AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
ARGUS BERHADAPAN DENGAN ULOK


__ADS_3

Di sisi lain, Argus yang tengah berhadapan dengan Penyihir. tanpa basa-basi langsung menyerang Penyihir yang sedang fokus merapalkan mantra.


'Sebelum dia memanggil hal yang lebih merepotkan lainnya.. Lebih baik langsung aku habisi.' pikirnya dalam hati, lalu mengarahkan tangannya kearah si Penyihir.


Dan setelah ia menunujukkan jari telunjukknya.. Sang Penyihir, yang belum sadar dengan kehadiran Argus. Langsung mendapatkan serangan fatal.


"BLEDAAAR....!!!" elektrik kuning terang keluar menghujam bagai tombak tajam, menghatam si Penyihir.


Argus berseringai.. Mengira serangannya telah berhasil mengenai Penyihir tersebut. Namun yang terjadi.. Elektrik itu hanya mampu menyentuh bagian luar perisai, yang telah di buat si Penyihir.


Penyihir itu masih memejamkan kedua matanya, dan berseringai sambil merapalkan mantra, tanpa merasa terganggu sedikitpun dengan kehadiran Argus. Melihat seringai di bibirnya yang seakan sedang mengejek, membuat Argus sedikit merasa disulut emosi.


'Beraninya kau meremehkan ku! Kalau begitu rasakan ini..' pikirnya lalu merapalkan mantra. "OUREIGH.. LAGIERK ARK' RHA TURG BIK NAGH" Argus membacakan mantra menggunakan bahasa ELF.


Setelah ia membacakan mantra tersebut, dalam sekejap muncul percikan api dari dinding perisai yang di buat oleh penyihir tadi.


"SHIIIIRKK... SHIIIIRKK.. SHIIIIRKK!!!!!" mendengar bunyi percikan menyala dari perisai gelembung yang ia buat, kedua mata yang tadinya tetutup, kini terbuka lebar.


Namun mulutnya masih tetap komat-kamit merapalkan mantra.. Sedangkan kekhawatirannya mulai tampak dari raut wajahnya yang pucat. Melihat adanya bahaya di depan mata..


Dengan cepat ia mengarahkan tongkatnya pada perisai dan melapisinya dengan Perisai yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, Agar tidak terkena ledakan.


Namun sayangnya, ia terlambat. Percikan api tersebut sudah menjalar luas membuat ledakan hebat. "BOOOOMMMMM!!!" Perisai tersebut pun pecah dan lenyap seketika.


Sontak saja tubuh si Penyihir terlempar jauh, hingga terhempas di atas permukaan danau. Untung saja ia menggunakan penghalang sihir, jadi ia tidak jatuh tenggelam.


Argus mengernyitkan kedua alisnya, saat melihat tubuh penyihir, yang hanya terluka sedikit dan hanya mengeluarkan darah dari dalam hidungnya.


Penyihir tersebut merasakan ada darah mengalir dari hidungnya, dan mengelap kasar dengan tangannya. Ia melihat darah segar melekat pada punggung tangannya.. Tampak ketidak sukaan terpahat pada tatapan matanya.


Lalu ia mengalihkan pandangan pada Argus, yang kini tengah melihatnya dengan pandangan merendahkan dari kejauhan. "Hem.. Apa hanya ini yang bisa kau lakukan? Dasar lemah heh..!" ujarnya mengejek Argus.


Penyihir itupun berusaha bangun untuk berdiri tegak, dan melihat kearah Argus, sambil berseringai penuh arti.. Melihat reaksi diwajahnya! di tambah


Mendengar ucapan meremehkan dari si Penyihir tersebut, kedua mata indahnya yang tadinya tenang bak telaga, kini membara mengeluarkan Seringai kemarahan.


Saat tanganya baru ingin meraih leher si Penyihir, tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan datang menghalangi, dan menangkap lengan Argus.

__ADS_1


Argus yang terkejut saat melihat sosok lain muncul menghalangi serangannya, dan menyambar lengan Argus, lalu menariknya dengan kasar dan melemparkannnya hingga terrhempas jauh menabrak tiang Gazebo.


"GEDEBUK DUBRAKKKKK!!" Argus terjatuh menahan sakit, karena punggungnya terhamtam pilar besar tersebut.


Argus dengan cepat membenarkan posisinya, dan berusaha bangun.. 'tidak mungkin, bagaimana bisa, Ia memanggil ULOK??' tampak dari kejauhan sosok bermata tiga, dengan tinggi tubuh, tiga kali lipat lebih besar daripada ukuran manusia.


Rambutnya panjang sepunggung, lebat dan gimbal, tampak keempat taring panjang keluar dari mulutnya yang lebar. Si Penyihir menyeringai menatap dari balik punggungnya yang besar.


"Kau tidak akan bisa menyentuhku! kecuali, jika kau bisa mengalahkan mereka." ujarnya bangga, karena telah berhasil memanggil Monster tersebut.


'Apa....! Mereka? berarti mereka tidak hanya ada satu.' pikirnya mencerna kata-kata si Penyihir.


Dan benar saja.. Tak lama Monster bernama ULOK, membelah diri menjadi banyak. Mata Argus melebar menyaksikan pemandangan tersebut.


'Sial, bagaimana bisa ia memanggil Monster kuno yang merepotkan itu.' umpatnya kesal.


...****************...


Di sisi lain.. Tampak Zion Dan Lannox tengah berhadapan dengan Ras Spirit dari Serigala.


"Aku akan menjelaskan nanti, saat ini kita sedang dalam masalah besar. Apalagi Kakek Jura, sudah mentransfer penglihatannya padaku." jelas Zion, Pada Duke, Zion lalu melihat kearah Serigala Hitam, dan memanggil namanya.


Membuat semua yang melihat mereka merasa heran, terutama Rog yang pernah berhadapan langsung dengan Albo.


'Ba-bagaimana Spirit Yang Mulia Duke, bisa menjinakkan Serigala tersebut? Sedangkan waktu berhadapan denganku, ia tampak tidak bersahabat sama sekali. Dan melarang siapapun memasuki lembah tersebut!'


Rog merasa janggal dengan perubahan sikap Serigala tersebut, Albo yang masih belum menyadari kehadiran Rog, dan hanya terfokus pada Zion saja.


"Albo?"


"Ya, Yang Mulia!" ujarnya maju mendekati Zion.


"Sebaiknya kau perintahkan pasukanmu untuk menggunakan Aura pelindung, agar tidak ada lagi yang menjadi korban seperti pasukan ku yang lain.


Karena musuh yang kita hadapi saat ini, bukanlah musuh biasa. Bahkan kehadiranmu tidak bisa membantu apapun disini." jelasnya pada Albo, membuat Albo merasa kecewa karena kehadirannya justru tidak berguna sama sekali.


Albo menurunkan pandangannya, Sambil melihat kearah Tubuh yang sudah hancur berkecai berserakan, darah bersimbah basah jatuh menodai di atas rumput-rumput segar. Lalu ia kembali berujar.

__ADS_1


"Jika Saya boleh tahu, siapa sebenarnya yang sedang kita hadapi Yang Mulia?" tanya Albo penasaran.


"Aku akan memberitahumu nanti, prioritas utama kita saat ini, adalah melindungi seluruh Pasukan. Ajak pasukanmu untuk ikut bergabung bersama Masterku, dan melindungi yang lainnya.


Jika kau memang ingin berguna di sini.. Patuhi perkataan Masterku! Dia akan menjelaskan segalanya padamu. Ah.. sebelum itu, ada yang ingin aku bicarakan pada kalian berdua." jelas Zion melihat kearah Rog, dan Albo.


Albo yang kebingungan, tetap mematuhi perintah Zion, meski ia tidka tahu kenapa? dan iapun maju kehadapan Singa Putih besar itu. Tak lama ia melihat sosok Rog yang pernah ia serang, juga maju dan berdiri di sampingnya.


Albo terkejut, karena ia tidak sadar akan kehadiran Rog sejak tadi. sebab terlalu fokus pada Zion."Kau.....!" ujarnya dengan kedua mata terbelalak kaget.


Sementara Rog hanya terdiam acuh, dan menunjukkan raut ketidaksukaannya pada Albo! Menyadari kebencian Rog padanya, ia tidak bisa mengelak dan berusaha bungkam.


Sedangkan yang lain hanya menatap keduanya dengan penuh keheranan. dengan raut bingung terpancar jelas di wajah mereka. mereka masih bertanya-tanya dengan apa yang akan dilakukan Zion, pada Rog dan Serigala tersebut.


Begitupun dengan Duke, yang saat ini hanya bersedekap tangan memperhatikan tingkah Spiritnya.. Tanpa bertanya.


"Saya Yang Mulia.." jawab Rog dengan kepala masih tertunduk bingung, saat di panggil.


"Anak ini telah melakukan kesalahan fatal dengan menyerangmu, dan aku telah membalasnya setimpal dengan apa yang telah ia lakukan padamu. Begitupun dengan lukamu.


Sepertimana aku menyembuhkan lukamu, begitu juga aku menyembuhkan lukanya.. Aku memberi anak ini kesempatan untuk mengatakan maaf padamu.


Apa kau akan memaafkannya... Atau tidak??" tanya Zion, memastikan keputusan Apa yang akan di ambil Rog.


Mendengar jawaban Zion, Rog terkejut dan tidak menyangka! Jika Zion telah membalas perbuatan Serigala tersebut padanya, karena bertindak membelanya.


Dan di saat bersamaan, ia juga memberinya kesempatan kepada Serigala tersebut untuk meminta maaf padanya. Zion melihat pada Albo, dan mengangguk seolah menyuruhnya melakukan sesuatu. dan memberinya kesempatan untuk berbicara Pada Rog.


"Hah.. Aku Albo, meminta maaf dengan setulus hati, kepadamu anak muda. Atas ketidak tahuanku Karena telah menyerangmu, dan menganggap lembah yang kutempati adalah zona kekuasaan ku." jelas Albo maju mendekatinya, dan menunduk dengan tulus menyatakan permohonan maafnya, karena telah merasa bersalah pada Rog.


"Ji-jika Yang Mulia sudah berkata seperti itu..! A-aku juga akan memaafkanmu!!" ujar Rog, menatap Serigala Hitam Besar itu.


"Hem.. Bagus. Dengan ini kalian dinyatakan telah berdamai dan disaksikan dengan Masterku Duke, dan Kesatria lainnya." ujarnya lantang.


Mendengar ucapan Zion, Jay dan Dean bersorak senang tanpa sadar. Roland menegur dengan pandangannya pada kedua Pria tersebut. Sedangkan Robi masih terdiam gemetar, sebab masih terbayang jelas dalam ingatannya, dengan pemandangan kematian beberapa Prajurit tadi.


Ia yang belum pernah terjun langsung kearea perang, merasa syok dengan kejadian tersebut, karena selama ini.. ia hanya bertugas menjadi kesatria pengawal Kekaisaran. Berbeda dengan Dean dan Rog yang masih bisa mengontrol keterkejutan mereka. karena dulu keduanya telah terbiasa melihat situasi mengerikan, saat mereka menjalankan misi.

__ADS_1


__ADS_2