
Terdengar langkah kaki dari kejauhan, dengan jarak tiga puluh meter hampir mendekati. Roland, bersiap-siap untuk menyerang. Begitupun dengan pengawal lainnya, sementara Reni dan Marri gemetar ketakutan, tidak seperti Putri Ravella, yang tampak lebih tenang.
"Buug.. Buug.. Buug.. Wusshh.." muncul sosok Hobgoblin bertubuh besar dengan pentungan kayu di tangannya, yang bertumpu pada bahu.
Ia berjalan dan menyingkap daun yang menghalangi pandangannya.. Dan setelah ia melihat jelas beberapa anak manusia, dan seekor Bayi Naga Merah. Ada yang sedang menatapnya dengan ketakutan, dan ada juga yang menatapnya dengan garang.
"Ggggrrrrrr.... Ggggrrrrrr..." Gapi menggeram.
"Emm..." Pandangannya jatuh pada sosok Gapi, yang sedang menggeram kepadanya.
Dan tiba-tiba sesuatu yang di luar perkiraan mereka pun terjadi, membuat semuanya heran dan saling menatap satu sama lain.
"Hahahaha.. Hahahaha.." Hobgoblin tertawa lepas.
"Hmm...," Gapi terkejut dan melihat kearah Roland, begitupun Roland yang merasa aneh dengan tingkah Hobgoblin tersebut.
Hobgoblin memegang kedua sayap Gapi, dan melihatnya lebih dekat. Hingga Gapi bisa melihat jelas wajah dari Hobgoblin tersebut.
"Lepaskan aku...., apa yang kau lakukan dengan sayapku.. Khaaaa...." Gapi meronta-ronta di antara kedua jari yang menjepit sayapnya.
"Hahahaha.. Hahahaha.. Apimu bahkan tidak bisa membakarku. Apa itu saja Api yang kau punya?" Ujar Hobgoblin tersebut dengan nada mengejek, melihat semburan Api Gapi, hanya seukuran obor.
'Euh.. ba..bagaiman bisa, padahal aku bisa mengeluarkan Api yang lebih besar dari ini waktu itu. Tapi kenapa sekarang cuma segini saja yang keluar..!' Gapi melihat sekilas kearah Ravella, dan ia menjadi malu, tubuhnya melemas dengan kedua telinga menjadi layu seolah ingin sembunyi jika ia bisa.
'Sepertinya Hobgoblin itu tidak berbahaya.. Meski aura membunuhnya sangat pekat. Aku akan coba berbicara dengannya.' Ravella maju kedepan, namun kedua tangannya di tahan oleh Reni dan Marri.. Begitupun para pengawal yang menghadang di hadapannya.
"Tenanglah, aku akan coba berbicara dengannya, bisakah kalian minggir..!"
"Tapi Putri, itu sangat berbahaya.. Hobgoblin terkenal sangat jahat dan suka membantai mangsa apapun di depannya!"
"Jika belum coba belum tahu kan..! untuk itu biarkan aku mencobanya."
"Reni dan pengawal saling melirik."
"Apa sekarang kalian ingin membantahku?" Ucap Ravella menatap tajam kepada semuanya.
"Ta..tapi Putri..." Roland mencoba menghentikannya.
Namun sikap keras kepala Putri tidak bisa di bantah, akhirnya Roland menyerah.. Dan mengikutinya dari belakang. Dalam sekejap tubuh Ravella melayang tinggi mendekat kearah wajah Hobgoblin.
'Apa.. Di..dia bahkan bisa melayang dengan mudah seperti itu!!' Pikir Dean Terkejut.
__ADS_1
'Siapa sebenarnya anak ini? Bagaimana bisa dia melakukan yang tidak bisa aku lakukan, Ia bahkan bisa terbang melayang dengan tubuh seringan bulu.' Sama seperti Dean, Robipun seakan tak percaya dengan apa di lihatnya.
'Haah.. Inilah beliau. aku bahkan sudah tidak heran lagi dengan apa Yang Mulia kecil lakukan.' Ungkap Roland dalam hati.
Ravella mendekat kearah wajah Hobgoblin..
"Ehem.. Ehem.. Bisakah anda melepas bayi saya..?" Ujar sang Putri dengan polos.
Mendengar apa yang di ucapkan Putri Ravella.. Wajah Roland dan yang lainnya, memucat karena menahan tawa mereka, Sedangkan Gapi melirik kearah Ravella dengan wajah memerah malu.
"De-dewi.. Maafkan aku, ternyata aku masih belum bisa melindungimu."
'Hahaha.. Dia sungguh menggemaskan, pasti sekarang dia sedang menahan rasa malu, karena dengan percaya dirinya dia telah omong besar tentang ingin melindungiku.'
Mendengar ucapan Ravella, Hobgoblin menyeringai dan kembali bertanya.
"Apa kau ibu dari anak ini??" Ujarnya sambil menunjuk Gapi, dengan lirikan matanya.
......................
Di atas dahan pohon Maple, Argus duduk bersandar sambil melihat kehutan..
'Kemana Dewi kecil itu? kenapa dia tidak juga muncul hari inilah, Biasanya ia akan lewat dan berhenti di pohon ini. Tapi hari ini aku belum melihatnya sama sekali.. Apa hari ini ia tidak keluar?
Justru itu akan menjadi bumerang buatku, karena itu aku mengubur dalam-dalam keinginanku. Lebih baik aku mencari tahunya sendiri.. Itu juga lebih aman untukku.'
***
Di tempat lain, para Spirit yang sedang berkumpul di kamar sang Putri, merasakan keanehan.
"Kawan-Kawan apa kalian juga merasakan hal yang sama sepertiku?" tanya Zaku kepada yang lainnya.
"Apa maksudmu?" tanya Gira.
"Sejak tadi aku tidak merasakan keberadaan Dewi, di mansion ini..!!" Ujarnya sambil berpikir.
"Kau benar, Aku juga merasakannya. Jejak beliau menghilang begitu saja, sebaiknya ayo kita cari ketempat terakhir Dewi berada.. Siapa tahu kita akan menemukan petunjuknya di sana!" Ujar Jura memberi menyarankan.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita berangkat." Ujar Tama tidak sabaran.
Keenamnya pun pergi meninggalkan Mansion, dan langsung muncul di dekat perbatasan hutan.
__ADS_1
"Sepertinya.. Memang ini jejak terakhir keberadaaan Dewi. Lalu.. Kemana beliau Pergi?? Kenapa beliau pergi tanpa mengatakan apapun!!" Ujar Saga merasa ada kejanggalan.
"Apa mungkin beliau pergi ke negara lain!!" Celetuk Roya.
"Maksudmu?" Tanya Saga tidak mengerti.
Roya dengan posisi sedang bersedekap tangan, dan menjelaskan maksudnya kepada kelima temannya.
"Dewi mempunyai mata ketiga, dengan mata ketiganya ia bisa pergi kemanapun ia suka. Bisa.."
Perkataan Roya, langsung di potong dengan Jura.
"Tunggu dulu Kawan-Kawan rasanya ada yang aneh, sepertinya keberadaan Dewi tidak ada di dunia ini. Apa mungkin Dewi pergi kealam lain..!" Kecurigaan Jura memicu keterkejutan di antara para kawanan Spirit.
"Bagaimana bisa keberadaan Dewi lenyap begitu saja dari dunia ini..! Jika apa yang kau katakan itu benar, berarti sekarang Dewi sedang dalam bahaya, Kita tidak tahu musuh seperti apa yang akan mereka temui." Ujar Gira, yang tampak khawatir.
"Lalu kita harus bagaimana sekarang?" Tanya Saga kepada yang lainnya.
***
Di ruang kerja Duke, tiba-tiba Zion muncul dan senyam-senyum sendiri. Lalu ia Berubah bentuk dan langsung duduk di Sofa panjang. Melihat reaksi Zion, Lannox tersenyum simpul dan berujar.
"Sepertinya ada orang gila yang sedang butuh perawatan!"
Zion langsung merespon, dan balik bertanya kepada Masternya.
"Oya.. Siapa orang itu?" tanyanya dengan polos, tanpa ada kecurigaan.
"Hem.. Orangnya ada di depanku sekarang."
Zion, menoleh seluruh ruangan, dan hanya ada mereka berdua dalam ruangan itu.. Dan akhirnya ia sadar jika orang gila yang di maksud, adalah dirinya sendiri.
"Kurang ajar kau bocah.. Beraninya menyebutku gila, Untung saja suasana hatiku sedang baik."
"Kau sendiri yang membuat orang mengartikannya begitu.. Makanya tersenyumlah pada tempatnya, agar tidak terjadi kesalapahaman." Ujar Duke menyeringai.
"Berisik, lebih baik kau lanjutkan saja pekerjaanmu." Ujar Zion Ketus, lalu buru-buru pergi meninggalkan Lannox dalam keheningan.
"Haah.. Siapa gadis yang telah berhasil membuatnya gila?? Aku jadi penasaran dengan selera Pak Tua itu. Omong-omong Putriku sedang apa? Kenapa mansion ini terasa sepi sekali..!!"
Duke bangun dari kursi kerjanya, dan meghampiri jendela yang ada di belakang kursi. Ia melihat keluar jendela.. Hanya tampak para prajurit sedang berpatroli di mansion.
__ADS_1
"Hmm.. Aku merasa ada yang aneh, tapi apa ya? Jangan bilang Putriku kabur lagi. Ah, itu tidak mungkin terjadi..? Memikirkannya saja, sudah membuat kepalaku pusing."