AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
SAYA TIDAK AKAN BERANJAK DARI TEMPAT INI..


__ADS_3

"Apa Kalian Tahu, kenapa aku memilih kalian?"


"Tidak Yang Mulia.." Jawab kesepuluh Kesatria, bersamaan.


Para prajurit menunggu jawaban Duke, Duke melihat kearah putrinya sebentar.. Lalu ia melirik lagi kearah sepuluh prajurit.


"Mulai hari ini, aku akan menugaskan kalian, untuk mengawal Putriku. Jika sampai terjadi apa-apa kepada Putriku, atau lecet sedikit saja.. Kalian akan menanggung akibatnya. Apa kalian mengerti..?"


"Ya.. Dimengerti Yang Mulia."


"Bagus."


Setelah itu, Duke menurunkan Putrinya.. diikuti oleh kedua dayang pribadi, dan sepuluh prajurit.


"Putriku, ajaklah Zion. Jika kau lelah, naiklah kepunggungnya."


"Tidak Usah Ayah." Ravella melihat keaarah prajurit. "mereka saja sudah cukup untuk mengawalku, Ayah tidak perlu khawatir. aku kan.. Cuma jalan-jalan keliling mansion, Bukan keluar kota." Ujarnya sambil tersenyum.


Duke mensejajarkan tubuhnya dengan Putrinya, ia menyelipkan rambut panjang yang terurai ketelinga Putrinya.


"Haah.. Baiklah sayang, kalau begitu ayah akan kembali bekerja."


"Baik Ayah."


Sebelum pergi.. Duke mencium lembut kening Putrinya, Lalu berlalu meninggalkannya.


'Ayah terlalu khawatir berlebihan, hmm.. Aku sungguh tidak suka pemandangan mencolok ini. Tapi apa boleh buat, dia melakukan ini demi kebaikanku.'


Dean, dan Robi, yang masih baru dan belum mengenali Sang Putri terus memperhatikannya dalam diam. Ravella berjalan santai melihat sekelilingnya mansion, sambil menghirup udara segar.


"Sudah lama anda tidak berjalan sesantai ini Yang Mulia Putri." celetuk Roland memecah keheningan.


"Benar, sudah lama sekali.." Ravella melihat perubahan dedaunan tampak indah. "Hmm, daun-daun sudah mulai memerah, Tidak terasa sudah musim gugur saja."


"Benar Putri.. Waktu sangat cepat berlalu. Namun, Saya sangat senang, bisa didizinkan untuk mengawal anda hehe."


"Ya, aku minta maaf jika Ayahku sering merepotkan kalian, sir Roland."

__ADS_1


"Siapa bilang ini merepotkan, justru kami sangat senang dan bangga bisa menjadi pengawal Yang Mulia kecil."


"Terima kasih." 'Jawabku singkat, aku pun tidak tahu harus berkata apa lagi.. Sepertinya, banyak wajah baru yang belum kulihat sebelumnya. Oh iya.. Omong-omong aku belum melihat Gapi sama sekali, dimana anak itu? Apa dia kabur dari mansion! Karena merasa diabaikan olehku.


Hmm..., Ayah tidak menyukai Gapi, jadi jika aku tanya kepada Ayah! Sangat tidak mungkin dijawab olehnya. Kalau begitu.. Sebaiknya aku tanyakan saja kepada Para Kakek.


Aku berhenti sejenak, dan melihat kearah kedua dayangku, dan para Kesatria, yang menatap bingung kepadaku.'


"Putri, apa anda kelelahan.. Biar saya gendong."


'Ujar Roland perhatian, tapi sayangnya bukan karena itu aku berhenti. Aku sedang memikirkan bagaimana caranya untuk pergi dari sini..! Aku sudah lama tidak kezona mana. Para Kakek, pasti ada disana!!' "Aku tidak lelah Sir Roland, hanya saja.. Tiba-tiba aku menginginkan sesuatu!"


"Apa itu.. Katakan saja Putri? Selama itu yang saya bisa, saya pasti akan melakukannya untuk anda."


Menyadari sesuatu, tiba-tiba Reni, dan marri, saling menatap seolah mereka sudah mengerti, apa yang akan dilakukan Sang Putri kecil.


'Aku sangat kenal permainan Yang Mulia kecil yang seperti ini, Sepertinya Putri mahu kabur! Aku harus segera menghalanginya.' pikir Reni. "Maaf Putri, jika anda lelah. Sebaiknya mari kita duduk dulu, apalagi perjalanan ke gazebo juga lumayan dekat, sebentar lagi kita akan sampai." Ujar Reni, yang sudah tahu gelagat Putri kecil.


'Sialan, Reni sangat Peka sekali. Haah.., sebaiknya aku mengalah saja untuk hari ini.' Keluh Ravella dalam hati. "Baiklah, kalau begitu ayo kita duduk disini saja dulu."


"Baik Putri." Ujar yang lainnya, bersamaan.


'Kenapa mereka semua berdiri?' "Kalian juga duduklah, jangan hanya berdiri disitu, Aku sungguh tidak nyaman melihatnya."


Mendengar perintah Ravella, semuanya pun langsung mematuhinya. Mereka duduk dibawah pohon, suasana teduh dengan cuaca yang mendukung, membuat Ravella ingin tertidur.


***


Di Zona mana.. Kedua anak manusia sedang bersiap-siap untuk berburu.. Gapi memperhatikan keduanya dalam diam.


"Naga kecil, Sebaiknya kau tinggal di sini ya.. Tunggulah dengan patuh, kami akan membawa makanan untukmu!!" Ujar Ron, sambil membelai kepala Gapi.


"Ron, ayo cepat.. Keburu siang." Teriak Rog, yang sudah pergi lebih dulu.


"Baik kak, naga kecil.. Aku tinggal dulu ya..!" teriak Ron, sambil berlari mengejar sang Kakak.


'Hmm.. Kelihatannya mereka semangat sekali. Baiklah, aku juga akan berburu untuk makan.' Gapi mengepakkan sayapnya untuk terbang. 'kira-kira.. Dewi sudah bangun belum ya..! Aku merindukan beliau. Semoga saja urusan Paman, cepat selesai. Jadi, aku bisa secepatnya bertemu dengan Dewi.'

__ADS_1


Setengah hari pun berlalu, Rog, dan Ron, telah pulang membawa hasil buruan mereka. Sedangkan Gapi, sedang tidur karena perutnya sudah kenyang.


"Haah.. Hari ini kita cuma dapat dua kelinci, dan sepuluh ekor ikan. Kita kurang beruntung Kak." Ujar Ron, mengeluh.


"Setidaknya bersyukurlah, kita masih bisa makan untuk hari ini. Jangan terus mengeluh, itu tidak baik." Ujar sang Kakak.


"Ya.. Ya.. Omong-omong kak, kapan orang tua angkat, akan datang menjemput kita?? Bukankah kita sudah terlalu lama berada disini. Bukannya aku tidak suka tinggal disini, hanya saja.. Aku mulai merasa bosan. Tidak ada manusia lain, selain kita berdua. Apa Jangan-jangan kita dibohongi..!!"


"Bersabarlah, katanya orang tua angkat sedang sakit, Jadi dia belum bisa menemui kita secara langsung. Mungkin, jika kondisinya sudah membaik, dia pasti akan datang."


"kenapa sekarang kakak begitu memperdulikannya? apa kakak benar-benar yakin, dia tidak akan berbohong, atau memperbudak kita!!"


Rog diam seketika, mencari kata yang tepat untuk membuat adiknya percaya.


"Mmm...., kita tunggu saja, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Untuk sekarang, kita nikmati saja waktu damai ini.. Apapun yang terjadi kedepannya, kita pikirkan nanti."


Ron hanya diam, sambil melihat sang kakak menguliti kulit kelinci, Sementara Gapi mendengarkan dalam diam pembicaraan keduanya.


'Cih, kalian belum tahu saja.. Siapa yang kalian bicarakan sekarang. Jika kalian sudah menemuinya, kalian pasti akan segera berubah pikiran. Yah, karena kalian anak angkat Dewi.. Jadi akan aku abaikan apa yang kalian bicarakan.' Gapi berpura-pura tidur dalam posisi melingkar, Namun, telinganya mendengarkan semuanya.


'Aku sebenarnya juga tidak sabar ingin segera bertemu, dengan orang yang diagungkan oleh para Paman-paman itu. Orang tua sebaik apa dia? Sampai mahu mengadopsi orang seperti kami ini.' Pikirnya sambil membersihkan hasil buruannya.


...----------------...


Rabarus menjadi tidak percaya diri, baru kali ini ia merasa ditolak, Apalagi dengan sosok yang sangat agung.


'Apa karena aku telah dikalahkan telak oleh Dewa, makanya beliau tidak ingin menerimaku, karena berpikir aku tidak bisa berguna. Aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya.. Semua orang selalu memujiku, bahkan mereka mengagumiku. Tapi..' hatinya tidak bisa berbicara lagi.


"Lantas, apa yang harus saya lakukan, Agar anda mahu mengakui saya?"


Kaisar memunggungi Rabarus, ia tidak menjawab apapun atau pun menghiburnya.


"Aku tidak butuh alasan untuk menolakmu!! Bangunlah."


Rabarus mulai menunjukkan sikap keras kepalanya.. Dan mencoba mengancam orang yang salah.


"Saya tidak akan beranjak dari tempat ini.. Jika anda tidak menerima sumpah saya..!" Ujarnya keras kepala.

__ADS_1


"Hmm..., baiklah. Lakukan sesukamu, tapi jika kau sudah lelah! Kau bisa kembali kemansion Masterku." Tak lama setelah mengatakan beberapa kalimat, Kaisarpun menghilang bersama Jura.


'Master!!!! Apakah seorang Kaisar juga mempunyai seorang Master?? Itu tidak mungkin, siapa yang bisa menjadi master dari Kaisar. Haah.. Lupakan dulu tentang itu, pokoknya aku akan bertahan disini.. Sampai beliau mahu mengakuiku.' Pikirnya dengan percaya diri.


__ADS_2