
"yang mulia pangeran"
"Sedang apa kau disini..!"
Rudolf datang menghampiri argus, yang tengah asik duduk bersandar sendirian, didekat pohon mapel besar yang berada dibelakang mansion.
"yang mulia pangeran, ibunda anda memerintahkan anda untuk kembali sekaran!"
"ibunda, bukankah beliau sedang kusyuk dengan tapanya..! Jangan bilang ini adalah ide ayahanda, untuk menjebakku agar segera kembali keistana."
'haah sayangnya itu memang benar pangeran.' ujarnya tidak enak hati, karena terpaksa membohongi sang pangeran. "tidak yang mulia pangeran, ini memang benar permintaan maharatu."
"tunjukan buktinya, jika titah itu berasal dari ibunda ratu."
'haah.. Untung saja dia seorang pengeran, jika bukan pasti sudah aku kerjai habis-habisan.' rudolf merasa sangat kesal. 'namun untungnya baginda raja, memberikan cincin ini kepadaku, Jadi aku bisa menunjukkannya sebagai bukti.' "ini yang mulia."
Rudolf memberikan cincin itu kepada argus, ekspresi wajah argus langsung berubah, saat melihat cincin yang diberikan rudolf kepadanya. Ia memutar-mutar cincin itu di kedua jarinya, tampak pangeran sedang menelaah sesuatu, saat ia memandang cincin tersebut.
'hmm.. Ini memang benar cincin ibunda, tapi.. Aku juga sudah berjanji kepada yang mulia!'
ia sedang merenungi mana yang harus dipilih, apakah kembali kekerajaan Sekarang, atau menetap sementara dimansion hingga kasus ini selesai. Sementara rudolf terus memperhatikan gerak-gerik sang pangeran.
'kira-kira apa jawaban pangeran!'
"aku akan memegang cincin ini, tapi untuk saat ini.., aku belum bisa kembali. Karena masih ada urusan yang belum terselesaikan. Untuk itu, sampaikan kepada ayahanda, aku akan kembali jika segala urusan disini telah selesai."
"tidak bisa yang mulia..! untuk saat ini, saya akan tetap bersama anda. maharatu berpesan, jangan kembali sebelum pangeran ikut kembali. Jadi sayapun akan tetap berada disini bersama pangeran."
Kilah rudolf kepada argus, argus yang melihatnya sedikit terkejut ada riak kesal singgah diparas tampannya. Namun mendengar jawaban yang masuk akal dari rudolf, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menyetujuinya.
"terserah kau saja, dan jangan mengeluh.. Karena mungkin saja aku akan tinggal lama disini." ucapnya tegas
"hehehe tidak akan, tenang saja.. saya juga lebih baik ada disini bersama yang mulia. Karena saya tidak sanggup melihat airmata tuan putri, saat menanyakan perihal keberadaan anda. Jadi tolong yang mulia.. Jangan memberi harapan, jika harapan itu tidak pernah ada untuknya. Apa anda tidak lihat, Betapa sedihnya beliau.. saat anda pergi begitu saja tanpa mengetakan apapun!"
Respon argus yang sangat tidak acuh, saat mendengarkan rudolf yang mulai bawel.
__ADS_1
"aku tidak pernah memintanya untuk suka kepadaku..! kau tau sendiri rudolf, Jika selama ini.. aku hanya mengganggapnya sebatas adik perempuanku, tidak lebih dari itu."
"anda jahat sekali yang mulia, jika begitu.. seharusnya anda beri penjelasan kepada putri. Agar beliau, tidak menunggu anda seperti orang bodoh, yang sedang digantung oleh kekasihnya."
"haah.. Aku tidak ada maksud berbuat seperti itu, karena saat aku menyadari perasaannya, makanya aku selalu menghindar dan menjaga jarak darinya, Agar dia berhenti berharap banyak kepadaku."
"justru itu tidak menyelesaikan masalah yang mulia, anda malah membuatnya bertambah bingung dengan perubahan sikap anda yang tiba-tiba."
"hmm.. Apa maksudmu!"
Argus berhenti, dan menoleh kepada rudolf sedikit bingung.
"ya.. Dengan anda menghindari sang putri, beliau pasti akan menjadi semakin bingung! karena putri tidak tau menau, kesalahan apa yang telah ia lakukan kepada anda, dengan perubahan sikap anda yang mendadak itu. Sebaiknya.. anda berbicara bertatap muka dengan beliau yang mulia! Dan jelaskan perihal yang sebenarnya. Setelah itu, mau putri menerima atau tidaknya jawaban yang mulia! itu kembali lagi dengan putri. Setidaknya, yang mulia sudah menyampaikan dengan jelas tentang perasaan anda yang sebenarnya."
Ujar rudolf menjelaskan, karena sang pangeran yang kelihatannya tidak peka sama sekali, terhadap perasaan wanita. Ia melanjutkan lagi jalannya, sambil menatap lurus kedepan dengan perasaan sedikit tidak senang.
"baiklah, akan aku pikirkan nanti."
Ucapnya rancu, namun setelah itu dia tidak berbicar lagi.
"belum tau."
Jawab argus singkat.
"lalu kita mau kemana sekarang? Dari tadi saya perhatikan, anda terus berjalan tanpa tujuan."
Ujar rudolf mulai mengeluh, melihat sikap tuannya yang sudah mulai irit bicara.
"hmm.. Aku akan berhenti ketika aku mulai lelah."
'cih, jawaban apa itu..! baru saja aku memujinya sebentar, dan sekarang dia sudah membuat kesal lagi.' jengkelnya dalam hati. "bilang saja anda ingin mengerjai saya agar menyerah mengikuti anda yang mulia..!"
Argus kini dalam mood diam, dia malas mendengar ocehan rudolf yang semakin lama, semakin banyak bicara.
"saya tidak akan menyerah yang mulia, kalau begitu.. Saya akan mengikuti anda kemanapun, sampai anda berhenti."
__ADS_1
Kebisuan sang pengeran, membuat rudolf tidak berani berbicara lagi, ia akhirnya merasa lelah setelah diabaikan. Namun ia dengan setia tetap mengikuti kemanapun argus pergi, karena itu juga sudah menjadi kewajiban utamanya, untuk menjaga keluarga kerajaan. Ditempat lain.. dikekaisaran, sang kaisar tengah duduk termenung disisi sang Ratu. Ratu yang peka dengan perubahan sikap suaminya itu, langsung bertanya menyadarkan lamunan sang kaisar.
"apa yang tengah dipikirkan suamiku? Sehingga mengabaikan istrinya yang berada didekatnya."
"maafkan aku istriku, haha.. Akhir-akhir ini, terlalu banyak masalah dikekaisaran, yang harus aku selesaikan, aku banyak menghabiskan waktuku diruang kerja, sampai-sampai mengebaikanmu ."
"tek" ratu meletakan gelas minumannya diatas piring. "saya tidak masalah, selama baginda benar-benar bekerja untuk kekaisaran ini. tapi jangan terlalu memaksakan diri baginda, sehingga anda tidak memperhatikan kesehatan anda sendiri. Bagaimana jika anda sampai jatuh sakit!"
"tenang saja istriku , aku akan berusaha menyempatkan waktu untuk istirahat, dan meluangkan waktuku bersamamu."
Kaisar menggenggam tangan istrinya, dengan kedua tangannya, Sang ratu langsung bersandar dalam pelukan kaisar. Sementara diistana lain, pengeran yang sedang membaca buku sambil menunggu kabar dari prajurit bayangan miliknya, ia tampak tidak bisa fokus dengan bacannya.
"bug.. Haah.. Kenapa lama sekali tidak ada kabar, apa dia gagal dengan misisnya? Kemanapun kau bersembunyi, aku harus mendapatkanmu. Heh.. Buruan yang lepas, harus segera ditemukan untuk diberi hukuman."
"kali ini kau bisa lolos, tapi aku akan segera menemukan keberadaanmu! Tunggu saja dasar pengkhianat sialan."
...----------------...
"sudah hampir sebulan aku dimansion berada disisi yang mulia, berbagai hal yang tidak pernah aku lihat diistana, namun bisa aku lihat disini. Disini sangat nyaman, tidak seperti diistana kekaisaran, semuanya penuh dengan kepalsuan, tapi untung saja aku mengikuti saran gao, jika aku telat entah bagaimana jadinya nasibku! Bagaimana kabar anaK itu sekarang?"
Kenyataannya robi tidak tau, jika nyawanya sedang diincar, pangeran masih terus mencari keberadaannya hingga kini.
(yoan) "akhir-akhir ini, yang yang mulia tidak pernah memberikan kita misi lagi..! Aku benci menganggur seperti ini, ya seperti tidak tau ingin melakukan apa!"
(perro) "bukankah itu bagus! Jarang-jarang kita bisa santai seperti sekarang bukan!"
(alfo) "ya.. Aku setuju denganmu, selama ini kita tidak pernah libur! Selalu saja bekerja. Hingga aku tidak punya waktu mencari kekasih. Dan lagi.. Kalau kau memang gila kerja, ya.. Kau minta saja yang kerja, dan jangan mengganggu kami yang sedang menikmati waktu santai seperti ini."
(nando) "sempat-sempatnya kau memikirakan wanita! Saat sedang santai begini, orang seperti kita selalu dikelilingi bahaya. Jadi menurutku, wanita hanya akan menjadi kelemahan untuk kita saja, kalau aku sih lebih baik seperti sekarang tidak ada beban yang harus kupikirkan."
(daka) "huu.. Tidak seru, jika begitu selamanya kau akan kesepian. Kalau aku sih setuju dengan alfo, sebagai manusia normal, aku butuh wanita sebagai teman hidupku, menikah, punya anak, bahagia sampai tua nanti!"
(nando) "cih sederhana sekali pikiranmu! Ya.. itu urusanmu, aku tidak memaksa siapapun untuk mengikuti caraku, Tapi aku juga berhak memilih, karena ini adalah hidupku. Dan aku juga tidak melarang siapapun untuk mencari pasangan, hanya saja.. Kasihan yang menjadi teman hidup kalian nanti, karena sering ditinggal pergi. Apalagi misi kita penuh dengan bahaya, yang kapanpun bisa mengancam keselamatan kita sendiri, Otomatis mereka akan memafaatkan itu sebagai kelemahan yang kita punya.
Ujar nando sambil berbaring, direrumputan hijau.
__ADS_1