AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
PERASAAN TERSEMBUNYI DEWA ZANDO


__ADS_3

Setelah seharian bertarung dengan Para Monster.. Lannox dan Icarus duduk sejenak untuk beristirahat. Sambil membuat api unggun.


"Ini aneh!" ujar Icarus, di tengah keheningan.


"Haah.. Apa maksudmu?" tanya Lannox.


"Tempat ini sepertinya telah di selimuti dengan Aura mistis.. Dan Para Monster yang menyerang kita tadi, Seperti sedang dalam pengaruh sihir. Apa kau tidak merasakannya bocah?" tanya Icarus memastikan.


"Hmm.. Entahlah, yang aku tahu, aku harus cepat menyelesaikan misi sialan ini. Waktuku banyak terbuang hanya gara-gara masalah sialan ini." ujarnya menggerutu kesal.


Melihat keluhan Masternya, Icarus merasa heran! Lalu mengutarakan pikirannya tersebut. "Kenapa kau kesal? Bukankah ini malah semakin bagus, dari pada hanya duduk diam terjabak bosan di kediaman mu." ujarnya dengan satu alis terangkat.


"Sayangnya itu tidak berlaku lagi untukku.. Karena Kehadiran Putriku, membuat aku menikmati setiap momen bersamanya. Apalagi saat melihat ia semakin bertumbuh, ya.. meskipun tidak banyak. tapi, justru itu yang membuat aku takut jauh darinya." ujarnya menatap kosong pada hamparan pohon yang sesekali bergoyang, karena tertiup angin.


"Jadi kau sudah mempunyai seorang Putri, hah? Cih, pantas saja kau sering tampak kesal, dan mengeluh ingin cepat pulang." Gerutu Icarus.


"Hmm." Lannox hanya menyeringai, saat mendengar ocehan Spiritnya, tersebut. Karena memang itu kenyataannya. Dalam hati kecilnya, ia benar-benar bertekad ingin menyelesai misi tersebut.


'Aku harus cepat menemukan biang kekacauan ini, aku tidak bisa lagi bersantai seperti ini..! Jika aku banyak membuang waktu, aku akan semakin kehilangan momen bersama Putriku. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi, dan tidak ingin kehilangan sedikitpun momen bersamanya.' rungutnya dalam hati.


"Ayo kita pergi Icarus." perintahnya langsung bangun, dan melanjutkan kembali perjalanan mereka.


...----------------...


Di Benua Barat Kekaisaran ERGBEN.. Julius yang sedang terkurung dan terkekang di dalam ruang bawah tanah. kini sedang berhadapan dengan mantan Spiritnya, yang pernah ia tinggalkan dulu sebagai tumbal. untuk menyelamatkan diri dari kejaran Raffael.


Bagzul berseringai saat menyaksikan penderitaan dari mantan Masternya itu. Ia berjalan medekati jeruji besi, dan bergumam menertawakan keadaan Julius, saat ini.


"Haah.. Bagaimana rasanya, berada di tempat seperti ini Master..? ah, bukan lagi ya, Tapi Mantan Master hahahaha... Hahahaha..." tawanya bergema, memenuhi ruangan tersebut.


Mendengar ejekan Bagzul.. Julius pun langsung membalasnya dengan senyum tipis. Sembari bergumam. "Heeh.. Aku tidak menyangka, Spirit sepertimu, ternyata bisa ditundukkan hanya dengan seorang bocah sepertinya. Itu benar-benar lucu sekali. Kalau aku tahu kau bisa sepatuh ini.. Seharusnya sudah sejak lama, kau aku berikan kepada anak itu. Hehe.. Dengan begitu, hal seperti ini tidak akan terjadi pada kerajaan." ucapan Julius, memicu bara yang sudah hampir padam.


Bagzul sedikit tersulut emosi, dengan ucapan Julius. yang sengaja memancing amarahnya. Di ruang yang redup, tampak binar cahaya obor yang menyala di celah dinding pembatas. Cahaya redup jatuh menimpa sebagian wajah Bagzul. Tampak sudut bibirnya terangkat naik.


"Cih, sayang Masterku yang baru, tidak memberiku izin, untuk menyentuhmu. kau sangat beruntung. Jadi tertawalah sepuasmu bocah! Membusuklah di dalam ruangan ini selamanya.. dan aku akan terus mengawasimu, hingga akhir." setelah mengatakan apa yang ingin ia sampaikan, tak lama Bagzul pun langsung pergi meninggalkan ruangan pengap tersebut.


Setelah kepergiannya, Julius menghelah nafas panjang, dan menyandarkan kepalanya pada tembok. Sembari menatap langit-langit. Ia tersenyum dan bergumam dalam hati.


'Haah.. Ini jauh lebih baik, daripada harus hidup tidak tenang, dan di buru seumur hidup. Setidaknya di sini anak itu, hanya mengurungku dengan ruangan anti sihir.


Tapi kenapa, ia tidak langsung membunuh ku? Bukankah sangat gampang, bagi penyihir hebat sepertinya melenyapkan ku...!!


***


Sedangkan di dalam Istana, tepatnya.. Di kantor Kaisar.


Tiga tahun telah berlalu, semejak saat itu. banyak hari telah terlewati. Kaisar Raffael hanya bisa sekali bertemu dengannya. setelah itu, ia tidak pernah lagi melihat wajah Ravella. Dengan dalih Sang Putri pergi liburan.


Dan setiap kali ia datang berkunjung, yang muncul selalu wajah Argus, yang membuatnya muak. Sejak saat itu juga.. Raffael mulai bosan dan kembali Kekaisaran, dengan perasaan kacau dan kecewa.


Biasanya ia tidak pernah gagal saat menginginkan sesuatu, Apapun yang ia inginkan, pasti akan dengan mudah ia dapatkan. Tapi kali ini jauh berbeda.. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Perasaan kacau, risau, kesal, takut, marah!


Semua emosi... bercampur menjadi satu. Kegagalannya yang beruntun, bukan membuatnya menyerah, malah ia semakin berambisi ingin memiliki Putri Duke.


Dan sejak hari itu juga, kecurigaan Raffael semakin menjadi-jadi saat melihat reaksi Argus, yang dengan bangga memamerkan posisinya di Mansion. Hingga akhirnya.. Razak pun di utus Raffael, untuk menyelidiki dirinya.


Meskipun Razak, yang yang menangani masalah tersebut, tapi tetap saja gagal.. sehingga hari ini, Asal-usul tentang Argus tidak dapat di ketahui. tentang siapa, dan dari mana? Seolah jejak awal keberadaannya, memang tidak pernah ada di dunia ini.


Dan akhirnya.. Sejak saat itu, asal muasal Argus pun, masih menjadi misteri hingga saat ini. Dan sekarang, Sang Kaisar sedang melipat kedua tangannya, sambil bersandar pada bibir jendela kantor.


Rambut hitam sebahu, dengan poni yang telah memanjang. Pandangan netra biru miliknya, jatuh pada hamparan rumput hijau.


'Ini sudah tiga tahun berlalu, bagaimana kabarnya saat ini..? Sudah lama aku tidak melihatnya. Apakah dia sudah semakin bertumbuh? Heem.. Aku tidak sabar melihatnya.' pikirnya sembari tersenyum tipis. Setelah beberapa saat diam, ia pun berbicara.


"Keluarlah."


"Wuuush.. Saya menghadap Baginda." sebuah bayangan hitam muncul, di belakang Sang Kaisar.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kau membawa kabar baik untukku..!" ujarnya penuh tekanan.


...🍁🍁🍁🦁🦊🦅🐍🐲🧝‍♀️🍁🍁🍁...


Di Zona Mana.. Setelah berbicara dan memastikan kelima Spirit miliknya baik-baik saja. Ravella pun kembali mendatangi Kaisar Zando, yang saat ini tengah duduk diam mengamati situasi.


"Kakek..." pangggilnya.


"Ya, Dewi." Jawab Sang Kaisar pelan.


"Aku sangat senang Kakek datang, tapi kenapa Kakek tidak mengabariku, jika Kakek sudah ada di sini?" ujarnya cemberut.


Dewa Zando tersenyum, saat mendengar Permaisuri kecilnya merungut kecewa di hadapannya.


"Heum, rencananya setelah melihat anak-anak ini, aku baru akan menemuimu. Tapi ternyata kau datang lebih dulu menemui ku. hem..hem.. omong-omong, siapa bocah yang datang bersamamu itu, Nak?" ujarnya pura-pura tidak tahu. ia segera mengalihkan pembicaraan sembari, menatap tajam kearah Argus.


Saat tatapan keduanya saling bertemu, Argus merasa sesak, seperti ada sesuatu yang sedang mencengkeram Jantung-nya. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Karena tatapan dari Naga Emas tersebut.. telah mendominasi dirinya. Seketika hati kecilnya menjadi kecut, hanya dengan tatapannya saja.


"Ah, iya." 'aku hampir melupakan keberadaan Pria ini, di sini.' pikirnya yang baru saja menyadari keberadaan Argus. "Argus, kenalkan beliau adalah Kaisar Spirit. Dan ini adalah, Argus." ujar Ravella mengenalkan keduanya.


Mendengar ucapan Putri, Argus langsung mengenalkan dirinya. Ia meletakkan tangan di dadanya, dan sedikit membungkuk hormat pada Sang Naga.


"Saya, Argus." ujarnya bersikap sopan. Namun, Argus merasa heran dengan respon tubuhnya! Tubuhnya tiba-tiba bergerak dengan sendirinya, saat membukuk hormat pada Sang Kaisar. Seolah raganya tahu sedang berhadapan dengan siapa? Padahal, ia tidak berniat membungkuk pada siapapun. apalagi pada Mana Beast, sekalipun Sang Naga Emas adalah Kaisar.


Tapi sayangnya, pikirannya berlawanan dengan egonya. 'Aneh, ini benar-benar aneh!! Bahkan dulu saat berhadapan dengan Kakek dan Nenek, tubuhku tidak merespon sampai seperti ini, Pada mereka.


Tapi, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini..? siapa Naga Ini sebenarnya?? Mengapa aku merasakan ada sesuatu yang berbeda darinya!!' pikirnya penuh teka-teki, dan mencoba mengamati Sang Kaisar.


"Aku tidak akan menjelaskan siapa diriku, karena kau juga sudah tahu siapa aku." ujar Sang Kaisar, singkat.


"Baik, saya mengerti." mendengar ucapan Kaisar Spirit, Argus merasa, kalau Sang Kaisar tidak menyukainya. Namun ia tetap bersikap tenang, agar tidak memicu kerusuhan.


'Sial, siapa Naga Emas ini sebenarnya..? Aku tahu dia Kaisar Spirit. Selain warnanya yang langka dan unik, aku juga yakin, ada sesuatu yang lebih dari itu! Tapi aku tidak tahu, apa itu?' pikirnya masih mencerna semuanya. Pandangan Argus mengawasi Para Spirit di sekitar Putri Ravella. termasuk Zion, dan Gapi. Namun, kecurigaannya tidak menampakkan hasil. Jadi ia hanya mengamati dalam diam.


'Apa yang lain, tidak merasakan seperti yang aku rasakan saat ini! Tekanan ini.. benar-benar sangat mendominasi. Tubuh ku bahkan terasa berat, seakan sedang di timpa puluhan bongkahan batu besar.' pikirnya.. Sambil menahan tekanan tersebut. Apa Jangan-jangan hanya aku seorang yang merasakannya..!'


'S-senior, apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh?' tanyanya memastikan.


'Yang aneh! Apa maksudmu? Aku bahkan tidak merasakan apapun, tuh.' ujar Zion, tampak sangat santai.


'Oh, k-kalau begitu, mungkin ini cuma perasaan ku saja.' ujarnya langsung memutuskan komunikasi mereka berdua.


'Cih, kukira ada apa!' pikirnya, kembali bersikap tidak acuh.


'Sial, sudah ku duga, ada yang tidak beres..! Sepertinya, memang hanya aku sendiri yang merasakan perasaan ini. Aku harus berhati-hati terhadap tindakanku, bisa jadi dia sedang mengujiku sekarang.' pikirnya berusaha tersenyum dan tenang.


Beberapa menit kemudian, Kaisar Zando kembali mengeluarkan suara beratnya. dan semua mata, hanya tertuju pada keduanya. "Nak Dewi, sudah waktunya untuk ku kembali."


Mendengar ucapan Kaisar Zando, Wajah cantik si kecil yang awalnya ceria, kini.. senyuman hangat itu langsung menghilang di renggut paksa, dari wajahnya.


Melihat reaksi Permaisuri kecilnya, Sang Kaisar tersenyum lembut. Lalu ia menghampiri gadis kecilnya, yang kini tengah murung. Ia menempelkan keningnya pada Ravella. Keduanya pun langsung memejamkan mata mereka. Sementara yang lain, hanya diam memperhatikan


Dan tiba-tiba saja.. Keduanya telah berada di suatu tempat, yang semuanya berubah menjadi warna putih terang. dan hanya ada mereka berdua di tempat itu. Tentu saja.. Tempat tersebut, hanya ada di dalam pikiran Sang Kaisar.


'Sekarang bukalah matamu, Nak!' ujar Kaisar memperhatikan gadis kecilnya, penuh kasih.


Ravella pun perlahan membuka kedua mata indahnya.. Tampak netra semerah darah, sedang memperhatikan suasana sekitar, yang belum pernah ia lihat di manapun .


'Di mana ini, Kek?' tanyanya, sambil melihat sekeliling.


'Tempat ini, ada di dalam alam pikiranku, dan hanya kau dan aku yang ada di sini sekarang.'


'Lalu.. Apakah yang lain kehilangan kita?'


'Tidak, raga kita masih berada di Zona Mana. karena ini hanya alam pikiranku. Jadi hanya kau dan aku, yang bisa melihat tempat ini. Hem.. Nak Dewi, Maaf jika aku telah membuatmu kecewa. Tapi aku tidak ingin melihatmu seperti ini, Apalagi ada dua bocah yang sedang menungguku.' jelasnya.


Sementara di Zona Mana, Argus terus mengamati dan memperhatikan keakraban di antara keduanya, yang tampak sedikit aneh, baginya.

__ADS_1


'Apa ini? Mungkinkah cuma perasaan ku saja..!! Tapi, kenapa aku tiba-tiba jadi sangat kesal, saat melihat kedekatan mereka berdua. yang tampak lebih dari sekedar Spirit, dan Master? Apa tidak ada yang menyadari perbedaan tersebut?' pikir Argus, meringis dalam hati.


'Apa Maksud Kakek, Kakek Jura, dan Kakek Rabarus??'


'Benar Nak, karena ada janji yang belum aku tunaikan, Jadi hari ini aku akan melakukannya.'


'Eum pantas saja mereka tidak kelihatan, lalu.. kapan Kakek akan kembali menemuiku?' Tanya Ravella, penuh harap.


'Hem.. Ketika kau memikirkan ku, atau saat merindukan ku.. aku akan datang menemuimu.' jelas Sang Kaisar, menghibur Permaisuri kecil, kesayangannya itu.


'Eum.. Kalau begitu, aku akan terus memikirkan Kakek setiap hari.. Agar Kakek datang menemuiku.' ujarnya sambil menggembungkan kedua pipinya, yang menggemaskan.


'Hahaha.. Tentu saja Dewiku, aku akan sangat senang jika memang seperti itu.' ujar Kaisar tertawa lepas.


'Apa sekarang Kakek meledek ku!!' tanya Ravella, cemberut.


'Heum, tentu saja tidak. Aku justru sangat senang, karena kau selalu memikirkan ku. tapi, aku benar-benar harus pergi sekarang. Jangan khawatir, aku akan sering mengujungimu.' ujarnya mengecup kening Permaisuri kecilnya tersebut.


Mendengar ucapan Spiritnya itu, senyuman yang tadinya menghilang, kini kembali mekar di wajah cantiknya.


'Benarkah...! Kakek janji?'


'Tentu saja, sayang. Karena itu, singkirkan wajah murungmu, aku tidak suka melihat ekspresimu yang seperti ini.' ujarnya pelan.


Sekilas muncul kesedihan, di kedua sorot netra emasnya.


'Baiklah Kek, aku akan selalu menunggumu.' ujarnya lalu.. memeluk Naga Emas tersebut.


Saat Ravella memeluknya, tampak raut pilu tergambar di permukaan wajahnya, hati kecilnya tiba-tiba bergumam.


{Andai kau tahu penderitaan ku! betapa aku sangat merindukanmu Permaisuriku. perasaan hampa dalam penantian yang sangat panjang, tanpa kehadiran dirimu di sisiku.. sungguh membuat hari-hari ku selalu terasa mendung. Lubang yang telah lama menganga, kini kembali terisi, meski kau tidak di sisiku. dan kini..., kau ada di dalam pelukanku. apa kau tahu! betapa bahagianya aku..., bahkan melebihi kebahagiaan mu, saat bertemu denganku. Bersabarlah, Permaisuriku. Belum saatnya aku membawamu.} hati kecilnya bergumam lirih.


Di Zona Mana.. Keduanya kembali membuka mata. Tidak ada yang berani berbicara, kecuali Sang Kaisar, dan Tuan Putri kecil. Tapi, tidak ada seorangpun yang sadar tatapan dari Pangeran Elf. Yang sejak tadi terus memperhatikan keduanya dengan sorot tajam, tanpa melepaskan keduanya dari pandangannya sedikitpun. Kecuali Kaisar Zando.


Sebelum pergi, Kaisar Zando melihat kearah kelima Spirit, lalu bergumam pada mereka. 'Ingat pesan ku anak-anak. renungkan kesalahan kalian baik-baik, jika tidak ingin mendapatkan hukuman dariku.' ujar Kaisar tegas, pada Kelima Spirit Permaisurinya.


Kelima Mana Beast yang sedang tersenyum, langsung tertunduk takut, setelah mendapat teguran dari Sang Kaisar. Sedangkan Argus, Gapi, Zion, dan juga Ravella. Merasa heran melihat reaksi dari kelima Spirit. Yang tadinya tersenyum, kini menjadi murung dan hanya tertunduk diam dalam hening.


"Dewi ku, sampai bertemu lagi." ujarnya kembali melihat ke arah Permaisurinya.


"Baik Kek." setelah berpamitan, Kaisar pun langsung menghilang. Dan kini hanya tinggal para Spirit, Gapi, dan juga Ravella. Setelah kepergiannya, hati kecil Ravella bergumam.


'Aku yakin, aku tidak salah lihat! sekilas wajahnya tampak sendu. Mungkinkah Kakek sedang ada masalah? Heum.. sebaiknya, masalah ini kupikirkan nanti, Sekarang saatnya untuk kembali.' Pikir Ravella menepis kegundahannya tersebut.


"Ayo, kita juga harus kembali Kek." ujarnya pada yang lain.


"Baik Dewi." ucap yang lainnya bersamaan.


'Oh, tumben mereka kompak! mereka sudah seperti prajurit saja. hem.. hem.. semoga kedepannya, mereka bisa lebih akur.' pikirnya berlalu pergi meninggalkan Zona Mana.


Akhirnya, setelah sekian lama.. kelima Spirit bisa bernafas lega, dan kembali Ke Mansion.


...----------------...


Di istana langit, Garda, Jura, dan Rabarus. Yang mendengar kembalinya Sang Paduka di singgasananya. Segera bergegas, menuju ke ruang Istana.


"Kami Menghadap Paduka." ujar ketiganya bersamaan.


Tanpa basa-basi Dewa Zando langsung berbicara pada Rabarus.


"Rabarus, majulah." perintahnya. Rabarus pun langsung melangkah pelan ke hadapan Sang Dewa.


"Hari ini, sesuai janjiku padamu. Karena telah melindungi Permaisuriku, serta yang di sayanginya. Aku akan memberimu hadiah."


Garda dan Jura terkejut saat mendengar titah tersebut, keduanya merasa heran. dan saling beradu pandangan, sambil mengernyitkan dahi.


'Memangnya apa yang telah dia lakukan? sampai ia bisa mendapatkan hadiah dari Sang Paduka?' ujar Garda, pada Jura.

__ADS_1


'Entahlah, aku juga sama terkejutnya denganmu, Pak Tua.' jelas jura, yang juga heran.


__ADS_2