AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
AKU MEMBUTUHKAN EMPAT ORANG DARI KALIAN


__ADS_3

lukas, arlo, dan zora masuk keruangan kerja raja.


"hormat kami baginda raja."


ketiganya membukuk hormat dengan meletakkan satu tangan didada.


(lukas) "apa yang membuat baginda memanggil kami kemari..?"


raja melihat ketiganya namun, ia masih terdiam sambil memperhatikan ketiganya.


"jika kau berani mengkhianatiku..! aku akan mengulitimu hidup-hidup, hingga kau memohon untuk mati."


robi terkejut wajahnya memucat, keringat dingin mengalir dari keningnya.


"saya telah bersumpah kepada yang mulia, dengan taruhan nyawa saya sendiri. saya juga tidak bisa berjanji banyak dengan kata-kata. tapi, akan saya buktikan dengan tindakan. saya tidak bermaksud mengkhianati kaisar, hanya saja..! saya tidak bisa melihat pangeran bertindak semena-mena hingga sanggup mengorbankan banyak nyawa.."


"aku tidak peduli dengan ceritamu itu." lannox menatap dingin pada robi.


"jika kau memang peduli dengan nasib pemimpinmu! lalu, kenapa tidak sejak awal kau kemukakan pendapatmu dihadapan kaisar..?."


lannox kembali melangkah, meninggalkan robi yang sedang tertegun sendirian.


'aku sudah membulatkan tekad, dan telah berjanji bersumpah setia kepada beliau. aku tidak boleh menyerah, hanya karena kata-kata beliau yang membuat aku merasa terintimidasi. untuk mendapatkan kepercayaan yang mulia, cukup buktikan dengan tindakan. lagian sudah terlambat untuk menceritakan semuanya kepada kaisar, meskipun aku jujur kepada kaisar.. belum tentu beliau mau mendengarkanku hah.'


robi segera berlari mengejar lannox yang sudah jauh.


dikota vala, argus sedang mengejar beberapa orang yang mencurigakan.


"heh ketemu, disana rupanya kalian"


'sialan kenapa jadi kita yang diburu'


argus memainkan batu yang ada ditangannya, lalu ia mengalirkan mana pada batu kecil yang ada ditangannya.


"punnnk bledaaarr."


ledakan menghantam tempat persembunyian mereka, sebagian terkena serangannya, dan sebagian lagi berhasil lolos dan melarikan diri. argus masuk kebangunan kosong, dan melihat ketiga orang itu pingsan dengan luka ringan.


"kalian bertiga keluarlah."


"hormat kami pangeran." seru ketiga pria berjubah.


"galish, kurung mereka keruang hampa. dan kalian berdua, ikut aku untuk menangkap sisanya."


"baik pangeran."


merekapun pergi melayang diudara mencari, keberadaan tersangka yang kabur, tiba-tiba argus merasakan sesuatu.


"hem.. kemana kalian akan bersembunyi, kalian berdua temukan sisanya, dan kurung mereka ketempat yang sama."


"baik pangeran, wuuuuuusssssh."


'aku harus segera kembali, sepertinya ada tamu tak diundang.'


baginda raja memperhatikan ketiga wizard yang sedang menunggu Jawaban, setelah diam beberapa saat raja kembali berbicara.


"holy stone telah dicuri."


(arlo) "apa... bagaimana bisa baginda? bukankah holy stone sudah dipasang segel, dan tidak ada yang bisa membukanya kecuali kami bertiga.


"itu juga yang menjadi pertanyaanku sekarang! bagaimana caranya penyusup itu bisa membuka segel holy stone?"


(zora) "hmm.. dua kemungkinan."


"apa maksudmu? zora"


(zora) "yang pertama, ada mata-mata diantara kita." zora memperhatikan semua yang ada didalam ruangan. "kemungkinan yang kedua, musuh sudah lama tau tentang kunci segel holy stone."


(lukas) "tepatnya, negara ini adalah target mereka sejak awal, dan mereka memanfaatkan holy stone sebagai kelemahan negara ini."

__ADS_1


(arlo) "jika begini.. sama saja kita sudah kalah sebelum berperang. lantas, apa tidakan anda selanjutnya baginda??"


keasokan harinya.


"anda mau kemana paman?"


"ada sedikit urusan yang harus kuurus. untuk sementara, aku titipkan dewi padamu. ini adalah misi pertamamu, apa kau bisa melakukannya?"


gapi sangat senang mendengar ini adalah misi yang diberikan untuknya.


"emm.. tentu saja bisa paman, serahkan saja urusan menjaga dewi kepadaku."


zion tertawa, lalu pergi kearah bayangan dan menghilang.


"hmm.. bagaimana caranya agar aku bisa menghilang seperti itu..?"


gapi melihat kondisi ravella yang masih terbaring kaku, dia menaiki keatas ranjang dan berjalan pelan-pelan kearah ravela, dengan sayap merahnya yang sedikit mengembang.


"dewi.. kapan kau bangun....?"


senyap tak ada jawaban.


"haah aku kesepian."


melihat tidak ada jawaban, gapi tidur disamping ravella.


zion muncul ditempat latihan, para kesatria yang menyadari kedatangannya, segera menghentikan latihan dan menghampiri sang singa.


"hormat kepada yang mulia zion."


zion duduk tegap memperhatikan para prajurit, dengan wajah buas yang seakan siap menerkam siapa saja yang berada dihapannya. zion diam-diam memperhatikan satu persatu prajurit, para prajurit merasa terintimidasi dengan sikap diam zion, yang serius memperhatikan mereka dengan sangat teliti.


"ada apa yang mulia zion kemari, tidak biasanya beliau seserius ini?"


"sssssshhhhhttt jaga bicaramu, yang mulia bisa mendengarnya, bahkan dari jarak tigaratus meter."


prajurit yang berada dibelakang barisan terdiam, zion yang sejak tadi diam kini berbicara.


"euh ada apa ini..? apakah kita melakukan kesalahan..!" ujar prajurit lainnya.


zion bangun dari duduknya, dan berjalan menghampiri setiap barisan.


"gulp, mengapa yang mulia menghampiri setiap barisan..! apa ada pengecekan..?"


"sssssshhhhhttt diamlah, jika kau berisik kita bisa dijadikan Santapan."


kesatria itupun terdiam.


zion menghampiri setiap barisan, dan berhenti dibarisan kelima, dia memperhatikan keempat orang tersebut.


"kalian bereempat maju kedepan."


"ba..baik yang mulia."


mereka berlari maju kedepan, dalam sekejap zion sudah berada didepan keempat orang tersebut, dan mengelilingi mereka pelan-pelan seolah ingin disantap.


"gulp." keempat orang tersebut merasa gugup da terintimidasi, keringat dingin mengucur disekujur tubuh mereka.


"yang lain lanjutkan latihan kalian."


"baik yang mulia." ujar para prajurit serentak.


"dan kalian bereempat ikuti aku."


"baik yang mulia."


...****************...


roland memasuki kamp lannox.

__ADS_1


"yang mulia.. bukankah anak itu utusan pangeran..?"


lannox duduk terdiam sambil membaca laporan yang diberikan dokter tentang pasien


"baginda?"


lannox menghentikan fokusnya


"hmm awalnya memang begitu, tetapi Sekarang tidak lagi."


"apa maksud anda yang mulia..?"


lannox meletakkan laporan diranjangnya lalu duduk sambil bersedakap tangan.


"sebenarnya dia diutus untuk mencari kelemahanku"


"apa?"


"tapi anak itu malah berbalik mengkhianati majikannya."


"apa jangan-jangan.. dia sengaja menjadi pengkhianat! hanya untuk mencari kepercayaan yang mulia?"


"hmm.. tidak, justru anak itu serius..!"


"bagaimana anda bisa seyakin it...."


"sudah cukup roland, tugasmu cukup pantau saja anak itu.. sisanya biarkan menjadi urusanku."


"baik yang mulia" dengan berat hati ia pergi. 'jujur saja.. aku sedikit kecewa dengan yang mulia, aku akan mengawasi anak itu, pasti ada yang disembunyikannya.. karena aku tau betul bagaimana liciknya sipangeran kecil itu.. aku tidak akan pernah percaya utusan dari istana.'


rolandpun keluar meninggalkan lannox sendirian. sementara dean yang tengah sibuk mengendap-endap mengintai diatas atap, untuk mencari keberadaan seseorang.


'dimana sebenarnya orang itu..? apa aku salah informasi. tapi menurut informasi yang beredar dia akan datang kekota ini!'


"apa yang kau lihat?"


datang seseorang dari samping kanannya, dean dengan cepat menghindar, dan menyerang pria itu dengan belati tajam miliknya. argus dengan cepat mengambil belati yang ada ditangan dean.


"apa kau yakin ingin menyerangku dengan senjata seperti ini...!"


"siapa kau?"


'bagaimana bisa aku tidak bisa merasakan kehadiran orang ini..!'


"justru aku yang seharusnya bertanya, sedang apa kau mengintai disiang bolong seperti ini, apa sebenarnya yang kau cari..?"


"bukan urusanmu."


"tapi sekarang kota ini berada dibawah pengawasanku, berarti itu sudah menjadi urusanku."


'orang ini terlihat sangat kuat, rasanya aku akan kalah jika memaksa melawannya, lebih baik aku segera pergi dari sini.'


dean dengan cepat kabur menghindari pertarungan, argus yang melihat anak itu berlari darinya, dengan cepat mengejar.


"hehe.. kau ingin kabur kemana? selama ada aku disini, kau tidak akan bisa menghindar dari pandanganku."


argus terus mengejar.


'area disekitar sini telah kutandai, pantas saja aku merasakan kehadiran sosok asing. hmm.. sampai kapan dia akan berlari seperti itu, benar-benar membuang waktuku. aku akan melumpuhkan kakinya, agar dia tidak bisa bergerak samasekali.'


argus mengambil batu kecil.. lalu menjetikkannya pada kaki dean.


"puuk.. puuk.."


dean langsung terjatuh, terpental hingga kebawah.


"bug.. bug.. ah sial, kenapa aku tidak bisa bergerak."


argus menghampiri dean dan berdiri dihadapannya, dengan senyum sinis.

__ADS_1


"hah.. seharusnya kau tidak usah kabur, apa kau berasal dari orsi?"


'apa.. bagaimana dia bisa tau? kalau aku dari orsi...!'


__ADS_2