
Masih di halaman mansion, Dean dan Rog bertemu dan saling bertatap muka. Keduanya terlihat sama-sama canggung karena sudah lama tidak bertemu, melihat tidak ada respon dari Rog, Dean memulai percakapannya lebih dulu.
"Ehem.. Lama tidak bertemu kawan..!"
"Ya.." Jawab Rog singkat.
Keduanya duduk diantara hijaunya rumput, halaman mansion sangat sejuk, banyak terdapat pohon-pohon besar dan rimbun, hingga suasana teduh dan berangin, membuat betah.
"Apa kabarmu Rog?"
"Kabarku Baik, bagaimana denganmu?"
"Yah, seperti yang kau lihat sekarang. Aku merasa nyaman tinggal disini, membuatku merasa lebih manusiawi.. Dan aku bisa menikmati hidupku dengan normal." Dean mencurahkan, apa yang ia rasakan selama tinggal di mansion.
"Syukurlah.. Kau terlihat lebih biak sekarang, bagaimana kau bisa bergabung dengan Kesatria Singa kekaisaran??" Tanya Rog penasaran.
Dean melihat kelangit biru yang berawan, semilir angin berhembus pelan menerbangkan banyak daun yang berguguran di atas rerumputan.
"Panjang ceritanya..! Dan ini semua berawal dari cerita kematianmu yang tidak masuk akal. Kau benar-benar pergi dengan memanipulasi kematianmu.. Aku sudah curiga sejak awal, tidak mungkin kau mati semudah itu bukan!!" Ujar Dean melihat kearah Rog, lalu ia menyeringai dan memalingkan wajahnya kearah lain.
Rog merasa bersalah, ia juga tidak bermaksud membohongi sahabatnya itu. Karena keadaan yang menuntutnya untuk berbuat demikian..
"Sejujurnya.. Sudah lama aku ingin keluar dari ORSI. tapi kau sendiri tahu bukan.. Jika sudah masuk kedalam ORSI, akan sangat sulit untuk keluar dari sana, kecuali kau mati. Dan beruntungnya, Dewa masih berpihak padaku.
Saat aku sedang menjalankan misi.. Aku ingin membunuh target yang telah di tentukan, dan celakanya.. Target tersebut adalah penyelamatku. Setelah aku bertemu dengannya.. Jalan yang tadinya begitu sulit, jadi di permudah dengan kehadiran beliau.
Dan setelahnya.. Sesuatu yang selalu aku impikan sejak lama, satu-persatu mulai terwujud. Berkali-kali aku kehilangan arah pijakan, karena tempatku biasa bergantung telah aku tinggalkan.
Dan sekarang.. Seperti yang kau lihat, layaknya dirimu yang telah menemukan jalannya, begitupun denganku. Kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana kau bisa bergabung dengan pasukan elit?"
Dean menceritakan segalanya.. Dari bagaimana ia bisa kabur, hingga bertemu dengan nenek tua sang peramal, sampai ia di tangkap, dan bertemu dengan sang penyelamat yang telah merubah hidupnya.
Rog terkesan dengan keberanian sahabatnya itu.. Dan yang lebih mengejutkan dari semua itu.. Mereka di pertemukan di tempat yang sama, dengan cara yang berbeda.
"Heh.. Ini sungguh lucu bukan..! Kita di pertemukan dengan cara yang tidak terduga. Dunia yang begitu luas, jadi terasa sempit. Lalu, siapa anak kecil yang datang bersamamu..?"
__ADS_1
"Hem kau benar! dunia ini jadi terasa begitu kecil, dia adikku."
"Apa.. Jadi kau mempunyai seorang adik?! Apakah ketua tahu soal ini??"
"Jika dia sampai tahu, sudah pasti dia akan menahanku seumur hidup." Ucap Rog tersenyum tipis.
"Syukurlah, jika tidak, dia pasti akan menjadikan adikmu sebagai kelemahanmu."
"Aku juga tidak sebodoh itu kawan, selama ini aku bertahan karena adikku. Jika bukan karena dia.. sudah lama aku mengakhiri hidupku."
"Dewa benar-benar sayang padamu Rog." Ujar Dean, tersenyum lega.
"Ya, bisa jadi."
"Lalu, dalam rangka apa kau datang kesini? karena rumor tentangmu telah beredar luas di mansion, jika kalian adalah tamu istimewa Yang Mulia Duke..!"
"Hem.. Benarkah?! Yah, Kau akan segera tahu nanti. hihi.. aku juga sedang menantikan jawaban dari Orang Tua angkat kami, yang sangat lucu dan menggemaskan."
"Orang Tua Angkat???"
Di temapat lain di taman mansion sebelah timur.. Ketiga Spirit sedang duduk di taman dengan Ron, Jura muncul dalam sekejap. Kehadirannya tidak di sadari oleh Ron, karena Ron sibuk bermain sendiri mengejar capung dan kupu-kupu.
"Apa kalian sudah selesai berkeliling?" Tanya Jura kepada yang lainnya.
"Belum, anak itu kelelahan. Jadi kami berhenti. Dimana Rog, kenapa cuma kau sendiri yang kemari? Bukankah dia tadi bersamamu??" Tanya Tama penasaran.
Jura duduk ikut bergabung dengan yang lainnya..
"Aku memberinya Ruang berbicara dengan temannya.. Keduanya pasti membutuhkan waktu, untuk mencerna apa yang terjadi." Ujar Jura kepada ketiga temannya itu.
"Hem.. Keduanya pasti bingung, bagaimana takdir mempertemukan keduanya, di tempat yang sama, dengan pemilik yang berbeda." Sambung Roya.
"Aku berharap bocah itu bisa menentukan pilihannya..! Sebab dia tampak sangat waspada dan masih belum mempercayai siapapun. Dia seolah sedang terombang-ambing dengan pikirannya sendiri." Celetuk Saga.
"Kau benar.. Sangat disayangkan, jika bakatnya tersia-siakan begitu saja." Sambung Roya.
__ADS_1
"Kalian tenang saja.. Ia tidak akan berani berkhianat atau kabur kecuali mati, karena anak itu sudah mengikat sumpah denganku. Jika ia berani menghianati Dewi.. Dia akan mati mengenaskan."
"Cih, kau terlalu kejam pada anak-anak, Tama." Ujar Jura mendecah, tidak suka.
"Kau tidak perlu khawatir, meski sumpah itu benar!! Tapi cara yang kulakukan, cuma formalitas untuk mengikatnya hihihi.. Selama ia tidak menghianati Dewi, dia tidak akan celaka." Ucap Tama santai.
Dari kejauhan.. Ron yang sudah puas bermain, datang berlari menghampiri keempat Pria tersebut, ia berteriak memanggil mereka.
"Paman.. Paman.. Aku sudah puas bermain, selanjutnya kita akan kemana lagi?" Tanya Ron dengan polos.
"Untuk hari ini segini saja dulu, kita masih punya hari esok untuk menjelajahi mansion ini. Karena sehari tidak akan cukup hanya untuk mengelilingi mansion." Ujar Tama, tegas.
Raut wajah Ron Tampak kecewa, namun ia juga tidak bisa membantah, Karena apa yang dikatakan si Tama ada benarnya.
"Baiklah.. Tapi apa besok Paman-paman mahu menemaniku jalan-jalan lagi..?" Tanya Ron berharap.
Melihat wajah memelasnya.. Tama tidak tega, dan menarik nafas.
"Haah.. Baiklah, kami akan menemanimu lagi besok, di waktu yang sama." Ujar Tama dengan Wajah bringasnya.
"Ya.. Karena kami yang menawarimu untuk berkeliling, jadi kami juga akan mengawalmu sampai selesai." Sahut Roya.
Tampak keceriaan secerah musim semi, singgah di wajah Ron.. Ia tampak begitu senang mendengar jawaban Tama. Namun, di sela-sela kesenangannya, keluar pertanyaan yang tidak terduga dari mulut Ron.
"Hore.. Emh, tapi Paman, omong-omong kapan Orang Tua Angkat akan menemui kami lagi..?!"
......................
Di gazebo di dekat danau.. Zion yang sudah kembali kewujud Singanya. Mondar-mandir di tempat, disebabkan risau setelah berbicara dengan Argus, lalu ia melihat pemandangan yang menyejukkan matanya.. Zion bangun dan duduk seperti kuncing.
'Aku bukannya tidak tahu, melihat tatapan yang mendamba dari si bocah Elf kepada Dewi, bocah kurang ajar itu berani-beraninya dia menyimpan perasaan untuk Dewi.
Pantas saja, Ia yang tidak pernah tertarik sama sekali dengan masalah Dewi.. Bocah yang selalu mengabaikan apapun di sekitarnya, kini.. tiba-tiba saja menjadi tertarik dan mengkhawatirkan, keadaan Putri Masternya sendiri.
Aku yakin.. Sepertinya, Bocah itu tidak akan mundur sedikit pun. Tampaknya.. Ramalan tentang Dewi, benar-benar akan terjadi. Kelak, akan banyak lagi bocah seperti Argus, yang datang menghampiri Dewi. Lannox akan lebih kerepotan lagi kedepannya.
__ADS_1
Oh.. Dewa, sebenarnya apa yang telah engkau rencanakan untuk Dewi..!'