AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
MENGHADIRI UNDANGAN KAISAR


__ADS_3

Setelah menemui Jura.. Zion tidak bisa berkata apa-apa karena Jura sedang tidak sendirian. Ia juga melihat Sang Putri bersama Keempat Spiritnya.. Melihat itu Zion ikut bergabung, namun ia tidak bisa bertanya apapun jadi Zion menundanya.


Masih di Mansion, di hutan lain dibagian utara, Argus yang sedang fokus berlatih mengontrol energi yang bergejolak di dalam tubuhnya. Yang terkadang ingin keluar meledakkan apapun di sekitarnya.. Argus duduk bersila, di kelilingi banyak pohon rimbun yang tinggi.


Suasana di hutan tersebut agak berbeda dari hutan lainnya.. Hari sudah semakin gelap, Riuhnya kicau burung-burung yang telah kembali kesarangnya, Membuat suasana yang tadinya sunyi kini serasa ramai.


Argus duduk di atas bongkahan batu besar.. Tubuhnya mengambang mengeluarkan Aura hijau cerah, yang sangat terang. Energi yang bergejolak Ditubuhnya.. Perlahan mulai tenang, dan tubuhnya yang mengambang di udara.. turun perlahan-lahan mendarat di atas bongkahan batu besar. Setelah selesai, Argus menggerak-gerakkan kepalan tangannya..!


'Hampir saja.. Aku masih belum bisa menguasainya dengan benar, terkadang jika emosiku sedang tidak stabil, energi di dalam tubuhku bergejolak seperti ingin meledak menghancurkan apapun di sekelilingku.


Haah.. Ini benar-benar gawat, aku harus selalu tetap tenang agar tidak memacu amarahku, saat aku melihat ke langit jingga matahari sudah condong kearah Barat, Sudah saatnya aku kembali kemansion.'


Setelahnya.. Argus pun kembali menyusuri jalan setapak. Ia suka menikmati suasana hutan, aroma pohon yang lembab.. Suara burung-burung berterbangan, desir angin yang kadang bertiup pelan, terkadang sangat kencang.


Ia menikmati semua itu.. Seolah-olah jika ia sedang menghirup udara segar di sore hari, Dan menyatu dengan aroma hutan.. Membuatnya merasa hidup.


***


Di waktu yang sama, masih di Gazebo.. Melihat hari yang sudah mulai gelap, Ravella berencana untuk kembali kemansion. tau akan maksud Zion yang sejak tadi menunggu waktu untuk berbicara empat mata dengannya, Jurapun berujar kepada yang lainnya.


"Kalian kembali saja dulu, karena ada yang ingin aku bicarakan dengan Zion."


Mendengar itu.. Temannya pun mengangguk mengerti, dan membiarkan keduanya berbicara empat mata.


Begitupun Ravella yang sejak tadi tidak banyak bicara, setelah bangun tidur, ia hanya berjalan di jembatan melihat kearea danau, sambil di perhatikan para Spirit.


Para Spirit pun tidak mengerti, mengapa seharian ini, Sang Putri lebih banyak diam.. Tidak seperti hari biasanya yang selalu tampak ceria, dan bersemangat.


"Baiklah, aku kembali dulu kek." ujarnya santai tanpa menanyakan alasannya.


Melihat sosok Ravella dan Yang lainnya.. Sudah menghilang dari pandangan, Jura pun mulai membuka topik pembicaraan lebih dulu!


"Aku melihat kegelisahamu sejak tadi Nak, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jura, sambil duduk bersilang kaki.


"Kek.. Ini masalah penting, Ini menge.." belum selesai Zion bicara, Jura langsung menyela dan menebaknya dengan benar.


"Si bocah Elf itu bukan..!!" tanya Jura sambil melipat kedua tangannya, menoleh kearah Zion.


"Benar.. Bagaimana kakek tau?" ujar Zion terkejut.


"Dan kenapa kau memilihku, untuk membicarakan masalah ini? Padahal kau bisa membahasnya, atau meminta pandangan kepada temanku yang lain!!"

__ADS_1


"Cih, mereka berbeda.. Kakek tampak jauh lebih tenang dan rasional, di banding yang lainnya!! Jika aku membahas masalah ini dengan yang lain, terutama Kakekku.


Bisa Runyam urusannya, yang ada mereka akan bertempur antar sesama Spirit milik Dewi, dan Masterku. Kakek tahu sendiri bukan.. Bagaimana Gilanya Kakekku?


Dan ini juga.. Hanya berdasarkan spekulasiku sendiri.. Jadi belum tentu kebenarannya, makanya aku menemui Kakek, untuk meminta pandangan Kakek tentang hal ini." Ujar Zion, yang duduk seperti kucing di hadapan Jura.


"Haah.. Jika kau meminta pendapatku!! saranku.. biarkan semuanya berjalan sesuai takdir. kita cukup mengawasinya saja.. Dan jika ia bertindak diluar batas, barulah kita turun tangan.


Selama ia tidak melakukan hal fatal yang merugikan siapapun, biarkan saja. Dewi kecil kita juga tidak semudah itu takluk pada rayuannya bukan..! Karena ia memang bukan ditakdirkan untuk bocah Elf itu."


"Apa maksud Kakek?"


"Entahlah.. Misteri takdir tidak ada yang tahu Nak!! Tugas kita adalah melindungi Master kita. Dan menjauhkannya dari hal yang berbahaya, namun.. kita hanya bisa mengarahkan mereka kejalan yang lebih baik, pilihan ada di tangan mereka sendiri.


Apapun yang di pilih Masterku nanti, aku akan menghormati pilihannya itu. Jadi kau tidak perlu khawatir, Kita cukup memperhatikan gerak-gerik bocah itu dalam diam. Dan jika kau masih ingin menangkap mangsamu.. Kau juga harus bermain sebagai mangsa, dengan begitu kau tidak akan ketahuan."


Zion mencerna kembali apa yang di katakan Jura.. Ia baru merasa lega setelah mencurahkan kekhawatirannya itu.. Meskipun ia masih kepikiran masalah Argus.


"Hmm rasanya tidak semudah itu Kek..! Kelihatanya anak itu tidak ingin menyerah sedikitpun, dengan keinginannya. Apalagi tatapan mendamba saat ia melihat Dewi, itu benar-benar menjijikkan."


"Hem.. Lalu bagaimana dengan kekasihmu? Apakah dia juga menjijikkan?!" Tanya Jura dengan satu alis terangkat, seolah sedang menggoda Zion.


Mendengar pertanyaan yang tidak terduga dari Jura.. Wajah Zion memerah malu, Ia buru-buru mengelak.


di dekati dengan banyak kumbang yang hanya ingin menghisap madunya saja, Apalagi si bocah Elf itu..! Cih, aku sungguh tidak sudi melihatnya mendamba Putriku seperti itu."


"Kelihatanya kau mempunyai dendam peribadi padanya!!"


Muka Zion jadi makin kesal, dan ia tampak membuang mukanya kearah lain. Melihat reaksi Zion, Jura tersenyum.


"Sepertinya.. Yah apapun itu sekarang pertanyaanmu sudah terjawabkan bukan? Jika tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan.. Aku akan kembali."


"Ya.. Terima kasih sudah mau mendengarkan masalahku Kek?"


"Hem, bukan masalah." setalah berbicara dengan Zion, Jura pun kembali kemansion.


Sementara Zion masih belum sadar akan kehadiran Garda, karena Garda menyamar kan diri.. Dan mendengarkan semuanya. Jura yang sadar, hanya mengabaikannya begitu saja.


***


Dua hari kemudian.. Duke yang sudah bersiap-siap menunggu di lantai bawah. Sedangkan Ravella, masih belum selesai, ia masih didandani oleh kedua Dayang miliknya.

__ADS_1


"Putri.. Anda sangat cantik sekali." ujar Marri memuji.


"Haah.. Apa kalian yakin gaun ini tidak terlalu mencolok?"


Ravella mengenakan Gaun kuning setengah lutut, mengembang tampak bagai mawar, rambutnya di sanggul dua membuat ia tampak semakin menggemaskan. Ia mengenakan sarung tangan putih, dan sepatu putih.


Warna mata netra merah seperti Duke, dan rambut perak keputihan yang kini berubah lagi.. Ia benar-benar tampak cantik. Setelah selesai, Ravella pun turun menemui Duke, yang sejak tadi sudah menunggunya di lantai bawah.


Ravella menuruni tangga, nampak Sang Ayah sedang tersenyum lembut kepadanya.


"Ayah.. Apakah Ravel terlalu lama?"


"Tidak juga.. Kau terlihat sangat Cantik Putriku, seperti bunga yang sedang berjalan." 'Hem rasanya aku tidak ingin menunjukkannya kepada siapapun, bahkan dalam balutan Gaun yang sederhana saja.. ia sudah tampak mencolok.'


Setelah itu Duke langsung menggendong Putrinya.. Dan keduanya pun segera keluar menaiki kereta kuda yang sudah terparkir di halaman mansion, setelah keduanya menaiki kereta.. merekapun berangkat menuju Istana Kaisar. Ravella duduk di atas pangkuan Duke, Sang Ayah begitu menyayangi Putrinya, sehingga tidak ingin ada jarak di antara mereka berdua.


"Ayah.. Sebenarnya dalam rangka apa kita di undang Keistana??"


'Putriku tidak perlu tahu, maksud tersembunyi Kaisar. Aku akan mengurus Si Ular Tua itu dengan Caraku sendiri.' Pikirnya dalam hati. "Ini hanya pertemuan Biasa, jadi jangan dipikirkan. Putriku, kau harus berhati-hati saat berbicara dengan Ular Tua itu, Karena dia pintar sekali memberi pertanyaan menjebak."


'Hem.. Melihat dari reaksi dan perkataan Ayah, sepertinya Kaisar ingin menggali sesuatu dariku!!' Pikirnya "Baik Ayah." Ujar Ravella dengan patuh, Lannox membelai kepala Putrinya dengan Penuh Sayang.


Argus yang mengawasi Dari kejauhan, tersenyum melihat Putri Kecil Pujaannya.


'Dia sangat Cantik dan menggemaskan.. Hem.. Hem..' pikir Argus memperhatikan dari kejauhan, sambil tersenyum.


Sementara Para Spirit mengawasi Sang Dewi, Dari Zona Mana. sedangkan Zion, bersemayam dalam bayangan Duke sambil berbaring tengkurap, seperti sedang mengintai mangsanya.


Hanya Argus yang berkeliaran bebas di luar.. Sambil mengikuti dari jarak jauh mengawasi area sekitar Duke, dari kejauhan.


'Perasaan apa ini..? Aku merasakan ada Aura Penyihir dari jarak lima ratus meter sedang mengikuti kami.' Pikir Argus memperhatikan situasi.


Di dalam kereta.. Ravella sedang tertidur di dalam pelukan Duke. Sedangkan Zion, yang Juga ikut merasakan Aura yang tidak sedap, berbicara dengan Sang Master.


'Bocah, apa kau merasakannya juga..? Aura busuk ini, berasal dari Penyihir hitam.'


'Ya.. Aku sudah merasakannya sejak tadi kita menaiki kereta, seperti ada yang sedang mengawasi dari jauh.'


'Heh.. Jadi karena itu kau membiarkan si bocah Elf itu mengikuti kita dan mengawasi dari jarak jauh..?'


'Ya.. Ada yang tidak beres, pokoknya tetap waspada.' Ujar Lannox mengingatkan.

__ADS_1


'Cih, tidak perlu kau Bilang pun, aku juga sudah tahu.' Ujar Zion yang sedang tiarap, sambil bertopang dagu pada kedua punggung tangannya yang di silang.


__ADS_2