AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KABAR BURUK DARI ISTANA


__ADS_3

Dalam hutan terlarang, Zion kini sedang berhadapan dengan Gapi. Yang juga di saksikan Singa Hitam.


"Sekarang, serang aku dengan kekuatan penuhmu! dan jangan kau tahan, keluarkan semuanya." ucap Zion serius.


Mendengar perintah Zion, Gapi pun mulai berkonsentrasi. ia pun mulai mengumpulkan seluruh energi yang ia punya, dan menjadikannya berpusat tepat pada satu titik. yaitu, di dalam perut. setelah semua energi yang ia kumpulkan terisi penuh, barulah ia melepaskan serangannya ke arah yang ia inginkan.


'Akan aku lihat, sejauh mana kau telah berkembang, Nak?!' gumamnya dalam hati, yang kini masih mengawasi muridnya tersebut.


Gapi yang sekarang sudah seukuran Serigala, mulai bersiap-siap. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menyemburkan Api Naganya. Dan dalam waktu yang sekejap, semburan api di hembuskan kearah Zion. Dan api tersebut telah membakar semua yang ada di sekitar mereka.


Namun, yang lebih mengejutkan lagi, Api yang ia keluarkan justru tidak mengenai tubuh Zion sedikitpun. Hal tersebut membuat Gapi terkejut. Melihat reaksi dari muridnya, Zion pun berseringai dan bergumam yang membuat Gapi tersulut emosi.


"Apakah hanya segini hasil latihanmu selama ini..? Aku sangat kecewa denganmu, ternyata apa yang aku ajarkan, masih belum menunjukkan perkembangan apapun padamu." ujarnya tampak kecewa.


Mendengar itu! Gapi, yang tampak kesal pun mulai menyerang kembali, dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Namun, kini kekuatan tersebut berada di luar kendalinya. Karena ia hanya mengikuti nalurinya.


Serangan pun langsung di lepaskan ke arah Zion, merasakan ada energi aneh! Zion menyipitkan kedua matanya, dengan respon cepat, ia langsung menghilang. Dan dalam waktu yang sekejap, Gapi langsung terlempar jauh hingga menabrak bongkahan batu besar yang ada di sekitar Gua. Tubuh Gapi kini terkapar tak berdaya.. Dan di penuhi dengan banyak luka memar, akibat mendapat serangan Zion yang tiba-tiba.


"Gedebug.. Bug.. Brug.. Eugh.." Gapi pun langsung terjatuh, hingga tak sadarkan diri.


Melihat itu, Zion dengan cepat menghampiri muridnya. Dan menyembuhkan luka-lukanya. Sedangkan Singa Hitam yang sejak tadi mengamati pertarungan dari kejauhan, juga ikut menghampiri keduanya dan berujar, yang membuat Zion merasa bersalah.


''Kau terlalu berlebihan mendidiknya! sedangkan kau tahu sendiri, anak ini masih belum mampu menerima seranganmu yang kuat itu. Meskipun kau hanya menggunakan sedikit tekanan, untuk mendesaknya." ujar Singa hitam, yang hanya bisa menghela nafas panjang. sembari menggelengkan kepalanya, melihat latihan kedua Guru Dan Murid itu.


Dalam hati, Zion merasa menyesal. tapi, di satu sisi.. ia juga harus bersikap tegas dalam mendidik muridnya tersebut tanpa memandang bulu. meskipun Gapi masih kecil.


Melihat kondisi muridnya, ia pun langsung bergegas menggigit leher Gapi, dan memindahkannya kedalam Gua. Setelah itu, keduanya pun langsung keluar meninggalkan Gapi, untuk beristirahat. Dan kini, sepasang Singa tersebut sedang duduk di atas bukit. Melihat pemandangan di Hutan terlarang sambil berbincang-bincang melihat pemandangan alam.


Zion duduk dan menoleh pada Singa Betina, yang sangat ia cintai itu. Yang kini sedang memandang langit. Setelah puas menatapnya. Lalu ia memalingkan wajahnya melihat kearah langit yang kini sudah hampir senja. Sadar akan perhatian Zion padanya, ia pun bergumam.


"Ada apa? Apa yang membuatmu tampak gelisah?" tanya Singa Hitam, menatap Zion penuh kelembutan.


Angin berhembus kencang, di kejauhan tampak fajar hampir setengah tenggelam di telan cakrawala. Pandangan Singa Hitam, kembali mengikuti arah pandangan Zion saat ini, Sorot matanya yang tajam tertuju pada hamparan hutan yang lebat dan subur. Tampak pendar cahaya jingga yang hampir redup, jatuh menimpa seluruh pepohonan yang ada di sekitar hutan terlarang.


Suasana kembali hening sejenak, tak ada yang bersuara di antara keduanya. hanya deru angin, dan riuhnya suara Burung-burung yang telah kembali pulang kesarangnya. keduanya tampak sedang asyik menikmati panorama alam yang terbentang begitu luas dan indah. Setelah beberapa saat terpaku dalam keheningan senja, Zion kembali bersuara, memecah kesunyian diantara keduanya.


"Kau tahu Azula.. Akan tiba masanya di mana takdir yang telah tertulis, tidak akan bisa terelakkan lagi. Meski kau telah berusaha keras untuk mengubahnya, dan yang terjadi akan tetap terjadi." ujar Zion, terdengar agak sendu dan ambigu.


Tampak kecemasan singgah di permukaan wajah buasnya. Sementara Azula, hanya fokus mendengarkan tanpa menyela sedikitpun. "Dan apa yang aku ajarkan pada anak itu saat ini.., kelak akan sangat berguna baginya. meskipun latihan yang aku terapkan, sangat berbahaya untuk dirinya.


Di masa mendatang, dia akan berhadapan dengan lawan yang sangat kuat dan jauh lebih tangguh dariku. untuk itu, mental dan kekuatan fisiknya harus di tempa sejak dini. Agar ia bisa terbiasa dan tidak terkejut lagi, saat dihadapkan dengan situasi yang mendesak, dan jauh lebih sulit dalam pertarungan.


Karena ada tanggung jawab besar yang harus ia pikul di kedua pundaknya, apa lagi dia akan menjadi Raja dari Para Monster dan Para Ras Binatang , banyak nyawa yang akan bergantung padanya." ujarnya lalu menjatuhkan pandangannya, pada segerombolan hewan yang kini tengah minum di pinggir sungai. setelah ia selesai mengutarakan pikirannya, kini Azula bersikap manja pada Zion. Dengan menyundulkan hidungnya, ke hidung Zion, Lalu ia menarik kembali wajahnya dan berbicara sambil menatap Zion penuh ketulusan.


"Aku mengerti maksudmu, dan aku tidak menampik akan hal itu. Hanya saja, berikan anak itu sedikit waktu untuk dia mengasah kemampuan terpendamnya. Karena tidak semua individu bisa langsung naik keatas. Semuanya membutuhkan Proses untuk berkembang dan menjadi lebih baik lagi. Selain itu, aku yakin ada sesuatu yang lebih dari itu! ada yang ingin kau sampaikan padaku, bukan..?" ujarnya menatap dalam kemata Zion.


Melihat tatapan kekasih yang ia sayangi, Zion mengecup keningnya. lalu ia menghelah nafas panjang dan berujar. "Haaah.. tampaknya aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu. Kau benar! Sebenarnya akhir-akhir ini aku sering memikirkannya. Dan sedang menimbang, kapan waktu yang tepat untukku, membicarakan masalah ini denganmu!


Dan tampaknya, sudah tiba waktunya aku berbicara jujur padamu, tentang siapa diriku sebenarnya! Dan aku juga ingin memperkenalkanmu, dengan keluargaku." ujarnya dengan hati yang sudah mantap.

__ADS_1


Melihat itu, timbul keraguan pada wajah Azula, ia tidak ingin kehadirannya menjadi beban bagi Zion. tapi di satu sisi.. ia juga sangat penasaran dengan asal-usul kekasihnya itu. "Apa kau benar sudah yakin?" ujarnya menatap Zion, ada keraguan hinggap di hatinya.


"Tentu saja.. Sudah tiga tahun berlalu, dan aku masih merahasiakan hubungan kita, kepada semuanya. Dan.. kini sudah saatnya bagimu menunjukkan diri pada dunia, agar mereka yang masih mencari keberadaanmu, bisa berhenti mengejarmu." ujarnya melihat sekilas kearah Tiara yang masih bertengger di kepala Azula. lalu.. kembali mengalihkan pandangannya pada hamparan Hutan Belukar, yang sangat lebat, dan rimbun itu.


"Aku terserah kau saja... Walaupun kau tidak pernah menceritakan siapa dirimu sebenarnya!! Aku pun tidak akan memaksamu, untuk bercerita tentang siapa dirimu. Kau pasti mempunyai alasan tersendiri, hingga kau tidak bisa menceritakannya!" ujarnya sambil menatap langit yang kini sudah gelap.


Zion tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu, karena merasa kepergian mereka sudah terlalu lama! Zion akhirnya langsung mengakhiri pembicaraan dengan bergumam.


"Terang sudah di telan malam, ayo kita kembali. Anak itu pasti sudah bangun, dan sedang mencari kita sekarang. Besok aku akan membawamu ketempat ku, dan memperkenalkanmu pada semua keluargaku. Kau harus mempersiapkan dirimu untuk besok"


Ujarnya sambil mengecup kening Azula. "Hem baiklah..." sahut Azula, tersenyum.


...----------------...


Setibanya di Mansion, dari kejauhan mata memandang.. tampak Reni sedang berlari kecil ke arah Sang Putri. Dengan raut wajah yang masih terlihat cemas dan panik, namun berubah lega, saat melihat wajah Sang Putri.


"Putri.. Putri.. Haah.. Haah.. Syukurlah anda d-di sini, b-beliau P-pangeran..." ujarnya terhenti, Iarena lelah berlari.


Ravella yang baru saja tiba di Mansion, bersama ke lima Spiritnya. Terhenti karena kemunculan Ibu asuhnya itu.


"Tenanglah Reni, tarik nafasmu perlahan-lahan. Dan baru katakan padaku apa sebenarnya yang sedang terjadi?" ucapnya memegang lengan Reni, untuk menenangkan pengasuhnya itu.


"B-baik Putri.. Huuuffffttt... Haaaaaah... Huuuffffttt... Haaaaaah..." setelah ia tenang dan selesai mengatur nafasnya, barulah ia berbicara pada Ravella tentang keadaan di Mansion. "Putri, Pangeran sekarang ada di kamar anda. Beliau memaksa masuk, dan kami tidak bisa mencegahnya. Yang Mulia Argus, sekarang sedang bersama beliau di Kamar anda." ujarnya lancar.


"Baiklah, aku mengerti. Jangan khawatir Reni, kembalilah sekarang. serahkan sisanya padaku." ujarnya tersenyum, setelah itu Ravella pun beranjak menuju ke Kamarnya di ikuti kelima Pria bertubuh tinggi, dan berparas tampan di belakangnya.


***


'Vella..' sapanya lembut, namun aksinya terhenti ketika melihat sosok yang pernah membuatnya tidak berdaya, kini muncul di belakang Ravella.


Saat Pangeran akan berjalan ke arahnya.. Tiba-tiba beberapa sosok Pria yang tidak asing, masuk berurutan dari belakang Ravella. Melihat itu, riak di wajah Pangeran langsung berubah suram. Bukan hanya dua Pria Tampan saja yang muncul, bahkan ada lima Pria tampan datang bersamanya. Sedangkan yang tiganya lagi, ia belum pernah melihatnya. Ke lima Pria tersebut pun masuk, dan berdiri mengelilingi Ravella.


Melihat itu, ia pun menahan keinginannya tersebut untuk memeluk Ravella, namun tidak ada yang menyadari kepalan erat, di kedua tangannya tersebut. Hatinya tiba-tiba menjadi geram dan sangat kesal. Bahkan tidak hanya Pangeran saja yang merasakan seperti itu! Begitu pun dengan Argus, ia juga tampak risih dan geram dengan kehadiran kelima Pria tampan yang tampak sangat melindungi Masternya itu.


Melihat kelima Pria tampan yang sangat akrab dan begitu melindungi Ravella, Hingga timbul perasaan iri di hatinya, terhadap ke lima Spirit tersebut. 'Cih, semenjak kemunculan mereka berlima, keberadaan ku jadi di anggap tidak ada artinya. Seharusnya, selamanya saja mereka tinggal dan membusuk di sana. Dan lebih baik lagi jika mereka tidak pernah kembali ke tekpat ini.' gerutunya dalam hati, merasa kesal.


"K-kalian.. Kenapa kalian berdua ada di sini?" tanya Pangeran yang sedikit gugup, namun ia kembali bisa menguasai perasaannya, dan mulai bersikap tenang.


"Oh, aku kira kau sudah melupakan kami, bocah! Aku merasa tersanjung karena kau masih mengingat wajah ku." sindir Zaku, dengan seringai sinis di wajahnya. Namun tak lama.. Terdengar Suara pria lainnya, berbicara dengan nada ketus, dan mengancam.


"Jangan bertele-tele bocah, sebaiknya cepat katakan, untuk apa kalian datang kemari? Apa mungkin, kejadian terakhir kali.. masih belum cukup membuat kalian puas? Dan sekarang kau malah datang lagi kemari, apa kali ini kau ingin aku kirim ketempat yang lebih jauh lagi.?" sambung Tama dengan wajah bringasnya, namun dengan tatapan meremehkan. Sambil bersedekap tangan ia menatap galak.


Sementara Argus yang sejak tadi mendengar ocehan ketiga pria tersebut, hanya mengamati. Sedangkan di dalam hati Pangeran.. Ia sangat marah sekali dan tidak suka dengan kehadiran Para Pria tampan, yang terus menempel di sisi pujaannya!


Argus melihat reaksi Kelima Pria, yang kelihatan sok akrab di matanya. Apalagi kelima Pria tersebut begitu melindungi Ravella, dalam hati ia muak, dan risih dengan pemandangan tersebut.


Sedangkan Pangeran yang mempunyai ide licik, berusaha menarik perhatian Ravella. demi menyingkirkan para Pria tampan, yang ada di sisi Ravella. Meskipun ia terlihat mengabaikan keberadaan Argus, tapi kenyataannya, ia juga sedang mengamati sosok Argus tanpa ada satupun yang menyadari hal tersebut. Dan di dalam diam ia terus memperhatikan mata Argus, yang kini sedang menatap lekat pada Sang Putri.


'Hem.. Mungkinkah bocah sialan itu juga? aku sangat mengenal tatapan yang seperti itu! Sejak kapan dia memulainya? Jangan bilang, keberadaannya di sini juga.. Karena!!' pikirnya terhenti, ia tiba-tiba mulai menyadari arti tatapan Argus. "Cih, Aku harus segera menyingkirkan Pria-pria busuk sepertinya. Tidak ada satupun yang boleh mengambil milikku.' gumamnya dalam hati dengan penuh ambisi.

__ADS_1


"Vella, bisakah aku berbicara hanya berdua saja denganmu?" ujar Pangeran dengan ekspresi memohon, ia menatap Ravella dengan tatapan lembut sembari memegang kedua tangan Ravella. Dan mengabaikan keberadaan Para Pria yang kini tengah memperhatikan sikapnya, dengan tatapan kesal. Sedangkan Argus yang mendengar ucapan Pangeran, tampak geli dan jijik. Namun ia masih berusaha menekan kekesalannya tersebut, dengan mencoba bersikap tenang di hadapan semuannya.


Ravella yang mendengar ucapan Pangeran terdiam sejenak, sembari memandangi keenam Pria yang kini tengah mengelilinginya. Mengerti akan maksud anggukan Ravella, meski pun enggan, mereka tetap keluar dengan patuh. Begitupun dengan Argus.


"Jika dia berbuat macam-macam padamu, segera beritahu aku." celetuk Zaku tiba-tiba, sebelum pergi, sambil menatap tajam kearah Pangeran. Ravella hanya merespon dengan senyuman. melihat reaksi Para Spirit yang begitu protektif terhadap dirinya.


Dan setelah ruangan kamarnya menjadi sepi, dan hanya tinggal mereka berdua saja. Ravella akhirnya memulai membuka pembicaraan. Meski sebenarnya ia malas berhadapan dengan Pangeran.


"Apa yang membuat anda datang kemari, Pangeran?" tanya Vella, sambil mempersilakan Pangeran untuk duduk di sofa. Lalu ia menatap kearah meja yang kini sudah terhidang dua gelas kosong, dengan wadah gula di samping gelas. Pangeran mengambil teko lalu menuangkan teh hangat pada kedua gelas.


'Hem.. Tiga tahun kita sudah tidak pernah bertemu, dia sudah banyak berubah. Latihan fisik seperti apa yang ia lakukan, sehingga ia terlihat seperti kesatria tampan?' pikirnya mengamati perubahan fisik Pangeran. 'Bahu yang bidang, otot-otot yang kekar bersembunyi di balik seragam kerajaan miliknya. Dan lagi.. Tingginya juga sedikit lagi hampir menyamai tinggi Ayah-ku. Ia telah banyak bertumbuh. Tapi.., kenapa hanya aku sendiri yang masih tidak banyak berubah..?! Tubuh ku bahkan, masih terlihat seperti anak kecil! Ini menyebalkan.. Oh Dewa, Kenapa kau benar-benar tidak adil padaku!' gerutunya dalam hati, mengeluh pada Dewa.


Namun di waktu yang bersamaan di Istana Langit, Sang Dewa yang sedang duduk di singgasana miliknya, hanya tersenyum mendengarkan keluhan Permaisurinya, yang menurutnya sangat lucu itu.


Di kamar Ravella, Pengeran duduk bersandar, dan menatap ke arah meja. Ia diam sejenak mencerna pertanyaan Ravella, dan tampak sedang merenungi sesuatu. Beberapa saat kemudian, ia pun kembali mengutarakan apa yang telah membebani pikirannya saat ini.


"Vella..., aku akan langsung keintinya saja. Sebenarnya, aku datang kemari untuk membawamu ke Istana." tegasnya, sambil menatap wajah Ravella.. Untuk melihat reaksinya.


"Membawaku! Apa maksud anda, Pangeran?" tanyanya yang tampak bingung dengan ucapan Pangeran.


Melihat reaksi Ravella, Pangeran merasa tidak enak hati, ingin membicarakan hal tersebut. namun, mau tidak mau, ia harus menyampaikannya. Ravella memperhatikan gerak-gerik tubuh Pangeran yang kelihatan agak gelisah. kedua tangan yang tergenggam erat di atas meja. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.


'Kabar Ini mungkin akan mengejutkannya.. Namun, hanya ini kesempatan bagi ku, untuk membawanya pergi bersama ku.' pikirnya merenung sejenak, dalam keterdiamannya tersebut.


Ravella yang hanya mencermati, sembari menunggu dengan sabar, jawaban apa yang akan keluar dari mulut Pengeran. 'Memangnya masalah apa yang membuatnya sampai ragu-ragu begitu!' pikirnya dalam hati.


"Vella, sebenarnya kedatangan ku kemari.. adalah untuk membawamu Ke Istana bersamaku." gumamnya mempertegas kembali maksudnya tersebut.


"Tunggu, maaf menyela pangeran. Tapi, apa maksud anda dengan membawa saya bersama anda?" ujarnya masih belum mengerti akan maksud kedatangan Pangeran.


"Haah... Ayahmu telah kembali Vella, ia telah berhasil memecahkan misteri yang ada di perbatasan. Dan itu tidak mengejutkan lagi bagiku, karena ia memang selalu berhasil saat melakukan misi sesulit apapun. Bahkan, kali ini pun tidak sampai satu bulan. Namun, ada yang lebih mengejutkan daripada Itu semua." ujarnya sambil menatap sayu, tatapannya jatuh kedalam gelas miliknya. Tampak bayangan dirinya di atas permukaan teh yang masih menguap.


Perasaan tidak tega, kembali menggerogoti dirinya. Karena ia tidak ingin melihat gadis kesayangannya itu, di timpa kesedihan. Akan tetapi.. Ravella yang tidak sabaran, segera mendesak Pangeran.


"Jangan bertele-tele Pangeran, bisakah anda mengatakannya langsung, maksud dan tujuan anda datang kemari..!!" ujar Ravella lugas, seketika ia merasakan firasat buruk. Melihat reaksi Ravella, ia hanya bisa menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan percakapan yang lebih serius.


"Haaah...., Mungkin ini akan mengejutkan bagimu Vella. Tapi, aku sudah membuat rencana dadakan. Seandainya terjadi sesuatu yang tidak di inginkan padamu! Ayahmu..., Ia ternyata telah memiliki seorang Putri.. dengan wanita lain, selain dirimu!


Dan saat ini, Ayahmu ada di Istana bersama anak itu." ujarnya dengan ekpresi muram, ia menarik nafas dan memejamkan kedua matanya. karena ia tahu betul, Ravella pasti sangat terkejut dan akan terluka saat mendengar kabar buruk tersebut. Namun, saat ia membuka kedua matanya, dan melihat kembali reaksi Ravella, justru yang terjadi malah membuatnya terkejut dan tak percaya. Hingga salah satu alisnya terangkat naik keatas, karena heran.


Mendengar ucapan Pangeran, Ravella yang tadinya menatap Pangeran.. Kini menundukkan pandangannya. Ia tampak begitu tenang, dan tersenyum. "Hmm.. Begitu, ya...!" ujarnya singkat, ia tampak tidak terkejut lagi dengan berita yang di sampaikan Pangeran kepadanya. Dan malah menanggapinya biasa saja, sambil membuang pandangan keluar jendela kamarnya. Sesekali angin sepoi menyeruak masuk, menerbangkan Gorden putih polos, di jendela kamarnya.


'Apa ini...? Seharusnya dia sedih saat mendengar berita ini! tapi, kenapa ekspresinya terlihat biasa-biasa saja.. Apa mungkin dia sudah mengetahuinya lebih dulu?' pikir Pangeran penuh tanya, dengan reaksi Ravella.


Ravella yang mendengar ucapan tersebut, hanya bisa tersenyum pahit sejenak. Saat Pangeran memejamkan kedua matanya. Namun, pada saat Pangeran kembali membuka kedua matanya. Ravella kembali menyembunyikan emosinya tersebut. 'Ternyata, ini yang di maksud dengan Kakek, saat itu ya..! Aku Harus Bersiap Dengan Kabar Buruk, Hadapi Dan Jangan Lari Dari Kenyataan. Jika Aku Ingin Melihat Kebenarannya. Sebenarnya.. Kebenaran seperti apa yang ingin Kakek perlihatkan kepada ku!!? Aku tidak menyangka, pertemuan kami akhirnya akan tiba juga. Tapi ini justru lebih cepat dari waktu yang seharusnya.


Alur cerita dalam Novel ini, benar-benar telah berubah jauh dari plot aslinya. Semua yang seharusnya terjadi, kini berada di luar ekspektasiku. Cerita asli sudah jauh melenceng dari cerita sebenarnya. Pergeseran ini terjadi, pasti dikarenakan keberadaan ku, yang seharusnya adalah milik Ravella yang asli. Dan kini.., semuanya telah berjalan di luar kendaliku.


Kalau begitu.. Aku juga harus bersiap menghadapi perubahan sikap Ayah Yang Dingin, terhadap ku. Pantas saja ia tidak kembali, biasanya Pak Tua itu lebih memilih kembali ke Mansion, daripada ke Istana Kaisar.

__ADS_1


Tapi kali ini, ia malah lebih memilih pergi Ke Istana Kaisar. daripada harus kembali ke Mansion menemui ku. Apa mungkin Pak Tua itu sedang mendaftarkan status Putri Palsunya, sebagai Putri sah??' pikirnya mencerna kembali apa yang terjadi. 'Tapi yang jadi masalahnya sekarang, justru adalah bocah ini..! apa yang sebenarnya dia rencanakan? Sampai ingin membawaku ke istana?' pikirnya mencermati sikap Pangeran yang tampak mecurigakan di matanya.


__ADS_2