
disuatu tempat tak telihat oleh mata manusia, pria berambut biru sedang berbaring mengambang di udara sambil menatap langit.
'sudah lama aku tidak melihatnya, apa yang sedang dilakukan anak itu ya..? tapi entah kenapa, aku merasa ada sosok yang sangat kuat melindungi anak itu.. apa mungkin..! ini cuma perasaanku saja...? entahlah, yang pasti.. aku tidak sabar melihatnya dewasa, karena aku tidak ingin gegabah seperti yang lainnya. aku akan bersabar menunggu kelopak bunga itu mengembang lalu memetiknya.'
(tama) "apa peliharaan dewi..! sejak kapan dewi punya peliharaan?"
(roya) "betul setahuku, dewi tidak pernah mempunyai peliharaan."
(gapi) "anu.. i..itu, jika paman tidak percaya! anda bisa menanyakan kepada dewi secara langsung?"
sambil memegang dagunya, ia menatap curiga kepada mahluk kecil yang ada dihadapannya.
(tama) "hmm, baiklah untuk memastikan kebenaranya, aku akan melihat ingatanmu."
(roya) "ya, itu ide bagus."
di istana kekaisaran seorang kesatria sedang gelisah, terus berjalan bolak balik ditempat.
"apa yang sedang kau lakukan robi?"
"ah, gao! kau sedang apa disini? mengejutkanku saja."
"dasar tidak sopan, aku yang bertanya duluan seharusnya kau menjawab pertanyaanku lebih dulu. baru melempar pertanyaan apa kau tidak punya etika dalam berbicara."
"ah kau ini.. disaat sahabatmu sedang banyak masalah, kau malah sibuk membahas tentang etika, dasar bodoh. disaat seperti ini, mana bisa aku memikirkan hal seperti itu."
'haah.. dasar anak ini, kalau lagi panik selalu saja tidak punya aturan.' "lantas ada masalah apa? biasanya kalau kau sedang gelisah pasti ada yang tidak menyenangkan."
"kau benar sekali gao, cuma kau sahabat yang bisa mengerti aku."
'haruskah aku ceritakan, misiku padanya.. tapi, ini adalah misi rahasia ah tidak.. tidak.. bisa gawat kalau sampai pangeran tahu! eh tapi hanya dia yang bisa kupercaya saat ini.'
'sepertinya anak ini sedang memikul misi yang berat, jika tidak! mana mungkin dia sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai mengabaikan pertanyaanku.'
"ya.. sudah jika kau tidak ingin menjawab, tidak perlu diceritakan."
dilihatnya sahabatnya itu, tiba-tiba ia berubah pikiran.
"gao.. ayo ikut aku sebentar"
'anak ini sebenarnya ada apa sih?'
"baiklah"
iapun mengikuti temannya itu jauh kedalam hutan diluar istana.
"hei robi, sebenarnya ada apa sampai kau membawaku kemari?"
merekapun berhenti.
"gao dengarkan aku." singkat cerita
"apa.....!"
"hei, pelankan suaramu dasar bodoh."
"ah, maafkan aku, lantas apa yang akan kau lakukan? sekarang."
"itulah yang jadi pikiranku, saat ini.. misi ini terlalu mengada-ada. jika aku melakukannya aku bisa mati, dan jika aku tidak melakukannya aku juga akan mati."
"kau ternyata sangat sial kawan."
"seharusnya kau membantuku mencari solusinya, bukan malah mengumpatku dasar."
"ya maafkan aku tapi, tapi masalah ini memang rumit rob, jika aku jadi kau! aku akan memilih kabur kenegara tentangga."
"jika memang itu mudah sudah aku lakukan dari kemarin."
"hem, aku punya saran namun, ini juga sangat berbahaya. kau bisa dikenakan sangsi, atas penghianatan kepada kekaisaran."
"apa itu?"
"lantas apa yang akan anda lakukan baginda?"
"hem.. setalah aku pikirkan beberapa Minggu ini, aku telah mengambil keputusan."
"semoga saja baginda mengambil keputusan yang tidak salah."
'karena kalau sampai baginda lebih memilih menantunya! apa jadinya negara ini?'
"bwussshh.... pak, yah meleset lagi, ini sudah kesekian kalinya aku gagal."
"ada apa? kenapa mukamu cemberut begitu!"
"kak, aku gagal lagi membidiknya. ini sudah kesepuluh kalinya aku gagal, bagaimana ini.. aku tidak bisa mendapatkan satupun buruan."
"puk" rog menepuk bahu sang adik "tidak apa-apa ron, memang begitu jalannya, tidak perlu terburu-buru.. setiap keberhasilan selalu dibutuhkan proses. dan itu tidak mudah untuk mendapatkannya, kau harus mempunyai pengalaman dan insting yang tajam, dalam merasakan sesuatu. semuanya tidak bisa didapatkan dengan instan, kecuali kau mempunyai keberuntungan yang baik."
"apa aku tidak beruntung?"
"ya ada dua tipe orang dalam hidup! orang yang lahir dengan keberuntungan dan orang yang lahir dengan tidak mempunyai keberuntungan."
"memang apa bedanya diantara keduanya?"
"ya.. orang yang selalu dikelilingi keberuntungan, hidupnya seolah selalu saja dipermudah apa yang diinginkan selalu tercapai tanpa perlu usaha. sementara orang yang tidak mempunyai keberuntungan..! mereka harus selalu berusaha dan kerja keras, jika ingin mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. karena semuanya.. tidak bisa didapatkan dengan instan seperti orang yang beruntung."
"jadi begitu ya.. berarti aku bukan orang yang beruntung."
'makanya nasib kita selalu sial.'
ron menunduk memikirkan nasib mereka, tampak riak wajah yang berubah.
"ada apa ron..! kau tidak perlu merasa bersedih karena tidak bisa mendapatkan buruan, karena akan selalu ada kesempatan dilain hari, jadi jangan pernah menyerah. lagian kakak juga sudah mendapatkan buruan besar hari ini, cukup untuk bertahan selama dua hari."
"benarkah! buruan apa yang kakak dapatkan?"
"aku menemukan dua ekor domba liar. dan itu bisa mencukupi untuk kebutuhan kita selama dua hari.. ayo kita kembali."
"hem baik kak."
ronpun berlari mengejar rog yang sudah duluan pergi.
__ADS_1
'kenapa disini sangat tenang.., aku bahkan tidak perlu merasakan takut diawasi sama sekali. dan kemana kedua orang itu pergi.. apa mereka sudah bertemu dengan orang tua angkat?'
(saga) "kalau begitu.. biarkan aku yang menghubunginya."
tawar saga pada yang lainnya.
"lakukanlah Sekarang, karena aku sangat mengkhawatirkan keadaan putriku."
(saga) "baiklah." saga memanggil ravella sambil disaksikan yang lainnya 'nak dewi... nak dewi..!"
"apa maksud kakek?"
"tentu saja nak, hanya kau dan tuanku yang bisa memberikan perintah padaku."
"kenapa harus aku? jika kakek sudah punya pemilik."
'hem.. ini terlalu sulit untuk dijelaskan, aku tidak boleh asal bicara, jika salah bicara malah akan menyulitkanku nantinya.'
"itu karena aku lebih nyaman jika kau memberiku perintah"
'hem.. kenapa jawaban kakek sangat aneh!'
'kenapa dia menatapku begitu..! pikirannya selalu susah ditebak. apa dia mencurigaiku?'
'itu karena kau bodoh hahaha.'
'i..ini suara paduka, bisa-bisanya anda tertawa disaat seperti ini paduka?'
suara itupun menghilang lagi
'dasar paduka, dia datang dan pergi seperti angin, sesuka hati mempermainkanku.'
"kakek...!" terdengar suara ravella menyadarkan lamunan garda.
"ah maaf nak, aku sedikit melamun tadi hehe."
'dewi.. dewi.. inikan suara kek saga! ada apa ya..! tadinya kek jura yang memanggil, dan sekarang kek saga. apa telah terjadi sesuatu disana? apa sebaiknya kujawab saja.'
sudah lima hari ravella tidak tidur, dan di dunia roh tempat sang kaisar naga berada, hari masih tetap siang seolah baru beberapa menit waktu disana, dan itu yang dirasakan ravella.
'ya kek ada apa? apa telah terjadi sesuatu disana?'
'ah, akhirnya kau menjawab panggilanku nak, ya ini ada kabar baik untukmu nak. pulanglah, ayahmu dan kami sangat mengkhawatirkanmu nak! dimana kau?
katakan keberadaan posisimu, kami akan menjemputmu sekarang.'
'tidak.. kakek pasti bohong..?'
'nak ayahmu telah mengabukan permintaanmu, apa kau masih tidak ingin pulang?'
'apa maksud kakek! jadi ayah setuju dengan permohonanku?'
'ya sayang, seperti yang kau harapkan.'
'apa.....! yeeeeaaaahh hehehe maaf kek, aku terlalu senang, kalau begitu! tidak perlu menjemputku, aku akan kembali dengan kakek garda.'
garda tertawa melihat kebahagiaan sang putri, begitupun para spirit yang telah mendengarnya, kecuali lannox, dan panggilanpun terputus.
(gira) 'bagaimana anak itu bisa mengetahui lokasinya? sedangkan kita saja tidak tahu keberadaan dewi'
(saga) ".............."
(jura) 'sudahlah jangan dipikirkan, yang penting dewi mau pulang itu sudah menggembirakan bukan.'
"ada apa? apa yang dikatakan putriku??" suara lannox memecah kebisuan para spirit.
(saga) "ya.. dia akan pulang"
"benarkah, kapan?"
"tidak tahu? karena panggilan langsung terputus setelahnya."
"kakek garda, ayo kita kembali sekarang. ayah sudah menyetujui permintaanku dan!"
"dan apa nak?"
'jujur saja, aku sangat merindukan ayah.'
tiba-tiba airmata jatuh dari pipi mungil ravella, garda yang terkejut cepat-cepat berlutut dihadapan ravella. mensejajarkan posisi tubuhnya dengan ravella, ia mengusap airmata yang jatuh pada pipi mungil itu.
"ada apa sayang? kenapa kau tiba-tiba menangis!"
garda memeluk ravella lalu menggendongnya, sambil menepuk pelan punggung kecil yang ada dalam dekapannya.
"aku rindu ayah kek."
'haah.. pada akhirnya, dia tetaplah seorang anak kecil, yang masih membutuhkan figur sang ayah disisinya.'
"baiklah, kita akan pulang sekarang."
"tunggu dulu kek, kita pamit dulu dengan kakek zando."
"oh ya, aku hampir melupakan keberadaan sang kaisar, baiklah."
"kakek zando..."
tiba-tiba dalam sekejap mereka langsung berpindah ketempat zando berada.
"ada apa sayang?"
ravella turun dari pelukan garda, lalu berlari menuju zando.
"kakek, aku pulang sekarang! terimakasih telah menjagaku selama aku berada disini."
"sama-sama sayang, pulanglah ayahmu pasti sangat mengkhawatirkanmu."
"ya." ravella masih berdiri melihat zando
"ada apa nak?"
ravella mendekati zando lalu memeluknya erat, dan mengecup pipi naga itu.
__ADS_1
"makasih kek, aku pergi dulu."
ravella melambaikan tangannya, kemudian garda mengambilnya dan menggendongnya kembali, zando tersenyum melihat wajah polosnya.
"garda, jaga dewiku baik-baik, aku titipkan dia padamu."
"ya, tidak perlu kau katakanpun, aku pasti akan menjaganya.. karena itu memang sudah menjadi tugasku." zando tersenyum kecil mendengarnya
lalu tak lama.. merekapun telah berpindah ketempat awal garda berada.
"tempat ini.. sepertinya kita sudah sampai nak."
tampak dari jauh sosok lannnox, sedang berdiri termenung di gazebo, sambil memandang kosong ke arah danau.
"ayah...!"
lannox tersentak kaget, akan suara yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan. karena hembusan angin yang membawanya, iya menoleh kearah sumber suara tersebut. dan, tampak dari kejauhan, sosok lucu sedang berlari kecil mengejarnya.
"putriku... kau sudah kembali?"
lannoxpun segera bergegas berdiri, untuk menyambut tubuh kecil yang berlari menghampirinya.
"ayah...! hiks.. hiks.. maafkan ravel ayah!"
ravella langsung melompat dan memeluk sang ayah, yang telah dirindukannya,
garda merasa terharu, melihat kedua anak dan ayah itu.
"sebaiknya aku harus memberi ruang, untuk mereka berdua."
Begitupun zion yang tengah memperhatikannya dari jauh, turut senang melihatnya.
"ya.. Kelihatannya, aku juga tidak dibutuhkan disini." ujar zion, yang menyaksikan pemandangan yang sama, dan tak lama merekapun menghilang..! dan tinggallah lannox dan putrinya.
"putriku ravel.. kau tidak perlu meminta maaf nak, ini bukan salahmu! ayah yang terlalu egois tidak memikirkan perasaanmu."
lannox menggendong putrinya, dan memeluk erat sang buah hati. setelah melepas rindu, lannoxpun langsung membawa ravella kekamarnya. dan ditempat lain, roya dan tama, yang sedang berada dilapangan.
(tama) "setelah melihat ingatan anak itu, ternyata dia tidak berbohong. dan lebih parahnya lagi.. dewi sempat tidak sadarkan diri, karena serangan orang yang tak dikenal."
(roya) "hem.. yang anehnya lagi, kenapa tidak ada satupun dari mereka! yang memberitahukan kepada kita, tentang kecelakaan serangan kepada dewi."
(tama) " aku yakin, ini pasti kemauan dewi sendiri, karena dia tidak ingin membuat kita khawatir."
(roya) "benar sekali, dewi sangat peduli pada kita bukan, sedang kenyataannya.. dia sendiri hampir terluka."
mereka terdiam sesaat.
(tama) "bukankah ini aura dewi."
(roya) "ya sepertinya beliau sudah kembali, ayo kita menghampirinya."
"tidak, jangan sekarang." tama dan roya terkejut, melihat garda dan ketiga spirit lainnya.
(tama) 'apa itu.. garda! dan ketiga spirit lainnya, lalu siapa yang satunya lagi? kenapa auranya terlihat sama dengan garda?'
(roya) "kenapa memangnya? sudah lama kami tidak melihat beliau, dan melaporkan misi kami..!"
(garda) "aku paham maksudmu, tapi lihat dulu kondisinya."
garda menunjukkan sebuah sihir, dan terbentuklah layar besar yang memperlihatkan kedua anak dan ayah itu. tama yang seakan mengerti lalu, segera menyuruh garda menghapusnya.
(tama) "ya sudah kalau begitu, tapi siapa kau? wajahmu memang mirip dengannya, tapi auramu sangat berbeda?" garda dan spirit yang lainnya terkejut dengan celetuk tama, bahkan royapun mengenali sosok itu.
(roya) "hei apa kau bodoh? dia itu jura saudara kita.. masa kau sampai tidak mengenali wujud itu?"
(tama) "heh.. wujud bisa saja berbohong bukan?"
(roya) "haah mulai kumat lagi bodohnya."
(jura) "heeh kau berpura-pura lupa! atau tidak tahu?" bibir pria tampan itu mulai melengkung, menunjukan sebelah taringnya. tama juga ikut menyerigai
(tama) "sepertinya kedua-duanya!"
tama dengan sigap menghilang dan menyerang jura secara mendadak, jura yang mengerti akan serangan itu, kemudian menangkis cakaran tama yang hampir mengenai pipi mulusnya. dalam sekejap jura memegangi kedua tangan tama dari belakang, lalu menendang punggung tama, dan tama langsung menghilang lalu muncul kembali dibelakang jura, dan menendangnya dari arah belakang. namun, serangan tamapun meleset, dan mereka berdua dalam sekejap sudah berpindah diudara dengan perubahan wujud masing-masing.
(jura) "heeh, kau boleh juga rubah."
(tama) "cih jangan remehkan aku, mentang-mentang wujud kita berbeda." tama berubah menjadi rubah merah bertubuh api, setiap tubuhnya dipenuhi dengan api merah yang menyala. sementara jura berubah menjadi sosok naga hitam bersisik berlian sekeras baja.
(garda) "haah anak-anak itu mulai lagi... kenapa suka sekali sih bertarung?"
(roya) "karena ia merasa kesal didahului oleh jura dalam berevolusi, dan apalagi saat ia melihat perubahan drastis yang dialami jura, membuatnya semakin iri, dan bergairah untuk mengajaknya bertarung."
(garda) "ya terserah kalian saja, aku lelah, aku mau tidur dulu." gardapun menghilang.
(zaku) "omong kosong, saat bertarung dengan kami saja, dia tidak kelihatan lelah sama sekali."
(gira) "itu hanya kata kiasan bodoh."
saga dan yang lain hanya diam malas meladeni zaku. ditempat lain lannox yang sedang duduk bersandar diranjangnya, bersama ravella yang duduk dipangku sang ayah, mereka mengobrol panjang namun setelahnya kepanikanpun terjadi.
"ravel, kemana saja kau selama ini nak? mengapa keberadaanmu sulit dicari..!"
"benarkah? oh, mungkin saja.. karena ravel berada ditempat kakek kaisar."
"kakek kaisar? apa maksudmu, si naga emas itu?"
"ia, saat ravel dihutan, tiba-tiba hutan itu langsung berubah menjadi kerajaan, milik kek zando."
"pantas saja kau tidak bisa ditemukan, termasuk spiritmu juga tidak bisa melacak keberadaanmu."
"ya, tentu saja.. kata kek zando, hanya orang yang dipilihnya saja, yang bisa pergi kesana."
"lantas, bagaimana garda bisa berada bersamamu?"
"uuaaaggghhhh.. ayah, ravel sangat mengantuk sekali, semenjak ravel pergi dari sini.. ravel masih belum tid... buk." ravella jatuh tersungkur, dalam pelukan lannox.
"ravella... ravella... apa... belum tidur..! berarti dengan hari ini, sudah lima hari dia tidak tidur? Tidak bisa, pelayan.. Cepat panggilkan dokter, sekarang!"
"ba..baik yang mulia." lannoxpun mulai khawatir dan panik, lalu memanggil sang dokter.
__ADS_1