
"ya lupakan, mungkin ini hanya perasaanku saja." rafael masih merasa janggal. 'ini bukan sekadar perasaan biasa, tapi firasatku mengatakan, kalau ada sosok yang sangat hebat dibelakangnya. jika tidak, mana mungkin segala usahaku untuk mendapatkannya selama ini.. selalu gagal! bahkan, saat terakhir kali serangan para monster dan penyihir yang kukirimkan juga berakhir dengan kekalahan telak, meskipun itu adalah kemenangan yang dimenangkan oleh dirinyanya sendiri.'
jura diam sesaat, lalu ia berjalan beberapa langkah, kemudian duduk diatas batu besar yang ada disamping mereka. lalu iapun menjawab pertanyaan rog.
"tidak, aku datang atas keinginanku sendiri."
(rog) "mengapa?"
"aku hanya ingin tau, siapa yang akan menjadi anak adopsi tuanku?"
(ron) "jika orang yang akan menjadi orang tua kami, adalah tuan paman! lalu dimanakah beliau berada sekarang? dan mengapa hingga sekarang, dia masih tidak datang menemui kami..? atau.. jangan-jangan..! surat adopsi itu, hanyalah perjanjian yang dibuat berdasarkan hitam di atas putih! padahal sebenarnya kami hanya akan dijadikan budaknya."
jura tersenyum mendengar jawaban dari ron yang yang terlalu kontras memperlihatkan kecurigaannya, bahkan rog saja tidak menyangka adiknya secerdas, dan seberani itu.. berbicara secara terang-terangan tanpa rasa takut sedikitpun, dengan pria yang ada dihadapannya.
"kau cukup pintar dalam berimajinasi nak, tapi.. apa yang kau pikirkan itu, samasekali tidaklah benar. dan jangan berspekulasi tentang tuanku, seolah-olah kau sudah mengenalnya dengan baik, apalagi jika terdengar oleh saudaraku yang lain, mereka pasti akan langsung membunuhmu tanpa bertanya.
(ron) "a..apa maksud paman? ma..maafkan saya, jika sudah lancang karena telah berani berkata kasar. ta..tapi, saya hanya mendengar menurut apa yang pernah teman-teman saya ceritakan."
(rog) "..................."
"tidak apa-apa, kalian akan segera tau jawabannya nanti, baiklah sudah waktunya untukku pergi sekarang, sampai jumpa lagi anak-anak. bwusssshh"
(ron) "dia menghilang..?"
(rog) 'siapa mereka sebenarnya? dan lagi.., orang yang seperti apa sebenarnya, yang akan mengadopsi kami? ya.. seandainya apa yang ditanyakan ron adalah sebuah kebenaran, maka aku akan menyelamatkan adikku, dan mencari jalan keluar agar dia bisa kabur dari sini secepat mungkin, bagaimanapun caranya.'
(ron) "ak.. kakak..."
(rog) "ah ada apa ron?"
(ron) "kakak sedang memikirkan apa sampai seserius itu? sampai aku panggil beberapa kali, kakak tidak menjawab!"
(rog) "tidak memikirkan apa-apa, hanya merasa lelah saja. sudahlah ayo kita masuk! udara diluar semakin dingin, sudah waktunya untuk kita tidur."
rog mencoba merubah topik pembicaraan.
(ron) 'bohong, dari wajahnya saja sudah kelihatan, kalau dia sedang memikirkan sesuatu.' "hah baiklah kak"
keesokan harinya dikota vala, keadaan pasien sudah mulai membaik, sementara itu.. dean yang masih terjebak dalam kurungan tergelap yang tak berujung.
__ADS_1
(dean) 'apa-apaan tempat ini, mengapa sulit sekali mencari jalan keluar..! yang lebih menjengkelkan lagi.. aku tidak bisa menggunakan mana samasekali? cih dasar sial, padahal aku sudah menemukan orang itu.. tapi, aku bahkan tidak sempat menanyakan siapa sebenarnya orang yang telah diramal nenek tua itu.'
dikota vala disis timur, rey dan sang penyihir terus mencari para penduduk yang masih tersisa. namun, ada kekesalan dihati sipenyihir, yang terus membuatnya merasa khawatir tanpa sebab.
(rey) "hei.. penyihir kaku, apa yang sedang kau pikirkan? hingga membuat wajahmu tampak jelek begitu!"
(penyihir) "kau tidak perlu tau, kau urus saja apa yang telah menjadi tugasmu, dan jangan bicara denganku." 'dasar sial, kenapa juga aku bisa satu tim dengannya, anak ini benar-benar tidak tau apa-apa, bahkan dia tidak bisa merasakan. ada aura yang sangat kuat disisi barat. apapun itu.. aku harus segera mencari cara, agar tidak pergi kearah sana. namun yang jadi masalahnya sekarang, anak bodoh yang ada dihadapanku ini.'
sipenyihir dan rey, sedang istirahat sambil duduk santai diatas atap rumah kosong, yang sudah ditinggalkan para penghuninya.
(rey) 'aneh, kemana para penduduk lainnya? seharusnya mereka masih ada disekitar kota ini. tapi, setelah beberapa hari pencarian, kami berjalan menyusuri setiap area, bahkan digang kecil dan kumuh sekalipun, tidak ditemukan keberadaan mereka. yah.. jika mereka memang sudah mati, itu malah bagus bukan! berarti misiku akan segera berakhir dan, aku bisa secepatnya naik level. tapi masalahnya sekarang? jika benar mereka sudah mati..! mengapa tidak ditemukan mayat para penduduk satupun dimana mereka sebenarnya, dan yang lebih anehnya lagi.. beberapa hari ini kuperhatikan, pria penyihir itu seperti sedang ketakutan.. ia selalu saja mengelak, saat kuajak kearah lain. apa yang telah membuatnya menjadi seperti itu? dia pasti menyembunyikan sesuatu dariku, aku tidak boleh mempercayai orang ini. apa sebaiknya, setelah misi ini selesai.. kuhabisi saja dia!? hem ide yang cukup bagus, akan kupikirkan nanti.'
rey benar-benar telah dibutakan keserakahan, hingga membuatnya lupa, dan mengabaikan norma serta sahabat-sahabatnya. yang ada dimatanya sekarang, hanyalah keinginan untuk menjadi lebih kuat dan dihormati. dan dia juga menjadi semakin ambisius tanpa ia sadari. sementara itu.. robi yang sedang duduk santai dihutan, sambil mengunyah daging panggang hasil buruan miliknya, ia menatap kosong kearah api yang masih menyala.
(robi) 'mereka masih belum bisa menerima keberadaanku, pandangan-pandangan sinis itu seakan menusukku dengan kebencian. haah.. aku juga tidak bisa menyalahkan mereka! jika aku berada diposisi merekapun, aku pasti akan melakukan hal yang sama. sebuah prajurid kekaisaran yang tiba-tiba datang dan menyatakan diri ingin bergabung, siapapun pasti terkejut dan tidak akan percaya, dan menganggapnya sebagai mata-mata. aku harus kuat, ini masih tidak ada apa-apanya dibandingkan harus mati ditangan pangeran, meskipun aku merasa terdiskriminasi.'
"euh, si.. siapa itu!" 'kulihat bentuk samar-samar berambut panjang sedang tersenyum kepadaku, lebih baik aku mendekatinya biar bisa melihatnya lebih jelas lagi, aku terus berjalan sambil tertatih euh, kenapa dadaku rasanya sakit sekali.. dan kenapa jalanku menjadi lambat begini..! ada apa dengan tubuhku?'
gapi mencoba melihat kearah dadanya, dan..
"berhati-hatilah nak, kau masih belum sembuh.. kau tidak perlu memaksakan dirimu sampai seperti ini."
'suara lembut ini, sepertinya terdengar sangat akrab untukku!' "anda si..siapa?"
gapi mengusap matanya yang terlihat kabur, ia mengedipkan matanya beberapa kali. agar ia bisa melihat dengan jelas, siapa sosok yang ada dihadapannya. dan saat pandangannya sudah kembali normal, ia menjadi sangat terkejut, tanpa sadar ada yang basah keluar jatuh dari pelupuk matanya.
"i...ibu....?"
"ya sayang, ini aku ibumu."
"gapi langsung bangun dari tempat tidurnya, dan berlari memeluk sang ibu."
"ibu... hiks.. hiks.."
"ya sayang ibu disini."
keduanya berpelukan melepas rindu yang sudah lama terpendam.
"ibu kemana saja ibu selama ini, kenapa ibu meninggalkan aku sendirian? aku seperti orang bodoh mencarimu kemana-mana, dan terus menunggu ibu dihutan, ibu bilang ibu akan segera kembali menjemputku.. tapi setelah beberapa minggu, ibu masih belum juga menjemputku, ibu jahat.. aku hampir saja mati dibunuh dengan para pemburu. dan untunglah ada kesatria baik yang menyelamatkanku."
__ADS_1
sang ibu yang berwujud wanita cantik, dengan rambut merah panjangnya yang menyala, gaun putih ringan yang dikenakan dengan lengan sebahu, membuatnya tampak terlihat indah seperti seorang dewi, ia juga mengenakan sepasang gelang yang dipasang dilengan kanan dan kirinya. ia lalu memeluk dan membelai tubuh kecil gapi yang juga berwujud manusia yang masih kecil, seperti anak-anak yang masih berusia lima tahun. dan tak lama ada sesuatu yang hangat jatuh membasahi pipi mulus sang ibu.
"maafkan ibu sayang, awalnya ibu memang ingin datang menjemputmu..! namun, sesuatu telah terjadi kepada ibu."
"apa maksud ibu? apakah ibu juga sedang dikejar oleh para pemburu..!"
"tidak sayang, tepatnya bukan pemburu."
wanita itu menghentikan kata-katanya sejenak, sambil memeluk dan membelai kepala putranya, yang juga berambut merah seperti miliknya.
"ibu.. kenapa ibu diam saja."
kelopak mata indah yang menampilkan netra mata bewarna hijau asetat, yang tampak sangat sedih.
"sayang.. ibu harus pergi."
sang ibu melepaskan pelukan hangatnya dari gapi, lantas ia menurunkan tubuh kecil itu secara hati-hati, dan membaringkannya diatas ranjang besar. dan iapun bangkit dari duduknya, saat ia ingin berbalik dan melangkah pergi. tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh tangan mungil milik gapi, yang sudah berlinang dengan airmata.
"ibu. jangan pergi..! apa kau akan meninggalkan aku sendiri lagi..?"
sang ibu menahan sedihnya, ia menggigit bibirnya dan berusaha terlihat tenang, agar sesuatu yang membuatnya sesak sejak tadi ditahannya tidak mengalir keluar. karena ia tidak sanggup mendengar rintihan putra kesayangannya. ia kemudian menarik nafasnya perlahan, dan merubah mimik wajahnya agar tidak terlihat sedih. lalu ia berbalik duduk, dan membelai wajah sang putra yang sudah digenangi airmata sedari tadi.
"sayang... cepatlah sembuh nak, dan kau harus melindungi sang dewi..!"
"dewi.. apa maksud ibu..?"
gapi tidak bisa mengingat apapun saat ia sadar, yang ada diingatannya sekarang, hanyalah ibunya.
"anakku.. kau telah terlahir dengan berkat yang telah diberikan dewa agung kepadamu, untuk itu.. kau harus selalu tetap berada disisinya, dalam keadaan apapun. dan kau sangat beruntung sayang.. karena telah terpilih menjadi tunggangan perang miliknya, yang akan menemani perjalanan panjangnya.
"apa maksud ibu? aku benar-benar tidak mengerti bu.."
wanita itu membelai lembut kepala siputra kecilnya.
"hem.. tidurlah sayang, yang lain sudah menunggumu, cup."
wanita itupun tersenyum anggun, ia lalu mengecup lembut kening bocah kecil yang masih terbaring tidak berdaya diranjangnya, gapipun kembali tertidur pulas.
"euh.. dimana ini..?"
__ADS_1
"kau sudah sadar nak?"
"paman, kalian...?"