereka tidak pernah bersantai lagi sejak kejadian itu, hari-hari mereka hanya di habiskan untuk latihan.
Hingga keenam Spirit tidak diberi kebebasan untuk keluar masuk Zona Mana. Hanya Ravella yang bisa bebas keluar masuk Zona Mana. dan di saat Ravella datang mengujungi mereka, barulah keenam Spirit bisa bersantai sejenak dari kerasnya latihan.
Semenjak ketiadaan Para Spirit di sisinya, Ravella dan Gapi, sering di temani Zion, dan Argus. kemanapun ia pergi.. kedua Spirit Ayahnya itu, akan selalu menemaninya. dan tidak pernah sedikitpun keduanya melepaskan perhatian mereka dari Ravella, kecuali di saat Ravella sedang tertidur.
Begitupun Gapi.. yang kini sudah bertumbuh besar. Tidak hanya itu, Gapi kini sering berburu ke dalam hutan. Ia sering membawa pulang hasil buruannya itu ke Mansio. Dan Ravella sangat senang melihat perkembangan Peliharaannya tersebut.
Yang kini sudah makin bertumbuh besar, dan sama besarnya dengan seekor Serigala. Seiring berjalannya waktu.. Ravella pun jadi semakin dekat dengan Argus. Dan Argus sangat menikmati hari-hari yang dihabiskannya bersama Ravella.
Ia sangat senang saat mendapat perintah dari Duke, setelah kejadian waktu itu. Duke mulai memerintahkan keduanya untuk selalu mendampingi Putrinya kemanapun ia pergi.. Karena Spirit Ravella sedang di sibukkan berlatih. jadi Duke tidak mempercayakan pengawalan Putrinya pada siapapun, kecuali kedua Spirit miliknya.
Tidak hanya itu.. Duke yang kini tengah berada di perbatasan bagian selatan. Karena mendapat misi rahasia dari Kaisar. Ia pergi mengembara seorang diri, demi menyelesaikan kasus tentang hilangnya Para Prajurit di perbatasan secara misterius.
Sedangkan Zion dan Argus, tidak di beri izin untuk ikut bersamanya. Ia rela tidak di dampingi Spiritnya.. demi menjaga keselamatan Putri Semata Wayangnya.
Ravella yang saat ini.. tengah berada di atas bukit yang sangat jauh dari Mansion, duduk di temani dengan kedua Spirit. seperti biasa, Ravella duduk bersandar pada tubuh besar Zion.
Sambil menghirup udara segar, ia termenung sejenak menikmati pemandangan alam sekitar.. Bunga-bunga bermekaran di setiap tempat, kupu-kupu berterbangan menginggapi mawar.
Burung-burung berkicau merdu di suasana pagi yang cerah.. Ravella memejamkan kedua mata indahnya.. menikmati perasaan segar yang menenangkan dari suasana alam sekitar.
'Hem.. Tidak terasa usiaku kini telah mengijak dua belas tahun saja. tiga musim semi telah terlewati... Banyak hal yang telah kami lalui. Dan kini tak terasa, tiba-tiba sudah memasuki awal musim panas saja.
Apa Kakek Zando akan datang...? Aku sangat merindukannya. Sudah tiga tahun berlalu, namun beliau masih belum muncul juga. padahal Kakek telah berjanji padaku akan menemuiku, setelah melewati tiga musim semi.
Sementara Para Kakek, tengah di sibukan dengan latihan mereka. Sedangkan Ayah, tengah menjalani misi Rahasia dari Kaisar.
Aku sangat khawatir pada Ayah! karena ia hanya pergi seorang diri, dan meninggalkan kedua Spiritnya hanya untuk melindungiku.
Kedua Spirit Ayah sangat protektif, mereka begitu melindungiku, meskipun terkadang.. aku merasa tidak sebebas saat bersama Keenam Kakek!
Sedangkan Rog, dia kini telah memiliki Spiritnya sendiri.. yaitu Spirit yang pernah bertarung dengannya dulu. dan Kakek Zion sering mengirim mereka berdua, untuk mengerjakan misi khusus. hingga keakraban mereka secara perlahan-lahan tumbuh, dan berkembang menjadi Sahabat. dan keduanyapun sepakat menjalin kontrak untuk saling melindungi.
Hem..hem.. aku sangat bangga padanya. Dan Kakek Zion juga sangat senang akan hal tersebut! karena memang itu tujuan awal Kakek Zion. dari keikut sertaannya yang secara tidak sengaja ke Mansion, hingga menjadi bawahan Kek Zion..
Dan tentu saja Kakek terus mengawasi perkembangan Serigala tersebut, hingga mengujinya dalam tiap misi-misi penting yang sulit. dan tak terasa Rog, kini telah menjadi kesatria resmi. akhirnya.. kerja kerasnya selama ini, terbayarkan dengan hasil yang tidak terduga.
Dan Rog pernah berkata saat makan siang waktu itu.. Ketika dihari debut kedewasaanku nanti, Rog berjanji padaku akan mendedikasikan dirinya, hanya untuk menjadi kesatriaku.
begitupun dengan Ron, yang kini telah di angkat menjadi Prajurit magang. ia yang tidak mau kalah dengan kakaknya.. malah ikut-ikutan berjanji padaku, akan segera menyusul kakaknya menjadi kesatria pribadiku.
Haah... entahlah, aku tidak terlalu memikirkan masalah itu sih! justru yang paling aku khawatirkan... waktu untuk bertemu dengan Grasia sudah semakin dekat.
Di usiaku yang kelima belas tahun, ia akan datang menuntut haknya sebagai Putri gelap Ayah.
Haah.. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat itu tiba!? aku berharap Ayah tidak berubah dingin padaku! karena jika itu terjadi, aku akan meninggalkan Mansion ini. dan akan berpetualang melihat dunia luar. hem.. ya, itulah rencana besarku yang telah aku pikirkan jauh-jauh hari.
Karena aku tidak sanggup melihat perubahan Ayah yang awalnya hangat, menjadi dingin padaku.' Ravella tenggelam dalam pikirannya sendiri. Zion dan Argus yang sejak tadi terus memperhatikan Putri kesayangan mereka, hanya mengamati dalam diam.
Melihat Putri kesayangannya yang tengah hanyut dalam lamunan. Zion menyapanya.. hingga membuat Ravella tersadar seketika.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Nak Dewi? hingga wajahmu berubah seserius itu!" tanya Zion, khawatir.
Sedangkan Argus, dia hanya tersenyum dalam diam, dan menikmati setiap momen yang dilakukan Ravella.
"Ha-haha.. a-aku hanya sedang memikirkan bagaimana keadaan Gapi, saat dewasa nanti, hehe." jelas Ravella, beralasan sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
'Hem.. pasti ada hal lain yang ia pikirkan? sehingga ia tidak ingin menceritakannya pada sipapun.' Zion mengamati perubahan gelagat Ravella. "Begitukah! hem baiklah." gumamnya tidak bertanya lagi. suasana diantara ketiganya, kembali hening.
Angin sesekali berhembus kencang.. hari menjelang siang, mentari semakin naik keatas.. Ravella, Gapi, dan kedua Spirit, kini kembali Ke Mansion.
Argus yang sejak tadi hanya diam.. sibuk merenung. 'Hem.. Dewi semakin bertumbuh, dan sekarang saja ia makin bersinar terang.
Hem..hem.. aku tidak sabar menunggu hari debut kedewasaannya. di saat itu, Dewi Kecil kita pasti akan semakin mempesona. apalagi kecantikannya yang tiada duanya itu. haah.. aku harus segera menyingkirkan satu-persatu lalat-lalat sialan yang akan terus mengerumuninya.' pikirnya tiba-tiba kesal.
Saat ia tengah larut dalam pikirannya.. seketika terdengar suara Zion mengusik khayalannya itu.
'Hei Bocah, apa yang sedang kau pikirkan hah..?'
'Haah.. kau mengganggu saja Senior, urus saja urusanmu Senior. dan jangan ganggu aku.' ujarnya ketus.
'Cih, justru itu aku khawatir. ekspresimu mengatakan kau sedang bermimpi. berhentilah memikirkan hal yang tidak akan pernah terjadi bocah.' ujar Zion mengingatkan Argus, karena ia bisa menebak hanya dengan melihat reaksi Argus.
'Cih.. jangan sok tahu kau Senior.' dalih Argus, berpura-pura menepis ucapan Zion.
'Yah, lebih baik kau sadar diri dari sekarang bocah, karena kau tidak pantas memilikinya.' tegasnya memperingatkan. dan berlalu meninggalkan Argus yang mulai tampak kesal. Argus menatap geram pada Zion.
''Cih, jika saja tidak ada Dewi di sini.. sudah aku hanguskan kucing besar itu!' Argus menggerutu kesal dalam hati.
***
Sedangkan di tempat lain, Rog kini tengah berburu, ia menelusuri jauh kedalam hutan. Rog pergi di temani dengan Spiritnya, yang kini telah di anggap sahabatnya.
Rog menarik anak busur panah miliknya... Dan menahannya sebentar. Melihat itu, Albo berceletuk padanya yang kini tengah fokus membidik sasaran.
__ADS_1
'Hei.. Ini jadi membosankan bocah, sampai kapan kau akan menunggu? Lagsung kita tangkap saja.. Aku tidak suka menunggu sepertimu.' keluh Albo, karena merasa bosan.
'Dasar kau ini.. Sesuatu yang berharga itu, jika kita mendapatkannya dengan bersusah payah.. Baru hasilnya terasa sangat berharga, karena kau mendapatkannya dengan jerih payahmu sendiri.
Malah sesuatu yang di dapatkan dengan mudah, jadi tidak akan menarik sama sekali. sebab kau mendapatkannya tanpa kerja keras. jadi akan membosankan setelah kau memilikinya.' jelasnya pada Albo.
'Cih, caramu berpikir terlalu merepotkan bocah. Aku tidak suka menunggu.. Kalau begitu aku pergi saja.. Bantuanku juga tidak di perlukan di sini.' ujarnya lalu menghilang, meninggalkan Rog sendirian memburu target.
'Haah.. Dasar Serigala satu itu.. Dia terlalu tidak sabaran. Ugh, bagus... Dia mendekat.' "Bwuuuusssshhhh" Rog langsung melepaskan anak panahnya, dan membidik dengan tepat sasaran.
Rog mendapatkan Seekor Rusa gunung, yang lumayan besar. "Hem bagus, dengan satu ekor Bison berukuran sedang yang di tangkap tadi, lalu digabung dengan Rusa gunung dewasa.. jadi dapat dua ekor. Lumayan, buat acara bakar-bakar dan berbagi dengan yang lainnya hmm..." ujarnya langsung mengangkut keduanya. Dan ia pun menaiki kuda, dan segera kembali ke Mansion.
***
*GARDA*
Sedangkan di dalam lautan bermuda, Garda.. kini masih bertahan dengan hukumannya. Selama tiga tahun ia tidak beranjak dari tempat tersebut, dan hanya bersemedi ditemani dengan seekor duyung cantik, yang selalu setia menemani hari-harinya.
Belka sering datang mengujungi Garda, yang sedang bersemedi. Ia menjadikan tempat Garda bersemedi, menjadi tempat favoritnya untuk berkeluh-kesah.
Belka sangat tertutup, jadi hanya sosok tertentu yang bisa berteman dengannya. ia bukan pemilih, tapi ia lebih suka berteman dengan seseorang yang bisa membuatnya merasa aman dan nyaman. dan Paus besar itu adalah salah-satunya. karena mereka telah berteman sejak kecil. namun.. sejak Paus itu memasuki usia Dewasa.. mereka mulai jarang bertemu. ia sering pergi bersama Rombongan Paus lainnya. dan menjelajahi seluruh samudra luas. hanya sesekali ia pulang dan datang mencari Belka, teman masa kecilnya itu.
Belka selalu merasa kesepian, ia tidak punya teman ataupun tempat curhat untuk berkeluh-kesah mengungkapkan seluruh unek-unek hati, dan pikirannya.
Sejak ia melihat sosok Garda.. tanpa sadar ia mulai tertarik padanya. dan ia sering datang berkunjung, duduk bermain, dan bernyanyi di sekitar Garda. terkadang ia duduk berbicara pada sosok yang tengah bersemedi itu..! menganggap seolah-olah Garda sedang mendengarnya.
Tanpa Garda merasa terganggu sedikitpun, dengan kehadiran Duyung cantik tersebut. Dan tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan Belka, pun terjadi.
Garda yang saat ini tengah fokus dengan semedinya, mendengar suara yang amat ia kenali sedang berbicara padanya.
'(GARDA, BANGUNLAH. MASA HUKUMANMU KINI TELAH SELESAI, KEMBALILAH SEKARANG.)'
Mendengar perintah dari Sang Paduka, Garda sangat senang. Karena hukumannya telah berkahir.
'BAIK PADUKA.' jawabnya, Garda pun membuka matanya secara perlahan-lahan.
Belka yang melihat pergerakan Rabarus, dengan cepat bersembunyi di balik batu besar. Ia mengintip dari balik batu tersebut.. Dan bergumam dalam hati.
'Akhirnya.. Setelah sekian tahun Pria asing itu membatu, kini dia terbangun juga. Hem..hem.. Dia sangat tampan sekali.' pikirnya dengan kedua pipi yang bersemu merah, karena malu. ia berbalik dan menepuk kedua pipinya dengan gugup, dan menenangkan hatinya berdebar.
'Oh Dewa... tidak, Apa yang sedang terjadi padaku?' ia menyukainya, namun masih belum sadar dengan perasaannya tersebut. Karena Belka adalah seekor Duyung yang masih polos dan lugu. "Puk.. Puk.." ia menepuk pipinya untuk menenangkan diri.
Tiba-tiba suara seseorang muncul dan sedang berbisik di telinganya, hingga membuat Belka terkejut dan segera menjauh. "Sedang apa Gadis cantik sepertimu, ada di tempat ini sendirian?" ujar Garda, yang sejak tadi memperhatikan tingkah malu-malu Duyung cantik itu. Yang terlihat sangat lucu.
"Ha-hwaaaaaaa!" kagetnya berteriak dan langsung berlari karena malu. Sementara detak jantungnya terus berdebar sangat kencang, ia terus berlari tanpa memperdulikan apapun di yang ada di sekitarnya.. akibat terkejut.
Anak polos itu selalu datang mengunjungiku setiap hari! Hem.. Aku harus melihatnya lebih dekat lagi, dan mencaritahu siapa nama anak itu.' pikirnya, langsung menghilang. dan dalam sekejap ia telah berada di depan gadis duyung itu.
'Bug... Euh, a-apa aku menabrak sesuatu? Pikir duyung tersebut sambil menggosok kepalanya, dan dengan skeptis ia mengangkat kepalanya perlahan-lahan. Saat melihat wajah Garda.. Belka langsung terkejut dan ingin berlari lagi. Namun, pergelangan tangannya langsung di tangkap oleh Garda.
"Tunggu dulu nona.. Kenapa kau selalu lari saat melihatku?" ujar Garda, menangkap lengannya yang lembut. Dan menariknya lebih dekat kehadapannya.. Hingga tatapan mereka saling bertemu pandang.
Duyung berambut oranye tersentak kaget, saat Garda menangkap tangannya. ia mempunyai mata yang agak besar dan indah, warna mata biru laut, dan ekornya, bewarna kuning oranye, hampir persis dengan warna rambutnya.
Di atas rambutnya terdapat mahkota kecil melingkari kepalanya. ia juga mengenakan anting dari mutiara.. Membuat pesonanya terpancar keluar.
Saat tatapan mereka bertemu, Garda tersenyum hangat, begitu melihat wajah gadis cantik itu dari dekat. Sementara Gadis itu mengalihkan pandangannya karena gugup. Ini adalah pertama kalinya ia bertatapan muka dengan seorang Pria dalam jarak yang sangat dekat.
Melihat paras cantik duyung itu memalingkan wajah darinya.. Garda tersenyum dan meraih dagunya dengan kedua jarinya, dan menarik agar menatap kearahnya.
Ia tersenyum melihat gadis polos itu menatapnya dengan malu-malu. Lalu ia pun bergumam padanya..
"Siapa namamu nona?" tanyanya, pada gadis Duyung itu.
"Be-Belka." ujarnya gugup.
"Hem.. Belka... Nama yang bagus. Aku Garda. Meski aku bersemedi.. Tapi aku tahu dan bisa merasakan kehadiranmu! Kau selalu datang mengunjungiku setiap hari. Dan aku bisa mendengarmu.
Tapi, sayangnya.. aku harus segera pergi sekarang." ujar Garda dengan berat hati, sambil memandangi ekspresi gadis itu.
Tampak kekecewaan terukir di wajah cantiknya yang lembut.. Garda tersenyum bahagia, melihat reaksi gadis itu. Dan ia langsung menarik keluar gelang emas dari tangan kanannya.. Lalu memakaikannya di tangan kanan gadis itu.
"Euh.. A-apa ini, Tuan?" tanyanya tidak mengerti dengan apa yang di lakukan Garda padanya.
"Sekarang gelang ini telah menjadi milikmu, aku akan datang lagi nanti untuk menemuimu." ujarnya lalu menarik pinggang Belka lebih mendekat lagi padanya, dan ia mengecup kening Belka dengan lembut, lalu memeluknya.
Belka terkejut dan tersipu, hingga ia tidak bisa berbicara, dan hanya menatap terpaku pada Garda. Sadar akan tatapan kebingungan Belka.. Garda kembali bergumam sembari mengusap pipinya.
Yang membuat gadis itu semakin terpesona dengannya. "Terima kasih karena telah menemani hari-hariku. Aku pergi dulu.. Dan persiapkan dirimu saat aku kembali nanti..!" gumamnya tersenyum hangat.
Lalu menghilang dalam sekejap.. Meninggalkan banyak tanya di benak Gadis muda itu! Belka kembali tersipu, dan memegang kedua pipinya yang bersemu merah.
"Pluk.. Pluk.. Ini nyatakan..?" gumamnya masih belum percaya dengan apa di alaminya barusan, lalu.. Pandangannya teralihkan pada gelang emas yang kini ada di lengan kananya, yang tadi di pakaikan Garda.
"Hem.. Ya, ini nyata!" ia tersenyum bahagia dan memeluk gelang yang ada di pergelang tangannya. jantungnya berdebar-debar saat mengingat momen Garda mengecup keningnya.
"Tapi.. Apa yang di maksudkan Tuan itu? Mempersiapkan diri.. Memangnya aku harus mempersiapkan diri untuk apa??
__ADS_1
Haah.. Biarlah, pikirkan masalah itu nanti saja. Yang jelas saat ini, aku sangat bahagia sekali. Aku akan selalu menunggu kehadiranmu, Tuan Garda. hem..hem.." gumamnya tersenyum riang, lalu menatap ke atas permukaan laut, dengan kedua tangan menempel di dadanya.
Tanpa Belka sadari.. Seseorang sedang memperhatikannya sejak tadi.
***
*LANNOX*
Di luar kota, perbatasan Selatan. Duke yang mengenakan jas hitam dan jubah merah di pundak kirinya.. Sedang menunggangi Pather Hitam. Yang baru saja ia dapatkan saat dalam perjalanan menuju ke daerah tersebut.
"Bagaimana Icarus.. Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Lannox pada Panther Hitam itu.
Icarus menajamkan penciumannya, ia mengendus-endus di udara.. "Hem.. Ini aneh, bau mereka sangat kental, tapi aku tidak merasakan kehadiran mereka disini." ujarnya menyipitkan matanya. Sambil mengamati situasi sekitar.
"Begitu ya.." ujarnya. 'Sebenarnya, kemana Para Prajurit-Prajurit itu pergi..? Bagaimana mereka bisa menghilang tanpa jejak..!' Duke merenung, menyelidiki keanehan tersebut.
Lannox menatap punggung Icarus, tiba-tiba ia berseringai saat mengingat kembali, pertarungannya dengan Panther Hitam Itu.
'Huh.. Tidak pernah terbayangkan olehku, jika aku akan mendapatkan Spirit yang tidak kalah hebatnya dengan Zion.'
(Flashback)
Saat ia sedang menyusuri hutan.. Secara tidak sengaja ia bertemu dan dihadang dengan seekor Panther Hitam, yang sama besarnya dengan Zion. Keduanya bertarung sengit, hingga tujuh hari berturut-turut tanpa henti.
Tidak ada satupun yang mahu mengalah, mereka tetap bertahan meski sudah terluka parah! Hingga ada saat Panther Hitam yang tengah fokus dengan lawannya itu.. Tidak menyadari ada kehadiran Ular Raksasa di belakangnya. Anaconda Raksasa itu mendekat dalam senyap, lalu mulai melebarkan mulutnya dan lansung menyerang dari arah belakang.
Lannox yang menyaksikan hal tersebut, secara refleks tubuhnya bergerak dan langsung menggunakan pedang Auranya, dan melompat tinggi membelah Anaconda Raksasa menjadi dua bagian.
Panther yang merasa terutang budi.. Berhenti menyerang Duke. Ia menatap dan mengamati Duke, dan tak percaya dengan apa yang ia lihat. 'Bagaimana bisa.. Manusia yang telah kuserang, malah berbalik menolongku!?' pikirnya heran.
Baru kali ini ada seorang anak manusia berani malawanku dan kami imbang.' pikirnya masih tidak percaya dengan tindakan Lannox.
"Kenapa kau menolongku manusia?" tanyanya penasaran.
"Cih, jangan besar kepala dulu, saat melihatmu di serang! Tiba-tiba saja aku jadi teringat dengan seseorang yang sangat akrab, dan tubuhku refleks sendiri." ujarnya malas.
Panther itu mengankat salah satu alisnya.. Dan terdiam beberapa saat. 'Apa benar.. Hanya karena itu! Hem.. Dasar bocah yang aneh.' pikirnya lagi.
"Dan kau, kenapa tiba-tiba menyerangku?" Lannox balik bertanya.
"Hem.. Entahlah, saat melihatmu! Tiba-tiba aku mencium aroma Singa, jadi aku tidak suka jika ada binatang lain masuk kewilayahku." ujarnya dengan wajah bengisnya.
'Hah.. Sial, pantas saja dia menyerang. Jadi karena ada bau Zion melekat padaku.' Mendengar jawaban Panther itu, Duke berseringai, Dan menyarungkan kembali pedangnya.
"Baiklah jika begitu, tidak ada yang perlu di bicarakan lagi." ujarnya langsung berbalik memunggungi Panther Hitam itu, dan berjalan pergi meninggalkannya.
"Tunggu dulu manusia, s...." ucapannya langsung dipotong Lannox.
"Kau tidak perlu berterima kasih padaku, selamat ting.. Huh, apa yang kau lakukan? Apa kau mau bertarung lagi..!?" ujar Lannox terkejut, melihat Panther Hitam itu sudah berada di hadapannya.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Hem.. Kenapa memangnya?" tanya Lannox curiga, tiba-tiba Panther itu menanyakan namanya.
"Jalinlah kontrak denganku....," belum selesai ia bicara, ucapannya kembali dipotong.
"Heh.. Kau tidak perlu bersikap seperti ini, hanya karena merasa berutang budi padaku." sambung Lannox lagi, lalu berseringai pergi dan mengabaikannya.
Panther itu tidak menyerah, dan muncul lagi di hadapan Lannox. "Apa lagi sekarang...?" ucap Lannox bersedekap tangan, Ia mulai tampak jengkel, karena Panther itu terus menghalangi jalannya.
"Aku mohon, jalinlah kontrak denganku. Karena aku bosan selalu mengembara sendirian, dan sepertinya.. kau adalah seseorang yang layak menjadi Masterku..!" ujarnya tulus.
"Kenapa harus Aku..? Cari saja orang lain. Aku sudah mempunyai Spirit, jadi aku tidak membutuhkannya lagi. Minggir sana, jangan halangi jalanku." ujar Duke ketus, dan berlalu pergi meninggalkan Panther Hitam. Namun sekali lagi ia dihadang dengan Phanter Hitam itu.
"Haah.. Sudah aku bilangkan, jika aku tidak membutuhkan S..."
"Tapi aku mencium aroma Spirit lain darimu, dan itu bukan hanya Satu.. Aku mohon padamu, jadilah Masterku! aku berjanji akan menlindungimu." ujarnya memelas.
"Cih, kenapa kau suka sekali memaksa! kalau begitu, beri aku satu alasan, yang membuat aku yakin untuk menerimamu menjadi Spirit ku!" ujarnya.
"Entahlah, firasatku mengatakan jika aku akan beruntung jika mengikutimu. Karena kau dilindungi Dewa." ujarnya berseringai, dan menatap Pria berambut putih keperakan itu, dengan penuh tekad.
"Haah.. Dasar Kucing yang aneh." ujarnya berseringai, lalu merenung sejenak. 'Hem.. Rasanya ia bisa berguna..! Apalagi saat ini, Zion dan Argus, sedang melindungi Putriku. Jadi mereka tidak bisa aku panggil kapanpun aku mahu bukan.' pikirnya lagi.
"Baiklah, aku akan menjalin kontrak denganmu." setelah berpikir dengan matang, akhirnya Duke menyetujuinya.
"Sebutkan Namamu bocah!"
"Aku, Lannox Ravin Rallex."
"(AKU ICARUS, MEMBUAT PERJANJIAN DENGAN LANNOX RAVIN RALLEX. AKU AKAN MELINDUNGINYA DENGAN SEGALA KEKUATAN DAN JIWAKU .)"
Setelah keduanya mengucap sumpah, tak lama tubuh mereka di penuhi dengan cahaya terang, Kini hati dan pikiran mereka terbagi dan telah menjadi satu.
(Sekarang.)
'Hanya saja.. Dia tampak lebih pendiam dari Zion. Apa mungkin.. karena ia sering mengembara sendirian..? Eum.. Tapi aku rasa sifat itu tidak akan bertahan lama sih.. hem..' pikirnya menyeringai.
__ADS_1