AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KEMBALINYA PARA SPIRIT


__ADS_3

"ka..kek.. jura, kaukah itu..?"


jura memangku sosok kecil yang sedang sekarat dipelukannya.


"ya nak, ini aku. apa sebenarnya yang telah terjadi padamu?"


"haah.. syu..kur..lah, a.. apakah, aku sudah ber..guna untuk de..w..?"


gapi sudah tak berdaya dan tidak punya tenaga lagi untuk berbicara, iapun telah sampai batas terakhir kesadarannya. gapipun pingsan tak sadarkan diri dalam dekapan jura.


"dia sampai pingsan, kau pasti sudah berusaha sangat keras nak, hingga babak belur seperti ini."


"siapa kalian? berani-beraninya mengganggu urusanku!"


(zaku) "heh.. apa kau bilang mengganggumu? apa kau tidak sadar kau sedang berada di wilayah siapa dasar bedebah bangsat!"


"apa peduliku, yang aku tau.. hanyalah mendapatkan apa yang aku mau."


(saga) "apa sebenarnya yang kau cari..! hingga kau tega menyiksa anak sekecil ini?"


ditempat zion berada, kecemasan yang mengganggunya kini mereda. karena kehadiran para spirit lainnya yang telah kembali lengkap.


"kakek garda.. kek tama, kek gira, kek roya, kalian sudah kembali? ah kalau begitu, aku titip dewi kepada kalian. karena aku akan membantu a.."


(garda) "tidak perlu nak, jura dan yang lainnya telah ada disana untuk menyelamatkan siraja kecil."


"raja kecil, apa maksudnya aku tidak mengerti?"


garda yang telah mengetahuinya, melihat kearah para peri yang telah berhenti menangis, dan mengangguk memberikan kode untuk bercerita yang sebenarnya kepada zion."


"sebelum itu maafkan kedatangan kami yang tiba-tiba ini, tanpa memperkenalkan diri terlebih dulu."


"saya beni, peri biru."


"saya serin, peri kuning"


"saya loli, peri hijau"


"saya roxy, peri ungu"


"dan saya ramis, peri merah"


(ramis) "kami berlima adalah para peri yang selalu mendampingi beliau secara diam-diam tanpa sepengetahua darinya, dan saat malam tiba, sang raja yang sedang tertidur dihutan, tanpa beliau sadari kami berlima sering menghampirinya dan menemaninya dan saat beliau terbangun kami akan menghilang menyembunyikan diri."


"kalau begitu, kalian para kakek telah mengetahui asal-usul anak itu! sejak kapan?"


(tama) "tidak aku baru tau hari ini."


(gira) "ya begitupun aku dan roya, yang baru mendengarnya."


zion menoleh kearah garda, garda yang melihat tatapan zionpun segera mengerti dan menjelaskannya.


(garda) "haah.. baiklah akan aku ceritakan."


dikota vala argus dan roland menghampiri para pasien yang sedang dalam proses perawatan, dan tampak beberapa dokter sedang sibuk memberi minum pasien lainnya. dan reaksi yang terjadi pada pasien sama saat dikota dakus, awalnya gejala rasa sakit saat meminum air suci. tapi beberapa saat kemudian pasien mulai tenang dan lega, seolah-olah beban yang diderita saat ini, lenyap begitu saja.


"roland, darimana yang mulia mendapatkan air suci ini..?"


"i..itu.. saya juga kurang tau yang mulia, tiba-tiba saja saat saya dipanggil air suci ini sudah berada didalam kamp yang mulia."


"begitukah..!" argus diam sesaat. 'hmm level air suci ini sangat berbeda jauh, jika ini berasal dari pihak kuil suci, paling minimal hanya bisa menghilangkan rasa sakit namun tidak dengan luka dalam. lagian tidak mungkin juga tuanku, meminta bantuan kuil suci, sangat tidak mungkin! aku akan melihatnya sebentar."


tiba-tiba saja tanpa sepengetahuan dari siapapun, sukma argus keluar dari tubuhnya, dan berubah jadi kecil, lalu ia menghilang masuk kedalam tubuh pasien, ia berjalan memeriksa dan melihat organ para pasien dari dalam tubuhnya.


'benar ini sangat parah, tepatnya tinggal menunggu mati saja. luka seperti ini tidak mungkin bisa disembuhkan, walau campur tangan saintes sekalipun tetap tidak akan bisa mengembalikan fungsi alat fital yang telah rusak dan terkontaminasi dengan racun dari sihir hitam.'


setelah argus melihat dan mengeceknya sendiri dengan mata kepalanya, sukmanya kembali lagi memasuki raganya. terdengar suara roland yang memanggil."


"yang mulia.. apa anda tidak kenapa-napa?"


"ada apa memangnya?"

__ADS_1


"ti..tidak hanya saja yang mulia kelihatan lebih banyak diam."


"hem.. puk.. puk.. kau lanjutkan saja kegiatanmu, aku akan pergi melihat kondisi pasien yang lainnya."


argus tersenyum ramah dan menepuk pundak roland, lalu pergi meninggalkan roland yang terlihat kebingungan.


"baik yang mulia, apa perlu saya antarkan!"


"tidak perlu, aku bisa sendiri."


arguspun pergi dengan wajah yang penuh tanda tanya.


'dia sangat aneh, dalam sekejap dia bisa menjadi dingin dan ketus, lalu tiba-tiba saja menjadi ramah lagi dan tersenyum. entah kenapa sifatnya yang seperti itu membuatku merasa merinding.'


'hem.. level dari air suci ini sangat berbeda dari air suci biasanya..! bagaimana caranya yang mulia bisa membuat air suci sebanyak ini, bahkan para saintes juga tidak bisa membuat air suci melebihi batas normal..! yah apapun itu tuanku memang orang yang hebat, tidak salah jika aku memutuskan untuk menjadi spirit miliknya.'


arguspun memasuki kamp satu persatu, dan mengecek setiap dokter yang menangani para pasien. setelah ia memastikan keadaan keseluruhan dan berjalan dengan aman, arguspun pergi meninggalkan kamp dan iapun kembali mengecek keadaan kota sekitar.


"jadi apa maksudmu dengan jentikan tiga jarimu?"


"jentikan pertama aku mengumpulkan mereka secara paksa dan bersamaan disatu tempat, jentikan kedua aku menyegel kekuatan mereka, dan yang ketiga.. aku membuat kurungan yang bisa membuat mereka melayang atau mengapung di udara."


"heh apa kau yakin dengan kurungan yang kau buat tidak bisa membuat mereka kabur?"


"tentu saja, aku akan menunjukkannya kepadamu."


damu menggerakkan satu jari telunjuknya dan membuat batu kecil terlempar kearah para penyihir yang sedang melayang.


'kreesshh.. kreesshh..' alhasil batu itupun hancur menjadi butiran debu.


'bagaimana? apa kau masih belum percaya!'


'batu sekecil itu masih tidak meyakinkanku akan keamanannya.'


'hem.. baiklah.'


damu membuat hal yang sama seperti tadi, namun kali ini batunya lebih besar dari yang tadi.. batu sebesar kepala manusia dilemparkan kearah kurungan tersebut.


batu sebesar kepala manusiapun hancur menjadi serpihan debu.


'apa masih belum yakin?'


'tidak, aku sudah percaya sekarang.'


'jika manusia yang menyentuhnya, apakah mereka juga akan menjadi sama seperti batu itu.'


'seperti yang kau lihat.'


'baguslah kalau begitu, ayo kita lanjutkan berburu yang lainnga.'


......................


di ruang rapat para kaum bangsawan telah berkumpul, termasuk ketiga wizard kerajaan.


(duke rovel) "ada apa anda mengumpulkan kami disini?"


(lukas) "semuanya, kalian tau sendiri bukan! keadaan negara kita sekarang dalam keadaan siaga?"


(baron aisher) "ya kami sudah dengar soal baginda raja menantang perang dengan pemimpin dari benua barat."


(lukas) "untuk itulah kita berada disini Sekarang."


(Marquess Dozer) "tapi bukankah selama ini pendapat kami tidak dibutuhkan oleh baginda raja?"


(lukas) "tidak, justru pendapat kalian sangat dibutuhkan saat ini, baiklah.! aku akan langsung ke intinya saja. karena keadaan kita sedang darurat sekarang, kita tidak mungkin bisa menang melawan negara ergben. kalian tahu zendiri bukan? pusat penyihir kebanyakan berasal dari benua barat, lalu.. untuk melawan penyihir, kita juga membutuhkan bantuan dari negara sekutu. selain kita kalah jumlah karena minimnya penyihir dinegara kita. juga dari segi kekuatan militer kita juga banyak kekurangan, apalagi para prajurit tidak punya pengalaman dalam peperangan. musuh pasti sudah mengetahui hal ini, karena itu kejadian tempo hari bisa terjadi! jadi, saya harap anda semua yang hadir disini bisa mencari solusi dari masalah ini."


semua yang ada diruang rapat mendengarkan dengan fokusnya, setelah lukas selesai berbicara, para bangsawan. terdiam sejenak, sambil berunding sesama mereka terkait perihal masalah ini.


sementara ditempat wilayah duke lannox, jauh dikedalam hutan. para spirit sedang berseteru dengan sosok misterius yang tak dikenal, sosok misterius yang mencari keberadaan ravella.


"bukan urusan kalian, cepat serahkan anak itu."

__ADS_1


jura yang masih diam, memanggil zaku.


(jura) "zaku...!"


(zaku) "ada apa?"


(jura) "antarkan anak ini kemantion, suruh zion mengobatinya."


(zaku) "apa maksudmu? zion tidak bisa menyembuhkan.."


(jura) "aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya padamu. garda yang akan menggantikanku untuk menjelaskannya, cepat bawa anak ini, jika kita terlambat dia akan mati. dan kau pasti tidak ingin membuat beliau semakin sedih bukan?"


(zaku) "baiklah serahkan anak itu padaku, apa kalian yakin bisa mengatasinya sendiri?"


(jura) "tentu saja, saga kau juga kembalilah dengan zaku."


(saga) "apa maksudmu?"


(jura) "biar bocah ini menjadi urusanku, karena dia telah berani membuat muridku jadi seperti ini."


(saga) "tapi,"


(jura) "jangan membuat aku mengulanginya."


(saga) "baiklah, jika kau butuh bantuan panggil aku."


jura hanya menjawabnya dengan senyuman miring, mereka berduapun kembali kemantion."


"sialan mau kalian bawa kemana bocah itu, cepat kembalikan dia padaku."


(jura) "kau tidak punya urusan dengan anak itu, urusanmu denganku."


"siapa kau jangan ikut campur minggir, boom"


jura menangkis serangan bola api hitam dengan entengnya, pria itu dengan cepat sudah berada didekat jura, ia menendang jura. lalu menyerangnya dengan bebola hitam kearah jura, jurapun mengelak lalu balik menangkap tangan pria itu, dan menyerang dada pria itu dengan sedikit mengeluarkan tenaga dalamnya yang dialirkan menjadi bola udara, alhasil pria itupun terpelanting jauh.


"euh sialan, jurus apa yang digunakan pria itu, padahal dia hanya mendorong dadaku dengan telapak tangannya tapi, kenapa serasa aku terkena pukulan hebat. blurrp.. cas.. cas.."


muntahan darah mengucur banyak dari mulut pria tersebut.


'ini tidak mungkin, siapa pria ini sebenarnya..?'


jura yang menyaksikan dari jauh, melihat sosok pria misterius itu dengan tatapan merendahkan. lalu ia melayang mendekati pria tersebut.


"apa kau punya pesan terakhir untuk dikatakan?"


"jangan mimpi, aku masih belum kalah."


dia bangkit dari duduknya, lalu menyerang jura dengan hantaman bertubi-tubi,. puluhan bebola hitam muncul disekitarnya.


"boom.. boom.. boom..bleduak"


jura hanya menepis serangannya kesamping dengan mudahnya, seolah-olah serangan itu hanyalah sebuah barang yang dilemparkan.


'tidak mungkin, sedikitpun seranganku tidak bisa mengenainya.'


pria itu mundur kebelakang dan terjatuh, lalu ia bangkit lagi dan berlari, meninggalkan jura yang sedang memperhatikannya dari jauh dengan tatapan tajamnya, yang seakan ingin menelan pria itu.


'kau tidak akan bisa lari dariku bocah, aku akan membuatmu merasakan apa yang dirasakan muridku.'


jura mengangkat tangannya dan mengarahkan pada pria yang sedang berlari, tampak cahaya biru petir sedang menyala-nyala ditangannya. saat ia akan menembakkannya pada pria tersebut, serangannya dihentikan oleh suara yang menggema dilangit.


"hentikan seranganmu jura."


"suara siapa itu?"


jura melihat kesekitar, tak ada satupun orang yang terlihat.


"siapa yang telah berani berbicara kepadaku? tunjukkan wujudmu yang sebenarnya!"


"hem, apa begitu caramu menyambutku yang telah membangkitkan kekuatanmu. wahai pilar ketujuhku!"

__ADS_1


jura merasa terkejut dan takjub bersamaan ia tak bisa berkata-kata apa-apa seakan mulutnya terkunci, saat menyaksikan sosok yang tiba-tiba muncul dihadapannya, tubunya tak bisa digerakkan, bagaimanakah reaksi jura saat mengetahui sosok yang ada dihadapannya?


__ADS_2