
Keesokan harinya.. Lannox duduk sambil memperhatikan kondisi Putrinya. Pandangannya.. Yang selalu terlihat dingin, menjadi hangat saat bersama Putrinya. Ada kekhawatiran tampak di netra matanya yang merah, saat menatap tubuh kecil terbaring lemah tak berdaya.
"aku tidak sabar menunggu mata indahnya terbuka kembali, dan hanya menatapku dengan penuh keceriaan!" ujarnya dengan nada rendah. "Apa kalian benar-benar yakin, Putriku, akan sadar saat gerhana muncul?"
Jura, dan Spirit lainnya.. Datang menghampiri Lannox, yang tampak lesu.
"kami juga masih belum pasti, akan masalah itu!! Tapi, menurut apa yang dikatakan Kaisar, saat hari itu tiba.. Akan ada gangguan dari pihak luar." gumam Roya, sambil menepuk pundak Lannox.
"ah, benar.. Jura juga membicarakan hal yang sama waktu itu." lannox langsung menatap kearah Jura.. Yang sedang melipat tangan kebelakang, sambil melihat keluar jendela. "Tapi, saat itu.. pembicaraan kami terhenti begitu saja. Sebenarnya, gerhana apa yang kalian maksudkan? Aku masih belum mengerti arah pokok pembicaraan kalian. Apa hubungannya gerhana dengan putriku, dan musuh datang menyerang!!" tanya Lannox penasaran.
Spirit lainnya menatap kearah Jura.. Yang tampaknya mengerti maksud dari tatapan mereka.
"jadi kau masih belum memberitaunya?" tanya Zaku pada Jura.
"hem.. ya, dia kelihatan sangat sibuk. Jadi aku tidak bisa mencari waktu yang tepat, untuk memberitahunya."
Yang lainpun menggangguk mengerti, karena Lannox memang selalu dipenuhi dengan jadwal yang padat.
"yah, karena kau sudah membahas..! aku akan langsung keinti pembicaraan sekarang, dua hari lagi.. Adalah hari dimana Putrimu, akan terbangun dari tidur panjangnya. Tapi, seperti yang dikatakan Kaisar sebelumnya..! Akan ada gangguan dihari bertepatan bangunnya Nak Dewi." ujar Jura menjelaskan.
Lannox tersentak kaget, mendengar perkataan Jura.
"jadi maksudmu? Pada saat kesadaran putriku kembali, pada saat itu juga.. Musuh akan datang mengancam keselamatan putriku!"
"ya, bisa jadi..!" jawab Jura singkat.
"lalu.. Kali ini, Musuh seperti apa? Yang akan datang mengganggu bangunnya Putriku? Apakah seorang Dewa lagi, atau mungkinkah Para Penyihir yang waktu itu!!" tanya Lannox memastikan.
"entahlah, Kaisar tidak menjelaskannya dengan rinci. Perkataan beliau juga sangat ambigu!!" jawab Gira, sambil melipat tangan, dengan wajah bingung.
Setelah mendengar perkataan Jura, dan Gira. Semuanya kembali terdiam, suasana diruangan itu menjadi hening kembali. Namun, suara Saga kembali memecah sunyi.
"dan itu juga yang membuat kami semua kebingungan!! Namun, untuk bersiap atas kemungkinan yang terjadi.. Paling tidak, saat hari itu tiba.. Kau dan Zion, harus berada disamping Nak Dewi." ujar Saga, menatap Lannox dengan cemas.
__ADS_1
"benar, Karena kami juga tidak tahu! Musuh seperti apa? yang akan datang menyerang. Dan, kita juga belum tau kekuatan lawan. seandainya kami gagal menghadapi mereka, cepatlah selamatkan Dewi, dan bawa ia ketempat yang jauh lebih aman." timpal Zaku lagi.
......................
Di tempat lain.. Disebuah Kerajaan spirit miliknya, alam hijau nun luas, dan dipenuhi dengan berbagai ras spirit. Yang berada dibawah kekuasaan Zion. Zion, sedang duduk di atas singgahsana miliknya, yang jarang ia datangi. Sebuah batu putih megah, berdiri kokoh diatas bukit hijau yang dikelilingi dengan pohon rimbun. Hingga membuat nyaman, suasana alam yang terasa sejuk, dan teduh. Ia menunggu dengan tenang sambil memperhatikan pergerakan para ras spirit lain, dari ketinggian bukit.
Setelah sadar.. sang Ketua Serigala langsung menemui Zion, dan melaporkan semua hasil latihannya, dengan Sang Bocah Naga. Serigala hitam bertubuh besar itu, berjalan dengan perasaan yang bercampur aduk, ada kegelisahan hinggap dihatinya!!
'hah.. Aku telah gagal dalam misi, apakah aku akan dihukum dengan yang mulia?' ia berjalan dengan kepala menunduk kebawah, Zion memperhatikan sosok Muridnya itu.. dari kejauhan.
"hormat kepada Yang Mulia Raja, semoga berkat dewa selalu menyertaimu." Serigala hitam memberi hormat dengan menunduk, dan kedua tangan sedikit ditekuk kebawah.
"apa yang membuatmu tampak murung Raus?"
"Yang Mulia.. Saya siap menerima hukuman, atas kegagalan saya, dalam melatih bocah naga."
"hem..! Apa itu yang membuatmu murung Raus?" tanya Zion tenang.
"bagaimana hasil latihan anak itu? Apakah ada perkembangan!! dan setelah kau menyaksikan langsung perkembanganya, bagaimana pendapatmu tentang anak itu??"
"setelah saya bertarung dengan anak itu, dan merasakan langsung serangannya!! Yang bisa saya simpulkan.. Memang benar seperti Yang Mulia katakan. Dia sangat berbakat dan cerdas, akan tetapi.. Kekuatan hebat hanya muncul, disaat ia sendang terdesak saja. Dan itupun terjadi saat ia tidak sadarkan diri!! Selebihnya.. ia masih perlu banyak dilatih lagi, karena minimnya pengalaman dalam pertempuran. Serta serangan yang tidak akurat, hanya mengandalkan tekad dan kegigihan dan pantang menyerah."
"hmm.. jadi maksudmu? Bocah itu dikuasai oleh kekuatannya sendiri!!" Zion diam sejenak. 'yah, kalau soal lainnya.. Aku tidak heran. Karena bocah itu juga masih bayi, aku sengaja memaksanya berlatih, hanya untuk mencari tau kekuatannya yang masih tertidur, dibawah alam sadar anak itu.'
"benar Yang Mulia." sahutnya yakin.
"aku mengerti, lalu.. bagaimana dengan keadaan para bocah, yang telah di kirim keperbatasan?"
"seperti laporan saya sebelumnya, saya tidak sempat menyelamatkan anak itu!! begitu saya tiba, ia telah mati dalam keadaan mengenaskan. Sepertinya.. Ada penyusup yang telah berani memasuki perbatasan, dan mendahului Saya Yang Mulia."
'hem.. Aku yakin, penyusup itu tidak lain, adalah utusan yang dikabarkan akan datang menemuinya secara langsung. Aku tidak menyangka! Pergerakan para orsi lebih cepat dari yang aku perkirakan. Ternyata,! aku terlalu meremehkan mereka!' ia bergumam dengan pikirannya sendiri. "baiklah Raus, kerja bagus. Untuk sekarang, Hentikan misimu diperbatasan, dan beristirahatlah."
"terimakasih Yang Mulia, kalau begitu.. Saya mohon undur diri." ujarnya dengan wajah cerah, dan tidak murung lagi. 'syukurlah, ternyata Aku tidak dimarahi ataupun diberi hukuman oleh beliau.' pikirnya.. Merasa lega.
__ADS_1
'jika sudah begini, para bocah itu sudah tidak diperlukan lagi. Aku harus segera, membuat mereka pergi dari perbatasan. Dan melaporkan masalah ini pada anak itu! Omong-omong apa yang sedang ia lakukan sekarang?' setelah berpikir dengan matang, Zionpun kembali kemansion.
......................
tanah berguncang hebat, pijakan Tama menjadi tidak stabil karena guncangan tersebut. tanah tempat keduanya berpijak, tiba-tiba saja.. berubah menjadi tinggi dan besar, seolah tanah tersebut seperti hidup. menyadari akan bahaya tersebut, Tama dengan cepat menghilang, dan berpindah pada tanah yang datar dan bersembunyi di pohon rimbun ditempat lain. tanah besar itu berubah menjadi wujud Monster, dan menghempas semua yang ada disekitarnya. di atas kepala Monster itu.. tampak sosok pria bertopeng sedang berdiri diatas kepalanya. sambil mencari keberadaan sosok Tama, yang telah menghilang.
Tama melihat dari kejauhan, ia sedang bersembunyi dengan tenang di balik dahan pohon rimbun. Ia terus mengintai dan memperhatikan keangkuhan sosok pria bertopeng.
"cih, dia bahkan bisa membuat Monster berukuran besar dengan mudahnya. Siapa bocah itu..? Dia juga bisa menggunakan sihir sepertiku, Hmm..!!"
Tama terus berpikir sambil mengawasi dari kejauhan, Sementara itu.. monster besar sedang berjalan sambil mengamuk, membanting dan menginjak apapun yang ada disekitarnya. Sedangkan si Pria Bertopeng, sedang celingak-celinguk mencari keberadaan Tama.
'dimana dia bersembunyi.. Ini sangat merepotkan. Sebaiknya aku mencari keberadaan energinya, dengan begitu ia akan mudah ditemukan.'
Pria itupun memejamkan kedua matanya, dan menempelkan tangan kirinya didanya. Dengan melipat ketiga jari dan hanya menyisakan dua jari, yaitu.. jari telunjuk dan jari tengah yang sejajar. Ia terus mencari keberadaan Tama! Merasakan keberadaannya, tiba-tiba saja.. Tampak Sosok energi milik Tama bewarna oranye pekat, sedang bersembunyi di antara rimbunnya pohon.
"hem.. ketemu kau." ia menyeringai kedua mata itupun terbuka, dalam sekejap pria itupun menghilang, dan langsung muncul menyerang Tama.
Bola energi putih berkumpul diantara telapak tangannya, dan Pria itu langsung mengarahkannya kepada Tama. Sadar akan bahaya, Tama menoleh kebelakang.
'celaka, bagaimana bisa aku tidak merasakan kehadirannya?' kehadiran sosok Pria tersebut, membuatnya terkejut.
Ia Tidak sempat menghindar, serangan itupun langsung mengenai tubuhnya. (bleduaarrr boom.) ledakan hebat terjadi, tubuh tama terlempar jauh menabrak batang pohon disekitar.
"euh, uhuk.. uhuk.. Sialan." Tama terkena ledakan besar, tubuhnya terlempar dan terkena serangan bola energi, Darah segar meluap keluar.
"hahaha.. Ternyata cuma segitu saja kehebatanmu, cih dasar lemah! Jika begini lebih baik langsung kuhabisi saja."
"khehh.. Menarik!!" Tama, tiba-tiba menyeringai, dan langsung mengusap darah dimulutnya. "tidak sia-sia aku mengorbankan diriku."
"heh.. Apa? kenapa aku tidak bisa bergerak?!!" ujar si Pria bertopeng teerkejut tak percaya, dengan apa yang baru saja terjadi.
Apa yang terjadi pada Pria Bertopeng!! Nantikan di episode selanjutnya.
__ADS_1