AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
SEBAIKNYA, KAU MUNDUR DULU.


__ADS_3

"Kakak.. Apa yang ingin kau bicarakan???"


Sesampainya ditaman istana.. Keduanya duduk dibangku taman, sambil bersandar menatap langit, tapi tidak dengan Rowena. Karena Putri Rowena, hanya menatap lekat melihat kearah Argus. Tampak Argus, sedang memikirkan sesuatu! Argus memusingkan wajahnya kearah gadis yang masih berusia sembilan belas tahun itu. ia menatap kearah Rowena.. Yang telah ia anggap adiknya sendiri.


Saat menatap wajah Rowena, ia jadi merasa tidak enak hati namun, dia harus jujur tentang perasaannya kepada Rowena.


'Haah.. Melihat matanya yang sembab, aku jadi ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi mahu tidak mahu.. Aku tetap harus melakukannya.'


Melihat tatapan Argus, seolah sedang merasa kasihan padanya.. Rowena jadi merasa takut, jika apa yang terbesit dipikirannya akan menjadi kenyataan.


'Ti.. tidak, kenapa airmataku tidak mau berhenti keluar...!' Gumamnya dalam hati.


Ketika ia melihat ekpresi wajah Argus, menatapnya dengan sayu. Airmata yang tak terbendung meluap keluar, tanpa henti. Namun, hati dan Pikirannya, tak mau sejalan. Logikanya mengatakan kebenaran, sedangkan hatinya.. ingin tetap tinggal dipermainkan oleh ketidak pastian.


Melihat ada airmata yang keluar dari wajah gadis, yang ia anggap adiknya sendiri. Membuat hatinya semakin tidak sanggup untuk mengatakannya.. Ia mengulurkan sapu tangan, dan memeluk Rowena sambil menepuk punggungnya untuk menenangkan gadis itu. "puk.. puk.. puk.." setelah merasa Rowena mulai tenang, Ia lalu berbicara dengan nada lirih..


"Hah.. Adikku Rowe, maafkan kakakmu ini. karena aku tidak bisa memberikan apa yang kau mau! dan aku akan jujur padamu sekarang, Rowe.." ia menghentikan perkataannya.


Mendengar perkataan Argus, membuat Rowena menangis sesenggukan, dalam pelukan Argus.


'sepertinya.. Aku tahu, apa yang akan kau katakan kakak..' "hiks.. hiks.. hiks.."


Sambil menepuk punggung Rowena, Argus melanjutkan lagi, perkataannya yang sempat terhenti ditengah jalan.


"Meski aku tidak bisa mencintaimu layaknya seorang kekasih, akan tetapi.. Aku akan tetap menyayangimu seperti adikku sendiri sampai kapanpun. Kelak, kau akan menemukan seseorang yang akan mencintaimu. Mungkin ini memang pahit, tapi itulah kenyataannya Rowe.."


Dalam sesenggukannya.. Ia perlahan menolak tubuh Argus, sambil Menatap mata Argus.


'Yah, ini memang pahit, jika ini adalah jalannya takdir!! Aku harus rela melepaskan cinta pertamaku.' ia menatap lekat pada mata Argus, Sambil memaksakan diri untuk tersenyum.


"Kakak.. Kau tidak perlu khawatir. Yah.. Mu..mungkin, ini lebih baik, da..daripada harus menunggumu ribuan tahun, tanpa kepastian. Hiks.. Hiks.. Terima kasih, sudah mau jujur padaku. perkataanmu barusan, telah menamparku untuk segera kembali pada kenyataan. Dan.." Rowena tidak sanggup meneruskan katak-katanya karena airmata semakin deras keluar tak terbendung.


Argus merasa terenyuh, melihat gadis kecilnya menangis karenanya. Iapun langsung merangkul Rowena, membiarkannya menangis hingga tenang.


'apakah aku terlalu kejam pada anak ini!! Aku sama sekali tidak berniat untuk menyakitinya. melihat bagaimana terlukanya dia, karena perkataanku! Haah.. Tapi, akan lebih baik dia menangis sekarang, daripada nanti.'


Tanpa terasa, siang sudah menjelang sore. Putri Rowena tertidur dalam pelukan Argus. Tak lama.. Rudolf pun muncul untuk menjemput Pangeran, agar segera kembali kekediaman.


"Yang Mulia Pangeran.. Baginda Raja memerintahkan anda, agar segera kembali keistana!!"


Argus menoleh kepada Rudolf, dan meludahkan pertanyaan. "Ada apa?"


"Sebentar lagi akan di adakan pertemuan, untuk menyambut kepulangan anda.." Rudolf melihat sang Putri, yang masih terlelap dalam pelukan Argus. "Biarkan saya membawa beliau kembali Ke..."


"Tidak perlu, kau kembalilah lebih dulu, biarkan aku yang mengantarnyakan." Ujarnya sambil menggendong gaya bridal.

__ADS_1


"Baiklah jika begitu, saya undur diri dulu Yang Mulia."


"hem.." angguknya.


Setelah mengantarkan Putri Rowena.. Argus kembali keistana.


...******...


Di tempat lain, di luar mansion.. Jura dan Rabarus telah berada di depan Perisai. Di sana.. keduanya saling menoleh, sekali lagi Rabarus bertanya untuk memastikan. "Apa kau sudah yakin dengan pilihamu?" tanya Rabarus, dengan sudut bibir yang terangkat.


"Aku tidak yakin apakah ini keputusan benar, atau tidak!! Tapi, aku juga ingin memastikannya langsung, dengan mataku sendiri." Ujarnya tegas.


"Baiklah, ayo mulai sekarang." Rabarus mengarahkan tangan kanannya, kedepan Dinding Perisai sambil berujar. "Sebaiknya, kau mundur dulu."


Mendengar perkataanya, Jura pun mundur beberapa langkah kebelakang, tanpa menunggu waktu lama.. Keluar bola Api berukuran besar di depan telapak tangan Rabarus. Bola berukuran melebihi tubuh manusia itu.. Dengan panas yang bisa melelehkan apapun disekitarnya. Rabarus memproyeksikan bola api tersebut, menjadi bentuk bundar dan datar.


Lalu.. dalam sekejap ia melemparkan Api tersebut kearah Perisai yang tak terlihat wujudnya. "Bwussshhh.. Swiiinnngg.." Api dalam wujud bundar dan datar itu. Di lempar melayang terbang, memotong seluruh dinding Pirisai.


Tampak seluruh Perisai terkoyak hangus, karena sayatan api tersebut. Jura yang memperhatikan dalam diam, bergumam dalam hati. 'Jika dia bisa membelah, sekaligus membakar hangus Perisai tersebut dengan mudah. Artinya.. Levelnya berada jauh diatas kami.


Siapa Dia sebenarnya??? Jika dia dijadikan sebagai sekutu, akan sangat menguntungkan keberadaannya. Namun.. akan sangat berbahaya, jika sampai ia dijadikan sebagai musuh!! Aku harus tetap waspada, dan terus mengawasinya.'


Kelima Spirit memperhatikan dari jauh.. Mereka terkejut dengan kedua Pria itu lakukan. Sementara di mata kelima Spirit, Jura hanya diam menyaksikan apa yang terjadi, tanpa ada niat menghentikannya sama sekali. Sedangkan Pria paruh baya.. dengan bebas menghancurkan Perisai tersebut, tampak kesenangan terlihat di Wajahnya.


"Dasar bocah gila, apa yang sedang mereka berdua lakukan..! Dengan menghancurkan Perisai tersebut." gerutunya kesal.


Zaku yang mulai naik darah, langsung menghampiri keduanya, dan berteriak keras pada Jura. Di ikuti dengan keempat Pria lain, Di belakangan.


"Hei.. kalian..!!! Dasar sinting, apa yang sedang kalian berdua lakukan hah..?" Zaku menatap kearah Jura, dengan nyalang. Jura, apa kau sudah gila, sampai bisa terpengaruh pada Pria Asing ini..??" Zaku melirik sekilas, kearah Rabarus.


"Apa kau sudah lupa, waktu kita sudah tidak banyak lagi. Jika kau menghancurkan perlindungan yang telah kita buat un.... Mmmmm.. Mmmmm.." Mulut Zaku, langsung di bekap oleh Tama.


Tama melihat kearah Jura dan Ayahnya.. "Sebaiknya, kalian jelaskan ini pada kami nanti, Aku akan menenangkan bocah BODOH ini dulu." ia melihat kearah ketiga temannya yang lain. "Kalian bertiga juga, ayo.. bantu aku untuk menenangkan bocah Pemarah ini." Gumam Tama, pada ketiga Pria lainnya, dengan memberikan kode melalui matanya.


Ketiganya pun langsung mengerti, dengan tatapan Tama, lalu.. mereka pun menghilang. Setibanya mereka di Zona Mana, Tama, langsung melepaskan mulut Zaku.


"dasar sialan, apa yang kau lakukan padaku, bedebah!!" teriaknya marah, pada Tama.


"kau yang bedebah sialan, dasar bocah bodoh, tidak bisakah kau menutup mulutmu itu! Apa Harus, aku ajari dulu, Baru kau bisa mengerti??" Ujar Tama kesal.


Sedangkan ketiga Pria lain, saling melirik bingung dengan ucapan Tama. lalu mereka melihat tajam kearah Tama, seolah meminta penjelasan. Paham akan maksud pandangan keempat pria tersebut! Tama menghelah nafas panjang.


"haaah....."


Zaku yang tidak sabaran, langsung mendesak Tama.

__ADS_1


"Apa maksudmu? sialan. cepat katakan dengan bahasa yang mudah dimengerti" Celetuk Zaku kesal.


Saat kelima Spirit telah pergi.. Hanya tinggal mereka berdua di benam keheningan. Melihat Jura yang sejak tadi hanya bungkam, tanpa mengatakan apapun. Rabarus, bertanya-tanya tentang apa yang dia lakukan. dan mencari tahu alasan Jura, kenapa dia hanya diam saja.. Saat diteriaki oleh temannya. Rabarus melihat Tama, lalu.. melipat kedua tangannya. ia bertanya kepada Jura!!


"mengapa kau tidak menjelaskan yang sebenarnya, kepada mereka? Jika kau hanya diam saja.. Malah akan semakin memperkeruh keadaan."


"Akan kulakukan nanti, setelah memperbaiki semua ini. Ah, Bukankah kau juga bilang akan membatuku, untuk lebih memperkuatnya?"


"Haah.. baiklah."


"Kalau begitu, cepat bereskan ulahmu!!" Jura berbicara sambil mengarahkan kepalanya, kearah Perisai yang sudah hancur, karena perbuatan Rabarus.


"Baiklah, akan aku lakukan, kau juga ikuti aku." Ujarnya pada Jura.


'Hmm.. Untuk apa dia mengajakku! Padahal aku bisa melihatnya dari sini.' Pikirnya curiga. "untuk apa aku mengikutimu?"


"hah.. dasar, kau ini terlalu curigaan. Ikut saja.. Akan kutunjukkan bagaimana caranya, membuat Perisai yang benar."


'Cih, apa dia meremehkanku!!'


Rabarus melayang tinggi, mencari titik yang tepat untuk membuat Perisai.


"Nah..itu dia tempat yang tepat." Ujarnya menyeringai.


Tak lama.. Mereka tiba di langit mansion, tepat dibawah mereka, adalah Mansion Sang Duke. Melihat Rabarus berhenti tepat diatas mansion, Jura langsung mempertanyakan niatnya.


"apa yang kau lakukan?? Kenapa kita berhenti disini..!"


"Tenanglah, aku tidak seburuk yang kau pikirkan." Ujarnya spontan. "Perhatikan baik-baik, apa yang akan aku lakukan!!"


Rabarus berhenti melayang, lalu berjalan di udara, kemudian ia menjentikkan Jarinya..! "Tik" Tak lama setelah ia menjentikkan jari.. Keluar Segel lingkaran dengan bentuk bunga matahari, dan di dalam lingkaran terdapat sepuluh bintang. Segel itu keluar dari bawah Mansion.


Segel bewarna oranye gelap tersebut, semakin lama semakin melebar dan menyebar hingga mencapai ratusan meter. Setelah ia merasa cukup, Segel lingkaran itu pun berhenti.


Setelah itu.. ia mulai merapalkan mantra, dan disaksikan oleh Jura. Jura tampak kagum dengan apa yang dilakukan Rabarus. Tidak hanya Jura, bahkan Zion dan Lannox. Serta para prajurit, dan pelayan, baik yang ada didalam ataupun yang berada diluar mansion. semuanya Ikut merasakan hal yang sama, dengan munculnya cahaya tersebut. Mereka terkejut dan takjub secara bersamaan.


"Apa kau merasakannya..! Perasaan ini?" tanya Lannox, kepad Zion.


"Ya.. Kekuatan ini, bukan milik Para Kakek." Zion, melihat keluar jendela.


Tampak Segel bunga matahari menyala terang, mengitari seluruh Mansion, bahkan lebih.


"bukankah ini Segel tanpa batas, dengan Ruang lingkup terbuka." Ujar zion takjub, Saat ia melihat segel bunga matahari, bersinar terang dari luar Mansion."Siapa orang yang telah membuat sihir, dengan energi sebesar ini??"


"Apa Maksudmu?" Tanya Lannox tak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2